Beberapa waktu lalu saya mendapatkan konsulan dari sejawat yang bertugas di klinik Kepolisian terhadap beberapa orang anak muda calon anggota baru institusi angkatan tersebut.
- Sejak ditemukan endoskopi di awal tahun sembilan puluhan, perkembangan teknik bedah minimal
- Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Ahli Bedah Indonesia beberapa hari lalu di Surabaya mengusung ‘Surgery in the Future’ sebagai themanya. Tepat sekali diketengahkan sebelum kita memasuki dekade baru yang penuh dengan tantangan dan kemuktahiran perkembangan ilmu serta teknologi termasuk juga di bidang Bedah. Dua issue terpenting dibicarakan berkenaan Bedah masa depan ini adalah tentang Robotic [...]
- Ternyata ada efek positifnya seorang dokter Bedah yang mahir bermain PS (play station). Ketrampilan itu menjadi dasar untuk menjalankan pembedahan atau operasi dengan menggunakan robot. Robotic Surgery merupakan salah satu terobosan teknologi di bidang Bedah yang sebetulnya sudah tidak menjadi sesuatu teknik baru lagi di kamar-kamar operasi rumah sakit Bedah di beberapa negara [...]
- Upaya penurunan berat badan menjadi trend di era ini sebagai salah satu cara untuk mempercantik diri. Berbagai macam metodanya, ada yang hanya mengatur diet, menggunakan obat termasuk golongan herbal sampai ke upaya-upaya yang lebih memanipulasi tubuh –disebut poles body kalau di automotive- seperti dengan sistim injeksi lemak ataupun penyedotan lemak (liposuction). Tapi untuk mereka yang [...]
Latest News
Bedah Minimal Invasif
Sejak ditemukan endoskopi di awal tahun sembilan puluhan, perkembangan teknik bedah minimal invasif ini semakin luas digunakan untuk berbagai macam jenis operasi. Full Story
Karakteristik Pasien
Secara umum karakter pasien dibedakan mejadi 2 tipe. Yang cenderung ingin mencari informasi lebih jelas –information seeking- Full Story
Hak-Hak Pasien
Dalam perkembangan dunia informasi yang begitu pesat ini membuat banyak orang mulai terbuka wawasan dan dengan makin membaiknya tingkat sosial ekonomi membuat pula Full Story
Gaya Komunikasi Dokter-Pasien
Walaupun saat ini ada berbagai cara berkomunikasi antara dokter dan pasien, antara lain dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi, seperti lewat media masa atau secara online melalui internet,tetapi tetap masih diakui dan
dirasakan bahwa berkomunikasi secara langsung lebih memiliki nilai tinggi dalam hal obyektifitas serta rasa kemanusiaannya. Sehingga masih akan tetap dibutuhkan. Maka oleh karena itu banyak pihak yang menilai kwalitas layanan seorang dokter, salah satu indikatornya adalah dari cara dokter itu berkomunikasi dengan pengguna jasanya. Namun pada kenyataannya tidak semua dokter bisa berkomunikasi sesuai harapan pasien. Ada berbagai macam kendala yang para dokter hadapi ketika mereka berkomunikasi dengan pasiennya. Dilihat dari hambatan-hambatan tersebut didapatkan intinya terdiri dari 3 unsur utama, yakni waktu yang tersedia untuk menjalankan suatu komunikasi, gaya berkomunikasi dan isi komunikasi atau pembicaraan tersebut.
Menilai dari cara berkomunikasi seorang dokter, baik secara verbal atau pun diiringi dengan bahasa tubuh, setidaknya dapat digolongkan dalam 4 tipe;
- Dokter yang tidak memiliki waktu dan tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik. Menghadapi dokter semacam ini yang paling sulit. Jangankan menjelaskan keadaan penyakit kepada seorang pasien, untuk bertutur sapa dengan sesama dokter pun mereka terasa mempunyai hambatan. Biasanya dokter tipe ini tidak memiliki banyak pasien, kecuali ia berkemampuan lebih dan masih langka kehadirannya di suatu komunitas tertentu.
- Dokter yang bisa berkomunikasi tapi tidak cukup memiliki waktu. Kelompok dokter ini biasanya sangat sibuk, baik oleh karena pasiennya yang banyak ataupun tugas pekerjaan di luar keprofesiannya menuntut mereka untuk menggunakan waktu seefektif mungkin. Tidak semua pasien puas dengan gaya dokter jenis ini. Boleh jadi kemampuannya dalam menyembuhkan pasien terkenal hebat, tapi mungkin saja sebagian pasien merasa kecewa karena tidak ada kesempatan untuk menanyakan sesuatu atau merasa tidak mendapat sentuhan optimal di saat sang dokter menjalankan pemeriksaan fisik. Kebanyakan dokter di Indonesia menjalankan prakteknya tidak membatasi jumlah pasien. Sedangkan di luar negeri, seorang dokter dalam menjalankan tugasnya di praktek atau poliklinik rawat jalan, waktu menjadi patokan utama. Sehingga jika waktu untuk seorang pasien (biasanya 20 – 30 menit) belum selesai, si dokter meminta pertanyaan lagi dari si pasien menyangkut hal-hal yang belum jelas. Dengan demikian kwalitas layanan terhadap seorang pasien memang terjaga betul.
- Dokter dengan gaya berkomunikasi formal. Dimana pasien semata-mata menjadi obyek dari interaksi yang dibangun. Penuh dengan bahasa serta istilah medis, cenderung arus komunikasi satu arah, mendominasi pembicaraan dan terkadang bahkan ada kesan memarahi dalam memberikan nasehat ke pasien. Biasanya untuk golongan pasien yang tidak kritis, jenis dokter ini masih bisa diterima dengan baik. Cukup sudah dengan diberitahu sakitnya, diberi obat dan syukur-syukur sembuh, pasien sudah puas. Sekali pun mungkin saja ada rasa tertekan atau takut menghadapi dokternya.
- Dokter yang memiliki waktu dan kemampuan berkomunikasi yang baik. Dokter jenis ini berusaha membina hubungan dengan pasiennya secara lebih terbuka, tidak selamanya formal, berempati, menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti pasien serta lebih memberikan waktu kepada pasien untuk mengungkapkan sesuatu. Dokter type ini biasanya memiliki kemampuan bersosialisasi lebih tebal dibanding yang lain. Memang dokter yang sejenis ini yang ideal dan banyak disenangi pasien. Tapi golongan ini masih bisa dibedakan lagi antara yang bergaya terlampau bersahabat hingga cenderung membuat mereka kurang teliti serta dalam memberikan penjelasan kurang mengedepankan sisi ilmiahnya, namun ada yang mampu mengkombinasikan kemampuan berkomunikasi serta penguasaan ilmu dan ketrampilannya dengan baik sehingga memiliki kharisma dan talenta yang baik pula. Yang mana menjadi pilihan pasien? Tentu berpulang pada kecocokan serta kebutuhan masing-masing pasien tersebut. Ada yang bilang, dengan dilihat dan disentuh saja oleh dokter A, seorang pasien sudah merasa dirinya sembuh.
Kasus Bedah
Banyak orang masih mempercayai dukun urut untuk menangani kasus patah tulang. Tidak salah! Tapi tidak banyak yang tahu kalau banyak juga yang mengalami ‘kegagalan’ dari penanganan itu.
Read more ...Beberapa waktu lalu saya mendapatkan konsulan dari sejawat yang bertugas di klinik Kepolisian terhadap beberapa orang anak muda calon anggota baru institusi angkatan tersebut.
Read more ...Beberapa hari yang lalu, saya dihubungi oleh seorang teman yang memberitahukan kerabatnya berniat berkonsultasi dan memerisakan diri ke praktek. Benar, keesokan harinya saya kedatangan seorang pasien laki dewasa muda dengan keluhan nyeri sekitar pergelangan tangan kanannya yang sudah dirasakan sejak kurang lebih 4 bulan yang lalu. Tanpa didahului riwayat trauma dan gejala spesifik lainnya, [...]
Post-Operatif
Sudah menjadi pertanyaan umum kebanyakan pasien yang dirawat di rumah sakit, “kapan saya boleh pulang dok..?”. Bagaimana pun nyamannya di rumah sakit, kalau dirawat dan mondok berlama-lama tentu membuat si sakit jadi bosan, jenuh dan menjadi tidak nyaman lagi.
Read more ...“Awalnya saya pikir operasi itu menakutkan, ehh.. ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Saya tidak merasakan sesuatu, tidur dengan nyaman, begitu bangun operasi sudah selesai….
Read more ...Tidak selamanya sesuai dalam bayangan kita bahwa masalah bedah itu akan tuntas seiring dengan begitu selesainya satu tahapan operasi.
Read more ...

Recent Comments