Friday, September 03, 2010

Ajukan pertanyaan kepada Dokter Bedah Anda

Diakui memang ada dokter yang berkarakter agak pelit untuk bercerita banyak ke pasiennya. Ada juga yang justru banyak bicara tapi mempunyai banyak pasien sehingga memberi jatah waktu yang sedikit untuk anda dapat berkonsultasi atau memang kesempatan untuk bertanyajawab itu tidak ada atau jangan-jangan anda sendiri enggan untuk terlalu cerewet, tanya ini itu ke dokter anda… Tapi untuk urusan operasi, yang akan menyentuh dan melukai bagian dari tubuh anda, wajib kiranya anda menanyakan beberapa hal -kalau itu belum dijelaskan- kepada dokter Bedah anda.

Apa penyebab dan bagaimana bisa terjadi?

Terhadap suatu diagnose penyakit, entah itu yang sudah pasti ataupun masih persangkaan (suspected) tidak ada alasan bagi dokter untuk tidak menjelaskan penyebab dan perjalanan penyakit yang anda derita kenapa sampai terjadi seperti yang anda alami ini. Dokter yang baik akan bercerita hal-hal apa saja yang menyokong kenapa ia mendiagnosa penyakit tersebut. Tentu selain dari keluhan anda, analisanya juga ditunjang oleh pemeriksaan fisik serta akan lebih akurat jika diperkuat oleh pemeriksaan tambahan lainnya seperti pemeriksaan laboratorium, radiologis, patologis dll.

Adakah jalan lain, selain dibedah?

Jika bisa, mungkin semua orang tidak ingin badannya memiliki bekas operasi atau pun dihantui kecemasan menghadapi operasi. Tanyakan ke dokter anda apakah mungkin terhadap kasus yang anda derita tidak dilakukan pembedahan. Jika kemungkinan itu ada, apa saja kelebihan dan kekurangan di antara cara yang ditempuh itu. Pastikan juga resiko yang mungkin dihadapi jika cara pembedahan tidak dijadikan pilihan. Secara umum, areal abu2 ini mencakup penyakit atau kelainan yang bukan kasus emergency atau penyakit yang tingkat keparahan masih ada pada grade awal dan diperkirakan masih berespon dengan pemberian obat saja.

Bagaimana jaminan terhadap sembuhnya?

Sekalipun sembuh tidaknya seseorang dari penyakit ditentukan oleh yang di atas, tapi kita manusia bisa berichtiar ke arah itu. Dan bagi dokter yang menangani pasien akan bicara hal ini berlandaskan ilmu, data dan pengalamannya. Untuk menjamin ketenangan anda, cari dan gali informasi itu! Setidaknya dari data itu sang dokter bisa memprediksi berapa prosen tingkat kesembuhan atau perbaikannya. Adakah kemungkinan untuk terulang atau relaps kembali. Di dunia medis hal ini biasa disebut prognosa…

Bagaimana teknis pembedahan yang akan dikerjakan?

Tidak ada salahnya juga anda menanyakan prosedur pembedahannya, bagaimana dan di bagian mana tubuh anda nantinya akan diiris, seberapa banyak jaringan yang akan diangkat atau diperbaiki, berapa lama proses operasinya dan langkah-langkah apa yang perlu disiapkan sebelum pembedahan, baik untuk memperlancar pembedahannya sendiri ataupun memperlancar proses pembiusannya. Perlukah anda mondok di rumah sakit sebelumnya atau bisa langsung dikerjakan pada hari pertama anda masuk rumah sakit? Tanya saja! Beberapa dokter mebuat atau menunjukkan gambar2 untuk menambah pemahaman apa yang ingin dia jelaskan. Sekalipun mungkin anda tidak begitu mengerti tapi semoga hal ini bisa menggambarkan sekilas di benak anda bagian2 mana tubuh anda yang akan dipotong. Serem? Ah.., tidak ada lagi kata itu..!

Berapa lama masa pemulihannya?

Pemulihan dan seberapa lama mesti dirawat sangat bergantung sekali dengan jenis operasinya dan perkiraan komplikasi yang menyertainya. Untuk operasi yang berkatagori ringan atau sedang atas pertimbangan dokter Bedah-nya kemungkinan besar tidak memerlukan perawatan pasca operasi lebih lanjut. Ada kecenderungan perkembangan saat ini menyarankan pasien untuk bergerak sedini mungkin terbaas pada aktifitas ringan akan mempersingkat masa pulih. Sehingga sebetulnya anda tidak perlu takut untuk bergerak setelah menjalani operasi. Bahkan pada jenis operasi bersih, perawatan luka operasinya hanya diperlukan tidak lebih dari 2 kali selang beberapa hari sambil rawat jalan dan menjalankan aktifitas rutin di rumah. Tanya pada dokter anda sampai kapan bisa bekerja kembali, tentu supaya tidak terlalu lama absen di tempat kerja…

Apa yang mempercepat dan menghambat pemulihan?

Sudah biasa para pasien pasca pembedahan selalu bertanya ‘apa saja yang boleh saya makan dok..?’ atau apa yang tidak boleh saya konsumsi..? Selalukah semua pembedahan dihubungkan dengan pola makan seperti pertanyaan di atas? Jelas, tidak! Sekalipun pembedahan itu melibatkan saluran cerna justru lebih banyak hal2 yang perlu dikonsumsi dari pada hal yang harus dihindari. Lebih banyak mitos yang salah yang berkembang di masyarakat menyangkut masalah ini. Jadi, perlu diketahui apa saja yang harus dilakukan untuk mempercepat penyembuhan baik dari sisi makanan, gerakan, perawatan terhadap luka dan hal-hal lain yang berhubungan dengan aktifitas keseharian.

Adakah tahapan berikut setelah pembedahan?

Pastikan bahwa pembedahan yang anda jalani merupakan therapy akhir yang tidak berkaitan lagi dengan tahap tahap pembedahan lanjutan lagi atau mungkin pembedahan ini merupakan hanya salah satu rangkain dari penanganan berkelanjutan…


25 Comments

  1. Comments  rumahkankerNo Gravatar   |  Tuesday, 11 November 2008 at 10:19 pm

    Jadi ingat pengalaman dengan dokter bedah onkologi yang akan melakukan operasi colostomy pada ibu mertua saya. Gara-gara saya banyak bertanya ini-itu, beliaunya sampai nyeletuk (bercanda sih), “Hai… saya mengumpulkan ilmu bedah saya ini selama 35 tahun, masak mau kamu ambil semuanya sekarang juga?” Hahaha….

    BTW, dokter, blognya saya link ke blog saya ya (blog khusus pejuang2 kanker), barangkali ada sahabat-sahabat saya yang ingin konsultasi…

    Tulisan terakhir rumahkanker : Sakit Kepala & Muntah Campur Darah

  2. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Wednesday, 12 November 2008 at 11:53 am

    @rumahkanker :
    Saya sungguh tersentuh saat berkunjung dan membaca cerita teman2, saudara2 kita di blog mbak..
    Dengan senang hati kalau bisa saya berbagi atau paling tidak memberi apa yang saya ketahui terhadap masalah2 yg dihadapi sahabat sahabat kita ini….

    Tulisan terakhir eka kusmawan : Tembakan Mati untuk Amrozi, cs

  3. Comments  rumahkankerNo Gravatar   |  Thursday, 13 November 2008 at 9:39 pm

    Terima kasih atas kesediaannya membantu, Dokter. Sekarang saya boleh tanya ya Dok, artikel yang bagus ini boleh saya upload ke http://rumahkanker.com/? :)

    Tulisan terakhir rumahkanker : Pengantin Baru Seumur Hidup

  4. Comments  AniNo Gravatar   |  Friday, 14 November 2008 at 5:41 am

    Saya salut dengan artikel ini yang notabene ditulis oleh seorang dokter. Tidak banyak dokter kita tidak pelit informasi. Saya mengalaminya sendiri saat melawan kanker hingga semua saya tuliskan di buku “Nobody Happy with Cancer, BE BRAVE AND SMART”. So….selama saya mendampingi teman-teman berobat, agak sulit mendorong pasien untuk mau bertanya banyak, bahkan kecenderungannya NRIMO saja apa kata dokter tanpa tahu konsekwensinya jangka panjang. Sementara anda tahu?? Data ahli onkology di Indonesia belum memenuhi kuota juka dibandingkan dengan jumlah pasien kanker he-he-he…..so….para ahli itu tentunya sangat sibuk dan berkejaran dengan waktu…..hik. Terutama untuk kanker, saya sangat tahu untuk bertahan dari banyak sisi terutama financial bukan hal yang mudah.
    Harapan besar dari saya…Dokter Eka mau menularkan “penjelasan” yang biasa anda sampaikan pada pasien terhadap para kolega anda. Banyak teman-teman kami di komunitas kanker yang sangat minim pengetahuan karena mereka sendiri sudah sangat ketakutan dengan penyakitnya.
    Thx u…..

  5. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Friday, 14 November 2008 at 9:13 pm

    @rumahkanker :
    Pasti sangat boleh mbak… silakan!
    Malah ada niat saya untuk menulis tentang pengertian dasar kanker, semacam pengetahuan praktis yang mudah dimengerti awam, sehingga bisa di-link juga kalo memang belum ada artikel yg sejenis ini di rumahkanker…

    @Ani :
    Terimakasih atas support-nya mbak Ani…
    Begitulah, tidak hanya oncolog, realitasnya memang keberadaan tenaga dokter ahli di negara kita masih jauh dari kebutuhan yang diperlukan. Itu sebabnya pemerintah belakangan ini lebih memacu lagi senter2 pendidikan untuk lebih banyak dapat mencetak dokter2 spesialis baru..
    Harapan mbak semoga bisa saya jalankan…

  6. Comments  AniNo Gravatar   |  Sunday, 16 November 2008 at 8:35 pm

    Thx dokter Eka atas apresiasinya terhadap keinginan saya….di Jakarta khususnya, sekarang ini kami sudah mulai membuat pos-pos kecil untuk membangun kesadaran masyarakat untuk “peduli kanker” dan banyak juga dokter-dokter yang mulai terlibat dalam program tersebut. Sedikit ada rasa sedih dok….(wah jadi curhat nih) he-he-he….. Ada beberapa dokter (spesialis) yang awalnya sharing ilmu, tapi dalam perjalanannya mereka jualan multilevel marketing alias MLM. Ada kecenderungan apa sebenarnya? he-he-he…maaf ya dok, agak nyelelek. Jujur….saya prihatin sekali.

  7. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Sunday, 16 November 2008 at 11:10 pm

    @Ani :
    Soal MLM merambah ke dokter spesialis, keprihatinan saya sama! Ini juga realitas baru, dan memang banyak teman2 spesialis bahkan beberapa teman dekat saya yang ‘sukses’ mengikuti bisnis ini sekalipun menurut saya mereka scr tidak disadari sudah kehilangan teman dan ketinggalan dalam meng-update keprofesionalan-nya…
    Itulah, ukuran ‘sukses’ tiap orang tidak sama. Saya jauh lebih memandang perjuangan mbak Ani untuk bisa memberi sesatu kepada banyak orang merupakan kesuksesan yang sesungguhnya…
    Bravo mbak Ani… tetap semangat!!

    Tulisan terakhir eka kusmawan : Robotic Surgery; Pembedahan menggunakan Remote Control

  8. Comments  AniNo Gravatar   |  Monday, 17 November 2008 at 7:31 am

    Dok, txs banget jika dokter mau menjelaskan soal kanker atau minimal “pembedahannya” boleh mastektomi atau lumpektomi untuk CA mamae (untuk CA yang lain juga dong!!!). SSSSSttttt, banyak lho dokter yang nggak ngirim PA-nya. Hik. Salah satunya adik Mba Titah tuh kejadian. Sedih banget kan!!!! Kalo sudah begitu mau bilang apa? Nuntut? Malpraktik? Capcay deh dok. Kami butuh tentang itu Dokkk….swear!!! so…dengan menerjemahkan beberapa istilah kedokteran yang berkaitan tentunya (kok saya yang ngatur ya dok he-he-he). Jujur, saking awamnya saya sampai beli kamusnya Dorland lho dok….Ayo dokter Eka…kita berjuang bersama-sama….bagi saya hidup ini sesaat! Apalagi dah ngerasain dikemo sepuluh kali!!! Rugi banget jika tidak berbuat sesuatu yang berarti, apalagi kalo cuma mau ngejar materi. Sebaris do’a saya semoga dokter Eka slalu dilimpahi kesehatan, kebaikan serta selalu dalam penjagaanNya, amin

    Maaf ya dok, beberapa tulisan dokter saya print dan saya bagi ke teman-teman….maaaffff baru bilang sekarang. Banyak teman-teman yang butuh tapi tidak menjangkau internet. Mohon keikhlasannya.

  9. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Thursday, 20 November 2008 at 1:48 pm

    @Ani :
    I back you up….
    Saya dukung sepenuhnya mbak …
    Trim’s juga atas doanya.!

    Tulisan terakhir eka kusmawan : Robotic Surgery; Pembedahan menggunakan Remote Control

  10. Comments  Ms Kurnia ItoNo Gravatar   |  Friday, 06 February 2009 at 3:39 pm

    Dok,
    Salam dari pulau Bali. Saya Kurnia Ito ( Ny) sduah dua setegah tahun ini saya menikmati keaktifan sosial menjadi relawan pendamping pejuang kanker. Saya ikut menjadi relawan di Masyarakat Paliatif Indonesia cabang Bali juga. Namun kebanyakan kasus saya dapat dari mentor pembimbing saya Dr Tjokorda Gde Darmayuda Sp PD KHOM yang tugasnya di RS Sanglah dan punya klinik Medik Holistik Paliatif Cahaya Padma.
    Namun sama kompleksnya dengan penyakit kanker sendiri demikian keadaan fisik dan psikologi penderita dan keluarga.
    Itulah sebabnya penanganan kanker betul-betul membutuhkan tim multidisiplin sehingga pasien dapat tertangani dari segala arah sudut pandang.(gak usah saya sebut istilah kerennya ya dok soalnya saya ingin surat ini dibaca siapa saja yang tinggal di Bali atau di luar Bali yang mau berbagi empati pada pejuang kanker.Saya sedang membentuk Komunitas Peduli Kanker dimana saya sangat butuhkan teman-teman yang mau bergabung dan terjun ke lapangan bersama saya. Hospital visit/ home visit.
    Telah cukup banyak saya saksikan bagaimana besarnya penderitaan melawan penyakit yang kejam ini itulah sebabnya nurani terpanggil untuk ingin menghibur membagikan perhatian dan kasih tulus pada mereka.
    Di Bali/RS Sanglah memang sudah ada unit Paliatif namun belum bisa beroperasi maksimal karena terbatasnya SDM dan Pendanaan. Sangat sulit menemukan relawan yang sudi melakukan tugas ini tanpa pamrih yang berkesinambungan. Saya merasa begitu sendirian dan tertatih-tatih.
    Karena itu melalui forum ini siapa tahu saya dapat menemukan pemilik hati yang berlimpah kasih dan sudi berbagi.
    Kontaklah kepada saya : saranacinta@yahoo.com Kurnia Ito

  11. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Friday, 06 February 2009 at 8:00 pm

    @Ms Kurnia Ito :
    Sungguh mulia aktifitas ibu. Tapi mohonlah ibu jangan berkecil hati dulu. Ibu tidak sendiri, sekalipun tidak banyak di Bali tapi tidak jarang juga ada pejuang-pejuang kanker se-visi dengan ibu di sekitar kita, seperti ibu bisa baca pada komentar-komentar lain di atas.
    Setahu saya, tidak jarang juga dokter yang mempunyai concern terhadap permasalahan ini, namun beliau2 itu sudah terlalu disibukkan dengan tugas dan pasien2 lain yang memerlukannya. Selain dr. Tjok Darmayuda, SpPD juga ada Prof. Dr. Tjakra Wibawa, SpB(Onk) salah seorang guru saya..
    Semoga ibu tidak patah semangat !
    Terimakasih atas kunjungan dan komentar ibu di halaman ini. Mudah2an ada para pembaca yang tersentuh dan bergabung untuk sama2 kita berjuang…

    Tulisan terakhir eka kusmawan : Kematian Bpk. Ketua Dewan akibat Serangan Demonstran

  12. Comments  udin_penyokeNo Gravatar   |  Monday, 25 May 2009 at 11:45 pm

    dok mau tanya ne, tolong jelasin kenapa:

    kan Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti, Namun beberapa faktor resiko pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara, yaitu :

    1. Tinggi melebihi 170 cm
    2. Masa reproduksi yang relatif panjang.
    3. Menarche pada usia muda dan kurang dari usia 10 tahun.
    4. Wanita terlambat memasuki menopause (lebih dari usia 60 tahun)
    5. Wanita yang belum mempunyai anak
    Lebih lama terpapar dengan hormon estrogen relatif lebih lama dibandingkan wanita yang sudah punya anak.
    4. Kehamilan dan menyusui
    Berkaitan erat dengan perubahan sel kelenjar payudara saat menyusui.
    5. Wanita gemuk
    Dengan menurunkan berat badan, level estrogen tubuh akan turun pula.
    6. Preparat hormon estrogen
    Penggunaan preparat selama atau lebih dari 5 tahun.
    7. Faktor genetik
    Kemungkinan untuk menderita kanker payudara 2 – 3 x lebih besar pada wanita yang ibunya atau saudara kandungnya menderita kanker payudara. (Erik T, 2005, hal : 43-46)

    aku masih nda ngerti, knapa ya etiologina seperti itu ???

  13. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Wednesday, 27 May 2009 at 8:26 pm

    @udin_penyoke :
    Mungkin perlu dibedakan dulu antara pengertian etiologi dan faktor resiko. Sepengetahuan saya hampir semua keganasan didasari adanya rangkaian gen dalam ikatan DNA-nya yang bermasalah, kemudian ada istilah onkogen, protoonkogen dan seterusnya. Masalahnya apakah kemudian gangguan atau kelainan itu termenefestasi dari pertumbuhan yg tak normal dari sel2 pada jaringan atau organ bersangkutan, ini yang dipengaruhi oleh pencetus atau faktor resiko tadi. Beberapa faktor resiko untuk jenis kanker yang berbeda selain hormon, misalnya umur, faktor keturunan, makanan, radiasi dll.
    Jadi yang ditanya banyak itu bukanlah etiologi dasarnya melainkan lebih banyak pada faktor resiko atau faktor pencetus terjadnya kanker…

    Tulisan terakhir eka kusmawan : Management Kamar Operasi

  14. Comments  nanangNo Gravatar   |  Tuesday, 30 June 2009 at 3:55 pm

    makasih info ttg tumornya… sangat berguna bagi sya…
    rasa takut pasti ada, namun keinginan sembuh yang saya harapkan..
    insya allah sy mau operasi bedah dikaki karena ada tumor.. doain sukses ya…

    Tulisan terakhir nanang : terbit, SK tunjangan profesi pendidik tahun 2009

  15. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Tuesday, 30 June 2009 at 11:31 pm

    @nanang :
    Semoga operasinya berjalan lancar dan mas Nanang bisa cepat sehat kembali..

    Tulisan terakhir eka kusmawan : Awas! Efek Obat Memperbesar Alat Vital

  16. Comments  alisNo Gravatar   |  Tuesday, 13 October 2009 at 3:37 pm

    aku lagi sedih banget punya adik satu satunya perempuan`ketika umurnya 11th dioperasi tumor rahim
    hingga rahimnya diangkat dan sampai sekarang tdk punya anak suaminya pergi kepelukan perempuan lain dan semalam ibu saya nangis cerita ktnya dipayudara adik saya ada benjolan keras dan kalau menulis suka pegal kebetulan adik sayy guru sd usianya 29tdan mengidap penyakit diabet kalau bisa adakah pengobatan alternatif tampa bedah

  17. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Wednesday, 14 October 2009 at 6:36 pm

    @alis :
    Sebaiknya periksakan dulu ke dokter… Sangat jarang anak umur 11 tahun harus menderita kelainan sehingga rahimnya harus diangkat. Jika betul itu penyebabnya suatu tumor, jika tidak suatu tumor jinak yang besar yg diprediksi akan mengganggu dan mengancam, pastilah itu suatu tumor ganas. Dan tumor yang kemudian tumbuh di payudara, terlepas itu tumor jinak ataupun ganas, sejauh pengalaman saya memang tidak berhubungan langsung dengan tumor di rahim yg dialami sebelumnya… Tapi jika tumor tadi bukan berasal dari kelenjar payudara tapi berasal dari penyebaran tumor sebelumnya, tindakan bedah memang bukan therapy yg benar!

  18. Comments  Gracia   |  Thursday, 04 February 2010 at 10:23 pm

    Numpang nanya Dok, kalo operasi SC itu dikerjain dokter bedah or obgyn langsung? trus kalo vasektomy itu apa harus dikerjain dokter bedah urologis? atau bisa diambil dokter bedah umum?
    makasi sebelumnya Dok

  19. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Friday, 05 February 2010 at 5:22 am

    @Gracia :
    Operasi SC dikerjakan langsung oleh dokter spesialis Kandungan & Kebidanan. Vasektomi tidak harus dikerjakan dokter bedah Urologi. Dokter Bedah Umum mempunyai wewenang untuk mengerjakan operasi yang relatif tidak sulit itu…

  20. Comments  vanquishNo Gravatar   |  Saturday, 06 February 2010 at 2:28 am

    lam kenal dok
    saya pernah operasi usus buntu yg udah akut (kata dokternya) karena senin dah mulai demam dan kamis dah gak bisa turun tempat tidur dan ke rs baru hari sabtu dan langsung diputuskan operasi sore harinya dengan kondisi lemas tentunya karena gak kemasukan makanan sejak hari kamis (bandel juga ya dok. Hehehehe) yang ingin saya tanyakan:

    1.stelah operasi,saya masuk icu sampe 11 hari (kata dokter, jantung saya lemah), saya sadar pd hari ke 7 stelah saya tanyakan pada ortu saya- saya kaget kemana aja saya selama 7 hari itu?

    2.di icu saya menghabiskan 5 botol albumin @100 ml. Apa itu gak berlebihan dok?

    3.apakah orang yg di-operasi harus pakai selang o2 di dimasukan ke mulut dok? Rasanya sakit sekali.

    4.setelah saya pindah ke ruang perawatan-(bisa makan) kok perut kembung sekali kayak mau pecah dan berlanjut ketika udah pulang ke rumah apa itu normal dok?

    5.kenapa sayatan operasi saya sangat besar dan di tengah mepet pusar?

    6.kalo mau operasi apa rambut kemaluan memang harus dicukur? Hehehehe

    Maaf ya dok banyak tanya. Soalnya dokter bedah saya pelit ngomong.

  21. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Saturday, 06 February 2010 at 10:00 am

    @vanquish :
    Bisa saya bayangkan, berarti kondisi anda parah bener. Kalau memang itu karena infeksi usus buntu, pastilah dalam kondisi pecah yang lalu nanahnya menyebar ke suluruh ruangan perut dan banyak terjadi perlengketan antara usus dengan usus lainnya.
    Infeksi yang kebangetan akan juga menurunkan kondisi tubuh kita dan menguras protein tubuh yang justru kita perlukan untuk masa penyembuhannya. Apalagi sebelumnya ada riwayat tidak makan untuk waktu yang cukup lama. Itu kenapa anda memerlukan albumin yang lumayan mahal hingga 5 botol.
    Sekali lagi, karena kondisi anda begitu payahnya, pasti saja mengganggu juga fungsi pernafasan anda sehingga diperlukan suplay oksigen tambahan dan bila perlu menggunakan alat bantu nafas (ventilator).
    Perut kembung yang dikeluhkan perlu dikaji lagi apa penyebabnya, apa dari gangguan pada lapisan di lambung karena puasa yang berkelamaan, apa kurang gerak, apa juga karena obat2annya. Yang perlu dicatat bahwa jika seseorang pernah menjalani operasi dengan membuka perut dan mendapatkan perlengketan usus (biasanya karena infeksi), suatu saat di kemudian hari pada pasca operasinya sangat mungkin untuk mengalami perlengketan ulang lagi. Yang gejalanya antara lain; kembung dan susah buang angin.
    Sayatan panjang untuk mendapatkan akses masuk ke lapangan operasi yang lebih lebar. Jelas sangat berhubungan dgn keterlibatan organ dalam perut yg harus dievaluasi oleh dokter bedahnya.
    Rambut kemaluan dicukur? Itu sudah merupakan prosedur baku jika menjalani operasi untuk membuka perut di bagian bawah. Tujuannya, menghindari kontaminasi kuman dari bulu tersebut yang bisa sajaberpengaruh ke luka operasi.

    Sebenarnya hal2 standard begini sudah harus diceritakan oleh dokter bedah yang menangani anda..
    Semoga cepat pulih kembali. Salam!

  22. Comments  vanquishNo Gravatar   |  Saturday, 06 February 2010 at 5:29 pm

    makasih bgt atas jawabannya dok!

    dokter bedah yg ideal ya seperti anda ini ; terbuka dg pasien.
    tapi setelah masuk rs kondisi saya seperti baru kembali… misalnya gejala napas tersengal2 hilang dan tubuh terasa lebih enteng (ya maklum bb saya semula 103 kg menjadi 88 kg wkwkwkwkwk).

    dan apakah setiap operasi memerlukan transfusi darah ?

    Makasih ya dok…. Jadi ketagihan tanya nih.

  23. Comments  vanquishNo Gravatar   |  Saturday, 06 February 2010 at 6:14 pm

    yg dimaksud perlengketan usus lagi apa harus dioperasi dok

    Dokter jangan nakut-nakutin dong.

  24. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Sunday, 07 February 2010 at 7:07 am

    @vanquish :
    Tidak selalu operasi membutuhkan transfusi. Makanya untuk operasi suatu kasus bedah diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan darah sebagai bagian dari persiapan pre-operatif nya. Di situlah kemudian dinilai apakah seseorang pasien ini layak atau tidak naik ke meja operasi. Dilihat juga urgen atau mendesakna operasi itu. Jika memang harus cepat dikerjakan, untuk komponen kekurangan darah diperlukanlah darah tranfusi. Atau pd operasi yg beresiko menimbulkan perdarahan banyak saat op, maka juga perlu disiapkan darah dalam pelaksanaannya…
    Nakutin..?? hee heh he,,, ga” gitu maksudnya.. Logikanya sama aja dengan orang terkena luka, pasti aja ada bekasnya. Begitu juga kalau ada gesekan, perlengketan atau bahkan cidera di lapisan dinding usus. dengan keadaan usus yg panjang dan berlipat-lipat itu tidak menutup kemungkinannya akan melengket. Lengkat mengakibatkan gerakan usus terhambat. Jika sampai berakibat total salurannya terhambat (kasusnya jarang), baru mungkin dibutuhkan operasi…

  25. Comments  vanquishNo Gravatar   |  Thursday, 25 March 2010 at 8:13 pm

    dok.
    gimana supaya bekas operasi nggak sensitif klu dipegang dan nggak timbul?
    karena bekas operasi saya yang pusar ke bawah gak timbul karena kena celana dan pusar keatas timbul?

    luka operasi perut setelah berapa lama bisa dipakai berolah raga sit-up?

    kenapa setelah operasi, berat badan jadi bisa terkontrol walopun makan ganas?

    payah jantung tuh apa dok? dlu pd saat mw di-oprasi dokter-nya bilang jadi agak repot saat operasi. emang ada hubungannya?
    apa payah jantung bisa sembuh?caranya?
    sebagai catatan:saya perokok klas ringan dan mengonsumsi minyak ikan utk menetralisir rokok tsb apa itu logis?

    Makasih dok.

 

Selamat Datang dan Terimakasih atas Kunjungan Anda di SpesialisBedah.com -- Pertanyaan ataupun komentar Anda akan sesegera mungkin saya tanggapi

Surgeon[log] is using WP-Gravatar