Archive for July, 2008
Aku harus meninggalkan rumah sakit di hari kerja, pergi ke Sanur ke rumah John Fawceet dimana office YKI berlokasi, guna mengikuti acara evaluasi pre-op terhadap pasien yang besoknya akan menjalani operasi. Ya, sebelumnya dalam beberapa minggu kemarin telah ditandatangani MOU antara RS Surya Husadha dengan YKI (Yayasan Kemanusia Indonesia) untuk bekerjasama demi kepentingan social menyelenggarakan operasi kasus bedah untuk anak-anak kurang mampu. Kali ini YKI mendatangkan dr. Tony Moore dari Adelaide Astralia untuk ikut membantu aksi sosial ini. Aku pun berkenalan dengan beliau, yang dari penampilan serta usianya tampak jauh lebih senior dariku. Ia begitu ramah dan sebagai seorang Ahli Bedah Plastik ia tidak bosannya menjelaskan kepadaku terhadap beberapa kasus sambil memeriksa pasien yang akan kami operasi besok. Rupanya dari beberapa pasien itu ada yang ia sudah pernah kerjakan, karena memang ia sudah pernah beberapa kali ke Bali mengikuti kegiatan ini di rumah sakit lain.
Tidak kurang dari 25 pasien kita evaluasi. Mempertimbangkan waktu yang ada dan kemampuan serta fasilitas yang nantinya tersedia di tempatku bekerja kami sepakati dalam 2 hari penyelenggaraan besok serta lusa akan digarap cuma 8 pasien. Empat pasien dikerjakan hari Jum’at 4 Juli dan empat lagi besoknya. Kebanyakan dari mereka menderita celah langit-langit atau palatoschisis. Aku sendiri tidak banyak pengalaman untuk mengambil kasus ini. Pengalaman yang minim itu pun kurasakan saat residen dulu. Untuk mengambil labioschisis (celah bibir) lebih mending, aku pernah mengerjakan lebih dari 10 pasien saat dilangsungkan operasi masal di Waikabukak Sumba bersama tim dari Singapura menjelang aku menyelesaikan pendidikan di PPDS dulu. Kali ini aku ingin belajar lagi! Karena maklumlah untuk mengerjakan kasus seperti ini di kota besar jelas digarap oleh rekan Bedah Palastik, ditambah lagi kasusnya jarang menimpa orang2 di kota dengan sosek yang relatiF lebih baik. Sehingga dalam pelaksanaan aksi social selama 2 hari ini aku lebih banyak mengambil posisi sebagai asisten dan untung sekali dr. Tony mengerti tentang itu dan memang enak gayanya dalam membimbingku.
Seperti pelaksanaan sebelumnya schedule untuk acara besok sudah final dibentuk di hari saat pre-op dijalankan. Empat pasien di hari pertama sengaja dipilih yang kemungkinan memiliki kesulitan dalam pengerjaannya. Satu di antaranya perempuan 10 tahun yang menderita kelainan congenital yang sebelumnyabelum aku pernah jumpai, semacam regresi dalam pembentukan tulang2 extremitasnya. Dan pasien lainnya dengan palate cleft (celah langit2) yang cukup lebar. Di hari kedua yang kasusnya relatif simple baru aku berani sedikit mulai beraksi, tentu juga didampingi dr. Tony. Singkatnya semua pekerjaan dapat kami selesaikan lebih awal dari prediksi. Di hari terakhirnya sebelum ia berangkat kembali ke Australia via Singapura, dr. Tony memvisite pasiennya di ruangan agar dia yakin dan betul tenang mengerjakan hasil pembedahannya kalau sewaktu-waktu membawa komplikasi. Tapi aku beri jaminan kepadanya bahwa tidak akan terjadi suatu yang serius dan toh aku rasanya masih bisa menangani berbagai kemungkinan yang akan terjadi…..
Sampai jumpa lagi di aksi sosial berikutnya…!
Jika anda bukan seorang dokter atau mahasiswa kedokteran, mungkin singkatan ATLS asing di telinga anda. ATLS (Advanced Trauma Life Support) adalah salah satu nama pelatihan atau kursus tentang penanganan terhadap pasien korban kecelakaan. Pelatihan ini semacam review praktis yang bertujuan agar peserta (khusus dokter) dapat melakukan diagnose secara tepat dan akurat terhadap pasien trauma, dapat mengerjakan pertolongan secara benar dan sistematis serta mampu menstabilkan pasien untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Sertifikat course ATLS saat ini semakin dicari karena sebagian besar klinik atau rumah sakit dan instansi layanan kesehatan menetapkannya sebagai salah satu syarat untuk mempekerjakan seorang dokter. Dari Depkes pun telah menetapkan sertifikasi pelatihan ini sebagai standard dalam penilain akreditasi rumah sakit.
ATLS dicetuskan pertama kali oleh James Styner, MD, FACS tahun 1977 yang ilhamnya itu muncul setelah seluruh keluarganya menjadi korban kecelakaan pesawat terbang. Kemudian ide ini diadopsi dan digodok oleh America College of Surgeon yang menjadikannya modul pelatihan dan saat ini sudah digunakan di lebih dari 45 negara di dunia. Oleh IKABI, perhimpunan organisasi dokter bedah se-Indonesia sebagai salah satu pemegang lisensi telah mengenalkan course ini sejak tahun 1998 dan sampai saat ini sudah lebih dari 500 kali pelatihan telah diadakan dengan tidak kurang dari 13.000 dokter sudah dilatih dan berhak mendapatkan sertifikatnya. Walaupun biayanya lumayan mahal –karena bestandard internosional dan untuk keperluan biaya royalty- sampai sekarang masih banyak peminat yang harus menunggu pada daftar antrean.
Bentuk kursus ATLS, yang di Indonesia pelaksanaannya dimampatkan dalam 3 hari penuh, meliputi; kuliah interaktif , demontrasi, group diskusi, latihan ketrampilan langsung termasuk menggunakan binatang percobaan, simulasi dan ujian baik tertulis maupun praktek. Dijarkan lebih dari 10 materi kasus ke-emergency-an namun kesemuanya memiliki prinsip penanganan yang sama. Memang sangat melelahkan, dimulai sejak pagi, jam 7 sampai selesainya bisa hingga jam 8 malam, biasanya diambil pada hari Jum’t hingga MInggu. Goal besar penyelenggaraan kursus ini, nantinya para peserta diharapkan dapat berperan menolong para korban kecelakaan agar terhindar dari kematian atau mengurangi angka kematian akibat trauma –perlu diingat, secara global kasus trauma masih merupakan pembunuh manusia terbanyak!!!-
Anda ingin tahu lebih lanjut atau bahkan anda termasuk yang sedang menunggu giliran untuk ikut kursus ini, tanyakan di pusat2 pendidikan Spesialis Bedah terdekat atau dapat menghubungi langsung sekretariat ATLS Jakarta di Perkantoran Mitra Matraman.
Hampir genap dalam sebulan setelah ngajar di Bandung, aku mendapat panggilan lagi dari Jakarta
untuk ikut sebagai instruktur ATLS yang diselenggarakan di Makasar awal Juli ini. Memang bagiku ini terlalu cepat dan jarang ditawarkan dalam waktu berdekatan seperti ini. Tapi kalau dipikir, ini kan resiko dan bagiku kewajiban serta kesempatan aku tetap bisa berinteraksi dengan teman sejawat baik sesama instruktur maupun dengan para adik2 dokter yang berharap banyak mendapatkan ilmu tentang penanganan kegawatdaruratan di bidang trauma. Di sisi lain, bosku di rumah sakit wellcome saja bahkan mungkin merasa senang juga salah satu stafnya menjadi salah seorang yang bisa memberi sumbangsih di tingkat nasional, sehingga soal ijin meninggalkan tugas sih okey okey saja. Tentang pasien yang kutinggalkan untuk beberapa hari, sebetulnya tidak menjadi masalah berarti karena aku juga sudah bisa memanage kedatangan mereka dari awal.
Sebagaimana penyelenggaraan kursus ini yang sudah-sudah, instruktur diharapkan bisa tiba di tempat guna mengikuti faculty meeting semalam sebelum hari kursus dibuka. Sehingga aku sudah berangkat dari Bali, Kamis siang tgl 3 Juli. Ternyata di pesawat aku bertemu seniorku bli Sudartana yang juga satu tujuan tapi dalam rangka sebagai instruktur kursus laparoscopy bagi residen Bedah di RS dr. Wahidin juga. Dijemput oleh residen yunior dan nyampe di hotel menjelang sore. Kehadiranku di tempat pertemuan ini sedikit terlambat lantaran tidak terasa di kamar aku asyik ber-trading forex yang aksesnya kudapat dengan memanfaatkan wi-fi yang difasilitaskan hotel untuk para tamunya. Dengan sedikit ter-gopoh2 kudapatkan teman2 sudah pada ngumpul semua. Ternyata kali ini kursus dibuka untuk 2 kelas. Beberapa teman sejawat 1 team sudah kukenal sebelumnya. Bahkan kang Andanu dari Jakarta yang tempo hari kuajak bersama ATLS di Bandung itu pun sekarang menjadi CD (Course Director)-nya. Ada mas Arif, dr. Rachim –teman dari Kaltim, musuh bebuyutanku di tenis dalam pertemuan Bedah hampir setiap tahun-, m’bak Erica –anasthesiolog yang banyak bicara- he..he.. dan banyak yang lainnya. Satu team juga denganku senior Bedah Saraf dari Bali –dr. Sri Maliawan- yang kabarnya bosok baru bisa datang… Ada beberapa arahan dari CD dan intinya kita semua sudah ready untuk pelaksanaan besok!
Di acara pembukaan kursus, setelah CD memperkenalkan semua instruktur, baru aku menyadari kalau saat ini adalah course yang asal insrukturnya hampir lengkap dari seluruh Indonesia. Hadir sejawat dari Sabang, Sumatra Utara, Jambi, Jakarta, Bandung, Jogyakarta, Surabaya, aku dan dr. Sri dari Bali, Kalimantan, Manado, Makasar sampai ada yang dari Papua juga. Kudengar penyelenggaraan kali ini dibiaya oleh Depkes tentu memanfaatkan dana proyek yang pastilah lebih besar dari penyelenggaraan regular sebelumnya. Pantas saja pesertanya berasal dari instansi2 negeri se-Sulawesi Selatan. Pantasan saja saat berangkat aku diintruksikan dari Jakarta untuk membawa serta Surat Perjalanan Dinas segala, tidak seperti biasanya.
Tentang perjalanan course selama tiga hari ini, biasalah…. sangat melelahkan! Pasti yang paling merasakan adalah para peserta! Payahnya lagi bahwa ternyata tempat menginap para instruktur dengan tempat penyelenggaraan di RS dr. Wahidin lumayan jauh, membutuhkan sedikitnya 1 jam perjalanan kalo lagi macet. Sehingga betul2 memakan waktu! Berangkat dari jam setengah tujuh atau jam tujuh pagi, paling cepat tiba di hotel jam 9 malam. Di hari pertama aku kebagian mengajar di Group Surgical Skill, animal Lab, sendirian dengan 5 peserta. Di sesie kelas, aku ditempatkan sebagai skondan pada kuliah tentang Abdominal Trauma. Di hari kedua aku membawakan materi Musculoskeletal Trauma, siangnya membimbing peserta di skill station musculoskeletal juga bersama dr. Rachim dan sore menjelang malam ikut memberi arahan di sesie Airway dan Ventilatory Management bersama dr. Hisbullah, sejawat anasthesi dari Ujungpandang. Tampaknya rata2 peserta lumayan kemampuannya sekalipun sebagian dari mereka sudah berumur jika dilihat dari kebanyakan peserta kursus ini yang biasanya baru lulus S1 Fakultas Kedokteran 1 – 2 tahun sebelumnya. Di sela-sela waktu istirarat, waktu berkumpulnya para instruktur menunggu giliran mengajar, mencolok sekali kehadiran dr. Erica dan dr Sri Maliawan karena kedua sejawat inilah yang selalu membuat suasana jadi rame dengan joke2 yang gerrr… dan tingkahnya yang bikin teman2 paling tidak tersenyum kalau tidak tertawa atau ikut memberi celetukan. Kata salah satu iklan ”kalo ga’ ada loe ga’ rame….” Malamnya, seperti biasa, ada jamuan dinner dari panitia yang diselenggarakan di salah satu restaurant sea food terkenal di sana. Sangat terkesan! Ada acara unjuk nyanyi oleh para instruktur diiringi keybord. Dan dr. Tommy, senior kita dari Surabaya sangat apik membawakan Munajat Cinta, lagunya Ahmad Dani The Rock….
Di hari terakhir, setelah membimbing peserta dalam acara Triage Scenario serta simulasi mologue aku ditugaskan menguji 4 peserta berbagi bersama dr. Erica. Salah satu peserta terpaksa kunilai kurang untuk mencoba lagi diuji oleh instruktur lain. Ia mengalami stuck dan confuse padahal kutahu peserta ini lumayan aktif bertanya saat bimbingan. Aku tidak mengikuti acara hingga penutupan karena takut ketinggalan pesawat. Siang menjelang sore aku buru2 balik ke Bali…
Satu lagi aktifitas dan tugas telah kuselesaikan. Biarkan saja hidup ini mengalir bagai aliran air, ikuti, nikmati dan pasti saja ada makna di dalamnya… Sampai jumpa ATLS berikutnya……

