Friday, September 03, 2010

ATLS dari Bandung ke Makasar

Hampir genap dalam sebulan setelah ngajar di Bandung, aku mendapat panggilan lagi dari Jakarta untuk ikut sebagai instruktur ATLS yang diselenggarakan di Makasar awal Juli ini. Memang bagiku ini terlalu cepat dan jarang ditawarkan dalam waktu berdekatan seperti ini. Tapi kalau dipikir, ini kan resiko dan bagiku kewajiban serta kesempatan aku tetap bisa berinteraksi dengan teman sejawat baik sesama instruktur maupun dengan para adik2 dokter yang berharap banyak mendapatkan ilmu tentang penanganan kegawatdaruratan di bidang trauma. Di sisi lain, bosku di rumah sakit wellcome saja bahkan mungkin merasa senang juga salah satu stafnya menjadi salah seorang yang bisa memberi sumbangsih di tingkat nasional, sehingga soal ijin meninggalkan tugas sih okey okey saja. Tentang pasien yang kutinggalkan untuk beberapa hari, sebetulnya tidak menjadi masalah berarti karena aku juga sudah bisa memanage kedatangan mereka dari awal.

Sebagaimana penyelenggaraan kursus ini yang sudah-sudah, instruktur diharapkan bisa tiba di tempat guna mengikuti faculty meeting semalam sebelum hari kursus dibuka. Sehingga aku sudah berangkat dari Bali, Kamis siang tgl 3 Juli. Ternyata di pesawat aku bertemu seniorku bli Sudartana yang juga satu tujuan tapi dalam rangka sebagai instruktur kursus laparoscopy bagi residen Bedah di RS dr. Wahidin juga. Dijemput oleh residen yunior dan nyampe di hotel menjelang sore. Kehadiranku di tempat pertemuan ini sedikit terlambat lantaran tidak terasa di kamar aku asyik ber-trading forex yang aksesnya kudapat dengan memanfaatkan wi-fi yang difasilitaskan hotel untuk para tamunya. Dengan sedikit ter-gopoh2 kudapatkan teman2 sudah pada ngumpul semua. Ternyata kali ini kursus dibuka untuk 2 kelas. Beberapa teman sejawat 1 team sudah kukenal sebelumnya. Bahkan kang Andanu dari Jakarta yang tempo hari kuajak bersama ATLS di Bandung itu pun sekarang menjadi CD (Course Director)-nya. Ada mas Arif, dr. Rachim –teman dari Kaltim, musuh bebuyutanku di tenis dalam pertemuan Bedah hampir setiap tahun-, m’bak Erica –anasthesiolog yang banyak bicara- he..he.. dan banyak yang lainnya. Satu team juga denganku senior Bedah Saraf dari Bali –dr. Sri Maliawan- yang kabarnya bosok baru bisa datang… Ada beberapa arahan dari CD dan intinya kita semua sudah ready untuk pelaksanaan besok!

Di acara pembukaan kursus, setelah CD memperkenalkan semua instruktur, baru aku menyadari kalau saat ini adalah course yang asal insrukturnya hampir lengkap dari seluruh Indonesia. Hadir sejawat dari Sabang, Sumatra Utara, Jambi, Jakarta, Bandung, Jogyakarta, Surabaya, aku dan dr. Sri dari Bali, Kalimantan, Manado, Makasar sampai ada yang dari Papua juga. Kudengar penyelenggaraan kali ini dibiaya oleh Depkes tentu memanfaatkan dana proyek yang pastilah lebih besar dari penyelenggaraan regular sebelumnya. Pantas saja pesertanya berasal dari instansi2 negeri se-Sulawesi Selatan. Pantasan saja saat berangkat aku diintruksikan dari Jakarta untuk membawa serta Surat Perjalanan Dinas segala, tidak seperti biasanya.

Tentang perjalanan course selama tiga hari ini, biasalah…. sangat melelahkan! Pasti yang paling merasakan adalah para peserta! Payahnya lagi bahwa ternyata tempat menginap para instruktur dengan tempat penyelenggaraan di RS dr. Wahidin lumayan jauh, membutuhkan sedikitnya 1 jam perjalanan kalo lagi macet. Sehingga betul2 memakan waktu! Berangkat dari jam setengah tujuh atau jam tujuh pagi, paling cepat tiba di hotel jam 9 malam. Di hari pertama aku kebagian mengajar di Group Surgical Skill, animal Lab, sendirian dengan 5 peserta. Di sesie kelas, aku ditempatkan sebagai skondan pada kuliah tentang Abdominal Trauma. Di hari kedua aku membawakan materi Musculoskeletal Trauma, siangnya membimbing peserta di skill station musculoskeletal juga bersama dr. Rachim dan sore menjelang malam ikut memberi arahan di sesie Airway dan Ventilatory Management bersama dr. Hisbullah, sejawat anasthesi dari Ujungpandang. Tampaknya rata2 peserta lumayan kemampuannya sekalipun sebagian dari mereka sudah berumur jika dilihat dari kebanyakan peserta kursus ini yang biasanya baru lulus S1 Fakultas Kedokteran 1 – 2 tahun sebelumnya. Di sela-sela waktu istirarat, waktu berkumpulnya para instruktur menunggu giliran mengajar, mencolok sekali kehadiran dr. Erica dan dr Sri Maliawan karena kedua sejawat inilah yang selalu membuat suasana jadi rame dengan joke2 yang gerrr… dan tingkahnya yang bikin teman2 paling tidak tersenyum kalau tidak tertawa atau ikut memberi celetukan. Kata salah satu iklan ”kalo ga’ ada loe ga’ rame….” Malamnya, seperti biasa, ada jamuan dinner dari panitia yang diselenggarakan di salah satu restaurant sea food terkenal di sana. Sangat terkesan! Ada acara unjuk nyanyi oleh para instruktur diiringi keybord. Dan dr. Tommy, senior kita dari Surabaya sangat apik membawakan Munajat Cinta, lagunya Ahmad Dani The Rock….

Di hari terakhir, setelah membimbing peserta dalam acara Triage Scenario serta simulasi mologue aku ditugaskan menguji 4 peserta berbagi bersama dr. Erica. Salah satu peserta terpaksa kunilai kurang untuk mencoba lagi diuji oleh instruktur lain. Ia mengalami stuck dan confuse padahal kutahu peserta ini lumayan aktif bertanya saat bimbingan. Aku tidak mengikuti acara hingga penutupan karena takut ketinggalan pesawat. Siang menjelang sore aku buru2 balik ke Bali…

Satu lagi aktifitas dan tugas telah kuselesaikan. Biarkan saja hidup ini mengalir bagai aliran air, ikuti, nikmati dan pasti saja ada makna di dalamnya… Sampai jumpa ATLS berikutnya……

Leave a Reply




CommentLuv Enabled

 

Selamat Datang dan Terimakasih atas Kunjungan Anda di SpesialisBedah.com -- Pertanyaan ataupun komentar Anda akan sesegera mungkin saya tanggapi

Surgeon[log] is using WP-Gravatar