Archive for August, 2008
Jelas jawaban pertanyaan di atas ‘tidak’. Tidak ada alasan untuk takut masuk ke tempat praktek dokter bedah dengan pemikiran bahwa semua sakit yang anda alami harus diselesaikan dengan pembedahan. Ada beberapa jenis kelainan yang tidak perlu ditangani dengan tindakan operasi, ada yang dilakukan operasi hanya jika pengobatan biasa menimbulkan kegagalan, ada yang operasinya bisa direncanakan / ditunda dan bahkan ada yang memang bukan sama sekali penyakit yang memerlukan pembedahan.
Beberapa hari yang lalu saya kedatangan pasien laki dewasa muda yang mengira dirinya terkena hernia dengan rasa nyeri di daerah pelir. Ia juga sudah datang ke dokter keluarga yang lalu merujuknya ke dokter bedah dengan persangkaan suatu puntiran / torsio pada testis-nya. Setelah saya lakukan pemeriksaan secara seksama saya simpulkan penyakit yang dideritanya hanyalah suatu infeksi di daerah buah pelir dan sama sekali bukan kasus yang berhubungan dengan pisau bedah. Dengan hampir setengah tidak percaya ia saya sarankan untuk beristirahat di rumah, padahal batinnya sudah siap untuk menjalani operasi.
Begitu pula keluhan seorang ibu yang menderita benjolan sebesar buah anggur di bagian perutnya yang sudah didapatkan sejak lama, tanpa rasa nyeri juga tanpa dirasakan makin membesar. Ia lalu bertanya ‘apakah benjolan ini perlu dioperasi dok..?’ Saya jawab belum perlu bahkan tidak perlu karena saya yakin itu suatu benjolan lemak yang tidak berbahaya. Jika dalam perkembangannya si ibu itu merasakan ada perobahan (misalnya; bertambah besar atau bertambah banyak) terhadap tumor jinak di bawah kulit ini mungkin baru membutuhkan operasi ringan untuk biopsy. Ini contoh kasus yang tidak memerlukan operasi selama tidak dicuragai bertendensi ke arah perburukan. Kecuali dengan alasan estetika. Tapi siapa sih yang akan melihat bagian perut si ibu itu selain suaminya..?
Mendengar cerita itu, lalu pertanyaan anda apakah tidak sebaiknya dilakukan sesuatu terlebih dahulu selagi masih ringan sebelum suatu penyakit menjadi lebih berat dan lebih susah penanganannya. Benar, terdapat beberapa penyakit yang di saat masih ringan dapat sembuh dengan therapy non bedah namun jika berkembang lebih parah barulah membutuhkan penanganan bedah. Seperti jika anda menderita wasir / ambeyen atau hemoroid. Jika masih didapatkan pada kondisi grade I atau grade II anda masih boleh berharap bisa sembuh dengan pengobatan konservatif (tanpa bedah). Tapi kalau sudah grade III bahkan grade IV, sudah ada indikasi tindakan bedah untuk menjawabnya. Contoh lain, misalnya jika anda atau anak anda terdiagnose tonsillitis atau pembesaran amandel.
Mungkin anda pernah mendengar seorang pasien meninggal pasca dilakukan operasi. Kenapa? Salah satu penyebabnya adalah kondisi pra-bedah pasien tersebut. Semua Dokter Bedah pasti pernah menghadapi dilema ‘maju kena mundur kena’. Satu situasi, fifty fifty yang kalau dilakukan operasi beresiko mati. Ini sangat memerlukan keputusan bulat dari keluarga pasien. Atau bisa saja perbandingannya bukan fifty fifty lagi bahkan kecil kemungkinan membaik setelah dikerjakan operasi. Misalnya pasien tua dengan banyak penyakit lain, kondisi pasien sangat kritis atau pasien stroke atau yang mengalami perdarahan otak luas, yang dalam keadaan koma. Bagaimana terhadap kondisi ini? Kalau itu menimpa pada salah satu keluarga anda..? Sebaiknya tidak dioperasi, kan?!
Untuk kasus bedah yang membutuhkan pembedahan pun, waktu penentuan kapan harus dikerjakan, berbeda antara kelainan atau penyakit yang satu dengan yang lainnya. Dilihat dari waktu, pembedahan digolongkan sangat emergency, emergency / cito, urgent dan pembedahan berencana (elektif).
NOTES (Natural Orifice Transluminal Endoscopic Surgery) adalah pembedahan yang dikerjakan melalui lobang-lobang alami tubuh, seperti mulut, lobang kemaluan, lobang dubur, telinga dll. Jadi operasi jenis ini tidak membutuhkan torehan di permukaan tubuh melainkan insisinya dilakukan di lapisan tubuh bagian dalam sehingga tidak akan terbentuk scar/bekas luka di bagian kulit kita. Teknik ini merupakan terobosan baru yang tentu lebih advance dari minimal invasive surgery yang sudah banyak digunakan saat ini. NOTES masih dalam pengembangan dan yang pertama kali mempublikasikan istilah ini dan baru terbatas saat itu penerapannya hanya pada binatang adalah Tim Peneliti dari John Hopkins Univesity. Belakangan teknik ini pernah digunakan di India untuk operasi apendik pada manusia, melalui lambung atau apa yang disebut dengan transgastic appendectomy. Pada 25 Juni 2007 Swanstom dan kawan2nya melaporkan pengerjaan transgastric cholecystectomy yang pertama kali pada manusia. Setelah itu sekelompok dokter Bedah dari Portugal mencoba melakukan NOTES dengan mengkombinasi dari 2 akses untuk mempermudah dan memaksimalkan hasil pembedahannya. Dilaporkan mereka telah berhasil mengerjakan cholecystectomy secara transgastric dan trasvesical approach (operasi pengangkatan kandung empedu melalui mulut dan saluran kencing yang kemudian alatnya ditembuskan melewati lambung dan kandung kencing). NOTES dengan akses transvaginal dikatakan lebih aman dan lebih mudah diaplikasikan. Group peneliti NOTES dari Rio de Janeiro, Brazil dipimpin Dr. Ricardo Zorron pada awal bulan Maret 2007 telah melakukan serial pembedahan cholecystectomy transvaginal pada 4 orang pasien. Tentu pengerjaan ini hanya dapat dilakukan pada pasien wanita saja. Selain di bidang Bedah Digestif sampai saat ini NOTES sudah diterapkan di sub Bedah Urologi, Bedah Saraf dan lain-lain.
NOTES telah menjadi paradigma baru dalam dunia pembedahan. Jauh lebih mengungguli teknik laparoscopy yang menjadi trend pada era tahun 1980 dan 1990. Keunggulannya selain hanya membutuhkan anasthesi rendah, juga recovery pasien bisa dipercepat, mengurangi waktu tinggal di rumah sakit serta bisa terhindar dari komplikasi luka transabdominal seperti infeksi dan hernia. Selain itu NOTES akan mengurangi efek immunosupresif, mengembalikan dengan cepat fungsi paru dan diafragma pasca operasi. Dan yang paling mudah dinilai pasien, bahwa dengan NOTES tidak akan menimbulkan bekas luka pada permukaan tubuh…
Bagaimana perkembangannya di Indonesia? Laparoscopy saja masih tergolong teknik baru, walaupun sudah luas penggunaannya di kota-kota besar, apalagi NOTES!
Kita tunggu saja laporan dari center2 pendidikan Bedah Digestif, siapa tahu sudah ada senior kita yang berniat menerapkan teknik ini di Indonesia…
Banyak orang takut kalau melihat darah. Belum lagi kalau darah itu berasal dari badannya sendiri. Apalagi terjadi secara mendadak terasa tanpa penyebab sebelumnya, darahnya darah segar, mengucurnya deras… banyaaak lagi! Jika itu anda alami untuk pertama kalinya ketika anda buang hajat di toilet, wah..wah… yakin deh, anda pasti kaget!
Tapi jangan panik dulu! Anda sebaiknya tahu apa yang terjadi pada diri anda. Dari mana darah itu berasal, sudah seberapa parahkah, apa yang perlu anda lakukan dan apa yang kira-kira dokter bisa lakukan untuk menolong anda serta yang paling penting bisakah itu dihilangkan atau disembuhkan. Berak darah bisa berasal dari hal yang sepele, cuma luka kecil di anus sampai hal yang berat seperti kanker yang membuat kesempatan anda untuk hidup sudah bisa diprediksi…
Dari warna darah dan kenceng kucurannya bisa ditentukan dari bagian mana darah itu berasal. Jika darah yang keluar merah segar, tidak bercampur dengan tinja apalagi kucurannya kencang dapat dipastikan asalnya tidak jauh dari permukaan anus yang penyebabnya karena pembuluh darah yang pecah dan kebanyakan itu bersumber dari hemoroid atau wasir. Secara logika dapat kita perkirakan kalau darah itu menetes dan menyusul setelah keluarnya satu faeces yang keras. Lain halnya perdarahan yang bermula dari usus besar di bagian pangkal, akan hanya tampak faeces yang kehitaman. Atau darah kehitaman dengan bau yang sangat amis bisa diduga akibat perdarahan yang terjadi di lambung atau usus halus.
Lalu, bagaimana tahu hal itu secara pasti. Di dunia kedokteran ada beberapa tool atau alat bantu untuk mendeteksi sumber perdarahan tersebut, letak, bentuk bahkan sekalian mengetahui kandungan sel-selnya melalui jalan biopsi. Pemeriksaan penunjang itu adalah endoscopy berupa sigmoidoscopy, colonoscopy atau ada juga yang kurang invasive seperti ct scan cyclical multislice.
Apa saja penyakit yang memungkinkan gejala berak darah ini? Tentu di samping keluhan pasien, seorang dokter mengarahkan perkiraan ini berdasarkan juga data yang lain, seperti pola buang air besar sebelumnya, ada tidaknya rasa nyeri, usia, turunan dan keadaan fisik lainnya. Jika belum yakin kelainannya apa, barulah dibutuhkan pemeriksaan penunjang seperti di atas. Tidak kurang dari 80% kasus berak darah yang berasal dari anus pada orang dewasa berasal dari hemoroid. Kemungkinan lain adalah infeksi, divertichel, polips, ulcus dan lain-lain. Jika kejadiannya pada orang tua harus dipertimbangkan kemungkinan suatu keganasan atau kanker usus.
Untuk lebih jelasnya, temui dokter bedah yang terdekat…
Sudah dengan berbagai upaya ribet serta pisimis untuk mendapatkan Surat Keterangan Tidak mampu, seorang Ibu sedang kebingungan mencari hutang ke para kerabat dan tetangga guna mendapat sejumlah dana lantaran si anak kesayangan telah diputuskan oleh dokter harus menjalani tindakan operasi terhadap kelainan hernia yang dialami. Ongkos untuk menjalani operasi dirasakan begitu besar dan bagi ibu yang sehari harinya berjualan bumbu serta sayuran di pasar tradisional ini jelas tidak siap menghadapi permasalahan seperti ini. Inilah fenomena kebanyakan yang bisa kita jumpai di tengah2 masyarakat kita yang belum sepenuhnya menyadari dan belum mampu mengakses apa yang namanya asuransi kesehatan. Sungguh berbeda jika dibandingkan dengan masyarakat yang hidup di negara yang sudah maju tingkat sosial ekonominya. Tapi apakah memang biaya pembedahan di negara ini begitu mahal? Jawabnya cukup relatif tergantung dari sisi mana dilihat. Sementara sampai saat ini biaya tinggi itu pun tidak sama antar satu rumah sakit dengan rumah sakit lainnya, apalagi dibandingkan antar satu kota atau daerah dengan daerah lainnya. Memang regulasi pemerintah serta pihak2 terkait sangat dibutuhkan sekalipun sudah ada upaya dari praktisi kesehatan untuk menstardarisasinya. Tarif yang ada sekarang lebih banyak ditentukan oleh dokter bedah sebagai tenaga ahlinya melalui organisasi profesi yang menaungi serta ditambah biaya2 rumah sakit sebagai penyedia jasa pelayanan.
Kembali pada cerita di atas, kalo saja si ibu mempercayakan anaknya untuk dioperasi di rumah sakit pemerintah mungkin dapat mengurangi pembiayaan karena telah memperoleh subsidi. Tapi dengan alasan untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik, sekalipun biaya lebih tinggi ibu itu memilih rumah sakit swasta sebagai tempat perawatan anaknya. Tapi apakah memang betul demikian? Memang sesuai dengan dalilnya, jika memberi jasa yang lebih tentu membutuhkan imbalan yang lebih pula. Begitu pun terhadap kwalitas pelayanan di rumah sakit. Isue yang dipercaya menyatakan kwalitas pelayanan di rumah sakit swasta lebih baik dari RS negeri, padahal tidak sepenuhnya seperti itu! Sudah tidak jarang sekarang ini justru layanan kesehatan pemerintah yang lebih berkwalitas. Maka, berhubungan dengan biaya, cobalah mengambil perbandingan beberapa rumah sakit untuk mendapatkan biaya yang pas sesuai kemampuan dan keinginan. Sebab antar rumah sakit swasta pun untuk pengerjaan 1 kasus bedah yang sama bisa didapatkan tarif yang berbeda. Tidak beda dengan barang dagangan juga kan..?! Semua di atas akan lain lagi ceritanya kalau anda datang langsung ke dokter yang anda percaya dan dokter ini yang lalu merujuk anda ke satu rumah sakit yang ia percayakan juga sebagai tempat untuk menangani dan merawat anda.
Di beberapa rumah sakit swasta ada menyediakan tarif paket yang diperuntukkan bagi penderita kurang mampu sebagai salah satu perwujudan fungsi / tanggungjawab sosial kepada masyarakat. Jika memang ada di rumah sakit pilihan anda, tentu ini menjadi salah satu alternatif juga untuk mengurangi biaya perawatan. Kalau tidak ada, pilihlah kelas perawatan yang paling murah, toh tidak mengurangi kwalitas serta tata cara tindakan operasi-nya. Hal pembiayaan ini dapat ditanyakan dan dicermati terlebih dulu di bagian informasi atau administrasi rumah sakit bersangkutan. Pembiayaan akan berbeda sesuai dengan katagori / jenis operasi dan fasilitas kamar perawatan. Mintalah informasi prediksi pembiayaan total jika anda sedang menyiapkan diri untuk dioperasi.
Atau kalau pun hal di atas juga masih berat bagi keuangan anda, tidak perlu anda berkecil hati untuk menyampaikan terus terang ke dokter anda, siapa tahu sang dokter bisa membantu mengurangi penderitaan anda! Mungkin dipertimbangkan dari pemilihan obat, pemilihan material bedah di kamar operasi, mengurangi hari perawatan atau bahkan memotong atau menggratiskan honornya untuk disumbangkan kepada anda. Bukankah dokter itu juga manusia biasa seperti anda atau orang lainnya yang punya hati nurani untuk menolong sesama..?
Menegaskan kembali seperti pembicaraan awal, biaya tidak akan menjadi kendala kalau anda sudah dipayungi oleh asuransi. Apa pun bentuk dan cara penerapannya. Sekali lagi, asuransi kesehatan itu penting!

