Sudah dengan berbagai upaya ribet serta pisimis untuk mendapatkan Surat Keterangan Tidak mampu, seorang Ibu sedang kebingungan mencari hutang ke para kerabat dan tetangga guna mendapat sejumlah dana lantaran si anak kesayangan telah diputuskan oleh dokter harus menjalani tindakan operasi terhadap kelainan hernia yang dialami. Ongkos untuk menjalani operasi dirasakan begitu besar dan bagi ibu yang sehari harinya berjualan bumbu serta sayuran di pasar tradisional ini jelas tidak siap menghadapi permasalahan seperti ini. Inilah fenomena kebanyakan yang bisa kita jumpai di tengah2 masyarakat kita yang belum sepenuhnya menyadari dan belum mampu mengakses apa yang namanya asuransi kesehatan. Sungguh berbeda jika dibandingkan dengan masyarakat yang hidup di negara yang sudah maju tingkat sosial ekonominya. Tapi apakah memang biaya pembedahan di negara ini begitu mahal? Jawabnya cukup relatif tergantung dari sisi mana dilihat. Sementara sampai saat ini biaya tinggi itu pun tidak sama antar satu rumah sakit dengan rumah sakit lainnya, apalagi dibandingkan antar satu kota atau daerah dengan daerah lainnya. Memang regulasi pemerintah serta pihak2 terkait sangat dibutuhkan sekalipun sudah ada upaya dari praktisi kesehatan untuk menstardarisasinya. Tarif yang ada sekarang lebih banyak ditentukan oleh dokter bedah sebagai tenaga ahlinya melalui organisasi profesi yang menaungi serta ditambah biaya2 rumah sakit sebagai penyedia jasa pelayanan.
Kembali pada cerita di atas, kalo saja si ibu mempercayakan anaknya untuk dioperasi di rumah sakit pemerintah mungkin dapat mengurangi pembiayaan karena telah memperoleh subsidi. Tapi dengan alasan untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik, sekalipun biaya lebih tinggi ibu itu memilih rumah sakit swasta sebagai tempat perawatan anaknya. Tapi apakah memang betul demikian? Memang sesuai dengan dalilnya, jika memberi jasa yang lebih tentu membutuhkan imbalan yang lebih pula. Begitu pun terhadap kwalitas pelayanan di rumah sakit. Isue yang dipercaya menyatakan kwalitas pelayanan di rumah sakit swasta lebih baik dari RS negeri, padahal tidak sepenuhnya seperti itu! Sudah tidak jarang sekarang ini justru layanan kesehatan pemerintah yang lebih berkwalitas. Maka, berhubungan dengan biaya, cobalah mengambil perbandingan beberapa rumah sakit untuk mendapatkan biaya yang pas sesuai kemampuan dan keinginan. Sebab antar rumah sakit swasta pun untuk pengerjaan 1 kasus bedah yang sama bisa didapatkan tarif yang berbeda. Tidak beda dengan barang dagangan juga kan..?! Semua di atas akan lain lagi ceritanya kalau anda datang langsung ke dokter yang anda percaya dan dokter ini yang lalu merujuk anda ke satu rumah sakit yang ia percayakan juga sebagai tempat untuk menangani dan merawat anda.
Di beberapa rumah sakit swasta ada menyediakan tarif paket yang diperuntukkan bagi penderita kurang mampu sebagai salah satu perwujudan fungsi / tanggungjawab sosial kepada masyarakat. Jika memang ada di rumah sakit pilihan anda, tentu ini menjadi salah satu alternatif juga untuk mengurangi biaya perawatan. Kalau tidak ada, pilihlah kelas perawatan yang paling murah, toh tidak mengurangi kwalitas serta tata cara tindakan operasi-nya. Hal pembiayaan ini dapat ditanyakan dan dicermati terlebih dulu di bagian informasi atau administrasi rumah sakit bersangkutan. Pembiayaan akan berbeda sesuai dengan katagori / jenis operasi dan fasilitas kamar perawatan. Mintalah informasi prediksi pembiayaan total jika anda sedang menyiapkan diri untuk dioperasi.
Atau kalau pun hal di atas juga masih berat bagi keuangan anda, tidak perlu anda berkecil hati untuk menyampaikan terus terang ke dokter anda, siapa tahu sang dokter bisa membantu mengurangi penderitaan anda! Mungkin dipertimbangkan dari pemilihan obat, pemilihan material bedah di kamar operasi, mengurangi hari perawatan atau bahkan memotong atau menggratiskan honornya untuk disumbangkan kepada anda. Bukankah dokter itu juga manusia biasa seperti anda atau orang lainnya yang punya hati nurani untuk menolong sesama..?
Menegaskan kembali seperti pembicaraan awal, biaya tidak akan menjadi kendala kalau anda sudah dipayungi oleh asuransi. Apa pun bentuk dan cara penerapannya. Sekali lagi, asuransi kesehatan itu penting!


Kalau yang miskin menjadi sakit, sebetulnya tidak masalah selama memiliki ‘jamkesmas’ (walopun pada sk/uu *lupa* yang telah/akan digedok menyatakan bahwa nanti premi sebesar 15rb/bln setiap warga negara wajib membayar *gak jadi gratis kalo gini namanya*).. Yang paling repot yang ekonomi menengah kerja di perusahaan yang biasa-biasa aja (baca: gak mengasuransikan pegawainya). Mau ngurus jamkesmas tapi kok ya gak masuk kategori miskin.. Gak ngurus jamkesmas kok ya sampe dibelain jual rumah/kendaraan satu2nya kadang
Hal ini pula yang baru saja saya sampaikan pada seorang teman yang harus menjalani operasi. Saya memberikan pilihan untuk menyatakan secara langsung ke dokternya untuk mengurangi biaya -entah bagaimana cara yang dipilih oleh sang dokter, tapi saya percaya dokter pasti tak akan mencelakakan pasiennya- atau mesti agak ribet mengurus asuransi yang disediakan kantornya *meski itu berarti dia harus pindah dokter/RS*.. Biaya kesehatan memang tidak murah. Banyak sekali orang yang sekarang menjadi ‘miskin karena sakit’.. Dan disinilah peran dokter untuk mengedukasi masyarakat untuk senantiasa selalu menjaga kesehatannya
Menarik… ‘miskin karena sakit’. Pastilah yang miskin akan bertambah miskin dan bertambah sakit jika sedang jatuh sakit. Sebetulnya menjadi kesempatan dokter unt bs menabungkan amal unt memperoleh pahala yg lebih baik.. Smg kewajiban membantu sesama disadara oleh semua.. Amin!
@ribkah timotius; jika kondisi pre operatifnya baik, tidak masalah untuk menjalani pembedahan. Apalagi pasien masih bisa beraktifitas justru dengan telah dioperasinya hernia ini akan membuat lebih nyaman…