Archive for September, 2008
“Untunglah saya cuma lecet-lecet kayak gini mas… Mau nolong korban yang lain, bingung saking banyaknya mas! Ada yang sudah nggletak, kepalanya bocor, ada yang terjepit, ada yang teriak-teriak minta tolong. Tuh dari situ ada ibu-ibu menjerit kesakitan ngeliat kakinya hancur… Aduh pokoknya sereemm..” kata salah seorang korban penumpang bus yang mengalami kecelakaan, tergelincir dan terjungkir di tikungan maut di sekitar daerah Gilimanuk, jalur ramai Jawa Bali beberapa tahun yang lalu. Di malam itu, bantuan tim medis ke tempat kejadian dirasa sangat lambat datangnya, maklumlah karena disamping suasana gelap, terjadi di daerah kawasan hutan, juga karena tidak ada salah seorang pun korban mengambil inisiatif untuk mencari pertolongan segera. Saat itu ditemukan puluhan korban termasuk 6 orang meninggal, baik di tempat kejadian maupun di rumah sakit.
Begitulah sekelumit gambaran kejadian yang bisa anda bayangkan jika anda berada pada suasana itu. Menghadapinya tentu tidak semudah bercerita seperti ini. Tapi paling tidak ada gambaran juga kira-kira apa yang bisa kita perbuat jika kita menjadi salah seorang korban atau penolong yang terlibat. Yang pertama paling penting, tenangkan diri sendiri dulu! Carilah orang-orang di sekitar anda yang masih mampu dan mau menolong korban lainnya. Atau kalau tidak, berusahalah menghubungi penduduk di sekitar kejadian atau pengguna jalan lainnya untuk bisa anda beritakan musibah yang terjadi. Dan jika anda memiliki nomor penting di ponsel anda, bisa anda gunakan untuk mengakses pihak-pihak terkait, seperti kepolisian, pusat layanan medis atau rumah sakit, pejabat atau key person lainnya baik secara langsung atau melalui laporan teman atau saudara anda yang bisa lebih mudah dihubungi sebelumnya.
Berikan perhatian utama terlebih dulu pada korban yang terancam nyawanya, yakni orang-orang yang mempunyai cedera atau masalah di sekitar jalan nafas (airway), dada (breathing) dan perdarahan hebat. Tentu penilaian dan tindakan yang anda mampu lakukan pastilah terbatas. Biasanya justru yang masih bisa berteriak kita tidak khawatir akan ancaman nyawanya. Dengan beberapa orang penolong, yang bisa anda lakukan antara lain (seperti pada artikel sebelumnya); menempatkan korban pada lokasi yang lebih lapang, bersihkan jalan nafas, longgarkan gerakan nafas, tutup dan bebat tekan bagian tubuh yang mengalami perdarahan, mempertahankan posisi alat gerak (kaki / tangan) pada kondisi yang meringankan rasa nyerinya dan mendudukkan korban kalau ia masih dalam keadaan sadar baik. Jangan lupa pula bahwa di saat akan memindahkan korban, prinsip –tidak memperparah cedera akibat kecerobohan penolong- semestinya diperhatikan. Caranya, dengan menjaga agar tidak terjadi gerakan yang berlebihan pada tulang leher, punggung dan tungkai korban.
Pada tatacara pertolongan terhadap korban musibah masal, penentuan prioritas penanganan sangatlah penting. Sehingga untuk mengevakuasi pasien / korban menuju rumah sakit yang memiliki sarana yang memadai, harus mendahulukan beberapa korban yang mempunyai kriteria tertentu. Untuk kepentingan itu, Tim Bantuan Medis akan melakukan pemilahan atau pengelompokan korban berdasarkan tingkat kegawatdaruratannya. Dikenallah korban berkatagori stabil, kritis, terancam dan tak bernyawa dengan pewarnaan yang berbeda pula; hijau, kuning, merah dan hitam. Upaya pemilihan ini disebut triage.
Jika anda yang terlibat di lapangan sudah bisa hingga melakukan triage –yang mungkin anda sempat kerjakan sebelum Tim Medis datang ke tempat kejadian- saat itu anda layak dikatakan mampu melakukan basic trauma life support dengan benar. Dan niscaya dari tangan anda, anda telah dapat mencegah korban jatuh pada kondisi yang lebih serius serta mengurangi kemungkinan kematian korban akibat kecelakaan.
Maka, apakah anda ikut panik seperti korban lainnya? Selagi anda mampu, daripada diam, lakukanlah sesuatu sebatas anda bisa lakukan…!
Memasuki seminggu menjelang Lebaran ini arus lalu lintas sudah pasti ramai. Banyak pihak terlibat demi kelancarannya, seperti pihak kepolisian, perhubungan, kesehatan, termasuk juga terlibat penyedia jasa layanan service kendaraan bermotor. Yang diantisipasi adalah ketidaknyamanan di sepanjang perjalanan, seperti macet, gangguan terhadap kendaraan dan gangguan terhadap pengguna jalan. Tapi yang lebih penting dari itu sebetulnya adalah mencegah terjadinya kecelakaan dan tentu juga para korban dari kecelakaan itu sendiri. Jika anda menjadi salah satu orang yang terlibat di dalamnya, ada baiknya juga mengetahui beberapa tatacara menolong diri sendiri dan atau orang lain. Sebelum menolong orang lain, pastikan dulu bahwa diri anda dalam kondisi baik dan merasa sanggup menolong korban pada batas-batas tertentu.
Pertama-tama tempatkan dahulu korban pada tempat yang aman dan lapang untuk bisa memberikan pertolongan lebih lanjut. Hati-hati memindahkan korban dari posisi awalnya. Tidak masalah kalau korban bisa berjalan sendiri, tapi kalau ia mengalami nyeri saat bergerak, terhimpit atau terjepit atau bahkan dalam keadaan tidak sadar, dibutuhkan beberapa perhatian. Akan lebih baik jika ada 2 atau lebih penolong lainnya. Pertahankan posisi alat gerak yang dirasakan nyeri karena mungkin itu berarti si korban mengalami patah tulang. Sebisa mungkin juga pertahankan posisi leher (baca; tulang leher) dan punggung / tulang belakang saat mengangkat terutama untuk korban yang tidak sadar.
Di saat korban sudah ditempatkan di lokasi yang aman, sekalipun masih di sekitar tempat kejadian, ada 3 hal penting yang harus anda perhatikan! Ini akan menyangkut keselamatan korban dan prioritas pertolongan yang akan kita berikan.
Pertama, adalah jalan nafas (airway). Yakinkan si korban tidak mengalami hambatan jalan nafas. Itu bisa diketahui dari bunyi nafasnya, bisa seperti orang ngorok, berkumur atau bahkan gelisah, kulit kebiruan dan tidak terdeteksi atau tidak terasa sama sekali adanya udara yang mengalir dari hidung atau mulutnya. Yang bisa anda lakukan adalah menyingkirkan kalau ada benda asing, cairan muntahan, darah atau lendir di sekitar mulut dan hidungnya. Setelah itu, bisa juga anda memperbaiki posisi jalan nafas dengan cara mengangkat dagu atau rahang penderita (chin lift atau jaw thrust maneuver) dengan tetap mempertahankan posisi leher sehingga tanda tanda hambatan jalan nafas tadi tidak didapat lagi. Tentu hal di atas akan ditemukan pada pasien tidak sadar dan dapat dilakukan jika si korban sudah terbebas dari helm yang digunakannya. Anda bisa mengabaikan pertolongan pertama ini kalau pasien bisa diajak bicara atau bahkan ia bisa berteriak teriak kesakitan.
Perhatian kedua, difokuskan pada masalah pernafasan (breathing). Menunjukkan ada masalah kalau anda temukan korban dalam kedaan sesak nafas, nafasnya pendek, cepat dan berat. Sebetulnya kelainan ini bersumber pada dada, ruangannya atau langsung berasal dari perlukaan di paru-paru. Anda mungkin tidak bisa berbuat banyak di tempat kejadian. Dengan melonggarkan pakaian, atau hal lain yang menghambat gerakan dada, menutup luka terbuka di sekitar dada serta menempatkan korban -jika dalam keadaan sadar- dalam posisi duduk, akan dapat membantu gangguan pernafasan yang dialaminya. Ini menjadi prioritas kedua bagi tim medis nantinya dalam membantu korban di tempat yang fasilitasnya sudah memadai.
Akan adanya perdarahan, menjadi prioritas pertolongan berikutnya. Jadi setelah upaya atau perhatian terhadap jalan nafas dan pernafasan barulah anda mengatasi perdarahan (circulation) yang terjadi dengan cara menutup luka sebagai sumber keluarnya darah tersebut. Sedapat mungkin gunakan bahan yang bersih, seperti sapu tangan, kain bersih ataupun bagian dari pakaian anda atau si korban.
Dengan dijalankan tahapan tersebut, yang bisa saja dilakukan secara simultan, paling tidak dapat menunda atau pun mencegah korban dari kematian. Dan begitu juga jika hal-hal tersebut tidak dialami korban, bisa dikatakan trauma yang dialaminya tidak akan mematikan korban di tempat kejadian. Masih ada kesempatan bagi korban atau anda sebagai penolong untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut di puskesmas atau rumah sakit terdekat.
Semoga jalan mudik anda tidak terganggu…
Upaya penurunan berat badan menjadi trend di era ini sebagai salah satu cara untuk mempercantik diri. Berbagai macam metodanya, ada yang hanya mengatur diet, menggunakan obat termasuk golongan herbal sampai ke upaya-upaya yang lebih memanipulasi tubuh –disebut poles body kalau di automotive- seperti dengan sistim injeksi lemak ataupun penyedotan lemak (liposuction). Tapi untuk mereka yang tergolong overweigh atau obesitas (baca; penyakit kelebihan berat badan), upaya-upaya di atas tidaklah efektif. Mereka lebih membutuhkan tindakan yang lebih invasif lagi. Di beberapa negara yang sudah maju teknologi kedokterannya, satu ketrampilan bedah yang menjadi laris saat ini adalah Bariatric Surgery, yaitu suatu pembedahan untuk menanggulangi –baik itu mencegah maupun mengatasi- kondisi berat badan yang di atas normal.
Salah satu teknik dalam Bariatric Surgery yang saat ini berkembang pesat, terutama di Amerika dan Eropa adalah Gastric Bypass Surgery. Bahkan di USA merupakan operasi yang tidak istimewa lagi karena sampai saat ini sudah lebih dari 140.000 kali dikerjakan. Teknik ini merupakan perkembangan atau modifikasi dari teknik sebelumnya, yaitu dengan mengurangi volume lambung dan menyambungkan hanya sebagain kecil saja (bypass) usus halus ke bagian muara lambung (gaster), sehingga di samping penderita selalu merasa kenyang pada keadaan volume makanan yang relatif sedikit, juga mengurangi penyerapan sari makanan oleh usus halus yang membuat kalori yang diterima tubuh juga diperkecil. Awalnya diperkenalkan teknik Biliopancreatic Diversion (BPD) lalu disempurnakan dengan Duodenal Switch Procedure (BPDWS). Prosedur yang belakangan ini diharapkan lebih baik karena beberapa ahli Bedah percaya bahwa dengan mempertahankan pyloric spinchter (muara bawah lambung), makanan akan dicerna lebih baik, menurunkan tingkat malnutrisi dan defisiensi vitamin, serta dapat mencegah dumping syndrome pasca pembedahan. Pengerjaan teknik-teknik ini menggunakan peralatan laparoscopy, yang cukup dengan sayatan sepanjang 1 sampai 1,5 inci saja di beberapa lokasi permukaan perut, sudah bisa mengakses di bagian dalam dan dapat menyelesaikan operasi ini tidak lebih dari 4 jam. Namun pada beberapa kasus, atas pertimbangan dokter bedahnya bisa saja cara minimal invasive surgery ini dikonversi atau diganti dengan cara konvensional, yakni pembedahan terbuka /open surgery.
Berbeda dengan jenis pembedahan Bariatric lainnya, Gastric Bypass mempunyai beberapa keunggulan, diantaranya tidak harus merobah cara dan pola makan, makanan tidak perlu dikunyah sampai puluhan kali agar lebih hancur, volume makanan yang dapat ditampung juga lebih banyak sehingga pasien tidak begitu merasa terbebani (daya tampungnya 5 – 6 ons makanan, dibanding 1 – 1,5 ons dengan teknik lain). Dilaporkan juga penyerapan kalori yang dihasilkan dapat diturunkan hingga 50%-nya. Dan efek gejala dumping (dumping syndrome) secara signifikan bisa ditekan. Dumping syndrome adalah sekumpulan gejala, seperti mual, keringat dingin, rasa nyeri uluhati, muntah bahkan diare berat akibat makanan yang masuk ke lambung dialirkan begitu cepat menuju ke usus halus (duodenum). Gastric bypass merupakan pembedahan yang bersifat irreversible, tidak bisa dikembalikan ke bentuk semula, sangat berbeda dengan Adjustable Gastric banding. Hal ini pula memberi keuntungan dengan tidak repot memperhatikan alat bantu, yang membutuhkan prosedur lain setelah pembedahan.
Adjastable Gastric Banding adalah operasi dengan menyisipkan bahan pengikat lambung jenis silicon yang ditempatkan lebih dekat ke arah muara masuk lambung sehingga ruangan di dalam lambung juga dipersempit. Dan daya jerat alat ini bisa diatur sedemikian rupa yang berarti juga mengatur kwantitas serta aliran makanan ke duodenum. Pengaturannya melalui cairan yang ditempatkan dalam suatu port di bawah permukaan kulit, bisa diisi ataupun dikurangi dengan mudah menggunakan spite injeksi.
Bagaimanapun, Gastric Bypass Surgery memberikan kenyamanan pada pemakainya, dengan tidak terlalu dipusingkan oleh keterbatasan mengkonsumsi makanan tertentu, cara serta kebiasaan makan. Dan dari penelitian membuktikan bahwa hasilnya excellence, dapat mengurangi kelebihan berat badan hingga 70 – 80% di atas 2 tahun pasca pembedahan. Namun demikian, malnutrisi menjadi efek samping yang masih menjadi ganjalan, sehingga pada orang-orang yang menjalani operasi ini dibutuhkan suplay vitamin dan mineral yang cukup.
Ini menjadi peringatan bagi siapa saja yang doyan minum jamu secara berlebihan. Tapi, tidak saja jamu atau obat, apupun jika digunakan, dipakai dan dikonsumsi dalam jumlah banyak dan lama pastilah akan menimbulkan masalah. Begitulah yang dialami seorang Bapak berumur kepala enam yang sebelumnya mengidap Diabetes dan Rhematik datang ke UGD oleh karena sakit perut yang sudah dikeluhkan sejak 2 hari sebelumnya. Oleh sejawat dokter Penyakit Dalam (Internist) Bapak ini dikonsulkan ke bagian Bedah.
Kondisi fisiknya kudapatkan sangat lemah, selain sudah usia, ada beberapa penyakit kronis yang diidap sebelumnya apalagi ditambah rasa nyeri yang berusaha tetap ditahannya membuat kesadarannya sedikit menurun, tensi darah di bawah normal, nadi lemah dan frekwensinya meningkat serta pernafasan yang di atas 30 kali permenit. Dari pemeriksaan fisik yang aku lakukan jelas sekali terdapat rangsangan nyeri yang sangat dari seluruh bagian perut yang mengindikasikan kalau ada sesuatu gangguan di rongga perut hingga merangsang lapisan bagian dalam dinding perut (peritonium). Selain kelainan di bidang penyakit dalam, ia ku-diagnose sebagai general peritonitis yang sementara aku duga berasal dari kebocoran organ system pencernaan. Setelah kita konfirmasi dari beberapa pemeriksaan penunjang, termasuk foto x-ray, semakin jelas tampak adanya tumpukan udara bebas di cavum abdomen / rongga perut.
Dan aku semakin penasaran untuk menggali keterangan lebih jauh dari si pasien dan keluarganya. Ternyata memang si Bapak ini sudah biasa mengkonsumsi salah satu merek Jamu yang terjual bebas di warung untuk menanggulangi nyeri persendiannya. Sudah 2 tahun lebih, hampir setiap hari dengan dosis yang keseringan tidak terkontrol, mengingatkan aku terhadap 3 kasus yang sama yang pernah kutangani sebelumnya, selama aku di pendidikan dan menjadi dokter Bedah. Ia mengalami kebocoran lambung! Apalagi kuingat saat pemasangan NGT di UGD tampak ada sebagian darah yang keluar dari aliran cairan di dalam tube tersebut.
Pada umumnya jenis jamu yang dipakai untuk mengobati rhematik mengandung sejenis steroid dosis tinggi sehingga memang cepat sekali memberi efek penanggulangan terutama untuk kasus2 nyeri yang didasari reaksi imonologis seperti rhematik walaupun juga memberikan efek ketagihan untuk pemakai atau si penderita. Sedangkan di sisi lain, mempunyai dampak yang luar biasa terhadap lambung dengan mengikisnya sehingga menimbulkan erosi, penipisan dan akhirnya kebocoran dinding lambung.
Dibebani kondisi seperti ini, tubuh si Bapak tidak mampu lagi mentoleransi terhadap gangguan2 yang diakibatkan perforasi gaster (kebocoran lambung) itu, sehingga tidak lebih dari 2 jam masa resusitasi untuk pemulihannya, belum lagi termasuk pertimbangan untuk masuk kamar operasi, keadaannya makin memburuk dan 3 jam berikutnya nyawa si Bapak sudah tidak dapat ditolong lagi!
Maka, -sekali lagi- berhati-hatilah meminum jamu atau obat sekali pun, dalam jangka waktu lama, apalagi dosisnya tidak terkendali..!
Pertanyaan itu lumrah diajukan oleh pasien kepada dokternya saat akan melakukan penjahitan terhadap luka. Pertanyaan yang sering dan gampang itu tidak mudah menjawabnya. Mungkin lebih pas jawabannya ya….’tergantung’. Tergantung jenis luka, tergantung lokasi luka dan tergantung keadaan kulit penderita.
Memang pertimbangan utama untuk menggunakan jenis benang jahit yang bisa diserap (absorbable) adalah segi estetika atau kosmetika. Agar tidak tampak bekas yang mencolok di permukaan kulit dan agar tidak repot lagi datang ke dokter hanya untuk membuka jahitan. Pemilihan jenis benang antara yang absorbable dan non absorbable terjadi ketika akan menjahit kulit atau jahitan paling di permukaan luar. Jelas untuk jahitan di bagian dalam tubuh pastilah menggunakan material benang yang bisa diserap dan dapat menyatu dengan jaringan tubuh. Kelemahan menggunakan benang monofilament yang dapat terserap itu adalah kesulitan untuk mengevaluasi dan merawat luka seandainya terjadi komplikasi pada luka yang dijahit tersebut. Sehingga untuk luka-luka yang diprediksi akan menimbulkan masalah pasca operasi atau penjahitan, misalnya pada luka kotor atau luka dengan kandungan nanah penggunaan benang yang terserap ini sangatlah tidak tepat. Pertimbangan lain dokter biasanya juga menyangkut lokasi luka. Jika luka cukup panjang dan bertempat di areal yang sering bergerak terutama di bagian persendian akan memerlukan jahitan yang lebih kuat. Begitu juga terhadap keadaan kulit, apakah mudah alergi, sensitif, berkerut, keras, tebal atau dalam kondisi tidak sehat akan lebih aman mempergunakan jenis benang yang harus diangkat.
Jadi janganlah meminta ke dokter anda untuk menggunakan benang yang dapat diserap pada penjahitan akhir terhadap suatu luka anda yang diakibatkan oleh kecelakaan di jalan, luka borok atau luka lain yang jelas terinfeksi. Itu kalau anda tidak menghendaki adanya masalah pasca tindakan operasinya… Lalu jenis operasi apa saja yang bisa menggunakan material benang tersebut? Bisa dipakai pada operasi bersih, yakni operasi yang tidak menyentuh atau berhubungan dengan saluran cerna, saluran kencing maupun saluran nafas. Misalnya pada operasi hernia, pengangkatan kelenjar thyroid (thyroidectomi), operasi tumor jinak di bawah jaringan kulit dan lain-lain. Bisa juga digunakan untuk menjahit di permukaan bagian dalam tubuh, seperti di mukosa mulut, anus dan vagina…
Walaupun itu berarti anda tidak perlu kontrol ke dokter hanya untuk membuka jahitan luka operasi, tapi tidak memberi jaminan nantinya akan tidak menimbulkan bekas atau keloid lho…!




