Thursday, March 11, 2010

Antisipasi Mudik (2); Apa yang bisa dilakukan pada Musibah Masal

“Untunglah saya cuma lecet-lecet kayak gini mas… Mau nolong korban yang lain, bingung saking banyaknya mas! Ada yang sudah nggletak, kepalanya bocor, ada yang terjepit, ada yang teriak-teriak minta tolong. Tuh dari situ ada ibu-ibu menjerit kesakitan ngeliat kakinya hancur… Aduh pokoknya sereemm..” kata salah seorang korban penumpang bus yang mengalami kecelakaan, tergelincir dan terjungkir di tikungan maut di sekitar daerah Gilimanuk, jalur ramai Jawa Bali beberapa tahun yang lalu. Di malam itu, bantuan tim medis ke tempat kejadian dirasa sangat lambat datangnya, maklumlah karena disamping suasana gelap, terjadi di daerah kawasan hutan, juga karena tidak ada salah seorang pun korban mengambil inisiatif untuk mencari pertolongan segera. Saat itu ditemukan puluhan korban termasuk 6 orang meninggal, baik di tempat kejadian maupun di rumah sakit.

Begitulah sekelumit gambaran kejadian yang bisa anda bayangkan jika anda berada pada suasana itu. Menghadapinya tentu tidak semudah bercerita seperti ini. Tapi paling tidak ada gambaran juga kira-kira apa yang bisa kita perbuat jika kita menjadi salah seorang korban atau penolong yang terlibat. Yang pertama paling penting, tenangkan diri sendiri dulu! Carilah orang-orang di sekitar anda yang masih mampu dan mau menolong korban lainnya. Atau kalau tidak, berusahalah menghubungi penduduk di sekitar kejadian atau pengguna jalan lainnya untuk bisa anda beritakan musibah yang terjadi. Dan jika anda memiliki nomor penting di ponsel anda, bisa anda gunakan untuk mengakses pihak-pihak terkait, seperti kepolisian, pusat layanan medis atau rumah sakit, pejabat atau key person lainnya baik secara langsung atau melalui laporan teman atau saudara anda yang bisa lebih mudah dihubungi sebelumnya.

Berikan perhatian utama terlebih dulu pada korban yang terancam nyawanya, yakni orang-orang yang mempunyai cedera atau masalah di sekitar jalan nafas (airway), dada (breathing) dan perdarahan hebat. Tentu penilaian dan tindakan yang anda mampu lakukan pastilah terbatas. Biasanya justru yang masih bisa berteriak kita tidak khawatir akan ancaman nyawanya. Dengan beberapa orang penolong, yang bisa anda lakukan antara lain (seperti pada artikel sebelumnya); menempatkan korban pada lokasi yang lebih lapang, bersihkan jalan nafas, longgarkan gerakan nafas, tutup dan bebat tekan bagian tubuh yang mengalami perdarahan, mempertahankan posisi alat gerak (kaki / tangan) pada kondisi yang meringankan rasa nyerinya dan mendudukkan korban kalau ia masih dalam keadaan sadar baik. Jangan lupa pula bahwa di saat akan memindahkan korban, prinsip –tidak memperparah cedera akibat kecerobohan penolong- semestinya diperhatikan. Caranya, dengan menjaga agar tidak terjadi gerakan yang berlebihan pada tulang leher, punggung dan tungkai korban.

Pada tatacara pertolongan terhadap korban musibah masal, penentuan prioritas penanganan sangatlah penting. Sehingga untuk mengevakuasi pasien / korban menuju rumah sakit yang memiliki sarana yang memadai, harus mendahulukan beberapa korban yang mempunyai kriteria tertentu. Untuk kepentingan itu, Tim Bantuan Medis akan melakukan pemilahan atau pengelompokan korban berdasarkan tingkat kegawatdaruratannya. Dikenallah korban berkatagori stabil, kritis, terancam dan tak bernyawa dengan pewarnaan yang berbeda pula; hijau, kuning, merah dan hitam. Upaya pemilihan ini disebut triage.

Jika anda yang terlibat di lapangan sudah bisa hingga melakukan triage –yang mungkin anda sempat kerjakan sebelum Tim Medis datang ke tempat kejadian- saat itu anda layak dikatakan mampu melakukan basic trauma life support dengan benar. Dan niscaya dari tangan anda, anda telah dapat mencegah korban jatuh pada kondisi yang lebih serius serta mengurangi kemungkinan kematian korban akibat kecelakaan.

Maka, apakah anda ikut panik seperti korban lainnya? Selagi anda mampu, daripada diam, lakukanlah sesuatu sebatas anda bisa lakukan…!



4 Comments

  1. Comments  marshmallowNo Gravatar   |  Sunday, 28 September 2008 at 11:58 am

    tips yang sangat bermanfaat, bli kusmawan.
    (pemilihan foto ilustrasinya pas banget!)
    saya bisa bayangkan keadaan saat itu, pasti benar-benar mencekam.
    dan rumah sakit pun gak bakal bisa merasakan suasana malam-malam menjelang lebaran yang seyogyanya syahdu itu.

    btw, bli. gimana kebijakan penanganan korban trauma dari sisi medis dan hukum?
    berangkat dari pemikiran do no harm itu loh.

    Tulisan terakhir marshmallow : Kenalkan, Aku Robert Coote!

  2. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Monday, 29 September 2008 at 5:55 am

    @marshmallow :
    ‘do no harm’ dari sisi hukum, maaf belum sampai ke situ bacanya. Tapi dengan pengertian yang sama untuk kasus yang bukan trauma mungkin kita semua di kalangan praktisi medis sudah pernah mendengar ada kejadian tuntuan hukumnya.
    Dari sisi medis… ya sudah jelas keliru toh.. sekalipun emang sulit membuktikannya. Makanya kita yang ngerti, sebelum menolong mesti punya dulu kemampuan2 dasarnya…

    Wah,,,, kok di blog nanya seperti di kelas aja… pusing juga aku jawabnya! He..he..he…

    Tulisan terakhir kusmawan : Antisipasi Mudik (2); Apa yang bisa dilakukan pada Musibah Masal

  3. Comments  Yudhi GejaliNo Gravatar   |  Tuesday, 30 September 2008 at 5:05 pm

    Waduh dok…saya pribadi belum pernah menghadapi kasus bencana masal kayak gitu…syerem juga yah…kayak di pilem-pilem, he..he..
    Separah-parahnya kasus yang pernah saya tangani di IGD adalah kasus GSW (Gun Shot Wound), cuma 1 orang lagi. he..he..

    Tulisan terakhir Yudhi Gejali : Manipulasi Kemiskinan…

  4. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Wednesday, 01 October 2008 at 1:26 pm

    @Yudhi Gejali :
    Kalo dibaca, kan bisa nge-remind…. sehingga kalo sewaktu waktu menghadapinya bisa lebih siap..!

 

Selamat Datang dan Terimakasih atas Kunjungan Anda di SpesialisBedah.com -- Pertanyaan ataupun komentar Anda akan sesegera mungkin saya tanggapi

Surgeon[log] is using WP-Gravatar