Dokter Bedah juga manusia! Sangat manusiawi jika ia pernah melakukan kesalahan, terbawa emosi dan mengalami stress. Apalagi pekerjaannya sangat dekat untuk bersinggungan dengan hal-hal tersebut. Sehubungan dengan aktifitasnya, berikut beberapa hal yang bisa membuat seorang dokter bedah merasakan tekanan psikologis atau setidaknya terganggu pikirannya:
1. Menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan dugaan. Beberapa kelainan atau penyakit, sekalipun sudah digunakan berbagai pemeriksaan penunjang untuk tegakkan diagnosanya, setelah dibuka/dioperasi ternyata didapatkan sesuatu yang berbeda dengan duguaan semula. Hal ini bisa membuat seorang dokter bedah harus meminta pertimbangan, berkonsultasi atau melepas alih (over handle) pengerjaan pembedahan itu kepada dokter yang lebih senior, yang lebih berpengalaman atau bahkan ke dokter spesialis lain di luar lingkup bedah.
2. Menemukan kesulitan saat menjalani operasi. Oleh suatu sebab, dengan prosedur yang sudah dikuasai, tidak semua proses pembedahan berjalan mulus. Ini bisa pengaruh teknis atau non teknis dan yang lebih membuat stres kalau ketidaklancaran atau penyulit itu berasal dari kondisi anatomis pasien yang didapat di lapangan operasi. Misalnya yang tidak jarang dijumpai, yaitu ketika pembedahan terbuka harus dikonversikan karena teknik bedah minimal invasive tidak lagi bisa mengakses obyek yang dituju.
3. Terjadi komplikasi pasca operasi. Ini bisa mengenai setiap pasien yang menjalani operasi dan akan menyiksa ketenangan dokter bedah yang menanganinya. Mungkin tidak begitu masalah kalau terjadi komplikasi ringan. Tapi jika komplikasi itu sangat mengganggu pasien, belum lagi waktunya berkepanjangan dan kejadian ini tidak dijelaskan sejak awal sebelum terjadi, tentu akan menjadi petaka bagi seorang dokter bedah. Bisa saja hal ini memaksa dokter bedah untuk mengerjakan operasi ulang atau re-open guna membenahi gangguan komplikasi itu.
4. Membuat kecerobohan saat melakukan tindakan operasi. Sudah pasti hal ini merupakan sesuatu ketidaksengajaan. Jika ketidaksengajaan (iatrogenic) tersebut sudah diketahui saat proses pembedahan berlangsung, akan bisa diperbaiki saat itu juga sekalipun tentu memperpanjang waktu operasi dan menciptakan pula resiko tambahan. Tapi kalau kesalahan itu diketahui setelah selesai operasi, ini menjadi apes dokter bedahnya, apalagi buat si pasien! Contoh ekstrem misalnya benda asing yang tertinggal di dalam tubuh pasien…
5. Membawa kematian si pasien. Ini menjadi malapetaka paling serius bagi team bedah, terlebih kematian itu terjadi di atas meja operasi dan tidak diprediksi sebelumnya. Begitu pun jika kematian yang tidak diperkirakan itu terjadi sesaat sampai beberapa hari setelah pembedahan, akan juga menjadi kenangan pahit bagi dokter bedah. Maka akan menjadi dilema bagi dokter bedah dalam menangani pasien kritis yang membutuhkan pembedahan, antara harus dikerjakan atau tidak. Sangat dibutuhkan pengertian dan persetujuan dari keluarga penderita.
6. Tidak mengalami perbaikan setelah dilakukan pembedahan. Hal ini akan terus menjadi pertanyaan penderita. Tindakan bedah apa yang diterima, hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi atau memang pembedahan itu sendiri tidak memberikan makna terhadap penyembuhan pasien. Atau bahkan memperburuk keadaan, apakah dikarenakan kondisi atau penyakit penyerta –selain bedah- lainnya ataukah justru pembedahan itu yang menjadi pemicu terhadap perburukan kondisi penderita.
7. Ketidakpuasan pasien dan keluarga terhadap hal di luar teknis pembedahan. Keadaan ini lebih banyak berkenaan dengan sentuhan layanan sang dokter. Bagi dokter yang tidak punya waktu atau sulit untuk diajak berkonsultasi akan baru merasakan kekurangannya jika sudah ada keluhan pasien terhadap keterlambatan dokter tersebut dalam menangani atau memeriksa si pasien serta keluhan terhadap keengganan atau ketidakjelasan dokter dalam berkomunikasi dengan pasien atau keluarganya.

Semua hal tersebut di atas dapat diperkecil dampak dan bisa dicegah kejadiannya kalau sudah terjalin komunikasi yang baik antara dokter dan pasiennya. Jadi, sekali lagi, tetap menjadi yang terpenting adalah komunikasi, sekalipun suatu tindakan operasi sudah ditunjang oleh fasilitas yang canggih dan dokter bedah yang jago..!

28 Responses to “7 Hal yang bisa membuat stress Dokter Bedah”

  • ary:

    Saya tambahkan :-)
    8. Menemukan sesuatu yang diluar dugaan pada pasien yang juga rekan kerja di kantor sekaligus saudara inti dari seniornya. Setiap hari selama berbulan-bulan dalam minimal 4jam kerja ngelihat progress yang lambat, ngadepin pertanyaan beruntun dari orang satu kantor termasuk jajaran direksi soal penanganannya terhadap pasien bersangkutan meski senyatanya pasien dan keluarga pasien memaklumi bahwa apa yang terjadi adalah di luar kuasanya.
    *dikutip dari pengalaman pribadi seorang dokter yang menangani saya, dan tampak terlihat sangat lega ketika saya secara terbuka menyatakan bahwa saya dan keluarga memutuskan untuk pindah ke dokter lain* :-)

  • vanquish:

    yg dimaksud komplikasi bedah gimana?
    apa setiap operasi ada komplikasinya?
    Klu 2,5 bulan setelah operasi us-bun yg parah terjadi diare-muntah 3 hari b’turut2 apa itu komplikasi?
    klu gejala us-bun dibiarkan(ketidak-tahuan) sampai muntah-diare campur darah apa itu parah bgt?

    • @vanquish:
      Komplikasi bedah, apabila ada terjadi gangguan atau efek negatif akibat langsung dari pembedahan yang dikerjakan sebelumnya, yang gejala atau efek tsb tidak ada sebelum dilakukan pembedahan… Pastilah operasi itu tidak menimbulkan komplikasi. Bedakan komplikasi dengan resiko! Orang yang naik sepeda motor bahkan berjalan kaki dibandingkan .
      dengan orang yang naik mobil kenceng, sama2 memiliki resiko. Namun besar kecilnya resiko itu tidak sama.
      Ganguan pencernaan pasca operasi usus buntu 2 bulan sebelumnya hampir berani saya katakan bukan merupakan komplikasi operasinya…
      Usus buntu yg dibiarin bisa berakibat kebocoran dan dapat menimbulkan infeksi sistemik sebelum mengakibatkan efek yang fatal!