7 Hal yang bisa membuat stress Dokter Bedah
Last Updated on Sunday, 5 October o 03:52 Written by eka-kusmawan Thursday, 2 October o 11:32
Dokter Bedah juga manusia! Sangat manusiawi jika ia pernah melakukan kesalahan, terbawa emosi dan mengalami stress. Apalagi pekerjaannya sangat dekat untuk bersinggungan dengan hal-hal tersebut. Sehubungan dengan aktifitasnya, berikut beberapa hal yang bisa membuat seorang dokter bedah merasakan tekanan psikologis atau setidaknya terganggu pikirannya:
1. Menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan dugaan. Beberapa kelainan atau penyakit, sekalipun sudah digunakan berbagai pemeriksaan penunjang untuk tegakkan diagnosanya, setelah dibuka/dioperasi ternyata didapatkan sesuatu yang berbeda dengan duguaan semula. Hal ini bisa membuat seorang dokter bedah harus meminta pertimbangan, berkonsultasi atau melepas alih (over handle) pengerjaan pembedahan itu kepada dokter yang lebih senior, yang lebih berpengalaman atau bahkan ke dokter spesialis lain di luar lingkup bedah.
2. Menemukan kesulitan saat menjalani operasi. Oleh suatu sebab, dengan prosedur yang sudah dikuasai, tidak semua proses pembedahan berjalan mulus. Ini bisa pengaruh teknis atau non teknis dan yang lebih membuat stres kalau ketidaklancaran atau penyulit itu berasal dari kondisi anatomis pasien yang didapat di lapangan operasi. Misalnya yang tidak jarang dijumpai, yaitu ketika pembedahan terbuka harus dikonversikan karena teknik bedah minimal invasive tidak lagi bisa mengakses obyek yang dituju.
3. Terjadi komplikasi pasca operasi. Ini bisa mengenai setiap pasien yang menjalani operasi dan akan menyiksa ketenangan dokter bedah yang menanganinya. Mungkin tidak begitu masalah kalau terjadi komplikasi ringan. Tapi jika komplikasi itu sangat mengganggu pasien, belum lagi waktunya berkepanjangan dan kejadian ini tidak dijelaskan sejak awal sebelum terjadi, tentu akan menjadi petaka bagi seorang dokter bedah. Bisa saja hal ini memaksa dokter bedah untuk mengerjakan operasi ulang atau re-open guna membenahi gangguan komplikasi itu.
4. Membuat kecerobohan saat melakukan tindakan operasi. Sudah pasti hal ini merupakan sesuatu ketidaksengajaan. Jika ketidaksengajaan (iatrogenic) tersebut sudah diketahui saat proses pembedahan berlangsung, akan bisa diperbaiki saat itu juga sekalipun tentu memperpanjang waktu operasi dan menciptakan pula resiko tambahan. Tapi kalau kesalahan itu diketahui setelah selesai operasi, ini menjadi apes dokter bedahnya, apalagi buat si pasien! Contoh ekstrem misalnya benda asing yang tertinggal di dalam tubuh pasien…
5. Membawa kematian si pasien. Ini menjadi malapetaka paling serius bagi team bedah, terlebih kematian itu terjadi di atas meja operasi dan tidak diprediksi sebelumnya. Begitu pun jika kematian yang tidak diperkirakan itu terjadi sesaat sampai beberapa hari setelah pembedahan, akan juga menjadi kenangan pahit bagi dokter bedah. Maka akan menjadi dilema bagi dokter bedah dalam menangani pasien kritis yang membutuhkan pembedahan, antara harus dikerjakan atau tidak. Sangat dibutuhkan pengertian dan persetujuan dari keluarga penderita.
6. Tidak mengalami perbaikan setelah dilakukan pembedahan. Hal ini akan terus menjadi pertanyaan penderita. Tindakan bedah apa yang diterima, hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi atau memang pembedahan itu sendiri tidak memberikan makna terhadap penyembuhan pasien. Atau bahkan memperburuk keadaan, apakah dikarenakan kondisi atau penyakit penyerta –selain bedah- lainnya ataukah justru pembedahan itu yang menjadi pemicu terhadap perburukan kondisi penderita.
7. Ketidakpuasan pasien dan keluarga terhadap hal di luar teknis pembedahan. Keadaan ini lebih banyak berkenaan dengan sentuhan layanan sang dokter. Bagi dokter yang tidak punya waktu atau sulit untuk diajak berkonsultasi akan baru merasakan kekurangannya jika sudah ada keluhan pasien terhadap keterlambatan dokter tersebut dalam menangani atau memeriksa si pasien serta keluhan terhadap keengganan atau ketidakjelasan dokter dalam berkomunikasi dengan pasien atau keluarganya.
Semua hal tersebut di atas dapat diperkecil dampak dan bisa dicegah kejadiannya kalau sudah terjalin komunikasi yang baik antara dokter dan pasiennya. Jadi, sekali lagi, tetap menjadi yang terpenting adalah komunikasi, sekalipun suatu tindakan operasi sudah ditunjang oleh fasilitas yang canggih dan dokter bedah yang jago..!
Tags: iatrogenic, komunikasi, konversi, re-open
26 Comments
Leave a Reply
Recent Comments
- santi
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - eka-kusmawan
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - eka-kusmawan
on Gaya Komunikasi Dokter-Pasien - amanda
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - eka-kusmawan
on Mengenal Nyeri Pinggang akibat HNP - Arie
on Gaya Komunikasi Dokter-Pasien - ihwan
on Mengenal Nyeri Pinggang akibat HNP - eka-kusmawan
on Profile


klo gitu dokter bedah harus sering2 refrshing dong..biar ngk stress..ngk cepet tua..ha..ha.. SUCSES ya bli..have nice day
yaa namanya jg profesi. pst ada resiko. n itu bukan cuma pny dktr aj. yg lbh ptg adalah bnrnya dah siap blom sih bt menghadapi semua kemungkinan yg terbaik atopun yg terburuk. klo g siap mdg g usah ambil profesi yg bsangkutan dg nyawa manusia.
@gda_roswyda :
Makanya hari ini aku berangkat lagi ngajar ke luar daerah (baca; refreshing)..he..he.. Moga ketemu mas Rubi di sana..
@suzy:
Tidak salah! Semua profesi punya resiko. Karena ini blog cerita tentang Bedah dan juga tidak banyak orang tahu apa saja resiko dokter Bedah, jadilah tulisan itu… Semoga informatif!
Tulisan terakhir eka kusmawan : Robotic Surgery; Pembedahan menggunakan Remote Control
Ada satu lagi yang nyata Dok kayaknya berhubungan dengan nomor 6. Hati baru lega sesudah mendengar usus mulai bernyanyi.
@baharazwar :
Ha..ha..ha…. Betul itu !
selain dokter bedah yang stress suster juga tambah stress kalo dokternya stress… makanya jadi suster di kamar bedah ga boleh stress… santai aja tapi tetap serius….
@susan :
Ya… ha…ha…ha… Bagaikan jika di kapal, kalau nahkoda-nya panik pastilah awak kapal jadi bingung juga. Memang, guru saya pernah mengajarkan, janganlah sebagai ahli bedah dan captain di ruang operasi menunjukkan diri dalam keadaan stress. Hal itu menjadi pemicu ketegangan seluruh crew yg lain…
Terimakasih sudah mengingatkan…
Salam!
Pagi Dok, mo tanya nih. kalo kita beli barang kan ada garansi. lantas bagaimana bila ada pembedahan kosmetic yang hasil yang tidak sesuai yang diharapkan alias kurang sempurna. soalnya aku ud 3x dioperasi eyelid dengan 2 dokter yang berbeda. yang pertama gagal total. sama sekali tidak ada lipatan. cuma menghasilkan goresan bekas luka. pindah dokter kedua hanya jadi lipatan samar juga trus aku komplain dan dibenarkan tapi.. masalahnya koq setelah lewat setahunan. kayanya jahitan kendor lagi..
mo komplain kayanya.. udah kelamaan. dibiarkan koq rasanya jadi sia2 pengorbanan bolak balik dioperasi padahal selain biayanya itu cukup mahal, sakit n proses penyembuhannya itu loh.. makan waktu sebulan. kayanya jadi dilema untuk aku. mohon sarannya Dok. trims..
@ayako :
Memang untuk tindakan pembedahan tidak seperti membeli barang, tidak bisa untuk diminta jaminannya. Jaminan bedah itu ditentukan berdasarkan data dan pengalaman dokter bersangkutan ketika mengambil kasus yang sama. Ini yang dinamakan prognosa. Selanjutnya, terserah yang di atas. Masalahnya sekarang, apakah si pasien dapat mempercayai seorang dokter dalam mengerjakan pembedahan pada dirinya sendiri atau tidak. Inilah perlunya mengenal reputasi dokter yang bersangkutan.
Dokter Bedah yang baik tentu akan terbuka dan jujur mengatakan tentang kemungkinan hasil yang didapat pasca operasnya. Jika memang melenceng dari prediksi itu, tentu bisa dipertanyakan langsung untuk bisa dicarikan solusi, entah mungkin dengan pembedahan lagi atau yang lain.. Tapi yang perlu diketahui, akan lebih sulit untuk melakukan bedah revisi dibandingkan pengambilan pada kesempatan pertama kali…
suatu saat pasien yg akan di bedah lari gak jadi operasi gara2 suster yg membantu operasi bilang
” tenang aja, operasi apendictomi khan operasi ringan, kalopun ada apa2 khan ada dokter senior”,
terus keluarga pasien mencoba menasehati pasiennya “ya sewajarnya suster bilang begitu agar kamu tenang dan tidak grogi”.
Pasien:” Masalahnya susternya tidak bilang seperti ke aku, tapi bilang seperti itu kepada dokter yg mau ngoperasi”
@budi s :
Hahaha…. berarti juga pasiennya ga’ tahu kompetensi or reputasi dokternya dong..!
tambahan satu lagi Dok, biar genap 8…!
punya pasien seperti sàya yang suka gangguin ñ cerewet nanya ini itu n terkadang suka parno thd penyakitnya…!hehehe….
bayangin aja kalo dokter punya 10 aja pasien kayak gitu….
@Arie :
Wakakakkkkakkkkkak….:-))
maksudnya….?
@Arie :
Setuju, untuk ditambahin..! Ga’ kepikir saya akan masalah ini, padahal pernah juga menghadapinya….
wkwkwkkkkk….;p
jadi saya udah bikin dokter stress yah….?!
so sorry deh klo gitu…..
@Arie :
of course… not like your type…!
OK then..
my question, why didn’t u just ignore my questions before if u felt quite disturbed n stressed because of it?
again, sorry have made u stress Doc…
won’t ask even a single question again..
@Arie :
What I mean, stressful doctors are not result from patient like you. For me, you even fun….!
hehehehe…..:) so sorry for the misunderstanding
but LINGUSTICALLY your statement above is ambiguous, that’s why i thought that you “of course” is stressed because of me and you “not like the type of me”….:). evenmore, contextually we’re talking about what makes
a surgeon stressed from the begiñning n my question was “do i make u stessed?” , and you answered “of course…” (even then u added “not like your type…” ,which then produce ambiguous)
sorry to talk abit about LINGUISTICS @ this blog…;)
@Arie :
Santae aja Rik… Don’t worry be happy. Hehehe… tepat ga’’sih my english statement untuk obrolan kita nih.. Tepat ga’ tepat, Arik toh menjadi salah satu teman dan pasien terbaik saya…:)
OK deh Dok…;)
tepat ga tepat dr.Eka tetep jadi dokter n temen terbaik saya juga….
thank’s for everything Dok…
sukses selalu buat dr.Eka deh….
btw, jd surgeon kpn istirahatnya yah?
sy liat di reply diatas @ 2.30an pagi masih online aja…
yeah.. it’s my future.
want 2 get it
@Anonymous:
Strengthen your obsession and achieved with all the effort… !
kusmawan´s last blog ..Testimoni Pembedahan
yg dimaksud komplikasi bedah gimana?
apa setiap operasi ada komplikasinya?
Klu 2,5 bulan setelah operasi us-bun yg parah terjadi diare-muntah 3 hari b’turut2 apa itu komplikasi?
klu gejala us-bun dibiarkan(ketidak-tahuan) sampai muntah-diare campur darah apa itu parah bgt?
@vanquish:
Komplikasi bedah, apabila ada terjadi gangguan atau efek negatif akibat langsung dari pembedahan yang dikerjakan sebelumnya, yang gejala atau efek tsb tidak ada sebelum dilakukan pembedahan… Pastilah operasi itu tidak menimbulkan komplikasi. Bedakan komplikasi dengan resiko! Orang yang naik sepeda motor bahkan berjalan kaki dibandingkan .
dengan orang yang naik mobil kenceng, sama2 memiliki resiko. Namun besar kecilnya resiko itu tidak sama.
Ganguan pencernaan pasca operasi usus buntu 2 bulan sebelumnya hampir berani saya katakan bukan merupakan komplikasi operasinya…
Usus buntu yg dibiarin bisa berakibat kebocoran dan dapat menimbulkan infeksi sistemik sebelum mengakibatkan efek yang fatal!