Archive for November, 2008
Kok penyakit belum jelas, sudah akan dioperasi…?
Last Updated on Friday, 28 November o 04:20 Written by eka-kusmawan Friday, 28 November o 04:20
Sudah 3 hari anak laki umur 5 tahun ini terbaring di rumah sakit tanpa diketahui dengan pasti penyakit apa yang menyebabkan ia merasakan nyeri di perutnya. Nyerinya ini sangat mengganggu dan muncul hampir setiap saat sehingga ia susah tidur dan jelas menyebabkan resah orang tuanya. “Kasihan dia, hampir setiap 15 menit nyeri itu muncul, terkadang sampai muntah ia menahannya…” begitu keluh si ibu dengan iba melihat anaknya yang selalu merintih.. Sementara dokter spesialis anak yang merawatnya menduga nyeri itu berasal dari peradangan lambung (gastritis). Sudah pula dilakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah, pemeriksaan foto rontgen perut dan USG. Namun belum nampak jelas kelainannya dimana.
Saya yang dikonsulkan oleh sejawat dokter anak mencoba melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah memang ada kelainan di bidang Bedah. Kondisi anak, saya dapatkan sedikit lemah sekali pun -sekali lagi- tidak nampak kelainan bermakna pada hasil laboratorium dan test lainnya. Datangnya serangan nyeri pertama kali dirasakan mendadak sebelum berlanjut menjadi nyeri kolik seperti ini. Tidak ada riwayat panas, gangguan buang air besar maupun gangguan pencernaan lain yang serius. Ketika diraba dan ditekan di bagian perut pun si penderita tidak merasakan kesakitan seperti kalau serangan rasa nyeri itu muncul. Yang mengartikan juga bahwa tidak ada tanda-tanda ke arah peradangan lapisan dalam dinding perut (peritonitis). Ada beberapa usulan pemeriksaan yang saya sampaikan termasuk pemeriksaan dengan kontras barium intake untuk melihat kondisi bagian dalam saluran cerna. Telah saya jelaskan kepada orang tuanya sampai paham benar akan apa kecurigaan saya terhadap kelainan ini, apa langkah-langkah yang perlu dijalani dan kemungkinan yang terjadi beberapa hari ke depan. Diagnosa saya adalah suatu partial obstruksi ileus atau gangguan aliran dan pergerakan saluran cerna dengan penyebab utama yang belum jelas juga.
Keesokan harinya beberapa pemeriksaan yang saya usulkan itu sudah ada hasilnya. Satu pun tidak ada yang menyokong ke arah dugaan saya. Dan hasil itu pun juga sudah menjadi bagian dugaan saya. Di sisi lain si anak masih terus menerus bertahan dari nyeri yang dirasakan di bagian atas perutnya itu. Dan di pihak lain, ada sorang staf rumah sakit yang menegur saya karena mendengar ucapan salah seorang kerabat keluarga penderita yang sempat besuk ke ruangan. “Bagaimana sih dokter di sini, sudah berapa hari pasien dirawat belum juga ketemu penyakitnya. Malah tambah sakit lagi! Eee… malah dokter Bedahnya mau mengoperasinya lagi…??”
Memang, dari penjelasan sebelumnya kepada orang tua pasien, saya katakan salah satu alternatif untuk mengetahui pasti penyebab dan sekalian kalau bisa menyelesaikan masalah gangguan ini adalah dengan cara pembedahan. Walaupun sudah mengerti, mungkin dengan berat keluarga memilih cara itu mengingat penderitaan nyeri yang dialami anaknya sudah amat mengganggu. Dan siapa pun bisa saja menghadapi permasalahan macam ini…. Jadi pembedahan itu tidak hanya dipakai jalan untuk mengatasi suatu penyakit atau kelainan yang ada tapi juga berfungsi untuk diagnostik, untuk mengetahui apa sesungguhnya kelainan itu, apalagi prosedur diagnostik non bedah tidak menemukan hasil yang jelas. Meskipun dalam penerapanya bisa saja pembedahan untuk diagnostik itu langsung digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ditemukan (therapheutik) atau dilakukan pada kesempatan yang berbeda bahkan mungkin saja nantinya harus dituntaskan dengan cara bukan bedah.
Dengan persetujuan orang tuanya, baru di hari ke-6 anak itu dilakukan tindakan pembedahan. Betul, yang kami dapatkan saat itu setelah membuka rongga perut ternyata tampak puntiran (volvulus) pada bagian usus halus yang berakibat beberapa bagian usus menjadi kolaps, kosong tak berisi udara atau sisa makanan serta kelihatan jeratan pembuluh darah sebagai penyebab nyeri. Penyelesaiannya sederhana saja, cukup dengan mengembalikan ke posisi normal, tanpa harus memotong ataupun membuang sesuatu jaringan. Semenjak itu tidak ada lagi keluhan seperti sebelumnya dan pasien pulang dari perawatan rumah sakit dalam kondisi sehat benar.
Kejadian seminggu yang lalu itu juga memberikan hikmah bahwa hubungan baik antara pasien dan dokter tidak cukup dipahami oleh kedua belah pihak. Terkadang dapat diganggu oleh hasutan atau pun mungkin provokasi dari pihak lain yang jika tidak disikapi dengan bijak justru dapat membakar sesuatu yang sebelumnya adem adem saja….
Tags: barium intake, gastritis, obstruksi ileus, peritonitis, volvulus | Posted under Kegiatan Bedah | 13 Comments
Sekilas [lagi] tentang Tahap Penanganan Kanker
Last Updated on Thursday, 20 November o 07:52 Written by eka-kusmawan Thursday, 20 November o 07:52
Tidak gampang dokter bedah menyatakan seorang pasien menderita kanker. Dan tidak mudah juga prosedur yang harus dilewati sebelum kesimpulan ini berani diungkapkan. Jangan ditanya bagaimana berat pukulan yang diderita seseorang dengan menyandang predikat ‘penderita kanker’. Akan dapat membuat terkuras deras kekuatan fisik, mental, kehidupan sosial dan kondisi finansialnya. Hal inilah yang sering menghantui para remaja putri, ibu muda atau siapa saja yang merasa di tubuhnya timbul benjolan yang tidak wajar. Sekalipun sekilas terkesan over suspected, mereka yang mempunyai pengetahuan dan rasa ingin tahu yang lebih ini setidaknya lebih baik dibandingkan sekelompok mereka yang acuh terhadap kejadian itu hingga telah terlambat baru menyadarinya. Dampaknya bisa kita lihat sekarang ini begitu banyak muncul kelompok diskusi, promosi, penyedia informasi, media berbagi yang pada intinya menyerukan upaya preventif sebagai antisipasi dan peningkatan survival atau setidaknya quality of life bagi saudara-saudara kita yang terkena kanker. Di sisi lain, mungkin dirasakan masih minim media yang memfasilitasi penyampaian informasi dari dokter yang dalam hal ini sebagai judge of treatment dan decision maker tahap penanganan kanker itu selanjutnya..
Tidak lagi mengulas apa itu kanker, dan atas masukan beberapa teman, tulisan ini mencoba memberikan informasi bagaimana seharusnya seorang dokter menggiring pasiennya untuk melewati langkah demi langkah menuju diagnostik dan therapy yang benar. Sehingga si pasien tidak sampai salah jalan, tidak lagi merasa bosan dan tidak mengambil atau mau diajak ikut jalan pintas oleh dokternya. Ini semua demi mencapai hasil pengobatan yang optimal.
Pencatatan dan pemeriksaan fisik yang cermat
Seringnya awal itu menjadi penentu. Dengan pengumpulan data yang kelihatannya sepele ini menjadi maknanya penting tatkala di kemudian waktu informasi ini dibutuhkan. Data itu menyangkut umur, jenis kelamin, tempat tinggal, pekerjaan, status perkawinan, riwayat keluarga dan lain-lain. Hal ini akan berkaitan dengan faktor resiko seseorang terkena kanker. Dari penampakan dan pemeriksanan fisik saja seorang dokter bedah berpengalaman sudah bisa curiga tumor atau kelainan yang diderita pasiennya termasuk ganas atau tidak. Benjolan yang membesar agresif, tumbuh dalam waktu singkat, batas tidak tegas, terfiksir di bagian lain di sekitarnya, apalagi nampak adanya luka borok, dapat dicurigai suatu tumor itu ganas. Kecurigaan bertambah jika penderita tersebut mengalami penurunan kondisi secara drastis. Dari pemeriksaan fisik juga diharapkan pemeriksa dapat menentukan tumor primer yang jelas, adanya pembesaran kelenjar limfe, memperkirakan tumor tersebut bisa dioperasi bersih (operable) atau tidak dan mencari apakah ada kelainan / penyakit lain yang diderita selain tumornya. Jika keadaan-keadaan ini luput dari perhatian dan dengan under estimate seorang dokter Bedah gegabah melakukan tindakan operasi untuk mengangkat tumor secara langsung, bisa jadi tindakannya malah membangunkan macan tidur karena tidak menjalankan prinsip-prinsip onkologi secara benar. Atau lebih sering terjadi apa yang disebut hoopla surgery yaitu bedah dengan perasaan kaget melihat kenyataan jaringan tumor yang akan dioperasi tidak sesuai dengan perkiraan sebelumnya…
Penentuan Stadium tumor
Berdasarkan pertemuan pakar onkogi sedunia telah disepakati bahwa patokan untuk menntukan stadium tumor ganas dinilai dari 3 hal yaitu TNM (Tumor, Node, Metastase); besarnya tumor itu sendiri, node atau kelenjar limfe yang terkena di sekitarnya dan ada tidaknya metastase. Pada tahap inilah selain pemeriksaan fisik yang cermat, dibutuhkan juga pemeriksaan penunjang lainnya, seperti foto x-ray dada, USG, bone scanning, ct scan ataupun petanda tumor. Yang dicari adalah kemungkinan adanya penyebaran tumor di bagian organ yang dideteksi. Dari data ini kemudian ditentukan T-nya berapa, N-nya berapa dan M-nya ada atau tidak. Perhitungan besarnya T dan jauhnya N dari tumor primer masing-masing kanker di lokasi tertentu di tubuh kita mempunyai topografi atau batas-batas tersendiri. Kemudian dari sini ditentukan stadiumnya. Stadium I, IIA, IIB dan seterusnya. Misalnya tumor ganas paru berdiameter 4cm, didapatkan pembesaran kelenjar di areal dekat saluran nafas pada sisi yang sama, tanpa ada penyebaran, maka termasuk T2N1M0 atau stadium II.
Pemeriksaan Biopsi
Pemeriksaan mikroskopik terhadap sample tumor yang bisa menggambarkan histopatologis –struktur dan kateristik sel- dari jaringan yang dicurigai kanker tersebut. Ini menjadi penentu seseorang dapat divonis terkena kanker atau tidak. Memang sangat dipengaruhi sekali pada saat pengambilan bahan biopsi, sudah dapat mewakili seluruh kondisi tumor atau belum. Ada beberapa cara pengambilan biopsi. Hal ini bisa dipilih dengan pertimbangan letak tumor, efektifitas pengambilan, fasilitas yang tersedia dan kemungkinan radikalitas tumor itu sendiri. Dikenal ada; open biopsi –eksisi dan insisional biopsy-, biopsy jarum, trucut biopsi, punch biopsy dan curettage biopsy (biopsi kerokan). Dari pemeriksaan ini dapat ditentukan jenis, sifat sel tumor dan tingkat diferensiasi (perobahan) sel dari struktur normal sehingga bisa diketahui seberapa hebat ganasnya sel-sel tumor itu. Dari informasi ini kemudian dokter bisa memprediksi hasil therapy yang nantinya akan diberikan. Pengerjaan untuk melakukan biopsy dapat dilakukan sebelum pembedahan utamanya dikerjakan (yang ini lebih dianjurkan) atau bisa juga pada saat pembedahan sebagai upaya therapeutic. Yang paling penting diketahui bahwa apapun hasilnya, si pasien mempunyai hak untuk mengetahui dan mendapatkan hasil pemeriksaan patologi tersebut. Dan dokter dengan caranya tersendiri wajib menginformasikan hal itu secara langsung kepada si pasien.
Menentukan keadaan umum (status performance) penderita
Setelah semua tahap di atas dijalani sampai mendapatkan kesimpulan jenis kanker apa dan seberapa parahnya, maka sebelum menentukan therapy yang akan diberikan, seorang dokter harus menilai dulu keadaan umum atau kondisi penderita. Mungkin saja tingkat keganasan tumornya masih rendah tapi kondisi tubuh yang lain dalam keadaan payah, tentu mempengaruhi pilihan therapy dan dosis yang diberikan karena therapy kanker itu sendiri, khususnya kemotherapy, membawa efek samping yang luar biasa. Sehubungan dengan ini, disamping cara pengukuran lain, dikenal lebih umum penggunaan score dari Karnovski yang berskala dari 0 – 100. Makin baik kondisi penderita, ia akan memiliki score mendekati 100. Dikatakan therapy untuk kanker akan beresiko pada penderita dengan score di bawah 30, dimana seorang penderita sudah tidak mampu lagi menjalankan aktifitas kesehariannya tanpa dibantu orang lain. Dari sini juga akan dinilai penyakit atau gangguan apa saja yang menyertai penderita kanker. Bisa itu implikasi dari keganasannya atau mungkin penyakit yang berdiri sendiri, seperti; kelainan jantung, diabetes, gagal ginjal, liver dan lain-lain.
Menentukan pilihan jenis therapy
Ada beberapa bentuk therapi untuk keganasan yang memiliki respon berbeda antar satu jenis kanker dengan jenis kanker yang lain. Jenis therapy itu meliputi; pembedahan, khemotherapy, radiotherapy atau therapy penyinaran, therapy hormonal dan biotherapy. Dari data dan penelitian yang telah dipelajari, sudah dapat dipastikan satu keganasan lebih sensitif terhadap therapy A dibandingkan dengan therapy B. Namun dalam penerapannya akan memberi hasil lebih optimal kalau dikombinasi antar jenis therapy itu. Sehingga di bidang onkologi, therapy ini dapat digolongkan menjadi; therapy utama, therapy tambahan, therapy komplikasi dan therapy suportif / bantuan. Misalnya, tumor ganas payudara atau carcinoma mamae, pembedahan merupakan therapy utamanya, sedangkan khemotherapi dan atau radiotherapy menjadi therapy tambahan. Jika dilakukan pembedahan, ada 2 tujuan utamanya, kalau bukan untuk kuratif (mengambil bersih tumornya), pembedahan bisa bertujuan hanya sebagai therapy paliatif, dengan maksud meringankan atau memperbaiki kondisi penderita tanpa memandang pengangkatan tumor itu tuntas atau tidak.
Implementasi Therapy
Dari sini ditentukan jenis pembedahan apa yang akan diambil, kalau itu memerlukan pembedahan. Kalau dibutuhkan kemotherapy, seberapa lama dan berapa seri akan diberikan, kombinasi dari obat kemotherapi apa saja dan seberapa banyak dosisnya. Begitu juga untuk radiotherapy dan hormonal therapy, dengan telah melewati tahap-tahap sebelumnya, semestinya sudah dapat ditentukan berapa banyak dosisnya, lama dan rentang waktu pemberiannya. Ini merupakan tahap akhir penanganan kanker yang justru sangat melelahkan dan menyakitkan bagi penderita. Di samping waktu pelaksanaannya lama, juga mengingat efek samping yang ditimbulkan obat-obat khemotherapi ini amat sangat tidak mengenakkan. Tidak jarang banyak penderita yang kelahan, bosan, putus asa dan tersiksa menjalaninya sehingga terpaksa harus menyerah di tengah jalan, terutama bagi mereka yang terkena kanker bermetastase (menyebar) yang tidak bisa lepas menjalani therapy ini seumur hidupnya.
Evaluasi dan monitoring
Untuk mengetahui hasil therap yang telah diberikan, perlu diadakan evaluasi secara berkala. Bisa setiap 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun bahkan sampai 5 tahun sekali secara periodik. Evaluasinya oleh dokter melalui pemeriksaan fisik yang dilakukan dan atau ditambah pemeriksaan penunjang seperti yang sebelumnya dikerjakan, terutama untuk mendeteksi ada tidaknya sisa atau pertumbuhan penyebaran tumor itu lebih lanjut. Dari monitoring ini dapat saja seorang onkolog menurunkan dosis dan memperpanjang waktu serial therapy yang akan diberikan. Di sini lagi dibutuhkan disiplin serta semangat tinggi para penderita.
Bagi anda yang sedang berjuang melawan kanker, jangan putuskan asa anda, jangan patahkan semangat anda. Kuatlah berjuang. Isi waktu anda dengan aktifitas keseharian seperti biasa, jangan terlalu terlarut dengan kesedihan dan penyesalan diri. Studi membuktikan, bagi mereka yang bisa berpikir posistif apalagi mempunyai tipe kepribadian yang ekstrofet akan dapat meningkatkan 5 year survival rate-nya. Bisa menjalani hidup lebih lama dari prediksi yang diperkirakan sebelumnya…..
Tags: biopsy, carsinoma, histopatologis, kanker, kemotherapy, onkologi | Posted under Pre-Operatif | 10 Comments
Robotic Surgery; Pembedahan menggunakan Remote Control
Last Updated on Saturday, 15 November o 02:38 Written by eka-kusmawan Friday, 14 November o 04:55
Ternyata ada efek positifnya seorang dokter Bedah yang mahir bermain PS (play station). Ketrampilan itu menjadi dasar untuk menjalankan pembedahan atau operasi dengan menggunakan robot. Robotic Surgery merupakan salah satu terobosan teknologi di bidang Bedah yang sebetulnya sudah tidak menjadi sesuatu teknik baru lagi di kamar-kamar operasi rumah sakit Bedah di beberapa negara maju. Perkembangannya mulai kelihatan sekitar awal tahun 2000-an. Menjadi hal menarik untuk diceritakan, karena belakangan ini banyak ahli bedah dari Indonesia yang mulai belajar pembedahan robot ini ke Singapura dan Eropa. Hal ini juga mengartikan bahwa fasilitas layanan Robotic Surgery sudah ada dan akan diadakan lagi di kota-kota besar di Indonesia.
Sejarahnya, bermula dari penggunaan jarum untuk melakukan biopsy pada jaringan otak pada tahun 1985 yang mengandalkan robot (PUMA 560) dengan bantuan CT scan untuk menjamin keakuratan posisi tusukan. Kemudian berkembang pada tahun 1992 digunakan untuk pembedahan kelenjar prostat dan beberapa bedah minimal invasif di bidang orthopedi. Pada saat ini robot yang banyak digunakan adalah produksi Intuitive Surgical bernama da Vinci yang pengoperasiannya didukung oleh Computer Motion menggunakan ZEUS robotic surgical system. Alat bantu pembedahan ini mempunyai 3 komponon pokok; surgeon’s console berupa perangkat komputer, robot dengan 4 lengan / tuas (1 untuk mengontrol kamera dan 3 untuk menggerakkan instrumen) dan 3D vision system. Gerakan tangan dokter Bedah sebagai operator yang memegang remote control dapat diatur agar sesuai dengan gerakan mikro pada instrumen dalam tubuh pasien. Kondisi lapangan operasi diperlihatkan di monitor komputer bersumber dari kamera kecil dengan pembesaran sampai 25 kali. Dengan vision system yang canggih membuat sang operator bisa dengan tepat memanipulasi (memegang, menyisihkan, memotong, menjepit) jaringan di areal pembedahan menggunakan tangan-tangan robot ini melalui beberapa kanula yang masuk ke bagian dalam tubuh penderita.
Jadi ada 3 keunggulan utama penggunaan Robotic Surgery, yakni; bisa dijalankan dengan remote control (tidak menyentuh langsung), minimal invasif dan operator tidak perlu hadir di kamar operasi. Dengan demikian operasi ini dapat mengurangi rasa nyeri, memperkecil sayatan luka operasi, meminimalisir perdarahan dan mempersingkat waktu rawat pasca operasi. Dapat diaplikasikan hampir ke semua sub bidang Bedah seperti pembedahan jantung (cardiovascular), bedah digestif, urologi, onkologi, bedah saraf, pediatric dan lain-lain bahkan sudah juga berkembang untuk pembedahan gynecologi. Tercatat di Amerika dan Eropa, da Vinci Robotic Surgical System telah digunakan lebih di 800 rumah sakit pada tahun 2006 untuk menyelesaikan sebanyak 48.000 kasus bedah.
Lalu bagaimana implikasi teknik ini yang memungkinkan dokter Bedah bisa mengerjakan operasi dari jarak jauh bahkan sampai ribuan kilometer (lintas negara)..? Bayangkan, dokter Bedah yang berada di Amerika sedang mengoperasi pasien yang berada di atas meja operasi rumah sakit di Jakarta misalnya… Jelaslah hambatannya juga banyak! Baik menyangkut masalah teknis, seperti ketergantungan alat, pengaruh listrik, jaringan koneksi -baik telpon ataupun internet- dan lain-lain maupun masalah etika dan hukum. Pasien tidak lagi mempunyai kontak bahkan tidak kenal dengan dokternya karena tidak ada sentuhan pemeriksaan fisik dan hubungan psikologis melalui penerimaan keluhan, anamnesa, saran serta nasehat dokter. Dari sisi hukum, apalagi yang berlaku sekarang, jelas SIP (Surat Ijin Praktek) tidak memperbolehkan seorang dokter menyelenggarakan layanan kesehaten di tempat lain di luar kawasan surat ijin tersebut. Kalau pun teknologi ini bisa lancar dalam penerapannya, mungkin akan lebih baik jika dimanfaatkan untuk bimbingan, arahan dan bantuan teknik dari dokter Bedah yang telah berpengalaman yang berada jauh terhadap koleganya yang relatif lebih dekat bersentuhan dan berhubungan dengan si pasien. Cara praktek seperti ini disebut tele-mentoring.
Bagaimanapun, kemajuan teknologi yang bertujuan memudahkan penggunanya di dunia medis terkadang justru terbentur dengan etika profesi medis itu sendiri. Maka masih tetap diperlukan cara atau stretegi untuk dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan etika….
Tags: da Vinci robotic surgical system, kanula, minimal invasif, robotic surgery, SIP, tele-mentoring | Posted under Bedah Kini | 7 Comments
Tembakan Mati untuk Amrozi, cs
Last Updated on Friday, 7 November o 09:51 Written by eka-kusmawan Friday, 7 November o 08:32
Kalau kita mendengar obrolan mengenai cara terbaik mengakhiri kehidupan dari orang-orang medis atau siapa saja yang tahu patofisiologi kematian, pastilah mereka lebih memilih mati dengan cara serangan jantung (heart attack). Mengapa? Karena berlangsung sangat singkat, relatif tidak menyakitkan dan kejadiannya tidak terprediksi, lebih sering pada saat beraktifitas! Dibandingkan misalnya kematian akibat penyakit kronis, stroke, gagal ginjal, diabetes, kanker dan lain-lain yang memerlukan proses lama, terkadang sampai putus asa menjalankannya, merepotkan banyak orang dan bisa jadi diakhiri dengan mengenaskan…
Bicara tentang Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra yang minggu ini menjadi pemberitaan hangat menjelang dieksekusi melalui tembakan terhadap jantung mereka sebagai sasaran, pernyataan paragraf di atas bisa menjadi salah satu dasar pertimbangan dari sisi medisnya. Dan kalau bicara tentang luka tembak (gunshot wound) dari sisi ilmu traumatologi, mesti dinilai keadaan luka masuk, apakah terdapat juga luka keluar / luka tembus, dari jarak berapa jauh tembakannya, arah tembakan dan jenis peluru / senjata yang digunakan. Hal itu semua untuk menguatkan dugaan organ bagian dalam tubuh yang terluka dan seberapa parah kerusakan yang ditimbulkannya. Sebab dengan luka yang kecil saja di permukaan, suatu tembakan (gunfire) akan dapat menimbulkan perlukaan yang serius di bagian dalam tubuh kita.
Pertanyaannya, seberapa efektifkah dengan tembakan di areal posisi jantung akan membawa kematian? Penulis mencoba menganalisanya dari sisi reaksi fisiologis tubuh dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi pada proses kematian melalui eksekusi hukuman tembak ini.
- Reaksi terhadap rasa takut. Berbeda dengan korban penembakan di luar, Amrozi dkk menjadi sasaran tembak yang mereka telah tahu kapan saat ajalnya itu. Sehingga bagaimana pun kuat imannya, respon fisiologis tubuh terhadap stress ini tidak dapat dibohongi. Akan terjadi pelepasan enzim dan bahan kimiawi dalam tubuh yang salah satunya bisa menimbulkan pelebaran (dilatasi) terhadap diameter pembuluh darah yang berakibat secara relatif aliran darah ke bagian tertentu dari tubuh berkurang. Sehingga tampaklah tubuh menjadi pucat, jantung berdebar, keringat dingin dan berbagai gangguan-gangguan lainnya.
- Reaksi tubuh terhadap rasa nyeri. Begitu peluru menyentuh tubuh korban, seberapa pun cepat dan singkatnya akan menimbulkan respon yang kurang lebih tidak jauh berbeda seperti di atas, bahkan jika nyeri yang dirasakan itu begitu hebat dan berkepanjangan dapat pula menimbulkan shock secara cepat.
- Terjadi henti jantung. Impuls elektrik yang menggerakkan otot jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh terhenti tiba-tiba, bukan oleh karena gangguan aliran darah di otot jantung seperti kasus infark tapi oleh karena kerusakan traumatik langsung dari otot jantung (myocard) itu sendiri akibat peluru yang menembusnya.
- Mengalami kegagalan sirkulasi. Ada dua kejadian utama sebagai sumber penyebab. Pertama, tidak berfungsinya pompa jantung untuk mengalirkan darah dan yang kedua karena perdarahan itu sendiri yang membuat volume cairan darah di pembuluh darah menjadi berkurang.
- Mengalami kegagalan ventilasi. Mengingat posisi jantung yang berada di rongga dada, tepatnya di ruang mediastinum, dengan trauma tembak, sedikit tidak akan mencederai atau kemungkinan besar akan membuat bocor juga pada jaringan paru di dekatnya sehingga mengakibatkan gangguan pada aliran dan penerimaan oksigen ke dalam tubuh.
- Terjadi proses kematian jaringan. Berdasarkan teori terbaru, pengertian ‘mati’ yang dimaksud adalah kematian sel, yang bermula diakibatkan oleh tidak adanya suplai oksigen ke jaringan hingga ke struktur fungsional tubuh terkecil (sel). Jadi ada 2 hal yang terpenting pada proses itu yaitu; oksigen dan aliran darah, sebagai pembawa O2 ke jaringan. Dengan rentetan mekanisme seperti di atas; shok yang membuat dilatasi vaskuler mengakibatkan kekuatan aliran darah jauh menurun, henti jantung mengakibatkan sumber aliran darah terhenti, perdarahan berakibat volumenya berkurang dan apalagi ditambah dengan hasupan oksigen yang juga drastis menurun karena kerusakan organ pernafasan, maka dengan cepat dalam hitungan detik sampai hanya beberapa menit akan terjadi kegagalan fungsi organ vital yang lain, seperti; otak, paru, ginjal, liver sebelum terjadi kematian yang sesungguhnya (di tingkat fisik dan biomolekuler).
Di sisi lain banyak juga yang memperdebatkan hukum cara ini berkaitan dengan rasa nyeri yang diderita korban. Menurut hemat penulis, dengan cara apapun nyeri pasti akan dirasakan, baik dengan pancung, digantung, aliran listrik atau yang lainnya. Kecuali dengan pembiusan. Atau mungkin pembiusan (yang dalam / dosis berlebihan) itu sendiri yang bisa digunakan sebagai cara untuk ‘membunuh’. Masih perlu pengkajian, dan mungkin proses kematiannya menjadi relatif lama. Tapi siapa berani petugas medis -yang notebene bekerja untuk menyehatkan orang- malah ditugaskan sebagai eksekutor, penyabut nyawa…??
Tags: dilatasi, gunshot wound, henti jantung, infark, myocard, shock, sirkulasi, ventilasi | Posted under Nurani & Opini | 15 Comments



Recent Comments