Friday, September 03, 2010

Tembakan Mati untuk Amrozi, cs

Kalau kita mendengar obrolan mengenai cara terbaik mengakhiri kehidupan dari orang-orang medis atau siapa saja yang tahu patofisiologi kematian, pastilah mereka lebih memilih mati dengan cara serangan jantung (heart attack). Mengapa? Karena berlangsung sangat singkat, relatif tidak menyakitkan dan kejadiannya tidak terprediksi, lebih sering pada saat beraktifitas! Dibandingkan misalnya kematian akibat penyakit kronis, stroke, gagal ginjal, diabetes, kanker dan lain-lain yang memerlukan proses lama, terkadang sampai putus asa menjalankannya, merepotkan banyak orang dan bisa jadi diakhiri dengan mengenaskan…

Bicara tentang Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra yang minggu ini menjadi pemberitaan hangat menjelang dieksekusi melalui tembakan terhadap jantung mereka sebagai sasaran, pernyataan paragraf di atas bisa menjadi salah satu dasar pertimbangan dari sisi medisnya. Dan kalau bicara tentang luka tembak (gunshot wound) dari sisi ilmu traumatologi, mesti dinilai keadaan luka masuk, apakah terdapat juga luka keluar / luka tembus, dari jarak berapa jauh tembakannya, arah tembakan dan jenis peluru / senjata yang digunakan. Hal itu semua untuk menguatkan dugaan organ bagian dalam tubuh yang terluka dan seberapa parah kerusakan yang ditimbulkannya. Sebab dengan luka yang kecil saja di permukaan, suatu tembakan (gunfire) akan dapat menimbulkan perlukaan yang serius di bagian dalam tubuh kita.

Pertanyaannya, seberapa efektifkah dengan tembakan di areal posisi jantung akan membawa kematian? Penulis mencoba menganalisanya dari sisi reaksi fisiologis tubuh dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi pada proses kematian melalui eksekusi hukuman tembak ini.

  1. Reaksi terhadap rasa takut. Berbeda dengan korban penembakan di luar, Amrozi dkk menjadi sasaran tembak yang mereka telah tahu kapan saat ajalnya itu. Sehingga bagaimana pun kuat imannya, respon fisiologis tubuh terhadap stress ini tidak dapat dibohongi. Akan terjadi pelepasan enzim dan bahan kimiawi dalam tubuh yang salah satunya bisa menimbulkan pelebaran (dilatasi) terhadap diameter pembuluh darah yang berakibat secara relatif aliran darah ke bagian tertentu dari tubuh berkurang. Sehingga tampaklah tubuh menjadi pucat, jantung berdebar, keringat dingin dan berbagai gangguan-gangguan lainnya.
  2. Reaksi tubuh terhadap rasa nyeri. Begitu peluru menyentuh tubuh korban, seberapa pun cepat dan singkatnya akan menimbulkan respon yang kurang lebih tidak jauh berbeda seperti di atas, bahkan jika nyeri yang dirasakan itu begitu hebat dan berkepanjangan dapat pula menimbulkan shock secara cepat.
  3. Terjadi henti jantung. Impuls elektrik yang menggerakkan otot jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh terhenti tiba-tiba, bukan oleh karena gangguan aliran darah di otot jantung seperti kasus infark tapi oleh karena kerusakan traumatik langsung dari otot jantung (myocard) itu sendiri akibat peluru yang menembusnya.
  4. Mengalami kegagalan sirkulasi. Ada dua kejadian utama sebagai sumber penyebab. Pertama, tidak berfungsinya pompa jantung untuk mengalirkan darah dan yang kedua karena perdarahan itu sendiri yang membuat volume cairan darah di pembuluh darah menjadi berkurang.
  5. Mengalami kegagalan ventilasi. Mengingat posisi jantung yang berada di rongga dada, tepatnya di ruang mediastinum, dengan trauma tembak, sedikit tidak akan mencederai atau kemungkinan besar akan membuat bocor juga pada jaringan paru di dekatnya sehingga mengakibatkan gangguan pada aliran dan penerimaan oksigen ke dalam tubuh.
  6. Terjadi proses kematian jaringan. Berdasarkan teori terbaru, pengertian ‘mati’ yang dimaksud adalah kematian sel, yang bermula diakibatkan oleh tidak adanya suplai oksigen ke jaringan hingga ke struktur fungsional tubuh terkecil (sel). Jadi ada 2 hal yang terpenting pada proses itu yaitu; oksigen dan aliran darah, sebagai pembawa O2 ke jaringan. Dengan rentetan mekanisme seperti di atas; shok yang membuat dilatasi vaskuler mengakibatkan kekuatan aliran darah jauh menurun, henti jantung mengakibatkan sumber aliran darah terhenti, perdarahan berakibat volumenya berkurang dan apalagi ditambah dengan hasupan oksigen yang juga drastis menurun karena kerusakan organ pernafasan, maka dengan cepat dalam hitungan detik sampai hanya beberapa menit akan terjadi kegagalan fungsi organ vital yang lain, seperti; otak, paru, ginjal, liver sebelum terjadi kematian yang sesungguhnya (di tingkat fisik dan biomolekuler).

Di sisi lain banyak juga yang memperdebatkan hukum cara ini berkaitan dengan rasa nyeri yang diderita korban. Menurut hemat penulis, dengan cara apapun nyeri pasti akan dirasakan, baik dengan pancung, digantung, aliran listrik atau yang lainnya. Kecuali dengan pembiusan. Atau mungkin pembiusan (yang dalam / dosis berlebihan) itu sendiri yang bisa digunakan sebagai cara untuk ‘membunuh’. Masih perlu pengkajian, dan mungkin proses kematiannya menjadi relatif lama. Tapi siapa berani petugas medis -yang notebene bekerja untuk menyehatkan orang- malah ditugaskan sebagai eksekutor, penyabut nyawa…??



15 Comments

  1. Comments  antownNo Gravatar   |  Monday, 10 November 2008 at 5:57 am

    ini blog kesehatan ya? wuih blogrollnya dokter semua. salam kenal ya pak.
    saya juga nulis soal amrozi, sekedar posting sih. Tapi tulisan dan postingan soal ilustrasi eksekusi. silakan mampir ya.

    salam kenal

    Tulisan terakhir antown : Untuk Trio Bom Bali (Infografis)

  2. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Monday, 10 November 2008 at 8:53 am

    @antown :
    Ilustrasinya bagus. Saya dah lihat. Tapi akan lebih bagus lagi kalo bisa digabung dengan tulisan saya he..he..
    Soal blogroll msh dalam perbaikan, jangan dulu kejebak. Siapa aja boleh berkunjung kok….
    Salam kenal!

    Tulisan terakhir eka kusmawan : Tembakan Mati untuk Amrozi, cs

  3. Comments  NasirNo Gravatar   |  Monday, 10 November 2008 at 11:04 pm

    Salam kenal dok… Mau balas berkunjung ah…
    Kejadian fenomenal ya hukuman mati buat Amrozi cs ini, karena hukuman mati pada kasus sebelumnya ga pernah serame ini bahasannya… Analisa dari sisi medis begitu menggoda…

    Tulisan terakhir Nasir : BSA Ajak Perusahaan Gunakan Peranti Lunak Berlisensi

  4. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Tuesday, 11 November 2008 at 7:19 pm

    @Nasir :
    Saya cuma ingin ikut-ikutan ngomongin yang lagi ‘hot news’ ini. Tapi dari sisi yang agak beda…

  5. Comments  isnuansaNo Gravatar   |  Wednesday, 12 November 2008 at 6:06 pm

    jadi, kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan sejak peluru menembus tubuh korban, sampai benar-benar meninggal, Dok?

    Tulisan terakhir isnuansa : Mencari Hobi Baru

  6. Comments  wiraNo Gravatar   |  Thursday, 13 November 2008 at 11:34 am

    semoga bali damai kembali seperti dulu

    Tulisan terakhir wira : Without Google Adsense

  7. Comments  indonesiaduaNo Gravatar   |  Thursday, 13 November 2008 at 11:54 am

    salam kenal, saya suka artikelnya… Dok, saya bacanya sampe merinding, tidak berkedip.. :)

    Sukses!

    Tulisan terakhir indonesiadua : Kalender Bali

  8. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Friday, 14 November 2008 at 8:02 pm

    @isnuansa :
    Meninggal dengan berpatokan pd vital sign (nafas, nadi, tensi) bisa terjadi beberapa detik saja. Sampai mati ke tingkat sel butuh waktu tidak lebih dari 15 menit, yang diawali kematian otak terlebih dulu…

    @wira :
    Menjadi harapan kita bersama…

    @indonesiadua :
    He..he… kayak film horor aja..
    Salam kenal kembali dan trim’s sudah mengunjungi rumah saya ini…

  9. Comments  okanegaraNo Gravatar   |  Saturday, 15 November 2008 at 6:34 pm

    Amrozy? Berakhir juga. Ulasannya asik nih dr. Eka….

    Tulisan terakhir okanegara : Ini Dulu: Makna Sebuah Keajaiban

  10. Comments  pande baikNo Gravatar   |  Friday, 21 November 2008 at 10:18 pm

    Ternyata apa yang menjadi bayangan saya sebelum membaca posting ini, tak terbukti. Malah saya salut, Dokter bisa menyikapinya dari sudut pandang profesi.

    Tulisan terakhir pande baik : Mulai dari Awal (lagi) PanDeBaik.com – PanDeividuALity.net

  11. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Saturday, 22 November 2008 at 7:15 am

    @okanegara :
    Karena mungkin ulasan macam ini, belum banyak yang nulis…

    @pande baik:
    Trim’s Pande.. atas tanggapannya

    Tulisan terakhir eka kusmawan : Sekilas [lagi] tentang Tahap Penanganan Kanker

  12. Comments  Putu AdiNo Gravatar   |  Friday, 05 December 2008 at 9:57 am

    Kata berita di Tipi dari ketiga terpidana mati tersebut yang paling lama meninggal setelah ditembak adalah Imam Samudra yaitu sekitar 10 menit.

    Tulisan terakhir Putu Adi : Bye Bye Starone

  13. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Friday, 05 December 2008 at 10:55 am

    @Putu Adi :
    Bah.., mungkin juga tidak tepat tembakannya di jantung..!

  14. Comments  ni made tekenNo Gravatar   |  Wednesday, 10 December 2008 at 8:41 pm

    great…..selama hampir 2,5 tahun mengenal dokter Eka, ternyata ada sisi lain yang tidak saya ketahui sebelum membuka blog ini, salut dan bangga menjadi bagian dari kamar operasi SURYAHUSADHA HOSPITAL,yang dokter Eka pimpin. teruslah menulis dok,saya tunggu tulisannya yang lain. SELAMAT BERKARYA. GOOD LUCK.

  15. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Thursday, 11 December 2008 at 7:54 am

    @ni made teken :
    Ha..ha.. Made baru tahu ya..?! Kesibukan saya di rumah sakit salah satunya yang dominan ya.. di kamar operasi itu! Kegiatan menulis dan berinteraksi seperti ini nyelip di antara kegiatan2 lain yang lebih keliatan….
    Terimakasih atas kunjungan dan comment-nya..

 

Selamat Datang dan Terimakasih atas Kunjungan Anda di SpesialisBedah.com -- Pertanyaan ataupun komentar Anda akan sesegera mungkin saya tanggapi

Surgeon[log] is using WP-Gravatar