Kok penyakit belum jelas, sudah akan dioperasi…?
Last Updated on Friday, 28 November o 04:20 Written by eka-kusmawan Friday, 28 November o 04:20
Sudah 3 hari anak laki umur 5 tahun ini terbaring di rumah sakit tanpa diketahui dengan pasti penyakit apa yang menyebabkan ia merasakan nyeri di perutnya. Nyerinya ini sangat mengganggu dan muncul hampir setiap saat sehingga ia susah tidur dan jelas menyebabkan resah orang tuanya. “Kasihan dia, hampir setiap 15 menit nyeri itu muncul, terkadang sampai muntah ia menahannya…” begitu keluh si ibu dengan iba melihat anaknya yang selalu merintih.. Sementara dokter spesialis anak yang merawatnya menduga nyeri itu berasal dari peradangan lambung (gastritis). Sudah pula dilakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah, pemeriksaan foto rontgen perut dan USG. Namun belum nampak jelas kelainannya dimana.
Saya yang dikonsulkan oleh sejawat dokter anak mencoba melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah memang ada kelainan di bidang Bedah. Kondisi anak, saya dapatkan sedikit lemah sekali pun -sekali lagi- tidak nampak kelainan bermakna pada hasil laboratorium dan test lainnya. Datangnya serangan nyeri pertama kali dirasakan mendadak sebelum berlanjut menjadi nyeri kolik seperti ini. Tidak ada riwayat panas, gangguan buang air besar maupun gangguan pencernaan lain yang serius. Ketika diraba dan ditekan di bagian perut pun si penderita tidak merasakan kesakitan seperti kalau serangan rasa nyeri itu muncul. Yang mengartikan juga bahwa tidak ada tanda-tanda ke arah peradangan lapisan dalam dinding perut (peritonitis). Ada beberapa usulan pemeriksaan yang saya sampaikan termasuk pemeriksaan dengan kontras barium intake untuk melihat kondisi bagian dalam saluran cerna. Telah saya jelaskan kepada orang tuanya sampai paham benar akan apa kecurigaan saya terhadap kelainan ini, apa langkah-langkah yang perlu dijalani dan kemungkinan yang terjadi beberapa hari ke depan. Diagnosa saya adalah suatu partial obstruksi ileus atau gangguan aliran dan pergerakan saluran cerna dengan penyebab utama yang belum jelas juga.
Keesokan harinya beberapa pemeriksaan yang saya usulkan itu sudah ada hasilnya. Satu pun tidak ada yang menyokong ke arah dugaan saya. Dan hasil itu pun juga sudah menjadi bagian dugaan saya. Di sisi lain si anak masih terus menerus bertahan dari nyeri yang dirasakan di bagian atas perutnya itu. Dan di pihak lain, ada sorang staf rumah sakit yang menegur saya karena mendengar ucapan salah seorang kerabat keluarga penderita yang sempat besuk ke ruangan. “Bagaimana sih dokter di sini, sudah berapa hari pasien dirawat belum juga ketemu penyakitnya. Malah tambah sakit lagi! Eee… malah dokter Bedahnya mau mengoperasinya lagi…??”
Memang, dari penjelasan sebelumnya kepada orang tua pasien, saya katakan salah satu alternatif untuk mengetahui pasti penyebab dan sekalian kalau bisa menyelesaikan masalah gangguan ini adalah dengan cara pembedahan. Walaupun sudah mengerti, mungkin dengan berat keluarga memilih cara itu mengingat penderitaan nyeri yang dialami anaknya sudah amat mengganggu. Dan siapa pun bisa saja menghadapi permasalahan macam ini…. Jadi pembedahan itu tidak hanya dipakai jalan untuk mengatasi suatu penyakit atau kelainan yang ada tapi juga berfungsi untuk diagnostik, untuk mengetahui apa sesungguhnya kelainan itu, apalagi prosedur diagnostik non bedah tidak menemukan hasil yang jelas. Meskipun dalam penerapanya bisa saja pembedahan untuk diagnostik itu langsung digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ditemukan (therapheutik) atau dilakukan pada kesempatan yang berbeda bahkan mungkin saja nantinya harus dituntaskan dengan cara bukan bedah.
Dengan persetujuan orang tuanya, baru di hari ke-6 anak itu dilakukan tindakan pembedahan. Betul, yang kami dapatkan saat itu setelah membuka rongga perut ternyata tampak puntiran (volvulus) pada bagian usus halus yang berakibat beberapa bagian usus menjadi kolaps, kosong tak berisi udara atau sisa makanan serta kelihatan jeratan pembuluh darah sebagai penyebab nyeri. Penyelesaiannya sederhana saja, cukup dengan mengembalikan ke posisi normal, tanpa harus memotong ataupun membuang sesuatu jaringan. Semenjak itu tidak ada lagi keluhan seperti sebelumnya dan pasien pulang dari perawatan rumah sakit dalam kondisi sehat benar.
Kejadian seminggu yang lalu itu juga memberikan hikmah bahwa hubungan baik antara pasien dan dokter tidak cukup dipahami oleh kedua belah pihak. Terkadang dapat diganggu oleh hasutan atau pun mungkin provokasi dari pihak lain yang jika tidak disikapi dengan bijak justru dapat membakar sesuatu yang sebelumnya adem adem saja….
Tags: barium intake, gastritis, obstruksi ileus, peritonitis, volvulus
13 Comments
Leave a Reply
Recent Comments
- santi
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - eka-kusmawan
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - eka-kusmawan
on Gaya Komunikasi Dokter-Pasien - amanda
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - eka-kusmawan
on Mengenal Nyeri Pinggang akibat HNP - Arie
on Gaya Komunikasi Dokter-Pasien - ihwan
on Mengenal Nyeri Pinggang akibat HNP - eka-kusmawan
on Profile


bagi pasien tidak mudah menerima tindakan bedah diagnostik, sebab “iya kalau iya?” (tindakan itu tepat/berhasil menemukan penyakitnya), kalau ternyata “tidak” kan pasien yang rugi, udah dibedah dengan segala resiko medisnya, bayar mahal, sia-sia lagi, hehe…
kenapa puntiran usus halus tidak terdeteksi oleh usg dan rontgent ya dok?
Tulisan terakhir titah : Seputar Kanker Otak
USG memang tidak bisa mendeteksi itu. X-ray polos bisa, tapi agak sulit dibanding dengan kontras atau barium intake. Ditambah lagi kasus ini kebetulan tidak sampai mengalami sumbatan total. Ini tidak terlepas dari prosedur pengambilan dan kemampuan radiolog dalam menginterpretasikan.
Bagaimanapun seorang dokter dalam upaya menegakkan diagnosa pastilah ada differancial diagnosisnya dari paling suspected ke kemungkinan2 lain. Terkadang apa yang kita ketemukan dari anamnesis dan physical examination tidak sejalan dengan hasil pemeriksaan penunjang seperti yang diharapkan..
Kalaulah saya menjadi pasien, untuk bedah diagnostik, pastilah dihadapi dilema seperti itu. Tapi pada kondisi tertentu, tidak saja hanya dokter dan pasien bahkan siapa saja, mungkin akan pernah ‘dipaksa’ untuk menentukan pilihan. Kalau pembedahan memang merupakan satu-satunya jalan sebelum kondisi tambah buruk dan mengancam…? Sangat sangat dibutuhkan pengertian dan keikhlasan..
Saya rasa the key is communication..
Tulisan terakhir eka kusmawan : Kok penyakit belum jelas, sudah akan dioperasi…?
Dok, saya setuju dengan laparotomi explorasi pada anak 5 tahun dengan sakit perut tanpa demam.
Wah, pelajaran yang berharga sekali dok. Terima kasih sudah berbagi. Iya, terkadang ada pihak2 ketiga, keempat, kelima, dst… yang membuat hubungan dokter-pasien yang sebelumnya baik2 saja menjadi kurang baik. Apalagi klo pihak2 laen tersebut tanpa mendapatkan penjelasan langsung saja ngasi komentar2 ga jelas. Memang jadi dokter harus latihan kesabaran ya…
Sukses dok…
Tulisan terakhir Deddy : Menjadi Pembicara Seminar (?)
@baharazwar :
Ya.. dok, saat itu suspected saya kalao bukan volvulus, kemungkinan bend dari diverticulitis yang menjerat, invaginasi atau yang lain… Tetap berdasarkan teori, data base dan sedikit pengalaman..
@Deddy:
Nanti setelah Deddy ‘jadi’ mungkin lebih sering menghadapinya…
Keep learning and be calm as a resident..!
Wah tulisan yang bagus dok, bisa membuka cakrawala pikir pembaca seperti saya.
bahkan dokter Sindhu SpB yang membaca bareng saya menjadi tertarik menulis di Blog juga.
Memang x-ray dan USG sulit mendiagnosa kelainan ini secara langsung, paling jika dilakukan Abdomen 3 posisi yang dinilai adalah posisi udara dan cairan bebas dalam kavum abdomen.
Juga paradigma di masyarakat -Bali- khususnya yaitu anti “me-Bedah” menyulitkan proses penyembuhan penyakit sendiri, padahal volvulus ini hanya bisa disembuhkan dengan operasi bukan? untung belum terlambat tidak sampai nekrosis.
Jangan bosen sharing pengalaman ya dok.
Tulisan terakhir Putu Adi : Bye Bye Starone
@Putu Adi :
Yang memberi comment ini emang betul kompeten menanggapi soal pemeriksaan penunjang seperti itu. Tidak salah khan Di apa yang saya tulis…?
Trim’s atas kunjungannya and salam buat sobat saya dr. Sindhu… Biar aja, tunjukin ke dia untuk juga bisa nulis-nulis kayak gini. Supaya ia lebih tertantang..ha..ha..ha..
Wih dokter berlebihan deh, saya kan sering denger radiolog bicara dengan sejawatnya, curi-curi ilmu dikit gitu.
Berhasil dok, keliatannya dokter Sindhu kepengen banget nulis seperti dokter, bahkan minta diajarin saya ngeblog..wah keliru tuh harusnya kalau minta ajaran sama dokter Eka atau dokter Cock. haha..
Tulisan terakhir Putu Adi : Akhirnya Mencoba Smart
saya mau bertanya kerna saya bingung DR,
“Ada beberapa usulan pemeriksaan yang saya sampaikan termasuk pemeriksaan dengan kontras barium intake untuk melihat kondisi bagian dalam saluran cerna”
1.apakah pemeriksaan diatas ini dilakukan? ..jika iya pasti terdeteksi kerna terbendung di bahagian usus halus nya
2.apakah pada anak usia 5 tahun bisa dilakukan gastroduodenoscopy?..jika iya,pasti diagnose nye bisa ditegakkan lebih awal..
mohon dijawap DR, terima kasih atas kasus nya,berguna sekali untuk mahasiswa
@Adam :
Pemeriksaan kontras barium intake sudah dikerjakan. Memang saya berharap dari sini penyebabnya akan lebih jelas kelihatan. Tapi sayang, ketika itu hasil deteksi dari radiologist-nya tidak menyatakan adanya kelainan. Betul, ini mungkin yang perlu dikaji. Apa memang kontras belum masuk hingga site point yg diharapkan atau kemampuna dokter radiologi nya yang belum jeli (maaf, dokter jg manusia). Tp kalau tidak salah, saya pun merasa tidak jelas membaca hasil foto itu…
Di tempat kami belum memiliki probe atau equipment pelengkap endoskopy untuk anak2. Jadi kalau butuh pemeriksaan ini paling tidak harus ke Surabaya. Perlu waktu dan problem lain…
Terimakasih Adam atas tanggapannya.
Salam sukses..!
Tulisan terakhir eka kusmawan : Awas! Efek Obat Memperbesar Alat Vital
i see, udah jelas, ngak bingung lg deh, hehee. Thanks a lot DR for your feedback.
Dokter, kalau misalnya pasca operasi invaginasi usus anaknya masih mengalami muntah,kira2 kenapa ya? bagaimana penanganan pasca operasi tsb,spt dlm hal diet/makanannya,dll?
Mohon informasinya ya Dok.tks.
@Edwin :
Biasanya kasus invaginasi muncul saat anak berumur 6 bulan hingga setahun, di saat sudah mulai adanya perobahan bentuk dan kepadatan jenis makanan unt si bayi. Penanganan pasca op-nya, jika saja sudah bisa buang angin, makanan sangat lunak pertama kali sudah dapat diberikan selain cairan tentunya. Jika masa ini sudah dilewati dan kemudian muncul gejala muntah, perlu dicari penyebab lainnya tidak semata-mata karena efek operasi yg telah dikerjakan.