Robotic Surgery; Pembedahan menggunakan Remote Control
Last Updated on Saturday, 15 November o 02:38 Written by eka-kusmawan Friday, 14 November o 04:55
Ternyata ada efek positifnya seorang dokter Bedah yang mahir bermain PS (play station). Ketrampilan itu menjadi dasar untuk menjalankan pembedahan atau operasi dengan menggunakan robot. Robotic Surgery merupakan salah satu terobosan teknologi di bidang Bedah yang sebetulnya sudah tidak menjadi sesuatu teknik baru lagi di kamar-kamar operasi rumah sakit Bedah di beberapa negara maju. Perkembangannya mulai kelihatan sekitar awal tahun 2000-an. Menjadi hal menarik untuk diceritakan, karena belakangan ini banyak ahli bedah dari Indonesia yang mulai belajar pembedahan robot ini ke Singapura dan Eropa. Hal ini juga mengartikan bahwa fasilitas layanan Robotic Surgery sudah ada dan akan diadakan lagi di kota-kota besar di Indonesia.
Sejarahnya, bermula dari penggunaan jarum untuk melakukan biopsy pada jaringan otak pada tahun 1985 yang mengandalkan robot (PUMA 560) dengan bantuan CT scan untuk menjamin keakuratan posisi tusukan. Kemudian berkembang pada tahun 1992 digunakan untuk pembedahan kelenjar prostat dan beberapa bedah minimal invasif di bidang orthopedi. Pada saat ini robot yang banyak digunakan adalah produksi Intuitive Surgical bernama da Vinci yang pengoperasiannya didukung oleh Computer Motion menggunakan ZEUS robotic surgical system. Alat bantu pembedahan ini mempunyai 3 komponon pokok; surgeon’s console berupa perangkat komputer, robot dengan 4 lengan / tuas (1 untuk mengontrol kamera dan 3 untuk menggerakkan instrumen) dan 3D vision system. Gerakan tangan dokter Bedah sebagai operator yang memegang remote control dapat diatur agar sesuai dengan gerakan mikro pada instrumen dalam tubuh pasien. Kondisi lapangan operasi diperlihatkan di monitor komputer bersumber dari kamera kecil dengan pembesaran sampai 25 kali. Dengan vision system yang canggih membuat sang operator bisa dengan tepat memanipulasi (memegang, menyisihkan, memotong, menjepit) jaringan di areal pembedahan menggunakan tangan-tangan robot ini melalui beberapa kanula yang masuk ke bagian dalam tubuh penderita.
Jadi ada 3 keunggulan utama penggunaan Robotic Surgery, yakni; bisa dijalankan dengan remote control (tidak menyentuh langsung), minimal invasif dan operator tidak perlu hadir di kamar operasi. Dengan demikian operasi ini dapat mengurangi rasa nyeri, memperkecil sayatan luka operasi, meminimalisir perdarahan dan mempersingkat waktu rawat pasca operasi. Dapat diaplikasikan hampir ke semua sub bidang Bedah seperti pembedahan jantung (cardiovascular), bedah digestif, urologi, onkologi, bedah saraf, pediatric dan lain-lain bahkan sudah juga berkembang untuk pembedahan gynecologi. Tercatat di Amerika dan Eropa, da Vinci Robotic Surgical System telah digunakan lebih di 800 rumah sakit pada tahun 2006 untuk menyelesaikan sebanyak 48.000 kasus bedah.
Lalu bagaimana implikasi teknik ini yang memungkinkan dokter Bedah bisa mengerjakan operasi dari jarak jauh bahkan sampai ribuan kilometer (lintas negara)..? Bayangkan, dokter Bedah yang berada di Amerika sedang mengoperasi pasien yang berada di atas meja operasi rumah sakit di Jakarta misalnya… Jelaslah hambatannya juga banyak! Baik menyangkut masalah teknis, seperti ketergantungan alat, pengaruh listrik, jaringan koneksi -baik telpon ataupun internet- dan lain-lain maupun masalah etika dan hukum. Pasien tidak lagi mempunyai kontak bahkan tidak kenal dengan dokternya karena tidak ada sentuhan pemeriksaan fisik dan hubungan psikologis melalui penerimaan keluhan, anamnesa, saran serta nasehat dokter. Dari sisi hukum, apalagi yang berlaku sekarang, jelas SIP (Surat Ijin Praktek) tidak memperbolehkan seorang dokter menyelenggarakan layanan kesehaten di tempat lain di luar kawasan surat ijin tersebut. Kalau pun teknologi ini bisa lancar dalam penerapannya, mungkin akan lebih baik jika dimanfaatkan untuk bimbingan, arahan dan bantuan teknik dari dokter Bedah yang telah berpengalaman yang berada jauh terhadap koleganya yang relatif lebih dekat bersentuhan dan berhubungan dengan si pasien. Cara praktek seperti ini disebut tele-mentoring.
Bagaimanapun, kemajuan teknologi yang bertujuan memudahkan penggunanya di dunia medis terkadang justru terbentur dengan etika profesi medis itu sendiri. Maka masih tetap diperlukan cara atau stretegi untuk dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan etika….
Tags: da Vinci robotic surgical system, kanula, minimal invasif, robotic surgery, SIP, tele-mentoring
7 Comments
Leave a Reply
Recent Posts
- Haruskah Tahap Pre-Operatif itu Dijalankan..?
- Sisa Cerita Operasi Cangkok Hati di Surabaya
- Operasi Ambeyen Tidak Seseram yg Dibayangkan…
- Awas Gejala Awal Usus Buntu Menyerupai Maag..!
- Kapan Pulang Dari Rumah Sakit…?
- Patah Tulang… Dukun vs. Medis
- Testimoni Pembedahan
- Bedah Minimal Invasif
- Karakteristik Pasien
- Hak-Hak Pasien
Recent Comments
- wirya adnyana
on Pentingnya Bergerak Pasca Operasi - Halali Sahri
on Awas Gejala Awal Usus Buntu Menyerupai Maag..! - eryke
on Patah Tulang… Dukun vs. Medis - Joanra
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - ratih
on Waspada terhadap nyeri perut mendadak - Slamet Waluyo
on Apa yang perlu Anda ketahui tentang Kamar Operasi? - Firman
on Bengkak pada Pelir - Muslih
on Patah Tulang… Dukun vs. Medis


Dioperasi oleh dokter di benua lain yang berjarak ribuan kilometer? Aduh ngeri Dok… gimana kalo sambungan internetnya tiba-tiba putus? Ada gempa bumi yang memutuskan kabel backbone, atau cuaca buruk yang mengganggu sinyal satelit? Terus kalau sampai terjadi malpraktek bagaimana ngurusnya? Bagaimana pun, berhadapan langsung dengan dokternya akan lebih menenteramkan hati, kayaknya. Apalagi kalau dokternya ganteng dan baik hati seperti Dokter Eka
@rumahkanker :
Sepertinya pada masa saat ini masih dibutuhkan nilai2 humanism dalam hubungan dokter – pasien. Ga’ tahu lagi beberapa dekade ke depan dengan pesatnya pekembangan teknologi… jangan2 nilai itu akan luntur dan tergerus modernisasi yg bisa saja terjadi pd semua bidang…..
utk sekadar edukasi sptnya masih memungkinkan ya bli eko..di lokasi tetap ada operator yg bertanggung jawab
katanya depkes, tahun 2009 nanti kegiatan temedicine bakal ditingkatkan lagi..cmiiw
Tulisan terakhir dani : Ada Apa dengan Feed
@dani :
Mau tidak mau kita juga akan terimbas perkembangan itu, tapi paling tidak tahap sekarang cukup informasinya dululah… syukur2 dapat secara langsung mempelajarinya. Saat sekarang ini emang yang paling pas, kalo teknologi ini diindikasikan untuk kepentingan edukasi.
Salam Dok,
Setuju Dok, saya juga hadir di Surabaya dan memang untuk dapat menerima sesuatu yang baru kita harus berpikiran terbuka untuk menerima inovasi dan kemajuan teknologi dan tentunya pemerintah juga harus jeli dan terus mengikuti perkembangan ini dan menyesuaikan peraturan dan regulasi dengan perkembangan yang ada.
Tulisan terakhir Erik Prabowo : Da Vinci Surgery, Lompatan besar dalam Pembedahan Minimal Invasif.
Oya Dok, saya juga ulas di Blog saya, Da Vinci memang menarik sekali untuk dibahas, mungkin juga mengenai SILS port. Sayangnya waktu Stem Cell saya “bolos” kuliahnya Dok
Mungkin kalau punya pengalaman dengan konvensional laparoskopik bisa dibandingkan dengan uniport dari SILS Dok.
Tulisan terakhir Erik Prabowo : Da Vinci Surgery, Lompatan besar dalam Pembedahan Minimal Invasif.
@Erik Prabowo :
Mungkin generasi saya, apalagi relatif tinggal tidak di kota besar, belum akan bisa merasakan langsung bagaimana canggihnya pengoperasian alat ini. Tapi setidaknya pengetahuan dan mengenal alat ini lebih dini bisa akan membuka wawasan kita. Semoga kehidupan dunia Bedah di Indonesia bisa mengejar ketertinggalannya dibanding beberapa negara tetangga serta negara maju lainnya…
Tulisan terakhir eka kusmawan : Stem Cell Surgery; Harapan baru dunia Bedah