Thursday, March 11, 2010

Penanganan Luka Gigitan Hewan

Pembantaian anjing liar saat ini di Bali sedang berlangsung. Ini lantaran didapatkan adanya kasus penyakit Rabies di daerah Bali Selatan minggu lalu. Satu kasus yang sudah langka semenjak Indonesia dinyatakan bebas rabies. Media pun sedang hangat memberitakan masalah tersebut. Dan Pemda Bali telah resmi menyatakan KLB (kejadian luar biasa) terhadap penyakit satu ini.

Rabies atau Penyakit Anjing Gila adalah penyakit yang disebabkan oleh virus mematikan yang dapat menyerang susunan saraf yang menjangkiti hewan karnivora terutama anjing, kucing, kelelawar, srigala dan kera. Penyakit ini dapat ditularkan kepada manusia melalui gigitan. Pada manusia gejalanya baru nampak setelah 2 minggu sampai 8 bulan sejak penderita mengalami luka karena gigitan hewan tersebut. Penderita akan mengalami panas badan, nafsu makan berkurang, air liur dan air mata bertambah banyak, gangguan pada susunan saraf pusat dan depresi mental (gugup, resah, euporia, takut akan air, cahaya,bunyi dll) sampai bisa terjadi kejang-kejang, kelumpuhan hingga meninggal oleh karena gagal nafas.

Mengetahui hal itu, maka penanganan luka untuk yang pertama kali menjadi penentu akan kejadian kejadian berikutnya. Dilihat dari luka gigitan terhadap berat ringannya gejala yang akan ditimbulkan, dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain; kedalaman luka, lokasi luka, banyaknya gigitan, banyaknya virus dalam liur hewan penular dan kondisi imonologis penderita.

Berikut beberapa tips dan langkah-langkah penanganan luka gigitan yang bisa dijadikan pegangan;

  1. Penanganan awal di tempat kejadian; luka harus dibersihkan, bisa menggunakan sabun / diterjen dibilas dengan air bersih mengalir 5 – 10 menit lalu dikeringkan dengan kain atau tissue bersih dan dapat ditambahkan antiseptik betadin atau pun alkohol 70%. Segara bawa ke tempat layanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
  2. Di tempat layanan kesehatan (bagi petugas kesehatan); kecuali hanya tergores di lapisan epidermis dan tak berdarah, sekecil apapun luka itu harus dilakukan explorasi karena pada luka gigitan, kerusakan jaringan tubuh di bagian dalam lebih serius dibandingkan dengan luka yang kelihatan di permukaan kulit. Untuk mempermudah akses, setelah diberikan local anasthesia lakukan insisi dan pastikan dapat membersihkan luka hingga ke bagian dalam. Pembersihan dengan bahan iodine bisa dicampur perhidrol (H2O2) 3% dan bilas dengan cairan NaCl 0,9% dibarengi dengan nekrotomi yakni menghilangkan / memotong jaringan yang telah mati dan sangat kotor. Luka dibiarkan terbuka, rawat basah dengan kompres NaCl plus antiseptik dan dievaluasi 1 – 2 hari kemudian.
  3. Untuk luka yang luas dengan banyak gigitan; torehan atau insisi dapat diperpanjang karena sangat mungkin kerusakan di bagian dalam berhubungan antara luka gigitan (bite mark) satu dengan yang lain. Prosedur pencucian luka sama seperti di atas, namun jika insisi terlalu panjang (lebih dari 2 cm) penutupan luka dapat saja dijahit longgar menggunakan benang non absorbable dengan tidak lupa menyisipkan drain ke bagian dalamnya. Drain ini bisa menggunakan material yang diambilkan dari glove atau handschoon. Dan dibuka keesokan harinya.
  4. Pemberian vaksin Rabies (untuk kasus resiko terjangkit Rabies); bagi pasien yang belum pernah menerima vaksinasi ini, setengah dari dosis pemberian vaksin Rabies disuntikkan di sekitar luka gigitan. Dan pemberiannya diulang pada hari ke-3, 7, 14 dan hari ke-28 dengan masing-masing dosis 0,5 ml (cell culture rabies vaccine) tidak dibedakan baik untuk dewasa maupun anak-anak. Pada luka yang lebih parah -lebih dari satu gigitan dan masuk hingga ke lapisan subdermal- pemberian vaksin sebaiknya dikombinasi dengan Human Rabies Immunoglobulin (HRI) cukup pada saat therapy awal saja.
  5. Pemberian obat lain; disamping menginjeksi vaksin Rabies, penderita juga diberikan kombinasi obat antibiotika yang lain untuk mengantisipasi kemungkinan infeksi oleh kuman atau bakteri jenis lainnya. Ditambahkan juga obat-obat anti-inflamasi dan anti nyeri.
  6. Berikan penjelasan sesuai faktor resiko; perhatikan lokasi luka dan jumlah gigitan. Luka yang mengenai bagian tubuh dengan perkiraan banyak susunan saraf perifer di sekitarnya (misalnya di kepala atau bagian lain tubuh yang tertutup pakaian) mempunyai resiko lebih tinggi untuk kemungkinan tertular Rabies. Jelaskan juga masa inkubasi dan gejala klinis yang bisa ditimbulkannya.

Pada kondisi waspada seperti sekarang ini, khususnya di Bali, tidak kalah pentingnya juga adalah upaya pencegahan. Segera laporkan ke pihak-pihak terkait kalau didapatkan saudara, teman atau pasien yang tergigit anjing. Dan jika menemukan gejala seperti di atas apalagi yang didahului riwayat gigitan hewan sebelumnya, harus sudah segera dirujuk ke rumah sakit untuk menghindari hal yang lebih fatal. Bagi yang memiliki hewan peliharaan, jangan biarkan hewan kesayangan Anda berkeliaran di jalan….



27 Comments

  1. Comments  titahNo Gravatar   |  Friday, 05 December 2008 at 2:49 pm

    Manusia yang tertular rabies tidak berubah menjadi “gila” dan suka menggigit kan Dok? :)

    Tulisan terakhir titah : Ajukan Pertanyaan Kepada Dokter Bedah Anda

  2. Comments  rudi sNo Gravatar   |  Saturday, 06 December 2008 at 12:48 am

    bli perlu sosialisasi tentang rabies biar mayarakat lebih waspada. yang bertanggung jawab dokter manusia napi dr hewan bli???? suksma

    Tulisan terakhir rudi s : IUI

  3. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Saturday, 06 December 2008 at 7:40 pm

    @titah :
    Pada manusia akan terjadi gangguan pada kerja saraf pusat dan terjadi depresi mental. Mungkin ini yang mengesankan seperti ‘orang gila’, tapi pd binatang memang benar gejalanya bisa menyebabkan binatang itu menjadi lebih liar dan galak… (begitu teorinya, saya sendiri belum pernah lihat kecuali di film.. he..he..)

    @rudi s:
    Tiang kira kedua-duanya Rud.. Untuk kalangan kita (para petugas kesehatan) mestinya bertanggungjawab akan pencegahan dan penanggulangan penyakit ini pada manusia. Begitu juga untuk penularan di lingkungan hewan, tentu dokter hewan yang lebih kompeten.

    Tulisan terakhir eka kusmawan : Penanganan Luka Gigitan Hewan

  4. Comments  Andi SugiartoNo Gravatar   |  Saturday, 06 December 2008 at 8:31 pm

    Makasih dok sudah di refresh ingatan saya tentang penyakit rabies, yang selama saya kuliah di FK UNDIP, belum pernah lihat/ ketemu pasien rabies. Eh malah sekarang muncul lagi…

    Tulisan terakhir Andi Sugiarto : Lindungi anak dari Pornografi: outline ceramah

  5. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Sunday, 07 December 2008 at 11:07 am

    @Andi Sugiarto :
    Itu makanya baru ketemu 1 atau beberapa kasus sudah tergolong KLB. Saya pun sebelum nulis itu mesti buka-buka lagi sesuatu yang telah lama tak terbaca. Mari kita sama2 me-refresh diri untuk bisa waspada dan jaga2…
    Trim’s dr. Andi atas visitenya…

    Tulisan terakhir eka kusmawan : Penanganan Luka Gigitan Hewan

  6. Comments  Putu AdiNo Gravatar   |  Sunday, 07 December 2008 at 8:00 pm

    Adakah keterangan kenapa muncul pertama kali di daerah Bali Selatan dok? Menurut saya sih karena daerah bali selatan banyak perumahan orang asing yang bawa peliharaan dari negaranya.

    Tulisan terakhir Putu Adi : Akhirnya Mencoba Smart

  7. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Monday, 08 December 2008 at 3:17 am

    @Putu Adi :
    Salah satu kemungkinan besar penyebabnya, saya pikir juga begitu..

    Tulisan terakhir eka kusmawan : Penanganan Luka Gigitan Hewan

  8. Comments  baharazwarNo Gravatar   |  Saturday, 13 December 2008 at 9:49 pm

    Dok, menurut saya berat menentukan resiko terjangkit rabies karena menemukan anjing yang menggigit itupun susah ditemukan. Bila ditemukan pun menentukan apakah anjing itu gila akan memakan waktu. Pertanyaan saya berapa lama kita mempunyai waktu tenggang untuk memulai vaksinasi tabies?

  9. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Sunday, 14 December 2008 at 9:25 pm

    @baharazwar :
    Pemberian vaksin dibedakan menjadi ‘pre-exposure prophylaxis dan post-exposure prophylaxis. Pada penderita atau korban gigitan hewan, apalagi di daerah yang sedang terkontaminir seperti di Bali saat ini sangat dianjurkan pemberian jenis vaksin rabies dengan pemberian 5 kali dengan dosis 0,5 cc (jenis extract vero cell) pada hari ke-0, 3, 7, 14 dan 28. Jika dengan luka gigitan grade III perlu ditambahkan ‘human rabies immunoglobulin’ dosis 20 UI/ml per kgBB.
    Untuk pencegahan yang belum terpapar atau pre-exposure dosis pemberiannya hanya perlu 3 kali saja.
    Sbg informasi dok.. di rumah sakit dan klinik kami yang kebetulan juga kerap menerima pasien asing, di UGD disiapkan juga semacam form yang perlu ditandatangani jika si pasien menolak pemberian vaksin ini sesuai protap yang telah kami buat. Ini sebagai antisipasi terhadap masa inkubasi yang memang cukup lama….

    Tulisan terakhir eka kusmawan : Penanganan Luka Gigitan Hewan

  10. Comments  baharazwarNo Gravatar   |  Sunday, 14 December 2008 at 10:41 pm

    Makasih Dok

  11. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Tuesday, 16 December 2008 at 10:07 am

    @baharazwar :
    Terimakasih juga dr. Bahar atas kunjungan dan tanggapan dokter..
    Sedikit tambahan dok.., memang tidak mudah untuk penegakan diagnose seekor hewan atau seseorang tertular virus Rabies. Hanya bisa diketahui dari pemeriksaan biakan yang diambil dari liur, cairan otak atau otaknya sendiri. Dan pada kasus yang lebih jarang jg didapatkan dari biopsi kulit di leher…

  12. Comments  ]h[aiNo Gravatar   |  Thursday, 30 April 2009 at 12:43 am

    saya maw tanya

    jadi kalo pada px y lagi hamil trus dia tergigit anjink

    namun luka nya tidak dalam

    apakah y harus di lakukan pada ibu tuh

    apakah sama dengan orang y biasa y tergigit hewan lain nya

    pa kah vaksin rabies tdk terpengaruh pada janin ibu tsb…

    thanks atas jawabanya

  13. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Thursday, 30 April 2009 at 7:44 pm

    @]h[ai :
    Menurut saya, harus dilihat dulu seberapa serius paparan terhadap kemungkinan rabies tadi. Jika si ibu berada pada daerah terpapar rabies dan apalagi tergigit oleh anjing liar yang belum diketahui terimunisasi rabies atau tidak, masih disarankan untuk menjalani pemberian vaksin itu -sekalipun dalam keadaan hamil-. Jika dalam kondisi di luar keadaan seperti di atas, tidak perlu lagi diberikan vaksin itu.
    Kehamilan dan vaksinasi Rabies tidak ada perhatian khusus. Jika memang diperlukan, berikan sesuai indikasi. Atau bisa juga sebelumnya berkonsultasi dengan dokter kandungan.

    Tulisan terakhir eka kusmawan : Persepsi Salah tentang Biaya Operasi

  14. Comments  dewabennyNo Gravatar   |  Saturday, 02 May 2009 at 8:45 pm

    Kenapa dicuci pake sabun ya dok?…kalo ga pake sabun ada efeknya ga….?

  15. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Sunday, 03 May 2009 at 7:37 am

    @dewabenny :
    sabun atau diterjen bisa mengeliminir efek racun atau saliva yang mengandung virus. Disamping karena bahan kimia, pengaruh busa yang ditimbulkan dapat mengangkat endapan saliva di jaringan seperti kerja H2O2 yang jauh lebih mengiritasi jaringan yang sehat..

  16. Comments  carlieNo Gravatar   |  Sunday, 12 July 2009 at 7:13 pm

    saya dengar anjing yg terinfeksi rabies akan mati setelah menggigit…. berapa hari jangka waktu nya???

  17. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Tuesday, 14 July 2009 at 9:03 am

    @carlie :
    Wahh… kok ga’ nyampe pengetahuan saya sampai di situ ya.. Kalau karena infeksi rabiesnya hewan itu akan mati, memang tinggi kemungkinannya. Tapi kematiannya akan dipercepat setelah anjing itu menggigit.. ini yang belum saya pernah baca! Bisa mungkin ditanyakan ke dokter hewan..

    Tulisan terakhir eka kusmawan : Awas! Efek Obat Memperbesar Alat Vital

  18. Comments  RadoNo Gravatar   |  Monday, 31 August 2009 at 1:50 pm

    Permisi Dokter, saya mau tanya.
    Apakah orang yg terkena rabies bisa menularkan ke orang lain..?
    Kalau memang bisa bagaimana cara menanggulanginya?
    Ada kasus seperti ini :
    Seorang pasien penderita rabies merontak-rontak & meludahi seseorang yg ada didekatnya, apakah seseorang itu bisa terjangkit?
    Sebelumnya thx atas jawabannya

  19. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Tuesday, 01 September 2009 at 11:31 am

    @Rado :
    Prinsipnya virus ini dan umumnya virus jenis yg lain juga akan bisa menjangkiti kita kalau sudah masuk ke dalam tubuh melalui lapisan yang terbuka pada permukaannya, misal yang paling sering melalui mukosa yang mengalami lecet atau cedera.
    Jika yang mengenai hanya ludah pada kulit yang sehat, tidak jadi masalah. Tapi kalau terdapat luka, salah satunya melalui gigitan langsung dari si pembawa virus, itu yang menjadi masalah… Jadi cara mencegahnya, janganlah kontak secara langsung dengan si penderita.

  20. Comments  ImsunNo Gravatar   |  Monday, 19 October 2009 at 2:52 pm

    Dokter, betis saya pernah digigit anjing tetangga 4 tahun lalu. wkt itu saya hanya bersihkan dng tanah, lalu dng sabun begitu tiba dirumah. sy tdk pernah berobat ke dokter setelahnya krn sy pikir lukanya cepat sembuh. pertanyaan saya : apakah hal itu akan berdampak jngka panjang seandainya sy tdk menerima vaksinasi akibat gigitan tsb? blakangan (kadang2) sy merasa otot betis di area gigitan itu seperti berdenyut atau tertarik, apakah pengaruhnya bisa seperti itu?

  21. Comments  ImsunNo Gravatar   |  Monday, 19 October 2009 at 2:54 pm

    oh ya dok, saya seorang laki-laki berusia 36 tahun sekarang. terima kasih atas jawabannya.

  22. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Monday, 19 October 2009 at 8:45 pm

    @Imsun :
    Yang sudah saya pastikan, Imsun tidaklah terkena infeksi rabies. Saya pikir kejadian seperti terasa ketarik itu, jika bukan karena faktor psikis bisa jadi karena terbentuk sikatrik (bekas luka yg menyembuh), bisa bekas itu terlihat dari luar -di permukaan kulit- atau mungkin terbentuk di bagian dalam…

  23. Comments  Yogi krisnaNo Gravatar   |  Thursday, 19 November 2009 at 11:17 pm

    Dok, usia saya 20 tahun, saya dgigit anjing suspect d punggung telapak tangan kanan tgl 15 November kemarin, gigitannya kecil tapi mengluarkan darah dok, saya sgera bersihkan dg air dan sabun mandi cair, lalu teman saya menyarankan dg bensin karena tdk ada alkohol dan karena saya tdk tau cara yg tepat..kemudian saya teteskan betadine..baru 4 jam kemudian saya tau agar dicuci dg deterjen, saya rendam dan gosok selama 15 menit lalu saya bilas skitar 2 menit lalu saya lgsung ke RS Sanglah (jadi saya ke Sanglah 5 jam stlah kejadian). Disana sya dberi vaksin. Namun kata ptugas luka saya tdk perlu dbersihkan lagi meski waktu itu masih terasa perih..petugas mengatakan bahwa rabies center ada pada bagian poliklinik, namun karena pada hari itu adalah hari minggu maka saya diserahkan pada ruang bedah, jadi saya djadwalkan suntik vaksin untuk yang kedua kalinya adalah pada hari senin besok tgl 23 karena poliklinik tutup pada hari minggu tgl 22..yang ingin saya tanyakan seharusnya jdwal vaksinnya kan H0, H7, dan H21, nah karena saya djdwalkan vaksin kedua pada tgl 23 sdngkan vaksin pertama tgl 15 (H 0), maka akn menjadi H8 bukan H7..apakah ini tidak apa apa ya dok? Dan adakah check positif atau negatifnya saya dari rabies?bagaimana dan kapan saya bisa melakukannya? Terima kasih banyak atas perhatian dokter, saya mohon waktu luang dokter dan saya berharap pada jawaban dokter atas masalah saya..terima kasih

  24. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Friday, 20 November 2009 at 9:45 am

    @Yogi krisna :
    Sebenarnya tidak terlalu masalah perbedaan hari pemberian sampai 1 minggu itu. Prinsipnya, tindakan preventif vaksin telah diberikan dan tenggang waktu pemberian itupun merupakan hasil rata2 riset yg dilakukan sbelumnya terhadap obat tsb. Tulisan saya di atas sy sadur dari beberapa sumber di internet, namun dari kebijakan Dinas Kesehatan ternyata tidak sama persis, masih ada modifikasi. Saya yakin semua itu tidak akan mempengaruhi secara berkna apa sebetulnya tujuan upaya preventif ini.
    Sejauh yang pernah saya baca, kepastian untuk terjangkit rabies dinyatakan dari hasil positif virus tersebut pada pemeriksaan sampel cairan mukosa atau jaringan sekitar luka. Dan saya bayangkan tidak mudah untuk melakukan hal tersebut. Saya tidak mengetahui apakah dari profesi kedokter hewan mempunyai cara tersendiri yang lebih aplikatif untuk memeriksakan bahan atau kepastian terjangkit rabies ini. Sehingga setahu saya diagnostiknya lebih banyak berdasarkan temuan klinis.Perlu juga adik tanyakan hal ini di Rabies Centre.
    Saran saya, jangan terlampau risau… Luka yang kecil, tidak dalam, apalagi yg menggigit adalah anjing peliharaan sendiri yg tlh diketahui komunitasnya, sepertinya… beresiko kecil sekali!

  25. Comments  Yogi krisnaNo Gravatar   |  Monday, 23 November 2009 at 7:15 am

    Sya dgigit anjing liar dok, ya saya sangat harapkan juga tidak ada virus pada anjing tersebut, terima kasih banyak ya dok atas support dan penjelasannya

  26. Comments  MarianyNo Gravatar   |  Wednesday, 27 January 2010 at 8:25 am

    Dok cairan H2O2 yg qt pake utk bersihkan luka kotor yg brp persen dok?

  27. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Wednesday, 27 January 2010 at 12:36 pm

    @Mariany :
    H2O2 yang 3%.

 

Selamat Datang dan Terimakasih atas Kunjungan Anda di SpesialisBedah.com -- Pertanyaan ataupun komentar Anda akan sesegera mungkin saya tanggapi

Surgeon[log] is using WP-Gravatar