Friday, March 12, 2010

Persiapan Operasi

Tidak semua orang merasa siap ketika seorang dokter menyatakan ia harus dioperasi. Kesiapan itu tidak saja menyangkut psikologis, juga bisa berhubungan dengan kondisi keuangan, pemilihan waktu dan keadaan fisik seseorang. Jika jenis operasi yang akan dijalaninya suatu operasi emergensi atau cito (istilah dalam dunia medis) bisa jadi tidak akan memberikan kompromi kepada seseorang pasien untuk menunggu kesiapannya. Karena kalau operasi itu ditunda dapat menimbulkan sesuatu yang lebih fatal. Bagaimana pun persiapan yang baik akan mempengaruhi hasil operasi. Begitu juga jika masih memungkinkan untuk mempersiapkan pembedahan itu dengan baik, akan membuat team bedah lebih siap mengantisipasi kemungkinan yang dapat menghambat proses jalannya operasi termasuk kesiapan tubuh dalam menerima dampak trauma pembedahan.

Rasa takut, cemas atau khawatir akan tindakan operasi mungkin dapat dikurangi dengan cara mengetahui lebih banyak tentang kelainan yang Anda derita, sehingga ada pengertian kalau operasi merupakan jalan terbaik untuk mengatasi masalah Anda tersebut. Begitu juga dengan tambahan pengetahuan tentang prosedur dan bagian mana dari tubuh Anda akan ditoreh, bisa jadi memberi Anda ketenangan dan lebih siap mental. Akan memperkuat keyakinan juga kalau Anda mendapatkan informasi tambahan dari orang lain yang pernah menjalani operasi yang sama dengan yang akan Anda alami. Jika dengan itu semua kekhawatiran itu masih juga menyelimuti, tentu dokter Bedah anda bisa menjadi tumpuan untuk bertanya dan mengungkapkan kekhawatiran itu. Lihat juga di sini.

Tentang kesiapan keuangan Anda, akan menjadi masalah yang serius kalau Anda belum atau tidak dilindungi asuransi. Saat ini pembiayaan operasi, khususnya di Indonesia masih cukup mahal. Mungkin jika operasi yang Anda akan jalani sudah anda ketahui jauh-jauh hari sebelumnya, Anda mempunyai waktu untuk menabung, mengumpulkan biaya untuk menghadapinya. JIka tidak, apalagi Anda tidak memiliki ‘biaya cadangan’ dalam devisa keuangan rumah tangga Anda, memang perlu dicarikan solusi masalah pembiayaan ini. Ada beberapa cara yang bisa Anda pertimbangkan. Pilihlah rumah sakit pemerintah sebagai tempat untuk mendapatkan pelayanan bedah ini dengan harapan biayanya bisa disubsidi, sekalipun nantinya membutuhkan surat keterangan yang menyatakan Anda tidak mampu. Pilih kelas perawatan yang paling murah yang berpengaruh juga terhadap ongkos operasi. Di luar permasalahan itu, mungkin juga keuangan dapat diusahakan dengan mengandalkan bantuan dari keluarga, kerabat atau pun sahabat. Tidak menutup kemungkinan untuk secara langsung memohon bantuan kepada dokter Bedah anda dengan mengungkapkan permasalahan yang Anda alami.

Masalah kapan waktu tindakan bedah itu harus dikerjakan, sangat tergantung dari kasus penyakitnya. Akan Anda dapat atur waktunya, tentu juga disesuaikan dengan tim yang akan melaksanakan pembedahan itu, jika kasusnya tidak emergensi atau lebih dikenal dengan nama ‘pembedahan elektif’ yang artinya waktu pengerjaan operasinya dapat direncanakan. Sehingga untuk yang jenis ini, penentuan waktunya disesuaikan kapan anda merasa siap dari sisi psikologis, pembiayaan dan hari yang Anda anggap tepat.

Berbeda dengan pembedahan emergensi (cyto), penderita tidak lagi diberi kesempatan untuk menyiapkan diri baik dari sisi psikologis, waktu dan bisa jadi soal keuangan juga. Yang dipentingkan adalah kecepatan penanganannya demi menyelamatkan nyawa penderita. Walaunpun demikian, faktor kondisi fisik dan keadaan klinis menjelang operasi tetap menjadi bahan pertimbangan, setidaknya oleh dokter anasthesi / dokter bius. Kalau pembedahan itu merupakan tindakan untuk penyelamatan nyawa, meskipun keadaan fisik penderita kurang memungkinkan untuk dilakukan pembiusan, maka hal ini dikatakan pembedahan sangat beresiko, antara hidup atau mati. Oleh dokter anasthesi resiko ini dikenal dengan tingkat ASA. Tingkat ASA empat, artinya pembedahan dengan resiko tinggi. Dalam situasi begini sangat dibutuhkan sekali permakluman dan persetujuan dari pihak keluarga pasien melalui pernyataan resmi tertulis dan bertandatangan atau lebih dikenal dengan Surat Persetujuan Tindakan Medis. Untuk jenis pembedahan elektif, kondisi fisik macam ini tentu dapat dipersiapkan dengan baik sehingga penderita menjelang akan dioperasi akan mendapatkan kondisi optimalnya. Itulah sebabnya diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium, rontgen, elektrokardiografi dan lain-lain yang berguna mendeteksi kelainan yang ada sebelum penderita siap untuk dibius dan dilakukan tindakan operasi. JIka didapatkan suatu kelainan atau gangguan, maka akan ditherapy dulu kelainan itu, semasih ada waktu untuk membuat si pasien seoptimal mungkin. Biasanya prosedur tetap di rumah sakit mewajibkan pemeriksaan ini terutama untuk penderita di atas 40 tahun karena di atas usia inilah kemungkinan kelainan itu ditemukan, sekalipun mungkin kondisi fisiknya dari luar tidak menampakkan kecurigaan ke arah itu. Yang diperiksa meliputi fungsi dan keadaan jantung, paru-paru, fungsi ginjal, liver dan mengetahui kadar gula darah serta keseimbangan elektrolit.

Tidak kalah pentingnya pula dalam persiapan tindakan bedah ini adalah masalah administratif. Sesuatu hal yang lebih banyak berhubungan dengan hukum dan kelengkapan rekam medik penderita. Dibutuhkan komunikasi dan partisipasi dari penderita atau keluarga, hingga dihasilkan suatu kesepakatan dan persetujuan itu diperkuat melalui pernyataan tertulis yang dibubuhkan tandatangan. Ada paling tidak 2 kesepakatan yang perlu didapat menjelang pelaksanan tindakan medis ini. Yang mutlak ada, adalah Inform Concern atau Surat Persetujuan Tindakan Medik dan yang sebaiknya harus ada juga (bila perlu dicantumkan secara tertulis) adalah informasi tentang prakiraan pembiayaan operasi.

Dari perhatian tim bedah, justru kesiapan fisik penderita yang paling penting, sebab sangat mempengaruhi sekali stabilitas kondisi tubuh selama proses operasi dan menentukan hasil pembedahan serta perawatan pasca operasinya. Sehingga untuk kasus bedah berencana yang tergolong berat dan penanganannya akan dikerjakan dalam waktu relatif lama apalagi penderita berumur di atas 40 tahun, sebaiknya penderita sudah berada di rumah sakit setidaknya satu hari menjelang pelaksanaan operasi. Sehingga baik dari kesiapan yang berhubungan dengan pembedahan maupun yang berhubungan dengan proses pembiusannya betul betul penderita dalam keadaan optimal dan siap untuk ditempatkan di atas meja operasi…



12 Comments

  1. Comments  imcwNo Gravatar   |  Monday, 29 December 2008 at 3:50 pm

    Bila pasien dan operator siap maka operasi akan berlangsung dengan lancar. Thanks dok.

    Tulisan terakhir imcw : Kaleidoskop 2008 dan Harapan 2009

  2. Comments  pakdejackNo Gravatar   |  Tuesday, 30 December 2008 at 12:43 pm

    trus fungsi dokter anesthesi pada proses persiapan operasi gimana dok?

    Tulisan terakhir pakdejack : Harapan baru bagi perokok. [Digg]

  3. Comments  DeddyNo Gravatar   |  Tuesday, 30 December 2008 at 2:26 pm

    Setuju dok. Semua harus dikomunikasikan dengan baik. Pasien dan keluarganya harus mau bertanya apa saja kepada dokter yang merawatnya. Begitu juga adalah kewajiban dokter untuk memberi informasi yang sejelas2nya kepada pasien. Selamat tahun baru dok. Sukses terus… :)

    Tulisan terakhir Deddy : Powered by Wordpress 2.7 “Coltrane”

  4. Comments  alfiNo Gravatar   |  Tuesday, 30 December 2008 at 11:14 pm

    aduuh2,,omongannya terlalu tinggi nich

  5. Comments  CaesarioNo Gravatar   |  Wednesday, 31 December 2008 at 6:30 pm

    Wah dok, saya sendiri walaupun sudah ratusan kali melihat jalannya operasi, tanpa sadar saya merasa bahwa pasien itu biasanya menghadapi kecemasan yang luar biasa, sampai saya sendiri yang mengalami operasi itu sendiri.

    Pada awalnya ketika dokter anestesinya mempersilahkan saya untuk tiduran di atas meja operasi rasanya sudah cemas sekali, ketika mulai dipasang monitor tampak saya mengalami takikardia. Terus setelah dokter bedahnya datang dan mengatakan “tenang dik, tidak apa-apa” saya merasa tenang sekali, dan sempat dokter bedahnya mengajak saya untuk bercanda sehingga perasaan takut saya hilang begitu saja, hingga dokter anestesinya menyuntikan obat bius ke dalam selang infus saya, ketika rasa kesemutan mulai menjalar dari tangan saya, ke lengan saya, dan mulai pada saat penglihatan saya kabur, saya masih sempat ingat dokter bedahnya masih tersernyum kepada saya hingga saya benar-benar tidak sadar sama sekali.

    Alhamdulillah, bahkan ketika operasi selesai dokter bedah yang menangani saya menemani saya ketika saya mulai sadar, “dik operasinya sudah selesai, hasilnya bagus”

    Menurut saya peran dokter bedah, dokter anestesi, dan seluruh perawat yang ada di OK, memegang peranan yang sangat penting untuk membuat tenang keadaan dari pasien yang akan dilaksanakan operasi.

  6. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Wednesday, 31 December 2008 at 8:06 pm

    @imcw :
    Apapun kalo sudah dipersiapkan dengan baik, niscaya akan berjalan lancar…
    Trim’s juga atas kunjungannya.

    @pakdejack :
    Dokter anasthesi lebih berperan pada persiapan fisik penderita sesaat menjelang pembedahan, seperti juga sudah terungkap dalam tulisan di atas. Intinya Team Bedah (termasuk juga personal anasthesi) akan menjalankan fungsinya masing-masing dalam upaya persiapan dan pelaksanaan pembedahan..

    @Deddy :
    Memang betul. Yang tidak kalah penting adalah komunikasi melalui Inform Concern yang harus diberikan kepada pasien beserta keluarga..

    @alfi :
    He..he.. Saya rasa tdk ketinggian. Sengaja diceritakan untuk konsumsi khalayak umum. Cuma mungkin belum pernah terlibat dan merasakan aja…

    @Caesario :
    Wah, jadi pengalaman lebih lengkap. Pernah sebagai subyek dan obyek pembedahan…
    Terimakasih, sudah menambahkan semacam testimoni pada artikel ini. Begitulah suasana yang diharapkan. Semoga dik Caesario tidak berbaring lagi di atas meja operasi untuk yang kedua kalinya..he..he…

    Tulisan terakhir eka kusmawan : Persiapan Operasi

  7. Comments  titahNo Gravatar   |  Friday, 02 January 2009 at 9:25 pm

    Hmm…. tindakan operasi hampir selalu menjadi momok bagi pasien, apalagi yang belum pernah mengalaminya. Sehingga persiapan psikologis perlu mendapat perhatian khusus. Tapi bagi dokter bedah tindakan operasi mungkin sudah menjadi sesuatu yang rutin. Sehingga, ternyata, dokter bisa melakukannya sambil bercanda seru bersama para asistennya. Sampai-sampai saya sebagai pasien yang sedang dioperasi ikut-ikutan bercanda. Mungkin karena waktu itu operasinya tidak terlalu “serius”, hanya operasi caesar…

    Tulisan terakhir titah : Cintaku Pada Rokok Berbuah Kanker Paru dan Kanker Usus

  8. Comments  Satya WardhanaNo Gravatar   |  Saturday, 03 January 2009 at 1:19 am

    Malam Dr. Eka,
    Salam perkenalan ya Dok, semoga webblog ini tidak pernah berhenti memberikan info yang berguna bagi kita semua.

    Salam,
    Satya Wardhana
    http://problemsolvingsurgerycases.blogspot.com/

  9. Comments  Satya WardhanaNo Gravatar   |  Saturday, 03 January 2009 at 1:22 am

    Dok, mohon kritik dan saran kalau kebetulan dokter sempat mampir di blog saya, makasih ya Dok…

  10. Comments  baharazwarNo Gravatar   |  Sunday, 04 January 2009 at 9:52 am

    Mbak Titah, operasi tidaklah rutin karena masing-masing pasien memiliki kekhususan. Canda dan musik di kamarbedah penting untuk relaksasi hingga dokter dapat berpikir dengan tenang. Senang sekali mempunyai pasien seperti Mbak yang mau ikut bercanda.

    Tulisan terakhir baharazwar : Monoclonal Antibody Therapy

  11. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Sunday, 04 January 2009 at 5:10 pm

    @titah :
    Ya, saya juga biasanya begitu. Berusaha membuka komunikasi dengan bercerita apa saja dengan pasien sesaat sebelum dilakukan pembiusan. Ini menjadi salah satu cara menurunkan ketegangan dan mengurangi ketakutan bagi penderita. Tentu dipertimbangkan juga kasusnya dan penerimaan penderita terhadap cara ini…

    @Satya Wardhana :
    Terimakasih dr. Satya. Blog dokter pasti menjadi salah satu referensi saya dan tempat berkonsultasi terutama untuk kasus-kasus bedah plastik…

    @baharazwar :
    Pernah juga dok pengalaman menarik saya ketika suatu saat operasi dengan pembiusan BSA / penderita dalam keadaan sadar, kami (operator, pasien dan dokter anasthesi) nyanyi bareng mengikuti lagu yang kebetulan kami hafal liriknya, di saat operasi sedang berlangsung. Saya sambil ikut nyanyi ini tentu di saat masalah utama sudah terselesaikan. Tinggal menutup luka saja…

  12. Comments  Dahnial   |  Wednesday, 03 February 2010 at 4:15 pm

    SEKEDAR INFO: “BEDAH TORAKS DENGAN ANESTESI LOKAL”

    SEORANG DOKTER DARI KOTA MALANG DAN TEAMNYA SEJAK TAHUN 1962 TELAH MELAKUKAN BEDAH TORAKS HINGGA SEBANYAK 215 KALI DENGAN ANESTESI LOKAL (SANG PASIEN TETAP DALAM KEADAAN SADAR, BAHKAN MASIH BISA TERTAWA).

    SILAHKAN SIMAK ARTIKELNYA BESERTA FOTO-FOTO PROSES PEMBEDAHANNYA DI SITUS :

    http://iwandahnial.wordpress.com/2010/01/31/thoracotomy-under-local-anaesthesia/

 

Selamat Datang dan Terimakasih atas Kunjungan Anda di SpesialisBedah.com -- Pertanyaan ataupun komentar Anda akan sesegera mungkin saya tanggapi

Surgeon[log] is using WP-Gravatar