Kenapa Mesti Operasi di Luar Negeri
Last Updated on Monday, 8 March o 10:31 Written by eka-kusmawan Monday, 19 January o 12:52
Perumahsakitan dan jasa layanan medis kini sudah menjadi industri untuk meningkatkan devisa di beberapa negara maju. Begitu agresif pemasarannya, termasuk juga yang dipublikasikan oleh rumah sakit- rumah sakit negara tetangga. Dapat kita lihat melalui media, brosur, pamflet di airport, seminar dan kerjasama dengan rumah sakit lokal maupun para kurir dan mediator.
Dan Indonesia dengan jumlah penduduk besar serta tidak sedikit juga yang berduit menjadi pasar potensial untuk menjual produk tersebut. Di sisi lain justru pemerintah masih setengah hati memberi kesempatan kepada rumah sakit negeri maupun swasta untuk berpromosi, mengiklankan keunggulan masing masing guna berupaya mendapatkan pasien sebanyak mungkin. Justru hal ini menjadi ‘kekalahan’ pertama kita dibandingkan penyedia jasa bidang kesehatan di luar negeri. Padahal saat ini sudah mulai tumbuh beberapa rumah sakit bermutu yang layak disejajarkan bahkan mungkin lebih unggul dibandingkan yang ada di negeri tetangga.
Kekalahan kita kedua menyangkut soal pelayanan terhadap pelanggan. Ibarat seperti tamu hotel atau seperti slogan ‘pembeli adalah raja’, mereka betul-betul men-service customer-nya dengan baik. Karena mereka memang sadar bahwa dari pasien-pasien inilah mereka bisa hidup. Sayangnya budaya ini tidak sepenuhnya dipahami oleh kebanyakan pekerja layanan medis di negara kita. Dipahami saja masih belum, apalagi menerapkannya. Service yang diberikan sudah dilakukan sejak pre-hospital, begitu pasien tiba di bandara hingga pasca perawatan di rumah sakit dengan menyediakan tempat tempat untuk rehabitasi atau pun pondokannya. Bahkan di negara tertentu juga disediakan tenaga penterjemah untuk menjamin kelancaran komunikasi, yang siap selalu mendampingi pasien beserta keluarganya. Dengan sistem yang sudah berjalan baik, rasio nurse-patient yang memadai dan tingkat kepedulian yang sudah membudaya menjadikan hospital care –nya jauh lebih unggul.
Kekalahan kita ketiga berkenaan dengan biaya yang harus dibayar. Di luar negeri pengeluaran untuk perawatan di rumah sakit dan ongkos pembedahan sudah dapat dipastikan dan sudah dapat ditentukan dari awal. Pada kasus tertentu disinyalir biayanya justru lebih murah dibanding di dalam negeri. Kenapa bisa? Dari diskusi beberapa orang pakar perumahsakitan menyimpulkan hal ini dikarenakan salah satunya oleh pajak pemerintah terhadap barang atau peralatan medis jauh lebih kecil dibandingkan dengan negara kita. Sehingga cost yang dibebankan ke pasien pun juga bisa lebih murah. Sebetulnya di banyak rumah sakit di Indonesia sudah mulai menerapkan tentang informasi biaya ini kepada pasien sedekat mungkin dengan biaya real yang nantinya harus dibayar sepulang dari rumah sakit. Juga beberapa pakar dalam negeri telah mengusulkan harga layanan kesehatan didasarkan atas apa yang disebut DRG (Diagnostic Related Group) yang tujuannya untuk bisa lebih memberi kepastian terhadap pembiayaan yang harus dikeluarkan oleh pasien.
Kecanggihan alat dan kelengkapan fasilitas diagnostik memberikan keakuratan dan kecepatan dalam menegakkan diagnose penyakit. Ini menjadi keunggulan mereka yang berikutnya. Walaupun di kota-kota besar di Indonesia fasilitas penunjang ini tidak lagi sulit ditemukan. Tapi berkenaan dengan teknologi, kemampun alat ini pun semakin berkembang dan terus disempurnakan sehingga jika ingin lebih baik tentu dituntut pula penyediaan sarana yang lebih up to date. Ditunjang pula dengan sistem yang teruji, suatu penyakit yang mungkin membutuhkan 3-4 hari di sini, di sana dalam waktu sehari penyakit itu sudah dapat dipastikan penyebab atau diagnosanya. Ini pula yang bisa jadi mengakibatkan biaya pelayanan medis terpotong lebih murah.
Khusus tentang kemampuan untuk melakukan pembedahan, masih bisa dikatakan dokter Bedah di Indonesia tidak kalah. Beberapa kali pernah melihat dan mendampingi ahli Bedah dari luar negeri, penulis mengamati untuk tindakan yang langsung menggunakan tangan, dokter kita masih lebih terampil. Mereka justru lebih unggul pada pemanfaatan alat, misalnya pada jenis operasi minimal invasive atau mungkin jenis robotic surgery. Masalahnya, di Indonesia banyak para dokter ahli Bedah yang tidak fokus untuk mengerjakan bidang tertentu. Meskipun sudah ditentukan batas wewenang sesuai profesi sub-bedah masing-masing, tidak jarang dalam penanganan pasien masih mau mengerjakan kasus-kasus yang tidak spesifik. Lain dengan di luar negeri, mereka berupaya meningkatkan kemampuan pada kasus-kasus tertentu saja, misalnya ada dokter yang jago untuk bedah tangan saja, pancreas saja, khusus tumor otak, tulang belakang, rekontruksi wajah khusus hidung dan lain-lain dimana mereka menyatakan diri ahli di bidangnya tanpa bersedia lagi mengambil kasus lain di luar bidang itu.
Kembali lagi, apakah sebaiknya pergi ke luar negeri untuk menjalani pembedahan? Itu sepenuhnya ada pada keputusan anda. Saran penulis, lihat dulu kasusnya! Jika kelainan itu sesuatu yang sudah lumrah dikerjakan oleh dokter Bedah di sini, mengapa mesti ke luar negeri. Cari saja rumah sakit yang bisa memberikan layanan yang bermutu sebagai tempat anda untuk memperoleh jasa layanan medis. Untuk kasus yang spesifik dan sulit, sebelum anda memutuskan ke luar negeri mintakan petunjuk atau bila perlu surat rujukan dari dokter Bedah anda. Akan lebih dipercaya kalau dokter Bedah anda menunjuk salah seorang koleganya di luar negeri yang ia percayai menangani anda. Perlu diingat, bahwa dimana dan kapan saja komplikasi tindakan medis bisa terjadi, tidak menutup kemungkinan juga di luar negeri. Ada pula terjadi masalah pasca bedah yang tidak diharapkan karena penanganan operasinya tidak dikerjakan oleh orang yang tepat. Dari pengamatan, kejadian ini lebih banyak terjadi pada pasien yang keberangkatannya ke luar negeri difasilitasi pihak ketiga tanpa rujukan ataupun konsultasi sebelumnya dengan dokter Bedah di sini. Komplikasi pasca operasi selain membebani dari waktu dan biaya perawatan seseorang pasien, juga masalah berjauhan dari keluarga lainnya, menjadi problem psikologis yang harus dipertimbangkan……
4 Comments
Leave a Reply
Recent Comments
- eka-kusmawan
on Mengenal Nyeri Pinggang akibat HNP - Arie
on Gaya Komunikasi Dokter-Pasien - ihwan
on Mengenal Nyeri Pinggang akibat HNP - eka-kusmawan
on Profile - eka-kusmawan
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - eka-kusmawan
on Pentingnya Bergerak Pasca Operasi - eka-kusmawan
on Waspada terhadap nyeri perut mendadak - anita
on Pentingnya Bergerak Pasca Operasi


Masalahnya, Dok, kembali ke soal kurangnya promosi dan sosialisasi rumah sakit kita, sehingga pasien sering tidak tahu ke mana harus mencari pelayanan tertentu atau apa saja layanan/fasilitas yang disediakan rumah sakit tertentu. Hmm… sepertinya memang lebih mudah mencari informasi tentang layanan/fasilitas rumah sakit di luar negeri, ya?
Tulisan terakhir Titah : Gejala-gejala Tumor/Kanker Otak
@Titah :
Ya, betul mbak Titah.. Itulah dilemanya. Saya tidak mengetahui persis, tapi memang ada kok aturan pemerintah yang membatasi rumah sakit untuk berpromosi. Setidaknya itulah yang kami hadapi -terutama teman2 di management- kalau sudah bicara soal pemasaran (marketing)…!
ya saya baca beritanya di kompas dan situs persi mengenai batasan promosi rumah sakit
ternyata memang blm ada kebijakan yg lbh luwes utk menyaingi promosi RS luar negeri
bagaimana kalo “promosi” lewat mesin pencari? SEO (yg positif tentunya)? seperti yg dilakukan dalam perankingan webometrics universitas
@dani :
Saya pikir juga begitu. Sudah saatnya sekarang rumah sakit juga memanfaatkan media online untuk memperkenalkan diri. Dengan membuat macam corporate blog misalnya akan lebih mendukung komunikas dengan para customer dalam hal ini pengguna jasa layanan medis.
Terimakasih atas tanggapannya…
Tulisan terakhir eka kusmawan : Kematian Bpk. Ketua Dewan akibat Serangan Demonstran