Archive for February, 2009
Bedah Estetik, Biaya Mahal Mempercantik Diri
Last Updated on Thursday, 26 February o 12:02 Written by eka-kusmawan Thursday, 26 February o 12:02
Kalau sudah punya duit, membuat wajah atau bentuk badan tambah cantik pada jaman saat ini sudah tidak masalah. Maka jangan heran, kalau sudah jadi artis, paras cantik bisa lebih cantik lagi. Apalagi yang awalnya memiliki penampilan sekedar alakadar bisa berubah berbinar menjadi luar biasa. Kecuali modal kekurangannya itu memang menjadi bahan dagangan yang laku dijual, seperti pada si Budi Handuk. Bahkan ada artis yang hingga puluhan kali mempermak bentuk dirinya demi obsesi mencari kesempurnaan fisik. Bagi kaum profesional yang bergerak di bidang jasa seperti itu, rupanya akan tetap dicari dan diminati. Maka, terbatas pada ruang lingkup Bedah terutama Bedah Plastik, Bedah Estetik sekarang ini menjadi trend untuk dipelajari. Selain mendatangkan honor yang lumayan, juga kasus yang ditangani relatif tidak berat, tidak sampai menimbulkan resiko mematikan pada pasien dan dapat dikerjakan pada kondisi nyaman, non emergency. Namun diakui untuk hasil terbaik memang dibutuhkan art dalam sentuhan pembedahannya.
Berkembanglah apa kemudian disebut dengan Cosmetic Surgery, Esthetic Surgery atau lebih mengkhusus lagi Face Plastic Surgery. Penanganannya ada yang membutuhkan tindakan pembedahan dan ada yang tidak perlu dengan pisau bedah yang bisa pula ditangani oleh seorang Dermatologist, seperti injeksi botox, mesotherapy, perawatan kulit dan lainnya. Pembedahan untuk memperbaiki penampakan ini bisa dikerjakan dari rambut hingga ke bawah; wajah, leher, dada atau payudara, perut, pinggul, kelamin hingga paha dan kaki. Pada rambut, operasi estetik yang bisa dikerjakan adalah menanam rambut; Hair Transplant Surgery. Pada kecantikan mata bisa dilakukan bedah Blepharoplasty untuk mengurangi kekenduran kulit pada kelopak bawah, mengangkat kelopak mata atas untuk kasus ptosis (jatuhnya kelopak mata) dan memperlebar celah mata. Pembedahan pada hidung –Rhinoplasty- ditujukan agar lebih mancung dan memperbaiki lekukan lobang hidung. Pada bibir, dibentuk sedemikian rupa agar tampak lebih sensual dan bisa juga mempersempit celah mulut yang terlalu lebar. Begitu juga pada dagu, rahang, pipi beserta lesung pipit. Pada kulit wajah serta leher sebagian atau keseluruhan dapat dikencangkan sehingga tidak tampak kerutan dengan mengangkat bagian kulit yang kendur. Teknik ini bisa juga dikerjakan dengan mengimplantasi sejenis wire halus yang disisipkan di bawah kulit. Yang lebih advance lagi dalam mempermak bentuk wajah adalah apa yang disebut dengan Facial Feminization Surgery (FFS) yakni pembedahan untuk lebih menmpakkan kesan feminim, yang operasi ini terutama diminati oleh kaum waria. Pada payudara, bedah estetik terutama ditujukan untuk mengangkat payudara yang telah lepek (Breast Uplift) atau bisa juga memperbesar bentuk (Breast Augmentation) agar kelihatan lebih seksi. Dikerjakan dengan menanamkan bahan silicon di bagian bawahnya. Untuk mengurangi tumpukan lemak pada perut maupun bagian tubuh lainnya, biasa dilakukan liposuction (penyedotan jaringan lemak) disamping cara bedah terbuka (Abdominoplasty). Sedangkan pada alat kelamin, ada pembedahan yang disebut Vaginoplasty untuk mempercantik bentuk vagina, dan ada pula operasi yang bertujuan mengganti penampakan anatomis dari kelamin laki ke wanita atau sebaliknya. Dan masih banyak lagi prosedur pembedahan yang lain. Pendek cerita, tubuh kita diibaratkan boneka lilin yang bisa dibentuk di sana sini. Itulah kecanggihan pembedahan modern.
Bagaimana tingkat keberhasilannya? Yang pasti, penanganan pertama menjadi kunci keberhasilan bedah ini. Jika tidak pas pada sentuhan awalnya, bisa jadi apa yang ingin dibentuk sebelumnya menjadi rusak dengan terpaksa merevisi beberapa kali, kecuali prosedur itu memang dirancang untuk dikerjakan lebih dari satu tahap operasi. Dan sekali pun jenis operasi plastik ini sebagian besar tidak membutuhkan rawat inap (out patient – langsung bisa pulang pasca operasi), justru perawatan dan kedesiplinan diri setelah menjalani operasi menjadi hal yang sangat harus diperhatikan. Misalnya bagaimana pasien harus menjaga diit dan tetap berolahraga teratur pasca operasi liposuction. Bagaimana juga menjaga kerutan wajah, tidak sedih, marah ataupun tertawa berlebihan untuk beberapa minggu setelah menjalani facelift surgery. Atau bagaimana cara merawat rambut dan menghindari kontak sinar matahari langsung pada pasien yang telah dilakukan operasi penanaman rambut dan operasi pada bagian wajah lainnya.
Adakah yang berminat menjadi pasien untuk merubah penampilan? Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri, rata-rata di kota yang sudah ada dokter Spesialis Bedah Plastik yang berpraktek, bisa melakukannya. Ada beberapa dokter Bedah Estetik yang telah terkenal seperti di Surabaya, Bandung dan Jakarta. Tapi kalau ingin ditangani oleh dokter dari luar, bisa mencari di Singapore, Thailand atau sekalian ke Brazil, atau pun rumah sakit dan klinik kecantikan ternama di tempat lain yang telah mempunyai reputasi tersendiri. Di sana akan tersedia price list-nya juga di setiap macam tindakan bedah. Lalu berapa besar ongkos untuk mendapatkan pelayanan ini? Memang soal harga, relatif! Tapi bagi yang betul-betul ingin mempercantik diri, kepuasan yang didapat tidak terukur dengan besarnya uang yang dibayar. Yang jelas jutaan, bisa 10 hingga 50 juta rupiah bahkan lebih …!!
Kerena selain mahal, beresiko tinggi untuk gagal dan banyak praktek klinik kecantikan illegal, maka sebelum memutuskan untuk mempercantik diri dengan cara memanipulasi bagian tubuh anda ini, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan;
- Pastikan diri anda tidak mengidap penyakit Diabetes, gangguan vaskuler (pembuluh darah) dan penyakit kronis lainnya.
- Ketahui lebih jauh dokter yang akan menangani anda, reputasi dan track record-nya.
- Pilih rumah sakit atau klinik yang sudah berpengalaman, legal dan mempunyai dukungan fasilitas dan tenaga yang memang expert di bidangnya.
- Pahami terlebih dulu apa yang akan dikerjakan di bagian tubuh anda; persyaratan, persiapan, resiko dan perawatan pasca operasinya.
- Pertimbangkan sekali lagi, apa sebetulnya tujuan anda menjalani therapy ini. Kalau masih ragu dan tidak ada alasan kuat, lebih baik jangan, dibandingkan timbul masalah di kemudian hari.
Tags: Bedah Estetik, Bedah Kosmetik, bedah plastik, Kecantikan | Posted under Pre-Operatif | 20 Comments
Aturan bertingkahlaku di Kamar Operasi
Last Updated on Wednesday, 18 February o 08:43 Written by eka-kusmawan Wednesday, 18 February o 08:43
Tulisan ini bermaksud untuk bercerita bagaimana kegiatan di kamar operasi terutama oleh para pelaku tindakan bedah yang tatacaranya sudah diatur sedemikian rupa yang bertujuan supaya perlindungan dan keselamatan pasien tetap terjaga. Bagi yang ingin tahu silakan terus membacanya, bagi sejawat dokter dan paramedis hal ini menjadi aturan untuk perlu diingat kembali –siapa tahu ada kesempatan masuk ke areal itu kembali-, tapi bagi adik-adik dokter muda yang akan belajar dan magang di kamar operasi cerita ini wajib diketahui.
Sebelum masuk areal substeril di lingkungan kamar operasi, pakaian yang sebelumnya digunakan harus diganti dengan gaun khusus di ruang ganti yang telah disiapkan. Pakaian kamar operasi ini lengkap menggunakan topi khusus, masker hingga ke alas kaki yang bertujuan untuk menjaga penularan dari atau pun mungkin bisa mengenai si pemakai. Ada areal areal tertentu dimana aktifitas masih diijinkan tanpa menggunakan tambahan gaun steril, tapi mendekati areal 1 mesti hati-hati karena sentuhan bahkan kontak sesingkat dan sesedikit apapun dengan benda dan bahan bahan steril sudah harus dianggap bahan dan alat itu tidak lagi boleh dipakai untuk kegiatan operasi sebelum disteril ulang.
Di saat tim pelaksana pembedahan (operator, beberapa orang asisten dan petugas instrumen) akan menjalankan tugasnya, mereka harus menyiapkan diri secara khusus. Selain membantu menyiapkan posisi pasien di atas meja operasi, menyiapkan alat alat yang dibutuhkan, maka sebelum masuk ke areal 0 (nol) –areal lapangan operasi, di tubuh pasien- diwajibkan mensterilkan tangan terlebih dulu. Cara mencuci tangan ini pun ada tatacaranya. Yang paling banyak digunakan misalnya prosedur dari Fuerbringer, yakni menggunakan bahan disinfektan dan sikat, tangan disikat secara sistematis dari kuku sela jari hingga ke siku, diulang beberapa kali 3-5 menit, dibilas dengan air steril mengalir, posisi tangan harus lebih tinggi dari siku dan lain-lain. Setelah tangan dalam kondisi steril, akan mendekati tempat aktifitas pembedahan pakaian harus dilapisi lagi dengan gaun atau jas steril disertai sarung tangan (glove) sesuai ukuran pengguna. Memakai jas dan sarung tangan ini juga memiliki aturan tersendiri. Awalnya jas diambil pada posisi bagian badan lainnya harus ada jarak dengan peralatan steril, disentuh pada bagian dalam, saat gaun digunakan lengan mesti direntangkan ke depan dan ikatan jas bagian belakang bisa dikerjakan oleh penolong lainnya yang tidak perlu steril. Begitu juga waktu menggunakan sarung tangan, bagian tangan yang sudah bersih menyentuh bagian dalam glove kanan dan tangan kanan yang telah dilapisi glove ini menyentuh bagian luar sarung tangan sisi kiri untuk mempermudah tangan kiri masuk ke dalam sarungnya tersebut.
Sampai pada tahap itu seorang tim pelaksana operasi sudah dikatakan dalam kondisi steril dan ia harus sudah mengambil posisi berdiri yang aman di sekitar lapangan pembedahan dengan tetap menjaga agar tangan cukup terlindung dari areal non steril. Tahap selanjutnya areal operasi di tubuh pasien dibersihkan, didesinfeksi dengan bahan pembersih khusus. Aturannya; mengusap bahan pembersih dari dalam ke luar, dilakukan dengan sekali hapusan secara berulang, paling tidak beradius 15 cm dari rencana luka sayatan. Berikutnya adalah melapisi dan menutupi bagian lain tubuh pasien menggunakan kain atau duk steril sedemikian rupa sehingga lapangan operasi terekspos sesempit mungkin tapi tidak menghalangi pengerjaan bedah itu sendiri. Cara menutupi areal di sekitar lapangan operasi ini juga memiliki teknik tersendiri.
Sehingga kalau langkah-langkah ini sudah dilalui, maka tim yang akan terlibat langsung dalam pengerjaan bedah sudah bisa lebih bebas bergerak dan siap mendekati areal yang paling steril untuk memulai sayatan dan melakukan prosedur pembedahan selanjutnya.
Tags: areal nol, Fuerbringer, instrumen, operator, sarung tangan, steril, substeril | Posted under Pre-Operatif | 10 Comments
Mengenal Nyeri Pinggang akibat HNP
Last Updated on Thursday, 25 February o 12:52 Written by eka-kusmawan Tuesday, 10 February o 02:32
Pernah mendengar atau merasakan langsung nyeri pada pinggang secara tiba-tiba ketika berusaha mengangkat beban berat? Atau mungkin nyeri pinggang yang tidak diketahui dengan jelas penyebabnya? Banyak hal bisa mengakibatkan nyeri pada bagian belakang bawah tubuh kita. Di kalangan medis, secara umum keluhan ini disebut LBP (Low Back Pain). Nyeri ini bisa dikarenakan kekakuan atau cedera terbatas pada otot dan struktur sendi lainnya, karena proses peradangan di dalam rongga tulang panggul, proses sumbatan pada saluran kemih atau pun cidera yang langsung mengenai saraf yang ada di sekitar lokasi tersebut. HNP menjadi salah satu dari kelainan yang juga awalnya dirasakan nyeri pada areal sekitar pinggang.
Apa itu HNP ?
HNP kependekan dari Hernia Nucleus Pulposus, suatu gangguan akibat merembes atau melelehnya (hernia) lapisan atau bantalan permukaan ruas tulang belakang (nucleus pulposus) dari ruang antar ruas tulang (discus intervertebralis).
Bagaiman membedakan dengan nyeri pinggang oleh penyebab lainnya?
Nyeri oleh karena HNP yang menjepit saraf rasanya lebih menggigit, terasa seperti terbakar atau seperti terkena sengatan listrik. Dirasakan menjalar ke bagian bawah dan jika lebih parah lagi akan terasa nyerinya dari belakang paha menyebar ke bagian bawah hingga betis pada satu sisi. Nyeri dapat timbul setiap saat tidak terbatas apakah sedang beraktifitas atau lagi istirahat. Berbeda dengan nyeri akibat gangguan di saluran kemih. Jika hambatan ada di ginjal, nyeri terasa lebih di atas pinggang, kemeng dan penderita merasa sebatas tidak nyaman saja. Kalau hambatan berada di dalam saluran bagian bawahnya bisa menimbulkan nyeri kolik, kumat-kumatan, saat parah hingga menimbulkan muntah dan susah melokalisir asal nyeri. Nyeri karena peradangan organ bagian dalam, akan tersebar ke bagian perut bawah dan bertambah jika disentuh atau ditekan. Waktu munculnya nyeri relatif lebih konstan. Pada tahap yang lebih ringan, bisa juga dibedakan dengan nyeri akibat kekakuan atau hanya pegal pegal pada otot pinggang.
Apa saja gejala yang lain?
Disamping nyeri, penderita dapat juga merasakan kesemutan (parestesia) hebat dan jelas terasa bertambah nyeri jika disentuh pada bagian tulang belakang yang mengalami proses herniasi tersebut. Kelanjutan dari nyeri akan berdampak pada kekakuan (spasme) otot yang mengakibatkan penampakan struktur pinggul dan tungkai yang terkena menjadi tidak sama dengan yang sehat di sebelahnya. Hal ini disebut deformitas. Sebagai gejala ikutannya juga, disadari atau pun tidak gerakan pada arah tertentu menjadi sangat terbatas dan tidak mampu melakukan mobilisasi tubuh secara normal. Pada pemeriksaan neurologis didapatkan kelemahan otot, perubahan reflek dan terganggunya kerja saraf sensoris.
Bagaimana untuk memastikannya?.
Dengan pemeriksaan penunjang. Sebagai langkah awal dibutuhkan rontgen atau foto x-ray untuk screening mencari kemungkinan adanya pergeseran atau struktur ruas tulang belakang yang tidak normal. Berikutnya, pada lokasi yang dicurigai akan disuntikkan cairan kontras untuk memperjelas pada bagian mana terjadi proses jepitan saraf. Pemeriksaan mielo-radikulografi ini tidak senyaman pemeriksaan sebelumnya karena ada prosedur memasukkan cairan tadi. Yang lebih non invasif dan jika fasilitasnya ada, para dokter saat ini lebih memilih untuk dilakukan pemeriksaan CT scan dan pemeriksaan yang menjanjikan hasil lebih informatif lagi yakni dengan MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Apa dan bagaimana itu terjadi?
Oleh karena suatu trauma (jatuh, terbentur, gerakan yang tiba-tiba cepat dan lainnya) atau oleh karena proses ketuaan membuat lapisan permukaan ruas tulang belakang menjadi tergesek, mengakibatkan struktur mengandung sel gellatin yang lentur dan kenyal itu (nucleus pulposus) mengalami cedera. Lapisan kolagen ini bisa dibayangkan menyerupai bagian yang kenyal yang melapisi tulang belakang sapi kalau kita lagi menyantap sop buntut -bagi yang doyan makanan ini-. Lama kelamaan bagian ini kemudian merembes membentuk tonjolan (protrusio) ke luar dari ruang antar ruas tulang yang akhirnya menekan struktur yang berada di dekat tonjolan tadi. Lebih sering kejadian rembesan atau tonjolan ini ke arah samping belakang, dimana di bagian itu sebagai tempat keluarnya akar saraf yang berasal dari batang saraf yang lebih besar (medulla spinalis) di dalam sumsum tulang belakang. Terjadi pula pada kasus yang lebih jarang proses ini di susunan ruas tulang leher (cervical). Bisa dibayangkan, semakin banyak lapisan kolagen yang merembes ke luar, semakin tertekan saraf yang berjalan di sekitarnya dan semakin nyeri anggota gerak di bagian bawah lokasi hernia yang dirasakan penderita.
Apakah bisa disembuhkan tanpa operasi?
Masih bisa! Pada fase akut, penderita disarankan istirahat dalam 1-2 minggu, tidur dengan alas keras, dapat menggunakan jaket khusus dan selain obat-obat yang diminum bisa juga disuntikkan obat pereda nyeri kuat yang disuntikkan langsung pada rongga tempat berjalannya saraf di dekat lokasi nyeri atau epidural injeksi. Pada fase subakut dan kronis perlu fisiotherapi untuk gerakan meregang dan menekuk beserta pemanas / diatermi, akan lebih baik lagi menggunakan korset penyangga pinggang dan latihan gerak dengan bertahap dan hati-hati. Pada penanganan fisiotherapi lebih ditekankan pada gerak regangan yang harus dikerjakan secara teratur dan berkesinambungan.
Bilamana kelainan ini membutuhkan operasi?
Bila terjadi gangguan pada kerja saraf bagian bawah tulang belakang, seperti gangguan terhadap proses buang air besar maupun kencing. Bila terjadi kelemahan otot, otot yang mengecil tidak sesuai dengan yang sehat di sisi lainnya atau bahkan terjadi pembengkokan tulang belakang sebagai kompensasi tubuh terhadap nyeri. Operasi harus pula dipertimbangkan pada keadaan baal, tidak merasakan sensasi di sekitar lobang anus dan bokong dan pada kondisi nyeri yang menjalar di belakang paha (skiatika) yang dirasakan sudah lebih dari 6 bulan.
Apa yang dikerjakan dan bagaimana teknik operasi itu?
Tujuan operasi adalah untuk membebaskan desakan atau jepitan jaringan kollagen terhadap saraf yang melintas di sekitarnya, biasanya di satu sisi, kiri atau kanan. Sejauh ini ada 2 teknik untuk mengerjakan prosedur ini, selain secara konvensional dengan pembedahan terbuka ada juga dengan yang lebih canggih menggunakan cara minimal invasive. Minimal invasive surgery lebih unggul karena tidak memerlukan torehan panjang di bagian tengah punggung pasien disamping juga dapat meminimalisir kerusakan jaringan tubuh di sekitar areal operasi.
Tags: CT scan, discus intervertebralis, HNP, LBP, medulla spinalis, MRI, nukleus pulposus, skiatika | Posted under Kasus Bedah | 61 Comments
Kematian Bpk. Ketua Dewan akibat Serangan Demonstran
Last Updated on Thursday, 5 February o 10:54 Written by eka-kusmawan Thursday, 5 February o 10:54
Hari Selasa kemarin pemberitaan nasional diramaikan dengan peristiwa matinya pejabat Ketua DPRD Sumatra Utara setelah mendapat serangan dari ratusan pengunjuk rasa di kantornya sendiri. Polemik lalu berkembang, apakah kematian itu akibat serangan jantung ataukah trauma fisik dari para demonstran yang memukuli beberapa bagian tubuh Bapak Abdul Azis Angkat ini. Seperti juga yang terlihat di monitor televisi dari berbagai stasiun, jelas sekali tampak korban dalam kondisi tertekan, baik psikisnya –kelihatan sangat stress- apalagi fisiknya, yang mengalami serbuan, himpitan, jepitan dan bahkan pukulan dari jarak yang sangat dekat dari beberapa orang. Dalam kondisi seperti itu, memang bagian tubuh yang paling mudah dan terekspos untuk mendapat serangan adalah di bagian kepala dan dada atau kemungkinan kecil juga di bagian perut.
Dikaji dari sisi ilmu traumatologi, sekeras-kerasnya pukulan dari kepalan tangan seseorang tidak akan menimbulkan kematian yang begitu cepat. Paling parah trauma di kepala akan menimbulkan kerusakan di otak dan perdarahan di dalam rongga tengkorak. Akan terjadi penurunan kesadaran, tapi tidak menimbulkan kematian dalam waktu kurang dari 3 jam, kecuali ada sumbatan jalan nafas. Sedikit lebih beresiko jika trauma mengenai bagian dada karena di dalam rongga dada (thorax) ada beberapa organ vital yang kalau mengalami kegagalan fungsi dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat. Organ tersebut adalah jantung, jalan nafas, paru-paru serta pembuluh darah besar. Apakah separah itu yang dialami korban? Kembali lagi dilihat pada mekanisme terjadinya trauma. Suatu trauma tumpul hingga sampai merusak atau setidaknya mencederai bagian organ dalam dada hampir dipastikan juga mengakibatkan remuknya tulang iga yang ada di bagian luar yang melindungi ruangan thorax tersebut. Sepertinya dari pengamatan yang bisa dilihat di televisi tidak ada benturan keras atau daya hantam yang kuat hingga membuat cedera parah di dalamnya sekalipun dari hasil pemeriksaan fisik dilaporkan adanya memar pada bagian permukaan tubuh korban.
Jadi yang paling mungkin menyebabkan kematian yang begitu cepat itu menurut saya adalah serangan jantung, yang justru dipicu oleh serangan para pengunjukrasa. Apalagi didasari oleh faktor resiko yang mungkin sudah ada sebelumnya, -seperti pernah riwayat gangguan irama jantung, kegemukan, merokok atau pun penyakit metabolik lainnya- ditambah lagi dengan suasana hiruk pikuk dengan kondisi udara atau oksigen yang sangat tidak nyaman sekitar lokasi tersebut, akan lebih memperkuat dugaan kematiannya akibat tidak begeraknya otot jantung korban. Keadaan stress yang berat dan tiba-tiba memacu keluarnya mediator (enzim) tubuh yang berpengaruh terhadap keadaan pembuluh darah di otot jantung. Pembuluh darah menyempit, aliran darah sangat berkurang dan oksigen pun tidak tersuplai secara cukup. Jaringan otot jantung mnejadi kekekurangan oksigen, rusak dan tidak mampu berdenyut lagi. Sehingga aliran darah dan oksigen ke bagian organ vital yang lain juga terhenti. Dalam hitungan menit tubuh kita tidak mampu untuk mengkompensasi diri dan terjadilah kematian.
Apapun penyebabnya, yang sudah pasti serangan dari ratusan demonstran itulah sebagai penyebab awal terjadinya peristiwa tragis ini. Hasil otopsi nantinya akan dapat menjawab secara lebih pasti organ dalam bagian mana yang mengalami cidera….
Tags: demonstran, mediator, rongga tengkorak, thorax, trauma tumpul | Posted under Nurani & Opini | 4 Comments


Recent Comments