Aturan bertingkahlaku di Kamar Operasi
Last Updated on Wednesday, 18 February o 08:43 Written by eka-kusmawan Wednesday, 18 February o 08:43
Tulisan ini bermaksud untuk bercerita bagaimana kegiatan di kamar operasi terutama oleh para pelaku tindakan bedah yang tatacaranya sudah diatur sedemikian rupa yang bertujuan supaya perlindungan dan keselamatan pasien tetap terjaga. Bagi yang ingin tahu silakan terus membacanya, bagi sejawat dokter dan paramedis hal ini menjadi aturan untuk perlu diingat kembali –siapa tahu ada kesempatan masuk ke areal itu kembali-, tapi bagi adik-adik dokter muda yang akan belajar dan magang di kamar operasi cerita ini wajib diketahui.
Sebelum masuk areal substeril di lingkungan kamar operasi, pakaian yang sebelumnya digunakan harus diganti dengan gaun khusus di ruang ganti yang telah disiapkan. Pakaian kamar operasi ini lengkap menggunakan topi khusus, masker hingga ke alas kaki yang bertujuan untuk menjaga penularan dari atau pun mungkin bisa mengenai si pemakai. Ada areal areal tertentu dimana aktifitas masih diijinkan tanpa menggunakan tambahan gaun steril, tapi mendekati areal 1 mesti hati-hati karena sentuhan bahkan kontak sesingkat dan sesedikit apapun dengan benda dan bahan bahan steril sudah harus dianggap bahan dan alat itu tidak lagi boleh dipakai untuk kegiatan operasi sebelum disteril ulang.
Di saat tim pelaksana pembedahan (operator, beberapa orang asisten dan petugas instrumen) akan menjalankan tugasnya, mereka harus menyiapkan diri secara khusus. Selain membantu menyiapkan posisi pasien di atas meja operasi, menyiapkan alat alat yang dibutuhkan, maka sebelum masuk ke areal 0 (nol) –areal lapangan operasi, di tubuh pasien- diwajibkan mensterilkan tangan terlebih dulu. Cara mencuci tangan ini pun ada tatacaranya. Yang paling banyak digunakan misalnya prosedur dari Fuerbringer, yakni menggunakan bahan disinfektan dan sikat, tangan disikat secara sistematis dari kuku sela jari hingga ke siku, diulang beberapa kali 3-5 menit, dibilas dengan air steril mengalir, posisi tangan harus lebih tinggi dari siku dan lain-lain. Setelah tangan dalam kondisi steril, akan mendekati tempat aktifitas pembedahan pakaian harus dilapisi lagi dengan gaun atau jas steril disertai sarung tangan (glove) sesuai ukuran pengguna. Memakai jas dan sarung tangan ini juga memiliki aturan tersendiri. Awalnya jas diambil pada posisi bagian badan lainnya harus ada jarak dengan peralatan steril, disentuh pada bagian dalam, saat gaun digunakan lengan mesti direntangkan ke depan dan ikatan jas bagian belakang bisa dikerjakan oleh penolong lainnya yang tidak perlu steril. Begitu juga waktu menggunakan sarung tangan, bagian tangan yang sudah bersih menyentuh bagian dalam glove kanan dan tangan kanan yang telah dilapisi glove ini menyentuh bagian luar sarung tangan sisi kiri untuk mempermudah tangan kiri masuk ke dalam sarungnya tersebut.
Sampai pada tahap itu seorang tim pelaksana operasi sudah dikatakan dalam kondisi steril dan ia harus sudah mengambil posisi berdiri yang aman di sekitar lapangan pembedahan dengan tetap menjaga agar tangan cukup terlindung dari areal non steril. Tahap selanjutnya areal operasi di tubuh pasien dibersihkan, didesinfeksi dengan bahan pembersih khusus. Aturannya; mengusap bahan pembersih dari dalam ke luar, dilakukan dengan sekali hapusan secara berulang, paling tidak beradius 15 cm dari rencana luka sayatan. Berikutnya adalah melapisi dan menutupi bagian lain tubuh pasien menggunakan kain atau duk steril sedemikian rupa sehingga lapangan operasi terekspos sesempit mungkin tapi tidak menghalangi pengerjaan bedah itu sendiri. Cara menutupi areal di sekitar lapangan operasi ini juga memiliki teknik tersendiri.
Sehingga kalau langkah-langkah ini sudah dilalui, maka tim yang akan terlibat langsung dalam pengerjaan bedah sudah bisa lebih bebas bergerak dan siap mendekati areal yang paling steril untuk memulai sayatan dan melakukan prosedur pembedahan selanjutnya.
Tags: areal nol, Fuerbringer, instrumen, operator, sarung tangan, steril, substeril
10 Comments
Leave a Reply
Recent Posts
- Haruskah Tahap Pre-Operatif itu Dijalankan..?
- Sisa Cerita Operasi Cangkok Hati di Surabaya
- Operasi Ambeyen Tidak Seseram yg Dibayangkan…
- Awas Gejala Awal Usus Buntu Menyerupai Maag..!
- Kapan Pulang Dari Rumah Sakit…?
- Patah Tulang… Dukun vs. Medis
- Testimoni Pembedahan
- Bedah Minimal Invasif
- Karakteristik Pasien
- Hak-Hak Pasien
Recent Comments
- wirya adnyana
on Pentingnya Bergerak Pasca Operasi - Halali Sahri
on Awas Gejala Awal Usus Buntu Menyerupai Maag..! - eryke
on Patah Tulang… Dukun vs. Medis - Joanra
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - ratih
on Waspada terhadap nyeri perut mendadak - Slamet Waluyo
on Apa yang perlu Anda ketahui tentang Kamar Operasi? - Firman
on Bengkak pada Pelir - Muslih
on Patah Tulang… Dukun vs. Medis


Postingan ini mengingatkan aku pas koas bedah ama anestesi.
Semoga saja Tuhan memberi kesempatan padaku untuk belajar lg.Dokter dulu ambil spesialisasi dimana?
Ironisnya, peraturan ini kadang dilanggar oleh dokter dokter senior sehingga memberi contoh yang kurang baik.
@Andri Journal :
Semoga Tuhan meluluskan niat Andri. Bisa dan ada kesempatan untuk ambil spesialisasi.
Saya tamatan PPDS di Udayana, Bali.
Tulisan terakhir eka kusmawan : Aturan bertingkahlaku di Kamar Operasi
@imcw :
Ya.. itulah. Suatu komunitas, pasti saja ada yang jail, nakal, menganggap aturan atas kesepakatan bersama tak penting lagi, bahkan mungkin sengaja menabrak aturan yang ada. Jadi kembali ke desiplin masing2 kita…
Tulisan terakhir eka kusmawan : Aturan bertingkahlaku di Kamar Operasi
Saya pernah diundang masuk ke ruang tunggu operasi massal/baksos; di situ dokter2 yang sedang istirahat di sela2 operasi (masih mengenakan gaun operasinya) bercanda, makan2, berinteraksi dengan orang luar (bersalaman dan berciuman dengan saya, hehe…). Wah, sebelum memulai operasi berikutnya mereka mesti mengulang prosedur sterilisasi seperti di atas dong ya? *Jadi merasa bersalah, hiks…*
@Titah :
Di sela2 kesibukan untuk ‘bermain’ main dengan pisau dan gunting, tentulah seorang operator atau siapa saja yang terlibat dalam pekerjaan bedah itu pastilah menyempatkan diri untuk beristirahat. Jadi mbak Titah tidak perlu bersalah, bahkan justru dengan kehadiran mbak mereka dapat melepas kepenatan dari pekerjaannya, sekalipun saat itu masih menggunakan pakaian kamar operasi -bukan gaun steril-. Kalau mau kerja lagi, ya kembali mesti steril lagi…
Tulisan terakhir eka kusmawan : Aturan bertingkahlaku di Kamar Operasi
wah.. waktu KKR saya observer aja, apakah juga harus steril? soalnya kita ga dsuruh prosedur gitu dok.. hehe
Tulisan terakhir GungWie : Dukun Cilik beraksi…
@GungWie :
Kalo mau liat2.. hati2 aja Gung, jangan sampai dekat2 areal 1, ntar instrumen steril-nya malah kesentuh lho..!,
Tulisan terakhir eka kusmawan : Aturan bertingkahlaku di Kamar Operasi
apa seorang dokter bedah yang heavy smoker berpengaruh pada ke-sterilan pada saat melakukan operasi? semisal merokok sebelum melakukan operasi.
karena tidak dipungkiri ada dokter yang smoking-minum beralkohol sebelum operasi, katanya supaya lebih santai…..
@vanquish :
Sekarang sebagain besar rumah sakit telah menyatakan bebas dari rokok. Sehingga tidak ada ruang, apalagi di sekitar kamar operasi untuk rokok’an. Namun kalopun ada pengelola rs pastilah menyediakan di ruang khusus, ruang tempat istirahatnya dokter operator..