Archive for March, 2009
Tragedi Situ Gintung membawa luka mendalam. Sampai cerita ini ditulis korban meninggal sudah hampir mencapai angka seratus. Banyak berita, banyak bantuan, banyak komentar dan korban pun diperkirakan akan masih banyak lagi bertambah. Ini merupakan bencana kesekian kalinya terjadi di tanah air kita. Berbagai upaya sebetulnya telah dilakukan oleh pemerintah maupun komunitas pemerhati bencana lainnya, termasuk salah satunya adalah upaya untuk me-manage bencana itu sendiri. Adakah bencana Situ Gintung sudah ditangani sesuai Disaster Management yang benar?
Di Indonesia kita menggunakan HOPE (Hospital Preparedness in Emergency) sebagai salah satu konsep penanganan bencana yang memang cocok diterapkan di negara berkembang dengan fasilitas dan sarana pendukung lainnya yang masih belum optimal. Berbeda dengan yang dijalankan di Amerika, Eropa atau negara yang telah maju. Mereka menggunakan konsep lain, seperti NIMMS atau HEICS (Hospital Emergency Incidence Command Service) yang membutuhkan fasiltas dan system layanan emergensi terpadu. Metoda ini misalnya dipakai di 911 yang tidak banyak melibatkan koordinasi dari berbagai elemen, cukup pihak medis, kepolisian dan pemadam kebakaran. Sedangkan HOPE menitikberatkan pada koordinasi lintas sektor dan masih tergantung pada peran masyrakat di dalamnya.
Dari konsep ini yang sudah diterapkan dengan baik di beberapa daerah, memadukan pengaturan itu di dua koordinator utama, yakni koordinasi untuk medis (medical support) dan pengaturan pendukung lainnya (management support). Pemegang komando dari keadaan darurat ini biasanya ialah salah satu pejabat tinggi daerah. Medical support yang harus didukung oleh rumah sakit yang ditunjuk akan bertanggungjawab terhadap penanganan korban secara langsung, baik prehospital maupun in hospital. Sudah tentu selain didukung oleh pusat layanan kesehatan terdekat, tenaga medis, ambulance, obat-obatan serta sarana mobilisasi lainnya, persiapan di masing masing rumah sakit yang terlibat sudah juga harus dilakukan dari semua unit sebagaimana menghadapi ‘kejadian luar biasa’ dalam situasi darurat. Management support akan mengatur logistik, moblisasi dan penampungan korban, jaminan ekses ke tempat kejadian, komunikasi, recording/pendataan korban, pengaturan relawan hingga ke koordinasi terhadap pers yang akan meliput berita. Sehingga yang sangat berperan dalam situasi seperti itu adalah pemda, dinas kesehatan, kepolisian, ABRI, PMI, pihak rumah sakit didukung organisasi profesi melalui komisi trauma, dinas sosial, organisasi bidang komunikasi dan organisasi massa serta tokoh dan organisasi informal di masyarakat.
Sesungguhnya management terhadap bencana itu tidak hanya terbatas pada saat kejadian, tetapi meliputi upaya; pencegahan (prevention), mitigasi (mitigation), kesiapan (preparedness), peringatan dini (early warning), tanggap darurat (response), bantuan darurat (relief), pemulihan (recovery), rehabilitasi (rehabilitation), rekontruksi (reconstruction). Jadi kembali pada tragedi di daerah Banten ini dari apa yang kita baca di media dan apa yang kita lihat di televisi, tampaknya response time pihak pihak yang semestinya terlibat sangatlah lambat. Sampai 6 jam pasca kejadian masih belum tampak medical support yang memadai. Itu di saat sudah terjadi bencana. Bisa diperkirakan bagaimana koordinasi pre-disaster-nya. Dan begitulah umumnya fenomena yang terjadi di negara kita, sudah terjadi masalah barulah semua kalang kabut dan sangat disayangkan justru pada saat begitu ada pihak-pihak yang saling menyalahkan dan tak mau disalahkan. Belum lagi ada berita yang menyebutkan kalau kejadian ini dimanfaatkan untuk kompanye oleh partai peserta pemilu…
Perlu kita ingat bersama, dengan system yang sudah mapan dan tersusun bagus sekali pun jika tanpa pelatihan dan simulasi, akan juga sedikit banyak menimbulkan kendala di saat menghadapi situasi live atau kejadian sesungguhnya di lapangan. Bagaimana kalau sistemnya belum teruji atau bahkan sama sekali tidak memilikinya..?! Yahh…. payah dech!!
Beberapa kali kejadian dengan kasus tertentu di rumah sakit, perhatian dokter dan para petugas medis sering kali luput terhadap kebutuhan pasien akan cairan, elektrolit dan nutrisi. Ini biasanya terjadi pada pasien tertentu yang dirawat karena sesuatu keluhan yang tidak menunjukkan perbaikan setelah beberapa hari perawatan atau pun pada pasien yang baru datang setelah mengalami keluhan beberapa hari sebelumnya. Sebetulnya hal ini termasuk masalah sepele dan sangat yakin semua dokter sudah mendapat ilmunya tentang hal ini. Namun sekali lagi, karena lebih terfokus perhatian dokter terhadap kejadian penyakitnya justru hal-hal kecil ini kurang diperhitungkan sehingga dampaknya dapat menimbulkan sesuatu efek yang fatal terhadap pasien. Tulisan ini juga ditujukan kepada pasien maupun keluarga sebagai pengetahuan, siapa tahu nantinya bakalan pernah menghadapi hal yang sama.
Kejadian tersebut sering terjadi pada pasien yang dirawat karena muntah-muntah, diare, kelainan yang menyebabkan pasien untuk berpuasa atau sengaja dipuasakan, gangguan pada sistem pencernaan, kelainan jantung, ginjal, paru atau yang lainnya dimana pemberian cairan infus terkadang terlampau berhati-hati atau pada pasien-pasien yang berumur ekstrim –pasien bayi maupun pasien tua-. Pada kasus bedah kejadian kekurangan nutrisi lebih sering ditemukan pada penderita pasca operasi yang membutuhkan perawatan lama atau memang sudah didasari kondisi preoperatif yang dialami sebelumnya. Biasanya, jika pasien sampai terpaksa harus dirawat di ruang intensif, dokter anasthesi atau intensifis sudah sangat fasih memperhatikan keadaan ini. Namun masalah muncul, kalau kondisi kekurangan ini sudah terjadi sebelum masuk ruang ICU, apalagi dalam situasi yang susah untuk dikembalikan atau diperbaiki (irreversible).
Padahal tidak sulit untuk mengetahu seseorang pasien itu jatuh pada kondisi dehidrasi (kekurangan cairan). Bisa dilihat dari penampakan kulit, keadaan kering pada mulut atau bibir dan yang lebih parah lagi mata akan tampak lebih cowong. Sayangnya kalau gejala yang ditimbulkan pada kondisi yang telah parah, seperti kejang, gangguan fungsi jantung, kesadaran menurun atau terjadi kegagalan fungsi ginjal yang akut dianggap sebagai suatu penyakit berdiri sendiri, tanpa ditelusuri bahwa dehidrasi itulah penyebab utamanya. Begitu juga terhadap penyembuhan luka, baik yang telah dilakukan operasi maupun tidak, sangat juga ditentukan oleh status nutrisi penderita, terutama komposisi proteinnya. Dan tidak jarang keadaan kekurangan cairan, elektrolit dan nutrisi ini saling berkaitan. Guna menanggulangi ketidakseimbangan ini salah satunya dengan cara pemberian cairan infuse, selain memberikan secara langsung makanan dan minuman untuk dikonsumsi pasien. Itu juga mengapa tersedia berbagai jenis cairan infus yang pada prinsipnya berguna untuk menggantikan kekurangan cairan, elektrolit dan nutrisi (parentral nutrisi).
Kekurangan atau kecukupan cairan dapat dilihat dari kondisi pasien dan secara obyektif bisa dinilai dari produksi urine, jika memang tidak ada kelainan berkenaan dengan ginjal dan salurannya. Sedangkan untuk mengetahui kadar nutrisi dan elektrolit secara obyektif bisa terlihat dari pemeriksaan laboratorium, misalnya pemeriksaan kandungan albumin dan Natrium/Kalium dalam darah. Secara normal tubuh seorang dewasa memerlukan cairan sekitar 2,5 liter per hari. Dan produksi urine yang baik jika berkisar antara 0,5 sampai 2cc/kgBB/jam. Sedangkan keadaan nutrisi secara aplikatif lebih banyak berhubungan dengan pengukuran kebutuhan kalori seorang penderita. Tubuh pada orang dewasa rata-rata memerlukan 1500 sampai 2000 kkal per hari yang idealnya kebutuhan itu didapat dari lebih kurang 60% karbohidrat, 25% lemak dan 15% protein. Maka dengan demikian pemberian jenis cairan dan nutrisi parenteral beserta seberapa banyak volumenya menjadi suatu yang membutuhkan perhitungan juga.
Jadi biasakanlah perhatian kita terhadap hal tersebut di atas pada keadaan-keadaan seperti; pasien yang dirawat berkelamaan, pasien yang datang dengan kondisi lemah dan pasien yang sudah lanjut usia.
Ketika si bungsu saya tiba-tiba sakit perut kepingin ngengek di saat ia sedang dipotong rambut oleh mamanya, mengingatkan saya peristiwa yang hampir serupa pada waktu saya menjalani pendidikan dokter muda lebih dari lima belas tahun lalu. Ketika itu UGD tempat kami menjalani praktek tidaklah seperti rumah sakit pendidikan seperti sekarang ini. Penanganan pasien dengan kasus bedah dan non bedah masih bergabung menjadi satu. Dan kejadian itu bermula dari keluhan seorang pasien… Read the rest of this entry »

