Beberapa kali kejadian dengan kasus tertentu di rumah sakit, perhatian dokter dan para petugas medis sering kali luput terhadap kebutuhan pasien akan cairan, elektrolit dan nutrisi. Ini biasanya terjadi pada pasien tertentu yang dirawat karena sesuatu keluhan yang tidak menunjukkan perbaikan setelah beberapa hari perawatan atau pun pada pasien yang baru datang setelah mengalami keluhan beberapa hari sebelumnya. Sebetulnya hal ini termasuk masalah sepele dan sangat yakin semua dokter sudah mendapat ilmunya tentang hal ini. Namun sekali lagi, karena lebih terfokus perhatian dokter terhadap kejadian penyakitnya justru hal-hal kecil ini kurang diperhitungkan sehingga dampaknya dapat menimbulkan sesuatu efek yang fatal terhadap pasien. Tulisan ini juga ditujukan kepada pasien maupun keluarga sebagai pengetahuan, siapa tahu nantinya bakalan pernah menghadapi hal yang sama.
Kejadian tersebut sering terjadi pada pasien yang dirawat karena muntah-muntah, diare, kelainan yang menyebabkan pasien untuk berpuasa atau sengaja dipuasakan, gangguan pada sistem pencernaan, kelainan jantung, ginjal, paru atau yang lainnya dimana pemberian cairan infus terkadang terlampau berhati-hati atau pada pasien-pasien yang berumur ekstrim –pasien bayi maupun pasien tua-. Pada kasus bedah kejadian kekurangan nutrisi lebih sering ditemukan pada penderita pasca operasi yang membutuhkan perawatan lama atau memang sudah didasari kondisi preoperatif yang dialami sebelumnya. Biasanya, jika pasien sampai terpaksa harus dirawat di ruang intensif, dokter anasthesi atau intensifis sudah sangat fasih memperhatikan keadaan ini. Namun masalah muncul, kalau kondisi kekurangan ini sudah terjadi sebelum masuk ruang ICU, apalagi dalam situasi yang susah untuk dikembalikan atau diperbaiki (irreversible).
Padahal tidak sulit untuk mengetahu seseorang pasien itu jatuh pada kondisi dehidrasi (kekurangan cairan). Bisa dilihat dari penampakan kulit, keadaan kering pada mulut atau bibir dan yang lebih parah lagi mata akan tampak lebih cowong. Sayangnya kalau gejala yang ditimbulkan pada kondisi yang telah parah, seperti kejang, gangguan fungsi jantung, kesadaran menurun atau terjadi kegagalan fungsi ginjal yang akut dianggap sebagai suatu penyakit berdiri sendiri, tanpa ditelusuri bahwa dehidrasi itulah penyebab utamanya. Begitu juga terhadap penyembuhan luka, baik yang telah dilakukan operasi maupun tidak, sangat juga ditentukan oleh status nutrisi penderita, terutama komposisi proteinnya. Dan tidak jarang keadaan kekurangan cairan, elektrolit dan nutrisi ini saling berkaitan. Guna menanggulangi ketidakseimbangan ini salah satunya dengan cara pemberian cairan infuse, selain memberikan secara langsung makanan dan minuman untuk dikonsumsi pasien. Itu juga mengapa tersedia berbagai jenis cairan infus yang pada prinsipnya berguna untuk menggantikan kekurangan cairan, elektrolit dan nutrisi (parentral nutrisi).
Kekurangan atau kecukupan cairan dapat dilihat dari kondisi pasien dan secara obyektif bisa dinilai dari produksi urine, jika memang tidak ada kelainan berkenaan dengan ginjal dan salurannya. Sedangkan untuk mengetahui kadar nutrisi dan elektrolit secara obyektif bisa terlihat dari pemeriksaan laboratorium, misalnya pemeriksaan kandungan albumin dan Natrium/Kalium dalam darah. Secara normal tubuh seorang dewasa memerlukan cairan sekitar 2,5 liter per hari. Dan produksi urine yang baik jika berkisar antara 0,5 sampai 2cc/kgBB/jam. Sedangkan keadaan nutrisi secara aplikatif lebih banyak berhubungan dengan pengukuran kebutuhan kalori seorang penderita. Tubuh pada orang dewasa rata-rata memerlukan 1500 sampai 2000 kkal per hari yang idealnya kebutuhan itu didapat dari lebih kurang 60% karbohidrat, 25% lemak dan 15% protein. Maka dengan demikian pemberian jenis cairan dan nutrisi parenteral beserta seberapa banyak volumenya menjadi suatu yang membutuhkan perhitungan juga.
Jadi biasakanlah perhatian kita terhadap hal tersebut di atas pada keadaan-keadaan seperti; pasien yang dirawat berkelamaan, pasien yang datang dengan kondisi lemah dan pasien yang sudah lanjut usia.


@Vicky Laurentina :
Tidak hanya di rumah-rumah sakit kecil, di rumah sakit besar pun dapat terjadi hal serupa. Salah satu penyebab bisa jadi karena penanganan pasien di kota-kota besar telah menjurus ke subspesialistik, superspesialis yang terkadang dalam me-manage pasien secara tidak disadari hanya terpaku pada keilmuwan sendiri dengan kurang memperhatikan pasien scr holistik dan komprehensip…
Tulisan terakhir eka kusmawan : Perhatian pada Cairan, Elektrolit dan Nutrisi
Saat ini perhatian rumah-rumah sakit kecil terhadap nutrisi dan elektrolit nampaknya masih kurang. Infus hanya dipasang asal-asalan, tanpa pertimbangkan mana pasang RL mana pasang dekstrose. Diet penderita juga tidak diperhitungkan berapa kalori yang mestinya masuk, kapan sebaiknya mulai intervensi nutrisi parenteral. Biasanya karena nutrisi parenteral dianggap mahal, padahal saat ini sudah banyak yang ditanggung Askes. Belum lagi SpGz yang masih dianggurkan dan belum dioptimalisasikan. Padahal, dengan menempatkan nutrisi yang tepat, rumah sakit bisa memperpendek masa opname pasien sampai 60% lho..
@imcw :
Semoga di tempat kerja yang baru hal seperti ini juga bisa tak terlupakan..
Tulisan terakhir eka kusmawan : Perhatian pada Cairan, Elektrolit dan Nutrisi
Yang begini begini terkadang terabaikan begitu saja. Mantaps dok.
Tulisan terakhir imcw : 5 Alasan Orang Menolak Hubungan Seksual