Friday, March 12, 2010

Persepsi Salah tentang Biaya Operasi

biaya-hospitalTidak jarang terjadi dugaan yang salah mengenai biaya operasi dikaitkan dengan pendapatan atau honor yang diterima oleh seorang dokter bedah. Biasanya dihubungkan antara biaya operasi yang tinggi dengan mahalnya jasa dokter yang menanganinya. Padahal tidak selamanya korelasi itu benar. Persepsi ini tidak terbatas hanya pada pandangan dari pasien atau khalayak kebanyakan saja, terkadang dokter sendiri pun meleset jauh dalam memprediksi biaya yang dibutuhkan untuk suatu penanganan bedah tertentu. Misalnya hal ini terjadi ketika seorang dokter di kamar praktek memberi penjelasan ke pasiennya yang akan mempersiapkan diri untuk menjalani operasi di rumah sakit. Sehingga beberapa kali pernah terjadi, pasien yang sudah datang ke rumah sakit swasta oleh rujukan seorang dokter bedah, mengurungkan niatnya untuk menjalani operasi lantaran merasa belum cukup memiliki uang setelah mendapatkan penjelasan pembiayaan dari rumah sakit yang bersangkutan. Kenapa bisa?

Jika dilihat dari biaya tindakan saja, mesti banyak komponen yang termasuk di dalamnya. Selain honor untuk dokter operator dan dokter anasthesi, akan termasuk juga honor untuk tim yang lain yakni asisten bedah dan asisten anasthesinya. Ada juga beberapa rumah sakit memasukkan biaya penggunaan kamar operasi menjadi komponen tersendiri. Dan pada beberapa kasus akan dikenakan juga pembiayaan terhadap penggunaan alat, seperti plate internal fiksasi pada kasus patah tulang, pipa drainage pada kasus hidrocepalus, pemasangan mesh pada hernia dan contoh pemasangan alat lainnya yang ditanamkan di dalam tubuh pasien. Dari tindakan bedah ini pula kemudian dikenal beberapa kriteria atau golongan operasi yang berpengaruh terhadap harga operasi itu sendiri. Ada yang disebut operasi ringan, sedang, berat, extra berat, khusus dan jenis operasi emergensi atau operasi elektif. Tingkatan atau golongan jenis operasi ini biasanya sudah ditetapkan berdasarkan aturan tersendiri yang disusun oleh organisasi profesi dan pemerintah.

Yang membuat pembiayaan perawatan di rumah sakit mahal, selain karena tindakan operasinya juga karena pembiayaan obat-obatannya. Apalagi bagi pasien yang harus dirawat dalam waktu lama. Obat injeksi, infus, obat pengganti nutrisi parenteral dan obat-obat khusus lainnya terkadang jatuhnya lebih mahal dari pembiayaan operasi yang dijalani pasien. Belum lagi termasuk biaya alat kesehatan, seperti pemakaian infuse set, spuite injeksi, kateter air kemih, pipa nasogastrik, pipa drainage dan lain-lain. Pembiayaan akan bertambah mahal jika pasien harus dirawat di ruang intensif atau HCU. Mahal oleh karena jasa pelayanannya yang memang lebih ekstra, biasanya juga ditambah oleh karena penggunaan obat-obatan yang sudah tentu lebih banyak jenisnya, dibandingkan pasien yang tidak dalam kondisi kritis yang dapat dirawat di ruang perawatan biasa. Bertambah mahal lagi kalau kemudian si pasien harus menggunakan alat khusus, seperti ventilator (alat bantu nafas).

Komponen lain di luar tindakan bedah yang perlu juga diperhatikan karena akan berpengaruh pada biaya total perawatan seorang pasien di rumah sakit, adalah biaya pemeriksaan penunjang diagnose seperti pemeriksaan laboratorium, rontgen, ultrasonografi, pemeriksaan patologi dan semakin mahal kalau harus melalui tahap pemeriksaan canggih seperti CT scan, MRI, endoscopy dan lain-lain. Namun dari jenis pembiayaan itu, ada komponen biaya yang telah bisa diprediksi sebelumnya, meliputi harga kamar, biaya keperawatan, visite dokter dan biaya administrasi.

Jadi, kalau ada anggapan bahwa operasi yang mahal itu dikarenakan oleh honor dokter bedahnya yang tinggi, mungkin itu keliru. Barangkali yang lebih tepat, biaya operasi yang tinggi memberikan dampak ongkos yang lebih juga pada operatornya. Sebab dari cerita di atas, honor seorang dokter operator bisa jadi tidak lebih dari 20% dari biaya tindakan operasi. Apalagi dibandingkan dengan pembiayaan total perawatan pasien di rumah sakit, porsinya tentu jauh lebih kecil dari angka itu. Dan realitasnya, honor yang diterima seorang dokter operator akan juga terpotong oleh pajak. Belum lagi kalau dokter itu seorang dokter swasta yang bekerja berdasarkan kontrak yang mengharuskan honornya dibagi untuk pihak rumah sakit sampai sepertiga bagian bahkan lebih. Sehingga sebetulnya bisa dibayangkan, tidak selalu biaya mahal suatu penanganan kasus bedah sejalan dengan mahalnya upah/honor yang diterima dokter bedahnya…



9 Comments

  1. Comments  Andri JournalNo Gravatar   |  Monday, 13 April 2009 at 10:39 am

    Terus terang,dalam hal operasi ini masyarakat miskin terbantu dg program jamkesmas,walaupun beberapa obat katanya gak masuk askes dan harus nebus sendiri.

  2. Comments  eka kusmawanNo Gravatar   |  Tuesday, 14 April 2009 at 10:09 am

    @Andri Journal :
    Betul. Tidak saja bagi masyarakat miskin, asuransi akan sangat membantu jika kita semua sudah menghadap masalah kesehatan berat seperti ini..

    Tulisan terakhir eka kusmawan : Persepsi Salah tentang Biaya Operasi

  3. Comments  MidasNo Gravatar   |  Tuesday, 14 April 2009 at 1:31 pm

    Untung mpe umur 23 tahun ini aku masih bisa dibilang sehat, ga pernah masuk rumah sakit apalagi operasi

    Tulisan terakhir Midas : Akhirnya Aku Tau…

  4. Comments  ANo Gravatar   |  Friday, 17 April 2009 at 4:03 pm

    Kalau ada waktu tolong mampir ke blogku ya dok. Ada request masalah ONLINE SHOPPING di sana. Terima kasih. :)

  5. Comments  TomNo Gravatar   |  Tuesday, 02 February 2010 at 5:03 pm

    Ya, mau salah persepsi kek…biar bagaimanapun, ujung-ujungnya tetap saja biaya totalnya mahal.
    Seharusnya biaya dibuat murah, jangan seperti industri yang profit oriented.
    Masak dokter dan rumah sakit memanfaatkan pasien untuk menjadi kaya?
    Mestinya gak perlu semahal sekarang kalau dokter dan RS tidak terlalu mengejar keuntungan. Keduanya harus untung, tapi jangan terlalu besar.
    Ingat lho banyak orang yang bersusahpayah mengumpulkan uang untuk biaya menjalani operasi. Masak tega mengambil untung dari kesusahan orang lain?

  6. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Tuesday, 02 February 2010 at 10:43 pm

    @Tom :
    Ya, setuju. Mungkin bisa diusulkan ke DPR sebagai wakil rakyat, supaya ada aturannya lebih jelas..!

  7. Comments  vanquishNo Gravatar   |  Saturday, 06 February 2010 at 6:42 pm

    untung saya ikut asuransi kesehatan.

    Walaupun yang ditanggung asuransi hanya biaya operasi , icu , dan kamar perawatan tetapi lumayan membantu lah…

    setelah pengalaman dirawat di rs saya merasa dokter bedah itu keren lho..! (apalagi sesudah nonton film jepang yg berjudul team medical dragon 1-2 ; btw dokter udah pernah nonton belum? sekali2 nonton biar gak stress dok! Hehehehe)

    pengen juga jadi dokter bedah tapi apa daya… saya sudah terjerumus di bidang ekonomi.

  8. Comments  vanquishNo Gravatar   |  Saturday, 06 February 2010 at 6:49 pm

    untung saya ikut asuransi kesehatan.

    Walaupun yang ditanggung asuransi hanya biaya operasi , icu , dan kamar perawatan tetapi lumayan membantu lah…
    memang sekarang banyak rs swasta yang terlihat sekali profit oriented; dan dokternya pun ada yang (maaf, maaf sekali) rakus… Tapi memang tidak smua dokter begitu. Masih ada banyak dokter yang punya nurani dan rejeki memang udah ada yang ngatur.

    setelah pengalaman dirawat di rs saya merasa dokter bedah itu keren lho..! (apalagi sesudah nonton film jepang yg berjudul team medical dragon 1-2 ; btw dokter udah pernah nonton belum? sekali2 nonton biar gak stress dok! Hehehehe)

    pengen juga jadi dokter bedah tapi apa daya… saya sudah terjerumus di bidang ekonomi.

  9. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Sunday, 07 February 2010 at 7:22 am

    @vanquish :
    Hehehe.. Bagi sy jd dokter bedah krn sesuai aja ama getaran jiwa..hahahaha..hahh.
    Bukankah kita lbh nyaman bekerja kalo kt seneng ama pekerjaannya…?!
    Nonton, itu hoby saya. Film itu sudah dong…!

 

Selamat Datang dan Terimakasih atas Kunjungan Anda di SpesialisBedah.com -- Pertanyaan ataupun komentar Anda akan sesegera mungkin saya tanggapi

Surgeon[log] is using WP-Gravatar