Persepsi Salah tentang Biaya Operasi
Last Updated on Monday, 13 April o 09:20 Written by eka-kusmawan Monday, 13 April o 09:20
Tidak jarang terjadi dugaan yang salah mengenai biaya operasi dikaitkan dengan pendapatan atau honor yang diterima oleh seorang dokter bedah. Biasanya dihubungkan antara biaya operasi yang tinggi dengan mahalnya jasa dokter yang menanganinya. Padahal tidak selamanya korelasi itu benar. Persepsi ini tidak terbatas hanya pada pandangan dari pasien atau khalayak kebanyakan saja, terkadang dokter sendiri pun meleset jauh dalam memprediksi biaya yang dibutuhkan untuk suatu penanganan bedah tertentu. Misalnya hal ini terjadi ketika seorang dokter di kamar praktek memberi penjelasan ke pasiennya yang akan mempersiapkan diri untuk menjalani operasi di rumah sakit. Sehingga beberapa kali pernah terjadi, pasien yang sudah datang ke rumah sakit swasta oleh rujukan seorang dokter bedah, mengurungkan niatnya untuk menjalani operasi lantaran merasa belum cukup memiliki uang setelah mendapatkan penjelasan pembiayaan dari rumah sakit yang bersangkutan. Kenapa bisa?
Jika dilihat dari biaya tindakan saja, mesti banyak komponen yang termasuk di dalamnya. Selain honor untuk dokter operator dan dokter anasthesi, akan termasuk juga honor untuk tim yang lain yakni asisten bedah dan asisten anasthesinya. Ada juga beberapa rumah sakit memasukkan biaya penggunaan kamar operasi menjadi komponen tersendiri. Dan pada beberapa kasus akan dikenakan juga pembiayaan terhadap penggunaan alat, seperti plate internal fiksasi pada kasus patah tulang, pipa drainage pada kasus hidrocepalus, pemasangan mesh pada hernia dan contoh pemasangan alat lainnya yang ditanamkan di dalam tubuh pasien. Dari tindakan bedah ini pula kemudian dikenal beberapa kriteria atau golongan operasi yang berpengaruh terhadap harga operasi itu sendiri. Ada yang disebut operasi ringan, sedang, berat, extra berat, khusus dan jenis operasi emergensi atau operasi elektif. Tingkatan atau golongan jenis operasi ini biasanya sudah ditetapkan berdasarkan aturan tersendiri yang disusun oleh organisasi profesi dan pemerintah.
Yang membuat pembiayaan perawatan di rumah sakit mahal, selain karena tindakan operasinya juga karena pembiayaan obat-obatannya. Apalagi bagi pasien yang harus dirawat dalam waktu lama. Obat injeksi, infus, obat pengganti nutrisi parenteral dan obat-obat khusus lainnya terkadang jatuhnya lebih mahal dari pembiayaan operasi yang dijalani pasien. Belum lagi termasuk biaya alat kesehatan, seperti pemakaian infuse set, spuite injeksi, kateter air kemih, pipa nasogastrik, pipa drainage dan lain-lain. Pembiayaan akan bertambah mahal jika pasien harus dirawat di ruang intensif atau HCU. Mahal oleh karena jasa pelayanannya yang memang lebih ekstra, biasanya juga ditambah oleh karena penggunaan obat-obatan yang sudah tentu lebih banyak jenisnya, dibandingkan pasien yang tidak dalam kondisi kritis yang dapat dirawat di ruang perawatan biasa. Bertambah mahal lagi kalau kemudian si pasien harus menggunakan alat khusus, seperti ventilator (alat bantu nafas).
Komponen lain di luar tindakan bedah yang perlu juga diperhatikan karena akan berpengaruh pada biaya total perawatan seorang pasien di rumah sakit, adalah biaya pemeriksaan penunjang diagnose seperti pemeriksaan laboratorium, rontgen, ultrasonografi, pemeriksaan patologi dan semakin mahal kalau harus melalui tahap pemeriksaan canggih seperti CT scan, MRI, endoscopy dan lain-lain. Namun dari jenis pembiayaan itu, ada komponen biaya yang telah bisa diprediksi sebelumnya, meliputi harga kamar, biaya keperawatan, visite dokter dan biaya administrasi.
Jadi, kalau ada anggapan bahwa operasi yang mahal itu dikarenakan oleh honor dokter bedahnya yang tinggi, mungkin itu keliru. Barangkali yang lebih tepat, biaya operasi yang tinggi memberikan dampak ongkos yang lebih juga pada operatornya. Sebab dari cerita di atas, honor seorang dokter operator bisa jadi tidak lebih dari 20% dari biaya tindakan operasi. Apalagi dibandingkan dengan pembiayaan total perawatan pasien di rumah sakit, porsinya tentu jauh lebih kecil dari angka itu. Dan realitasnya, honor yang diterima seorang dokter operator akan juga terpotong oleh pajak. Belum lagi kalau dokter itu seorang dokter swasta yang bekerja berdasarkan kontrak yang mengharuskan honornya dibagi untuk pihak rumah sakit sampai sepertiga bagian bahkan lebih. Sehingga sebetulnya bisa dibayangkan, tidak selalu biaya mahal suatu penanganan kasus bedah sejalan dengan mahalnya upah/honor yang diterima dokter bedahnya…
11 Comments
Leave a Reply
Recent Posts
- Haruskah Tahap Pre-Operatif itu Dijalankan..?
- Sisa Cerita Operasi Cangkok Hati di Surabaya
- Operasi Ambeyen Tidak Seseram yg Dibayangkan…
- Awas Gejala Awal Usus Buntu Menyerupai Maag..!
- Kapan Pulang Dari Rumah Sakit…?
- Patah Tulang… Dukun vs. Medis
- Testimoni Pembedahan
- Bedah Minimal Invasif
- Karakteristik Pasien
- Hak-Hak Pasien
Recent Comments
- wirya adnyana
on Pentingnya Bergerak Pasca Operasi - Halali Sahri
on Awas Gejala Awal Usus Buntu Menyerupai Maag..! - eryke
on Patah Tulang… Dukun vs. Medis - Joanra
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - ratih
on Waspada terhadap nyeri perut mendadak - Slamet Waluyo
on Apa yang perlu Anda ketahui tentang Kamar Operasi? - Firman
on Bengkak pada Pelir - Muslih
on Patah Tulang… Dukun vs. Medis


Terus terang,dalam hal operasi ini masyarakat miskin terbantu dg program jamkesmas,walaupun beberapa obat katanya gak masuk askes dan harus nebus sendiri.
@Andri Journal :
Betul. Tidak saja bagi masyarakat miskin, asuransi akan sangat membantu jika kita semua sudah menghadap masalah kesehatan berat seperti ini..
Tulisan terakhir eka kusmawan : Persepsi Salah tentang Biaya Operasi
Untung mpe umur 23 tahun ini aku masih bisa dibilang sehat, ga pernah masuk rumah sakit apalagi operasi
Tulisan terakhir Midas : Akhirnya Aku Tau…
Kalau ada waktu tolong mampir ke blogku ya dok. Ada request masalah ONLINE SHOPPING di sana. Terima kasih.
Ya, mau salah persepsi kek…biar bagaimanapun, ujung-ujungnya tetap saja biaya totalnya mahal.
Seharusnya biaya dibuat murah, jangan seperti industri yang profit oriented.
Masak dokter dan rumah sakit memanfaatkan pasien untuk menjadi kaya?
Mestinya gak perlu semahal sekarang kalau dokter dan RS tidak terlalu mengejar keuntungan. Keduanya harus untung, tapi jangan terlalu besar.
Ingat lho banyak orang yang bersusahpayah mengumpulkan uang untuk biaya menjalani operasi. Masak tega mengambil untung dari kesusahan orang lain?
@Tom :
Ya, setuju. Mungkin bisa diusulkan ke DPR sebagai wakil rakyat, supaya ada aturannya lebih jelas..!
untung saya ikut asuransi kesehatan.
Walaupun yang ditanggung asuransi hanya biaya operasi , icu , dan kamar perawatan tetapi lumayan membantu lah…
setelah pengalaman dirawat di rs saya merasa dokter bedah itu keren lho..! (apalagi sesudah nonton film jepang yg berjudul team medical dragon 1-2 ; btw dokter udah pernah nonton belum? sekali2 nonton biar gak stress dok! Hehehehe)
pengen juga jadi dokter bedah tapi apa daya… saya sudah terjerumus di bidang ekonomi.
untung saya ikut asuransi kesehatan.
Walaupun yang ditanggung asuransi hanya biaya operasi , icu , dan kamar perawatan tetapi lumayan membantu lah…
memang sekarang banyak rs swasta yang terlihat sekali profit oriented; dan dokternya pun ada yang (maaf, maaf sekali) rakus… Tapi memang tidak smua dokter begitu. Masih ada banyak dokter yang punya nurani dan rejeki memang udah ada yang ngatur.
setelah pengalaman dirawat di rs saya merasa dokter bedah itu keren lho..! (apalagi sesudah nonton film jepang yg berjudul team medical dragon 1-2 ; btw dokter udah pernah nonton belum? sekali2 nonton biar gak stress dok! Hehehehe)
pengen juga jadi dokter bedah tapi apa daya… saya sudah terjerumus di bidang ekonomi.
@vanquish :
Hehehe.. Bagi sy jd dokter bedah krn sesuai aja ama getaran jiwa..hahahaha..hahh.
Bukankah kita lbh nyaman bekerja kalo kt seneng ama pekerjaannya…?!
Nonton, itu hoby saya. Film itu sudah dong…!
Kenapa profesi dokter tdk berani kasih garansi ya?
Apa gak yakin dg hasil kerjanya?
Kalo gak sembuh minimal gak usah bayar jasanya,sebagai pertanggungjawaban moral atas jasa yg telah dijual kepada pasien gitu…
@Imam:
Agak berbeda dengan penanganan terhadap benda tak bernyawa, soal kesehatan, begitu juga dengan bidang yg lain, pastilah kebanyakan dokter akan berkata, “…saya akan berusaha semampu dan sebaik yg bisa saya kerjakan. Untuk hasil, kita serahkan kepada yang di atas…” Namun sekalipun demikian setiap dokter terikat pada kode etik, standard pelayanan/tindakan medis dan kompetensi. Lebih spesifik lagi diikat juga oleh hal2 personal, subyektif dan rasa yg bisa saja tidak sama satu dengan yg lain, yakni apa yg disebut dengan ‘hati nurani”. Sehingga jika ditemukan tenaga medis yang menyimpang dari hal2 tsb pada masa sekarang sudah terbuka untuk dipertanyakan (baca; dituntut) scr hukum…
Dokter yg baik dan punya hati nurani, pasti mempunyai tanggungjawab moral, dalam bentuk apapun itu cara mengungkapkannya…