Archive for May, 2009
Management Kamar Operasi
Last Updated on Monday, 18 May o 07:44 Written by eka-kusmawan Monday, 18 May o 07:41
Ternyata seni mengatur tidak hanya terbatas pada perusahaaan besar, dunia bisnis atau pun di organisasi, management juga melingkupi pengaturan keberlangsungan rumah tangga hingga ke kehidupan diri sendiri. Apalagi bekerja dengan melibatkan banyak orang, seperti di Unit Kamar Operasi, satu bagian dari pelayanan di rumah sakit. Tidak hanya terbatas menjaga kelancaran jalannya operasi, mencegah adanya komplikasi terhadap hasil operasi atau pengaturan jadwal operasi, jauh di balik itu dibutuhkan suatu sistem pengaturan yang komprehensif dengan melibatkan pasien sebagai pihak yang dilayani, tenaga kerja yang memberikan pelayanan, fasilitas beserta peralatannya, aturan prosedur kerja, strategi meningkatkan mutu layanan, pengembangan dan lain sebagainya yang masih banyak lagi.
Me-manage Unit Kamar Operasi juga telah dibuat standarisasinya oleh pemerintah. Dan memang kesemua aspek yang di atas telah dijabarkan secara lebih rinci dalam poin-poin akreditasi itu. Namun memang agak berkendala jika itu diterapkan di rumah sakit swasta yang serba terbatas terutama dari ketenagaan, fasilitas dan sarana penunjang. Tapi cepat atau lambat hal itu harus dijalankan juga karena memang disadari menjadi tuntutan untuk bisa eksis dan bersaing atau bisa juga karena terpaksa guna dapat mengantongi ijin keberlangsungan rumah sakit swasta itu sendiri. Yang belum pernah menerapkan sama sekali jelaslah merasa berat, apalagi selama ini kegiatan yang dijalankan di semua lini pelayananan justru cenderung mengurangi banyak prosedur dan meminimalisir sisi pencatatan dan administrasi, serta juga lebih berorientasi pada profit semata.
Di rumah sakit swasta yang sebagian besar ketenagaan yang terlibat di pelayanan pembedahan ini masih bergantung dari rumah sakit yang lain –biasanya dari rs negeri atau rs pendidikan- tidak akan leluasa bisa mengatur mekanisme kerja di unit Kamar Operasinya. Paling kentara ketika mengatur jadwal operasi. Pastilah keberlangsungan operasi satu kasus lebih besar ditentukan oleh dokter bedah atau operatornya, belum lagi kalau pasien yang akan menjalani pembedahan itu merupakan pasien pribadi dokter bersangkutan. Tapi begitulah, bahwa sampai saat ini kepemilikan rs swasta akan tenaga dokter spesialis masih belum mencukupi. Salah satu penyebabnya karena memang belum semua mampu memberikan upah yang layak. Sekali pun demikian, satu sisi kelemahan ini mestinya dapat ditutupi oleh kwalitas pelayanan yang lebih baik dibanding rumah sakit yang lain, baik pelayanan untuk pasien mapun untuk tenaga profesional paruh waktu yang sudah mau bekerja di rumah sakit bersangkutan.
Pada masa mendatang setidaknya dalam lima tahun ini tatanan pelayanan kesehatan rumah sakit di Indonesia diprediksi akan lebih baik. Tidak banyak perbedaan antara di rumah sakit swasta dan pemerintah, baik dari mutu pelayanannya maupun ketersediaan tenaga dokter spesialis. Hal tersebut bisa diakibatkan karena aturan pemerintah terhadap kerja tenaga kesehatan profesional akan dibenahi yang mengarah pada jaminan penghasilan sehingga nantinya para dokter spesialis tidak perlu lagi mencari tambahan kerja di rumah sakit swasta seperti apa yang telah berjalan di luar negeri. Dengan demikian pengabdian dokter-dokter ini untuk penanganan kesehatan pasien lebih terfokus. Itu juga berarti bahwa di tahun-tahun ke depan diharapkan para rumah sakit swasta sudah bisa melangsungkan kehidupannya secara mandiri.
Tags: Akreditasi, jadwal operasi, management, tenaga profesional | Posted under Nurani & Opini | No Comments
Musik dan Pembedahan
Last Updated on Monday, 4 May o 11:52 Written by eka-kusmawan Monday, 4 May o 11:36
Musik menjadi bahasa universal yang bisa dinikmati oleh semua orang, dari bayi sampai ke orang tua. Aktifitas hidup terasa hambar, tidak bergairah dan tak berwarna tanpa ada musik. Musik bisa dipakai sebagai sarana apresiasi, hiburan, gaya hidup, bisnis, penyeimbang dan sebagai therapy. Musik untuk kesehatan? Ya…! Sudah banyak yang merasakan hal ini. Banyak juga kemudian yang mempraktekkan dan akhirnya hubungan ini pun diteliti untuk dapat diterangkan serta dibuktikan secara ilmiah. Lalu bagaimana hubungan antara musik dan pembedahan..?
Bagi yang sudah pernah masuk ke dalam kamar operasi atau bahkan menjadi pasien yang harus tergeletak di atas meja operasi dalam keadaan sadar, mungkin pernah mendengar dan merasakan musik yang sengaja disuguhkan sebagai pelengkap di tengah-tengah aktifitas pembedahan itu sendiri. Banyak hal positif yang diharapkan terhadap kehadiran suara dengan nada, volume dan ritme tertentu ini. Paling tidak dari orang yang suka mendengarnya menjadi terhibur, yang akhirnya secara obyektif dapat berdampak terhadap kondisi tubuh seseorang saat itu. Musik akan mempengaruhi gelombang dalam otak kita menyebabkan daya berpikir dan ketajaman berkonsentrasi lebih tinggi. Penelitian pada pengaruh ini juga menyebutkan bahwa pada gelombang nada rendah seseorang dapat berada pada level ketenangan untuk bisa melakukan meditasi secara baik. Musik juga akan mempengaruhi ambang munculnya stress dan tekanan psikis lainnya, menyokong terjadi relaksasi otot dan menekan emosi. Sehingga musik juga dapat dimanfaatkan untuk mengurangi kecemasan dan rasa takut. Di samping itu, penelitian juga telah membuktikan bahwa dengan musik kondisi vital seseorang mampu dipengaruhi dan diperbaiki yang dapat diukur secara obyektif. Pengukuran itu mencakup denyut nadi, tekanan darah, kadar cortisol dan ephineprin –suatu enzim tubuh yang cenderung meningkat pada seseorang yang mengalami gejolak fisik mapun mental-.
Dengan begitu maka akan sangat bermanfaat jika musik itu diperdengarkan untuk pasien yang akan menjalani pembedahan. Oleh karena penikmatan musik bersifat subyektif dan personal, berbeda satu dengan orang yang lain, maka penggunaan semacam alat digital portable music player yang dilengkapi head-set untuk para pasien mungkin lebih tepat. Selain karena bisa diatur sendiri sesuai selera masing-masing, penggunaan headset juga menutup pendengaran pasien dari hal-hal yang memang tidak perlu dan tidak sepatutnya didengar di sekitar lingkungan kamar operasi. Dan dengan alat ini pula pasien bisa menggunakannya pada persiapan sebelum pembedahan dikerjakan, pada saat proses pembedahan (bagi pasien sadar yang menggunakan block spinal anasthesi) maupun pada fase pemulihan di ruang recovery.
Tidak kalah faedahnya, musik bermanfaat juga bagi petugas di lingkungan kamar operasi. Terutama oleh dokter bedah yang terlibat langsung dan memerlukan ketenangan dalam menjalani pekerjaannya. Sehingga tidaklah berlebihan kalau di dalam kamar operasi dilengkapi pula dengan audio dan sound system yang intinya bisa dimanfaatkan untuk menciptakan suasana nyaman, mengurangi kepenatan kerja, dan memberi hiburan bagi mereka yang menggemarinya…..
Tags: cortisol, headset, kecemasan, music player, pre operatif | Posted under Pre-Operatif | 8 Comments


Recent Comments