ATLS, antara jadwal kursus dan banyaknya peminat
Last Updated on Friday, 26 February o 01:12 Written by eka-kusmawan Monday, 15 June o 09:33
Tidak bisa disangkal lagi bahwa saat ini jadwal penyelenggaraan kursus ATLS di Indonesia dirasakan masih kurang. Penilaian ini muncul tentu jika didasarkan atas begitu banyaknya peminat. Bayangkan, yang mendaftar hari ini baru akan mendapat giliran bisa hingga tahun depan. Sehingga untuk mengejar antrean ini banyak peserta -para dokter- yang terpaksa mengikuti pelatihan ini di luar daerah tempatnya bertugas atau berdomisili. Kenapa kursus yang lumayan mahal ini bisa begitu dibutuhkan? Karena sudah tidak dapat disangkal juga, bahwa setidaknya dalam 5 tahun terakhir ini sertifikat lulus kursus ATLS menjadi persyaratan bagi tenaga dokter yang berniat melamar kerja di sebagian besar rumah sakit, klinik atau instansi lain yang menyelenggarakan layanan kesehatan. Begitu pula untuk keperluan melanjutkan sekolah spesialisasi. Beberapa PPDS tertentu mewajibkan calon residennya untuk mengikuti pelatihan ini.
Dengan tidak kurang dari 20 Fakultas Kedokteran yang ada di Indonesia, kalau dihitung secara kasar dengan asumsi bahwa peminat ATLS sekitar 50%nya saja dari tamatan dokter baru itu, maka setidaknya dibutuhkan sekitar 70 sampai 75 kelas penyelenggaraan ATLS setiap tahunnya di Indonesia. Belum termasuk pelatihan ini diminati atau pun diwajibkan bagi kalangan dokter yang telah bertugas beberapa tahun sebelumnya. Itu berarti frekwensi penyelenggaraan ATLS selama ini yang diorganisir oleh IKABI (Ikatan Ahli Bedah Indonesia) melalui Komisi Trauma-nya memang betul masih terasa kurang. Padahal hampir setiap minggu kursus ini diadakan secara terjadwal menyebar di seluruh Indonesia. Lalu bagaimana solusinya..?
Yang sudah diupayakan dan mungkin perlu pula dicari terobosan lain untuk memperkecil kesenjangan ini adalah meningkatkan jumlah kelas penyelenggaraan, memperbanyak instruktur, menerapkan dan mendelegasikan pelaksanaan per region atau wilayah, serta upaya upaya lain tanpa mengurangi kwalitas pelaksanaan dan cetakan lulusan kursus yang terstandarisasi. Namun apa yang diungkapkan di atas tidaklah semudah penerapannya. Tidak gampang mengkoordinasi penyelenggaraan dengan melibatkan banyak peserta dan instruktur. Tidak pula banyak dokter bedah yang bisa dan berkenan untuk dijadikan instruktur serta mau untuk siap mengajar sesuai waktu yang diperlukan. Belum lagi problem penunjang yang lain; alat peraga, perangkat hard dan soft ware-nya, penunjang adminstrasi, logistik dan tim pelaksana (perawat dan crew) yang teramat sangat berperan di balik kesuksesan penyelenggaraan suatu kursus ATLS. Tidak mudah kita mencari orang macam Andanu, bang Saiful, Pak Bagyo yang sudah tergolong gila di komunitas ATLS untuk berbasah, berbaur dan selalu siap kemana dan dimana saja sebagai instruktur. Dan susah pula kita mendapatkan orang seperti Magda di Banjarmasin, Vivi di Makasar dan lainnya yang begitu besar perhatian serta pengorbanannya untuk kesuksesan pelaksanaan ATLS di daerah…
Abang Nazar pernah mengungkapkan galaunya, bagaimana pelaksanaan ATLS ke depan. Akankah kita tidak bisa menerima tantangan terhadap banyaknya permintaan ini? Mungkinkah nanti akan muncul sejenis ATLS tandingan yang kwalitasnya masih perlu dipertanyakan? Ataukah nanti suatu saat kita harus terpaksa menyerahkan kepada pemerintah untuk mengambil alih penyelenggaraannya…
Memang sudah saatnya problem ini dibicarakan serius di level yang lebih tinggi. Bravo untuk penyelenggara ATLS!
Tags: ATLS, instruktur, jadwal, kursus
21 Comments
Leave a Reply
Recent Comments
- eka-kusmawan
on Mengenal Nyeri Pinggang akibat HNP - Arie
on Gaya Komunikasi Dokter-Pasien - ihwan
on Mengenal Nyeri Pinggang akibat HNP - eka-kusmawan
on Profile - eka-kusmawan
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - eka-kusmawan
on Pentingnya Bergerak Pasca Operasi - eka-kusmawan
on Waspada terhadap nyeri perut mendadak - anita
on Pentingnya Bergerak Pasca Operasi


Aku ada usul tambahan. Gimana kalo seandainya masa berlaku sertifikat ACLS, ATLS, dan lain sebagainya dijadikan seumur hidup.
Kasian lho pak para sejawat yang kurang mampu.
Tulisan terakhir Andri Journal : Nyeri Dada
@Andri Journal :
Betul, ini masalah lain yang perlu dikaji juga! Trim’s buat Andri atas masukannya…
Tulisan terakhir eka kusmawan : ATLS, antara jadwal kursus dan banyaknya peminat
kalo seumur hidup saya juga setuju…! yah kalo gak bisa sumur hidup, setidaknya untuk memperpanjang masa berlakunya tidak mengulang kursus secara utuh lah dan tentunya tidak perlu bayar sebesar ikut kursus full lah. hanya sekedar usul dok..heee..heee.. bravo ATLS!!
Tulisan terakhir haryoga : Jalan di pantai Nusa Dua….Burung Pipit
@haryoga :
Jika tidak direfreshing dalam 4 tahun ini, dikhawatirkan ketrampilan dan kecermatan peserta menjadi berkurang. Kembali tergantung motivasi si pengguna sertikasi kursus ini. Coba lihat dan bergabung bersama Group Refresher ATLS Course di Facebook..
Trim’s Har atas comment-nya.
Tulisan terakhir eka kusmawan : ATLS, antara jadwal kursus dan banyaknya peminat
saya kurang setuju klo seumur hidup. Seperti kata dokter Eka, selain ketrampilan dan kecermatan peserta menjadi berkurang, update ilmu2 emergency juga terus berkembang kan…? Tapi untuk refreshing kembali, bolehlah ga musti ikut yang full lagi
@Deddy :
Ya, baiknya begitu.. yg mau refresh tidak mesti ikut full lagi..
sekarang say baru sadar betapa susahnya ikut ATLS ini, sudah beberapa rumah sakit di jawa dan RS Sanglah saya hubungi dan jawaban mereka semuanya sama, sampai tahun 2010 ATLS full..jadi bru bsa ikut ATLS 2011
@Gosenpartama :
Coba hubungi juga Sekretariat ATLS pusat di Jakarta untuk mencari informasi jadwal tahunan yang biasanya sudah dikeluarkan setiap awal tahun bersangkutan.
tlg donk minta jadwal atls terbaru 2010
gmn &kmn daftarnya??????
tengkyu
tlg krm ke email ku d dsari_84@yahoo.com ya infonya
@dian :
Saya sendiri belum terima jadwal ATLS tahun depan Dian…
Biasanya sih dibagikan pada awal tahun!
maaf dok, brp ya biaya ATLS? karena di info yg saya baca tdk ada keterangan ttg biayanya… apakah biaya tsb di semua tempat penyelenggara sama besarnya? terima kasih dok
Horass, ku sependpt ATLS di serahkan pd pemerintah ttp “hanya pembiayaannya”, spt di Thailand 50% biaya operasional ditanggung oleh pemerintah (ini utk semua dokter disana), ttp pelaksananya tetap “organisasi profesi” (di Indonesia :IKABI) krn organisasi ini yg diakui sah oleh COT ACS utk pelaksanaan ATLS di Indonesia. Ttg sertifikat ATLS berlaku seumur hidup, apakah mungkin, sedangkan SIM, KTP dan pasport saja hrs diperbarui tiap 5 thn, apalagi “kemampuan seorang dokter” menangani pasien gawat sangat perlu diperbaharui krn tehnik penanganannya didunia selalu cepat berubah, “pertanyaannya apakah rekan-rekan mau ditangani oleh dokter yg kemampuannya terbatas dan kedaluwarsa jika menderita kecelakaan ?”……….. Satu waktu rekan-rekan pasti terpaksa menggunakan ilmu ATLS minimal pd keluarga terdekat yg mengalami cedera/trauma, agar keluarga rekan-rekan dpt pulih kembali,… ada baiknya buku ATLS dibaca “khatam minimal 3x”sebelum kursus.
@dewi :
Saya tidak tahu persis saat ini brp biaya itu. Memang sedikit ada perbedaan antara 1 daerah penyelenggara dengan daerah lain. Pembiayaan itu didasari atas biaya royalti, konsumsi peserta. praktikum, administrasi & atk, honor instruktur (akomodasi & transportasi), biaya penyelenggaraan dll. Yang terakhir sy tahu 3,5 sampai 4jt per orang, kecuali yg diselenggarakan oleh depkes dan pesertanya ditunjuk oleh pemerintah..
@Lembu Sekilan :
Horasss.. setuju juga! Sekali lagi, ini perlu diwacanakan untuk bisa dibahas pd kesempatan yg tepat..!
tlng dok…jdwal atls di sumatera 2010 dunkkk….
terima kasih….
@ocha :
Memang belum ada penguman resmi. Informasi terakhir dari pusat katanya masih sdg disusun…
..mas saya kan di Paua dalam waktu dekat ATLS di Indonesia timur dimane ye ada yang punya infoo…tx. please kirim ke emailku ye
@danang :
Bisa dilihat di facebook group IAIC(Indonesia ATLS Instuctor Community)…..
gmn boss, dah ada jadwal atls tahun 2010?
@widi :
Sudah sebulan lalu saya posting di group IAIC (facebook).