Solusi Sengketa Medis
Last Updated on Monday, 1 June o 11:05 Written by eka-kusmawan Monday, 1 June o 11:05
Derasnya arus informasi membawa dampak juga bagi halayak pengguna jasa medis khususnya di rumah sakit akan hak-hak mereka sebagai pasien dan semakin terbuka wawasan tentang bagaimana semestinya seorang dokter atau paramedik menyikapi serta melayani pasien. Sehingga tidak jarang hal-hal yang tidak terlalu krusial sudah bisa menjadi pemicu terjadinya protes atau complain. Dalam kondisi tertentu keadaan ini bisa menjadi sedikit ricuh dengan keterlibatan pihak ketiga. Apalagi kemudian pihak ‘pemanas’ ini memang tahu atau mungkin tidak sepenuhnya paham tentang malpraktek. Sedangkan istilah malpraktis itu sendiri masih rancu kalau dipandang dari opini kebanyakan orang non medis.
Tidak ada jalan terbaik untuk menyelesaikan perselisihan medis ini selain secara kekeluargaan melalui komunikasi yang baik. Menempuh jalan secara frontal, menuntut ke meja hijau, disamping akan menguras tenaga dan waktu, sudah bisa dipastikan akan mengeluarkan pembiayaan yang tidak sedikit pula dari kedua belah pihak. Dalam hal penuntutan yang ditujukan kepada seorang dokter sebagai individu, dari pengamatan selama ini lebih sering terombang ambing di perjalanan proses hukum. Satu hal yang mendasari ini, pada hakekatnya seorang atau sekelompok pekerja medis pastilah bekerja dengan tanpa ada niat yang tidak baik, apalagi mengarah ke tingkatan kriminal. Memang lebih sering kesalahan dan komplikasi yang terjadi akibat kelalaian. Itulah penyababnya jajaran ini tidak bisa dipersalahkan secara total. Sehingga, dari pada berharap akan terbayar dari satu penyelesaian perkara yang belum tentu berhasil dari kacamata penuntut, lebih baik dicarikan solusi dengan cara terbuka dan kekeluargaan. Entah itu berupa tanggungan terhadap biaya yang muncul kemudian atau pun dukungan moral maupun material lainnya. Jangan sampai terjebak -sekali lagi- oleh pihak tertentu yang mengambil keuntungan dari kekisruhan ini, yang kebanyakan tidak seratus persen berniat betul menolong.
Dokter juga manusia biasa, tidak terlepas dari kesalahan . Di sisi lain sebagai manusia mereka juga punya rasa, apalagi yang dihadapi adalah mereka yang tak berdaya dan menderita kesehatannya. Jadi rasanya tidak menjadi alasan kuat membuat suatu masalah menjadi semakin runcing kalau sudah terjadi komunikasi sejak awal. Khususnya bagi dokter bedah sentuhan komunikasi sudah terjadi saat pertama kali si dokter mencari keterangan tentang perjalanan keluhan si pasien. Diberi kesempatan pula ketika menyampaikan rencana operasi dan menjelaskan prosedur serta rangkaian lain berkenaan dengan pembedahan itu, berlanjut sesaat setelah operasi untuk menjelaskan apa yang telah dilakukan dan seterusnya. Jika interaksi ini sudah berjalan, semestinya akan terjadi keterbukaan dan kemungkinan terjadi perselisahan pun semakin kecil.
Namun, kembali pada karakter manusia yang memang bervariasi, ada saja tipe penerima jasa medis (pasien) yang cenderung dan belum puas kalau belum ada complain. Begitu pula dokter dan staf medisnya ada pula yang berkarakter tidak sabar, merasa benar dan pelit untuk diajak berkonsultasi. Artinya juga bahwa kemungkinan terjadinya perselisihan medis itu tetap ada. Maka selain memberi peluang pihak asuransi untuk menengahi hal ini, beberapa organisasi profesi saat ini telah juga mempunyai seorang pakar hukum untuk membentengi anggotanya dari tuntutan pengadilan.
Hal ini juga sadar atau tidak disadari bisa membawa tarif atau ongkos seorang tenaga medis makin tinggi. Pada buntutnya, masyarakt kembali akan terkena beban terhadap mahalnya mendapatkan pelayanan medis yang baik dan bermutu…
10 Comments
Leave a Reply
Recent Comments
- erlina
on Consultation - Arie
on Gaya Komunikasi Dokter-Pasien - santi
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - eka-kusmawan
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - eka-kusmawan
on Gaya Komunikasi Dokter-Pasien - amanda
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - eka-kusmawan
on Mengenal Nyeri Pinggang akibat HNP - Arie
on Gaya Komunikasi Dokter-Pasien


Arus informasi sekarang makin bagus, pasien makin tahu tentang penyakitnya. Dokter tidak boleh lengah.
@Blog Dokter :
Makanya sudah eranya juga saat ini dokter bisa menguasai komunikasi online..
Tulisan terakhir eka kusmawan : Solusi Sengketa Medis
SETUJUUUUUUUUUU !!!!!
dr. Eka mrpkn inspirasi sy. Dok sy baru blajar buat blog, biar g nyesel ntar pas sudah ketuaan untuk blajar. jln2 k blog sy ya klo g sibuk. Heee.
Wah betul banget dok… Kalu ada saling keterbukaan antara pasien dan dokternya, maka tidak akan ada kasus-kasus yang merugikan kedua belah pihak.. Mengenai soal biaya medis yang semakin mahal memang harus ada solusinya selain asuransi.. Yach adalah pelayanan medis yang sifatnya sosial… jadi rakyat miskin bisa berkonsultasimengenai penyakitnya…
Tulisan terakhir afrianti takaful : Cara Menghitung Anggaran Pendidikan Anak
@dyagnozinfo :
Terimakasih.
Saya sudah berkunjung ke blog adik.. Isi dan penampilannya bagus. Marilah sedapat mungkin kita terus berkarya untuk mencerdaskan bangsa..
Tulisan terakhir eka kusmawan : Solusi Sengketa Medis
@afrianti takaful :
Untuk asuransi, terkadang yang masih problem di masyarakat kita adalah kesadaran akan pentingnya biaya proteksi ini. Memang kemampuan finansial dan tingkat pendidikan jg berpengaruh. Semoga perjuangan mbak Afrianti dalam mensosialisasikan kebutuhan ini, tidak sia-sia…
Tulisan terakhir eka kusmawan : Solusi Sengketa Medis
Semoga pasien bisa lebih bijak dan tidak terprovokasi oleh pihak lain yang hanya mencari keuntungan darinya . . .
Tulisan terakhir yudhi ne : Minum metanol, pasti kelenger . . .
ketemu lagi dok,
saya mau tanya, kenapa kayaknya ada semacam sentimen dari dokter pada pengobatan alternatif dan sebaliknya?
yg saya maksud alternatif di sini pengobatan yg tdk masuk akal. Bukan obat tradisional karena saya pernah menemui dokter yg menganjurkan minum teh seruni-air kcng ijo.
dan obat luka operasi standar dokter bedah apa emang betadine? karena saya menemui dokter bedah yg mengkombinasikan betadine dg salep yg saya curi lirik merknya sanoskin… apa gitu.
dan ada juga yg pake obat china yg terkenal perih (tradisional kah)
Makasih
@vanquish :
Kalo sentimen, ga’ lah ya… Tapi dari pengalaman pribadi keseringan pengobatan cara itu justru membuat kondisi pasien semakin parah, belum lagi harus membuang biaya dan waktu. Misalnya, ada pasien dengan kanker yang sudah kita dapat deteksi pada stadium yang memungkinkan pembedahan bisa dijalankan dan membawa harapan lebih baik… kemudian pergi ke therapi alternatif, yang setelah gagal beberapa bulan kemudian baru datang kembali dalam kondisi penyebaran tumor yang makin berlanjut. Dari sisi medis pun akhirnya tidak bisa berbuat banyak… Sehingga cukup disayangkan situasi seperti itu.. ada lagi contoh2 yg lain. Belum tahu juga kenapa pemerintah tidak meregulasi praktek2 semacam ini.
Therapy perawatan luka, tergantung tipe luka dan fase penyembuhannya. Betadine, salep, kompres, penjahitan, tole, moisturizer (spt. sanoskin) dst. merupakan bagian dari itu semua.
kalo sentimen dari pihak dokter memang tidak terasa tapi dari pihak pengobatan alternatif sangat kentara sentimen-nya seperti iklan2 yg menyudutkan pihak dokter. Bukunya ditunggu lho dok !