Selain mempersiapkan mental, waktu dan biaya, pembedahan berencana juga mewajibkan pasien untuk menyiapkan kondisi fisik demi lancarnya operasi yang akan berlangsung. Persiapan fisik ini berhubungan dengan kelainan atau penyakit yang akan dibedah tersebut, dan juga persiapan fisik berkenaan dengan pembiusan, agar obat-obat bius yang nantinya diberikan tidak menimbulkan efek negatif akibat kemampuan respon tubuh yang tidak normal lagi.
Diagnose suatu penyakit diupayakan sejelas mungkin sebelum therapi pembedahan dijalankan. Dan bagi operator atau dokter Bedah sendiri, tentu tidak akan memiliki arah yang pasti di saat berlangsungnya operasi, apa bagaimana dan seberapa yang mesti dibedah jika informasi atau assessment –pendekatan ke arah diagnose pasti- belum optimal. Sehingga diperlukan pemeriksaan tambahan di luar pemeriksaan fisik untuk menuju kepastian itu. Mungkin akan diperlukan pemeriksaan laboratorium saja atau dibutuhkan lagi pemeriksaan penunjang yang masih taraf sederhana sampai yang sudah canggih. Misalnya, pemeriksaan rontgen atau x-ray, pemeriksaan USG, CT scan, MRI dan pemeriksaan yang sifatnya lebih invasif, seperti x-ray atau CT scan dengan kontras, biopsi, endoscopy (colonoscopy, ureteroscopy, arthroscopy, bronchoscopy,laparoscopy dll). Memang semakin maju perkembangan teknologi, semakin canggih pula alat pemeriksaan di bidang medis yang membuat pasien semakin nyaman. Sepengetahuan penulis, salah satu pemeriksaan canggih saat ini adalah pemeriksaan menggunakan capsule endoscopy untuk mengetahui keadaan saluran cerna dari atas hingga ke bawah dengan menelan sebutir capsul yang didalamnya terkandung kamera dan bisa dipantau lewat monitor di luar tubuh pasien setiap saat, disamping menggambarkan sejauh mana serta di lokasi mana kelainan didapat sehingga ahli bedah tidak ragu-ragu lagi untuk menoreh di bagian tertentu dari permukaan perut. Tapi apapun pemeriksaan itu, tidak selalu harus suatu penyakit langsung dideteksi dengan peralatan yang canggih. Jika sudah dan bahkan lebih sensitif untuk diperiksa dengan alat pemeriksaan yang lebih sederhana kenapa harus ke tingkat pemeriksaan canggih atau yang malah lebih invasif dan tentu mahal?
Karena tubuh pasti akan mengalami stress pembedahan, baik dari kemampuan fungsi masing2 organ vital maupun cedera langsung yang diterimanya, maka untuk kepentingan pembiusan agar obat2 yang diberikan sebelum dan selama proses berlangsungnya operasi bisa direspon dengan baik, harus ada jaminan akan fungsi dan kondisi tubuh yang baik pula. Maka jika penderita akan dipersiapkan menjalani operasi dengan pembiusan umum ataupun regional pada yang berusia di atas 40 tahun diwajibkan memeriksa lab untuk mengetahui fungsi pembekuan darah, fungsi liver, ginjal, endokrin, elektrolit, status gizi dan pemeriksaan elekrokardiografi (EKG) untuk menilai keadaan jantung. Pemeriksaan pemeriksaan tersebut termasuk pemeriksaan standard yang sebaiknya dicek secara lengkap. Namun pada penerapannya, kadang beberapa ahli bedah lebih menekankan pada pemeriksaan yang menjurus pada kondisi penyakitnya sekalipun jenis pendeteksiaannya lebih mendetail.
Sedangkan untuk jangka pendek, setidaknya 8 jam sebelum masuk ke dalam kamar operasi, fisik penderita diharapkan sudah fit, tidak sedang pilek, batuk atau yang lainnya, dalam keadaan bersih hingga ke cuci rambut dan siap menanggalkan asesoris seperti perhiasan, gigi palsu, tidak bergincu dan cat kuku mesti dihapus. Ini dilakukan untuk mencegah kontaminasi operasi dan menunjang sterilitas proses operasi…


dok. saat ini saya akan menjalani operasi wasir di jakarta, semua persyaratan sebelum operasi seperti rongent dada, cek Laboratorium udah saya lakukan. saat membawa hasil tsb, oleh dokter bedah saya ditanakan ttg umur. umur saya 34 tahun. lalu dokter bedah menyuruh saya agar melakukan cek jantung ( kalo gak salah EKG ).
pertanyaan :
1. apa fungsi test EKG sebelum menjalani operasi wasir tsb pasien.
2. saat diperiksa wasir saya sudah grade 3, tapi beberapa hari ini bagian anus saya tidak lagi tampak tonjolan seperti saat pemeriksaan awal, namun jika saya pakai jongkok akan muncul kembali, apakah hal tsb bisa utk dilakukan operasi dok? karena saya khawatir sudah datang jauh2 dari bali ke jakarta nantinya tidak jadi di operasi ( saya anggota polri dan mendapat tanggungan utk operasi tsb di RS Polpus Kramat Jati Jakarta ).
3. trims dok atas jawabannya.
agus alexander
Pemeriksaan EKG pada pasien yg akan menjalani operasi di beberapa rumah sakit wajib dilakukan, tapi setidaknya harus dikerjakan pada umur di atas 40 tahun. Tentu tujuannya untuk mencegah sesuatu gangguan pada jantung di saat oeprasi sedang berlangsung atau setelahnya. Apalagi beberapa obat bius sangat dekat hubungannya dengan fungsi jantung..
Grade 3 dan 4 sudah memerlukan operasi untuk menyelesaikan tuntas ambeyen ini. Tanpa operasi sangat kecil kemungkinannya untuk menghilang, apalagi sudah menonjol keluar setiap kali bab. Suda ada indikasi kuat untuk pembedahan.
@hasto :
Ya, suatu saat saya akan mencoba menuliskan tentang peralatan bedah dan fungsinya. Trim’s adatas idenya..
yang tentang craniotomy dengan indikasi EDH?
ada ga alat-alat pembedahan / intstrumen kamar bedah dengan penjelsan fungsinya?
@Lex dePraxis :
Salam kenal kembali..!
Saran untuk menghadapi pembedahan bisa dibaca pada artikel sy sebelumnya di http://spesialisbedah.com/2008/06/tips-menghadapi-pembedahan/
trim’s atas kunjungannya..
Sampai sekarang saya memiliki rasa takut yang berlebihan mengenai operasi, tidak peduli seberapa kecil. Beberapa kali saya sempat diberi pilihan untuk operasi (dalam kasus-kasus berbeda), langsung tekanan darah saya melonjak tinggi.. Memalukan, tapi yah begitulah.
Ada saran bagaimana untuk mengatasi hal ini?
Salam kenal,
Lex dePraxis
Unlocked!