Thursday, March 11, 2010

Gaya Komunikasi Dokter-Pasien

Walaupun saat ini ada berbagai cara berkomunikasi antara dokter dan pasien, antara lain dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi, seperti lewat media masa atau secara online melalui internet,tetapi tetap masih diakui dan dirasakan bahwa berkomunikasi secara langsung lebih memiliki nilai tinggi dalam hal obyektifitas serta rasa kemanusiaannya. Sehingga masih akan tetap dibutuhkan. Maka oleh karena itu banyak pihak yang menilai kwalitas layanan seorang dokter, salah satu indikatornya adalah dari cara dokter itu berkomunikasi dengan pengguna jasanya. Namun pada kenyataannya tidak semua dokter bisa berkomunikasi sesuai harapan pasien. Ada berbagai macam kendala yang para dokter hadapi ketika mereka berkomunikasi dengan pasiennya. Dilihat dari hambatan-hambatan tersebut didapatkan intinya terdiri dari 3 unsur utama, yakni waktu yang tersedia untuk menjalankan suatu komunikasi, gaya berkomunikasi dan isi komunikasi atau pembicaraan tersebut.

Menilai dari cara berkomunikasi seorang dokter, baik secara verbal atau pun diiringi dengan bahasa tubuh, setidaknya dapat digolongkan dalam 4 tipe;

  1. Dokter yang tidak memiliki waktu dan tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik. Menghadapi dokter semacam ini yang paling sulit. Jangankan menjelaskan keadaan penyakit kepada seorang pasien, untuk bertutur sapa dengan sesama dokter pun mereka terasa mempunyai hambatan. Biasanya dokter tipe ini tidak memiliki banyak pasien, kecuali ia berkemampuan lebih dan masih langka kehadirannya di suatu komunitas tertentu.
  2. Dokter yang bisa berkomunikasi tapi tidak cukup memiliki waktu. Kelompok dokter ini biasanya sangat sibuk, baik oleh karena pasiennya yang banyak  ataupun tugas pekerjaan di luar keprofesiannya menuntut mereka untuk menggunakan waktu seefektif mungkin.  Tidak semua pasien puas dengan gaya dokter jenis ini. Boleh jadi kemampuannya dalam menyembuhkan pasien terkenal hebat, tapi mungkin saja sebagian pasien merasa kecewa karena tidak ada kesempatan  untuk menanyakan sesuatu atau merasa tidak mendapat sentuhan optimal di saat sang dokter menjalankan pemeriksaan fisik. Kebanyakan dokter di Indonesia menjalankan prakteknya tidak membatasi jumlah pasien. Sedangkan di luar negeri, seorang dokter dalam menjalankan tugasnya di praktek atau poliklinik rawat jalan, waktu menjadi patokan utama. Sehingga jika waktu untuk seorang pasien (biasanya 20 – 30 menit) belum selesai, si dokter meminta pertanyaan lagi dari si pasien menyangkut hal-hal yang belum jelas. Dengan demikian kwalitas layanan terhadap seorang pasien memang terjaga betul.
  3. Dokter dengan gaya berkomunikasi formal. Dimana pasien semata-mata menjadi obyek dari interaksi yang dibangun. Penuh dengan bahasa serta istilah medis, cenderung arus komunikasi satu arah, mendominasi pembicaraan dan terkadang bahkan ada kesan memarahi dalam memberikan nasehat ke pasien. Biasanya untuk golongan pasien yang tidak kritis, jenis dokter ini masih bisa diterima dengan baik. Cukup sudah dengan diberitahu sakitnya, diberi obat dan syukur-syukur sembuh, pasien sudah puas. Sekali pun mungkin saja ada rasa tertekan atau takut menghadapi dokternya.
  4. Dokter yang memiliki waktu dan kemampuan berkomunikasi yang baik.  Dokter jenis ini berusaha membina hubungan dengan pasiennya secara lebih terbuka, tidak selamanya formal, berempati, menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti pasien  serta lebih memberikan waktu kepada pasien untuk mengungkapkan sesuatu. Dokter type ini biasanya memiliki kemampuan bersosialisasi lebih tebal dibanding yang lain. Memang dokter yang sejenis ini yang ideal dan banyak disenangi pasien. Tapi golongan ini masih bisa dibedakan lagi antara yang bergaya terlampau bersahabat hingga cenderung membuat mereka kurang teliti serta dalam memberikan penjelasan kurang mengedepankan sisi ilmiahnya, namun ada yang mampu mengkombinasikan kemampuan berkomunikasi serta penguasaan ilmu  dan ketrampilannya dengan baik sehingga memiliki kharisma dan talenta yang baik pula. Yang mana menjadi pilihan pasien? Tentu berpulang pada kecocokan serta kebutuhan masing-masing pasien tersebut. Ada yang bilang, dengan dilihat dan disentuh saja oleh dokter A, seorang pasien sudah merasa dirinya sembuh.


17 Comments

  1. Comments  Nindya   |  Saturday, 16 January 2010 at 9:34 pm

    Kalau dari point of view pasien sendiri tentunya yang paling dicari adalah kategori dokter #4, terutama sub-type yg #2, i.e dokter yg memang berkompeten di bidangnya dan tentunya ditambah dengan kemampuan dan kesediaan berkomunikasi serta berempati dengan pasien…
    Dan setelah mengingat, menimbang dan memutuskan (ky SK aja…hehehe), host dari Surgeon[log] ini absolutely can be categorized as #4 sub-type #2…! ;)
    I’m such a lucky to be one of your patients…;)

  2. Comments  Dinda   |  Monday, 18 January 2010 at 8:57 am

    Salam kenal dr. Eka..
    Kalau Obgyn di seputaran Denpasar yg masuk kategori no. 4 siapa kira-kira Dok?
    Sy seorang calon ibu yg lagi nyari Obgyn yg friendly, berkompeten n sekaligus ga pelit bagi” info

  3. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Tuesday, 19 January 2010 at 9:10 am

    @Nindya :
    Oke Nndya… Is it really? Terimakasih. I appreciate your honesty..:)

    @Dinda :
    Coba tanyakan ke RS Surya Husadha tempat saya praktek juga. Di sini ada dr. Supriatmaja, dr. Budiana dan lain-lain yang saya kira cukup komunikatif dan kredibel…

  4. Comments  Nindya   |  Tuesday, 19 January 2010 at 1:17 pm

    You’re very very welcome Doc…
    Of course it’s really trully true…masa anak sekecil Nindya bohong Om Dokter…:)
    Itu testimoni murni dari hati seorang innocent little girl Om, bukan dengan tekanan….:)
    Sukses terus Dok…

  5. Comments  vanquishNo Gravatar   |  Wednesday, 10 February 2010 at 5:38 am

    pengalaman saya periksa dokter yg cuma kontrol/tanya-tanya udah di bon 50k

    Di sini kok gratis ya? berarti dokter punya tabungan di akherat kira2 50k x berapa kali jawab komen. Hahahaha just kidding dok?

    apa dokter yg bukan spesialis bedah boleh melakukan operasi? Krn saya pernah denger dokter sp.pd melakukan operasi, apa saya salah denger.

  6. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Wednesday, 10 February 2010 at 8:39 am

    @vanquish :
    Gratis..? hahaha..ha… Ini sdh jadi niatan, semoga bisa berlanjut terus.. karena saya pun merasa banyak mendapatkan sesuatu dari banyak orang. Dan rasanya ada semacam dorongan atau kewajiban kali yah..saya unt berbagi juga..!! Hingga sekali pun sibuk, laptop ni.. terus saya bawa, bagai mainan, baik di tempat praktek atau di kamar operasi.. kebetulan juga di tempat kerja ada fasilitas wifi. Jadi, bekerjalah dengan baik. Selagi ada kesempatan untuk memberi, berilah bagi yg memang membutuhkan… begitu kira2 hahaha… santae aja bro!
    Menjalankan operasi oleh yang tidak berwenang, jelas dari segi etika dan hukum sudah salah! Saya lagi mo menyusun buku jenis ilmiah populer dan ngebahas juga mengenai hal2 semacam ini. Jadi cukup fresh pengetahuan saya tentang ini…. Sebulan dua bulan ini bakalan naik ke percetakan.. Tunggu aja! (sorry, ngelantur)

  7. Comments  vanquishNo Gravatar   |  Wednesday, 10 February 2010 at 4:54 pm

    ditunggu bukunya.

  8. Comments  Arie   |  Wednesday, 10 February 2010 at 5:34 pm

    Wow…Akhirnya kesampean juga ambisi seorang dr. Eka buat nerbitin buku…
    Two thumbs up Doc…
    Awaiting for the launching…(apa gratis juga…???hahahahah…..)

  9. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Wednesday, 10 February 2010 at 8:00 pm

    @Arie :
    Yahhh…. Ariikkk nongol jg..! Thank u banget support-nya my friend…
    Lagi harap2 sih.. maunya belum diomongin, krn nembus penerbit di Jakarta berat juga lho.. mesti bbrp kali diedit dan dikoreksi. So, apa bisa ga’ ya..?!
    Jek.. keep try gen Rik ya.. not to give up!

  10. Comments  Arie   |  Wednesday, 10 February 2010 at 8:16 pm

    emang ga boleh apa Arie sering”nongol disini…?!hehehe
    Baru abis pelatihan nie Dok, waktu OL jd terbatas…(sok sibuk,hehe…)
    Setuju! Jeg keep on strugling gen Dok!
    LANJUTKAN!!!
    Pepatah jawa kuno bilang : “you will never know your success unless you try”
    jadi, masa sih seorang dr.Eko ga bisa buat buku…ten kenten Dok? :p

  11. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Wednesday, 10 February 2010 at 9:46 pm

    @Arie :
    hehehe.. ju.. maksudnya setujuuu!

  12. Comments  Arie   |  Thursday, 11 February 2010 at 9:07 pm

    btw di SHH ada fasilitas wifi Dok ya? why don’t you tell me when I was admited there? kan lumayan buat killing time…heheh
    tp klo buat pasien kena charge kali ya…??

  13. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Friday, 12 February 2010 at 3:42 am

    @Arie :
    Yeee.. kan ada password-nya. Notebook ini aja sdh disetting ama staf IT di sini..he.he..he….

  14. Comments  Arie   |  Friday, 12 February 2010 at 8:13 am

    Ya kasi tau sa’ password-password’nya nae…hahaha

  15. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Friday, 12 February 2010 at 8:16 pm

    @Arie :
    Suerrr, ga’ tau Rik..! Jek sudah dihandle langsung ama anak buah… Bos kan nerima beresnya aza..!

  16. Comments  Arie   |  Friday, 12 February 2010 at 8:33 pm

    Oke…Okeh’lah kalau begitu Pak Boss…:p
    just kidding koq! lagian nyari wifi ga mesti pergi ke SHH kaleee…

  17. Comments  ArieNo Gravatar   |  Thursday, 11 March 2010 at 4:26 pm

    Beberapa hari yang lalu sempet juga nemuin dokter type #1..!!! Nge’BT’in banget. Udah ga komunikatif, pelit info, tampangnya jutek banget lagi….Jadi ga mood buat konsul lebih lanjut…
    Apalagi saat itu Dokter itu menjelaskan sesuatu yang cukup membuat stress (you know what’s the matter) dengan cara seperti itu. Bisa bayangin ga Dok? #%$^!*#&!)_#_!((*&^$%&…..
    Akhirnya saya mutusin konsul secara pribadi ja ke dr. Budiana, Sp. OG. He’s really a nice Doctor though… Very” communicative and has a great empathy to the patient. Setidaknya beliau bisa membuat saya dan suami tenang selama 2 hari ini, sampai tadi pagi I’m getting confused (and afraid) again..

 

Selamat Datang dan Terimakasih atas Kunjungan Anda di SpesialisBedah.com -- Pertanyaan ataupun komentar Anda akan sesegera mungkin saya tanggapi

Surgeon[log] is using WP-Gravatar