Operasi Bertahap
Last Updated on Monday, 8 March o 08:11 Written by eka-kusmawan Saturday, 23 January o 08:10
Tidak selamanya sesuai dalam bayangan kita bahwa masalah bedah itu akan tuntas seiring dengan begitu selesainya satu tahapan operasi. Ada kasus tertentu yang membutuhkan penanganan bedah lebih dari sekali. Mengapa sampai
begitu? Beberapa alasan yang mendasari antara lain kemampuan tubuh dalam merespon suatu trauma bedah tidak sama antara satu bagian dengan bagian tubuh lainnya, antara umur yang berbeda, kondisi preoperatif yang tidak sama dan karena ada perbedaan fase perkembangan suatu penyakit. Di bagian lain terkadang dokter bedah dihadapkan pada prioritas demi keselamatan seseorang pasien terhadap suatu kasus yang kompleks.
Pada penanganan kasus celah bibir yang meluas hingga ke langit-langit rongga mulut pada anak-anak, akan membutuhkan setidaknya 2 tahap operasi untuk memperoleh hasil terbaik. Begitu juga operasi membebaskan struktur vital pada alat gerak –lengan atau kaki- akibat pembengkakan hebat (compartment syndrome), tidak akan cukup diselesaikan dengan sekali operasi. Setelah membuka dan melepaskan jeratannya, beberapa hari berikutnya setelah pembengkakannya mereda barulah dibutuhkan operasi yang kedua untuk menutupnya kembali. Atau pada kejadian lain dimana didapatkan luka terbuka luas yang sangat kotor akibat kecebur di selokan saat kecelakaan di jalan misalnya, kemungkinan besar memerulukan operasi bertahap, dengan mebersihkan luka sebagai penanganan tahap awal dan penanganan tahap selanjutnya adalah dengan menutup serta merapikan bekas luka tersebut ketika jaringan luka telah bersih dari kontaminasi dan bertumbuh. Jika kondisi pasien belum optimal, sedangkan pembedahan harus segera dijalankan, maka dengan mengejar waktu, seorang dokter bedah dimungkinkan untuk mengerjakan pembedahan definitive-nya pada kesempatan lain. Misalnya dalam menghapi kasus trauma perut pada pasien tua daengan gizi buruk yang mengalami kerusakan hebat hingga ada perdarahan dan kebocoran usus besar, maka langkah terbaik adalah hentikan perdarahan, alirkan saluran cerna untuk sementara ke permukaan (colostomy) dan perbaiki kondisi pasien. Di kemudian hari jika kondisi telah membaik, barulah operasi penyambungan usus boleh dkerjakan. Contoh lain yang sampai memerlukan operasi hingga beberapa kali adalah pembedahan rekontruksi, baik yang dikerjakan pada bagian wajah, alat gerak ataupun di bagian tubuh lainnya.
Oleh karena dokter yang melakukan tindakan pembedahan berasal dari bidang keilmuwan yang berbeda dan memiliki spesialisasi yang mengkhusus, maka suatu pembedahan bisa saja ditangani oleh dua orang dokter (operator). Dua atau lebih operator ini bisa berasal dari bidang profesi yang berbeda (antara bedah, kebidanan, THT atau mata), bisa berasal dari sub-bidang bedah yang berlainan (antar bedah orthopedi, uologi, bedah saraf, bedah plastic, vaskuler, digestif, onkologi dan lainnya) atau bisa dari satu profesi dengan tingkat senioritas atau pengalaman yang berbeda. Penanganan satu pasien oleh lebih dari satu operator ini bukanlah sesuatu yang tidak wajar dan tidak etis, namun sebaliknya pada keadaan tertentu justru dengan mengkonsultasikan suatu kasus yang di luar bidang serta kemampuannya, seorang dokter yang menjalankan konsultasi itu telah menunjukkan keprofesionalannya. Mekanisme konsultasi tersebut memang diharapkan sudah berlangsung dan dikomunikasikan kepada pasien atau keluarga sebelum proses pembedahan djalankan. Tapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa di saat berlangsungnya proses pembedahan, bisa saja ditemukan sesuatu yang tidak terantisipasi sebelumnya sehingga mekanisme konsultasi berjalan di tengah sedang berlangsungnya pembedahan. JIka kasus yang didapat merupakan kasus sulit yang membutuhkan bantuan dari yang lebih berpengalaman atau merupakan kasus dari satu bidang profesi, maka terjadi pengambilalihan operasi. Tapi jika kasus tersebut merupakan kasus tambahan dari keilmuwan yang berbeda maka pengerjaannya bisa dilakukan oleh 2 operator secara bersama dalam satu tahap operasi. Penanganan jenis ini biasanya disebut operasi bersama (joint operation).
Terlepas dari semua itu, apapun kasusnya, apakah diprediksi akan memerlukan lebih dari satu kali tahap operasi ataukah memerlukan lebih dari satu operator, satu hal yang terpenting adalah komunikasi. Komunikasi yang baik dan cermat harus dibangun antar dokter pelaksana pembedahan dengan pasien atau keluarga agar tercapai satu pengertian serta suatu ketenangan sehingga mendapatkan hasil terbaik dan pasien dapat sembuh seperti sediakala.
Leave a Reply
Recent Comments
- erlina
on Consultation - Arie
on Gaya Komunikasi Dokter-Pasien - santi
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - eka-kusmawan
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - eka-kusmawan
on Gaya Komunikasi Dokter-Pasien - amanda
on Jangan panik dulu kalau Anda mengalami berak darah - eka-kusmawan
on Mengenal Nyeri Pinggang akibat HNP - Arie
on Gaya Komunikasi Dokter-Pasien

