Friday, March 12, 2010

Pemasangan Alat Medis pada Tubuh

Salah satu ketakutan pasien masuk ke rumah sakit adalah bahwa kemungkinan mereka akan dilakukan  suatu tindakan manipulatif terhadap tubuhnya seperti disuntik, dipasang infus, diambil darahnya untuk periksa lab dan lain-lain. Sekalipun hal itu tujuannya untuk kebaikan si pasien juga. Penggunaan alat medis serupa ini bisa jadi bertahan beberapa saat, beberapa jam atau bahkan berhari-hari terpasang di tubuh si pasien. Tidak saja ketakutan dan ketidaknyamanan itu dirasakan langsung oleh si penderita tapi terkadang yang melihatnyapun menjadi miris. Akan lebih ‘serem’ lagi kalau melihat pasien yang keluar dari kamar operasi dengan banyak macam  selang yang tertancap di tubuhnya.

Yang paling umum dilihat di rumah sakit adalah pemakaian infus. Infus bisa dipasang di lengan bawah atau terkadang untuk mendapatkan akses pembuluh darah yang lebih besar, dipasangkan di bahu dekat leher. Kegunaannya selain memasukkan cairan dan memberikan komponen elektrolit atau nutrisi dalam bentuk cair, dengan dipasangnya infus maka menginjeksi obat yang langsung masuk ke pembuluh darah jadi lebih mudah dengan cukup melalui aliran infus saja. Sesuai kebutuhan bisa saja infuse dipasang di dua tempat atau lebih. Atau di satu pembuluh darah itu disambungkanlah beberapa cabang infus. Termasuk juga pada tindakan ini adalah pemasangan alat yang mengukur tekanan aliran darah di dekat jantung.

Catheter. Tabung saluran dari bahan elastis ini dimasukkan melalui saluran kemih bagian luar hingga masuk ke dalam kandung kencing. Gunanya untuk mengalirkan air seni dari dalam kandung kencing agar langsung bisa dikeluarkan. Dipakai untuk membantu mengalirkan urine pada pasien yang mengalami hambatan  saluran  kencing di bagian bawah kandung kemih atau dimanfaatkan untuk menghitung secara teliti berapa banyak voleme urine yang diproduksi tubuh dalam satuan waktu tertentu. Pada beberapa kasus dipakai juga sebagai sarana diagnostik dengan menilai kwalitas urine yang keluar. Pada pasien yang mobilitasnya terbatas dengan tidak leluasa untuk bangun atau bergerak dari tempat tidur, pemasangan kateter ini sangat membantu. Pada pasien kritis, urine yang telah ditampung dalam kantung setelah keluar dari kateter ini lebih banyak dimanfaatkan untuk menghitung keseimbangan cairan antara yang masuk dan keluar tubuh. Dan khusus untuk penanganan operasi saluran kemih sering digunakan three way catheter yaitu kateter dengan tiga cabang yang salah satunya dihubungkan dengan cairan infus untuk membasuh saluran kemih.

NGT (nasogastric tube), suatu pipa yang dipasang melalui lobang hidung masuk hingga ke lambung. Dipakai untuk mengalirkan isi lambung ke luar sehingga tekanan di dalam perut dan terutama di sistem pencernaan dapat dikurangi. Hal ini diperlukan terutama untuk membantu pemulihan pasca operasi yang memanipulasi usus atau bagian sistem pencernaan lainnya. Dipasangkan pada pasien bisa sejak sebelum operasi atau pasca operasi. Untuk kondisi lain yang memerlukan pengurasan lambung pipa ini juga diperlukan. Di sisi lain,  pada penderita yang oleh karena suatu sebab sukar atau tidak mampu menelan makanan, NGT dengan ukuran yang lebih kecil dimanfaatkan juga justru untuk memasukkan atau mengalirkan bahan makanan -yang tentu dalam bentuk tidak padat- langsung ke lambung.

ETT (Endo/OroTracheal Tube) adalah saluran yang dipasang melalui celah mulut yang masuk hingga saluran nafas bagian atas –trachea-. Alat ini dipasang untuk membantu proses pernafasan pada pasien yang tidak mampu bernafas sendiri atau yang mengalami sumbatan jalan nafas di bagian atas. Biasanya akan dihubungkan dengan oksigen yang dipompakan baik secara manual atau dengan alat ventilator.

Drain. Merupakan saluran (drainage) yang dipasang sekitar luka operasi, diperlukan untuk mengalirkan cairan sisa atau cairan yang kemungkinan akan terbentuk lagi pada areal sekitar lapangan operasi. Cairan yang dialirkan ini bisa darah, nanah atau cairan lainnya dan bisa juga udara. Jelaslah drain digunakan setelah operasi selesai terutama untuk luka yang basah atau luka dengan celah maupun  rongga yang cukup luas di dalam permukaan tubuh. Ada drain dengan vacuum yakni aliran yang disedot secara aktif dan ada yang disebut dengan drain pasif.

Epidural analgesia. Terkadang untuk kasus pasca operasi yang membutuhkan obat-obat penahan nyeri kuat, dokter anasthesi memberikan obat yang langsung masuk ke dalam susunan saraf melalui alat bersaluran yang dimasukkan di bagian tulang belakang.

Masih ada lagi beberapa tindakan bedah yang memerlukan pemasangan alat pada tubuh pasien yang tidak tampak dari luar, apakah alat itu nantinya perlu diangkat  lagi ataukah tidak. Misalnya pemasangan fiksasi internal (plat, pen, screw dll) pada tulang yang patah, pemasangan lembaran mash pada hernia, pemasangan stant pada ureter, vp-shunt pada kasus hidrochepalus, alat pemicu jantung pada pasien jantungan dan lain-lain.



10 Comments

  1. Comments  Arie   |  Sunday, 10 January 2010 at 8:52 am

    emang scary banget saat badan kita dipasangin benda”aneh itu…:(
    mixing antara rasa sakit, ga nyaman n’ gerak jd terbatas…
    Btw udah pernah nulis tentang “Pain Management Post Surgery” belum Dok…?
    sepertinya “worth knowing” banget buat pasien-pasien awam seperti saya…;)

  2. Comments  Blog DokterNo Gravatar   |  Sunday, 10 January 2010 at 10:19 am

    Kalau infus sih nggak seberapa sakit, tapi kalau urine kateter, nah itu baru tantangan. :)

  3. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Sunday, 10 January 2010 at 12:43 pm

    @Arie :
    Terimakasih Rik atas tanggapannya. Usul yang bagus, tidak lama lagi saya akan postingkan tulisan tentang pain management, especially post surgery. Saya sdh ada rencana unt itu..

    @Blog Dokter :
    Hehe… pasien merasa tidak nyaman dan nyeri, saat memasangkan alat itu pun sang dokter merasa iba, bisa juga stress, buntut2nya tidak percaya diri dan panik.. Tindakan pun jd gagal dan perlu diulang lagi..:(

  4. Comments  Arie   |  Sunday, 10 January 2010 at 1:59 pm

    Very welcome Dok…
    Löoking forward for your next articles…;)

  5. Comments  GunawanNo Gravatar   |  Friday, 05 February 2010 at 3:59 pm

    Dokter,
    Saya 39 tahun. Tanggal 28 Desember lalu menjalani operasi atas diagnosa syiringomyelia. Dilakukan decompresi di ujung tengkuk saya, sekaligus sipasang alat, kalau gak salah namanya shunt ? di leher bawah belakang untuk meyalurkan cairan yang ada di dalam sumsum tulang leher.

    Yang meresahkan dok, sampai hari ini (5 Februari 2010) kaki kanan saya masih merasa kesemutan dan sedikit kebas. Rasa ini muncul begitu saya siuman setelah operasi, sebelum operasi tidak ada gejala tsb. Mohon penjelasan dok, apakah ini gejala yang wajar? atau ada “kekeliruan” yang dilakukan oleh dokter bedah sehingga muncul gejala itu? Atas saran dokter yang merawat saya, saya sudah menjalanai fisioterapi hingga 6 kali, tapi sama sekali tidak ada perubahan. Dokter juga meresepkan obat untuk menanganinya, antara lain metycobal. saya merasa bahwa rasa kesemutan saya tidak kunjung reda atau berkurang hingga minggu ke enam ini, bahkan ketika minggu lalu saya coba menyetir mobil sendiri sekitar 4 km, malamnya kaki saya bengkak. Apa sebenarnya yang terjadi pada kaki saya? saya harus bagimana?

    Terima kasih banyak

    Gunawan-Bekasi

  6. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Friday, 05 February 2010 at 6:39 pm

    @Gunawan :
    Saya tidak bisa berkomentar banyak tentang penyakit ini, karena sebagai dokter bedah umum memang saya sendiri belum pernah melihat operasi semacam itu. Tapi paling tidak bisa saya memahami teknis dan tujuan pembedahannya. Keluhan kesemutan jelas berasal dari persarafan sensoris masih relatif ringan dibanding keluhan yang mengenai saraf motoris. Secara fsiologis dan logikanya cairan cerebrospinal yang dialirkan bisa saja mengganggu komposisi dan stabilitas di dalam sumsum tulang belakang tsb. dan jika keluhan hanya pada kaki saja, tidak mengenai kedua tungkai secara keseluruhan lebih berasal dari bagian bawah persarafan di tulang belakang.
    Perkiraan saya, semestinya gangguan itu bisa diminimalisir, karena sesungguhnya tidak ada persarafan yang cedera secara langsung. Mungkin perlu bersabar dan tetap berkonsultasilah kepada dokter anda..

  7. Comments  vanquishNo Gravatar   |  Sunday, 07 February 2010 at 8:57 am

    mengenai alat-alat medis tersebut, saya cerita kelanjutan komen terdahulu saya yg operasi apendiks.

    begitu saya sadar di icu stelah operasi, saya dimasuki 3 tancapan infus: kedua tangan dan kaki kiri (what the hell !!!) dan seingat saya utk infus tangan kiri ada infus pump dan kanan dua botol yg dicabang.

    dan yg paling MENYIKSA yaitu ketika infus tidak jalan maka posisi diganti… Dan tubuh saya yang tebal ini sangat sulit mencari nadi sehingga suster sampai 3 kali salah tusuk .:anjrit:. begitu juga utk pengambilan darah.

    Ah… Pengalaman yg tak terlupakan.
    Tapi gak mau lagi !!!

  8. Comments  kusmawanNo Gravatar   |  Monday, 08 February 2010 at 7:48 pm

    @vanquish :
    Jangan sampai lagi..!! Wah, di balik itu semestinya anda bersyukur juga… anda masih diberi kesempatan oleh Tuhan…
    Sekali lagi, saya bisa bayangkan bagaimana kritisnya anda saat itu…

  9. Comments  cekidotNo Gravatar   |  Wednesday, 03 March 2010 at 4:28 pm

    dok,kriteria pasien yang masuk icu dan yang boleh keluar icu apa hanya berdasarkan monitor yg merekam jantung? kadang pasien yg udah sadar(pasca operasi) belum boleh pindah ke ruang perawatan walaupun sudah sadar dan dapat berkomunikasi dg baik.

    Monitor di icu memantau apa aja sih dok?

  10. Comments  eka-kusmawanNo Gravatar   |  Thursday, 04 March 2010 at 11:59 am

    @cekidot:
    Stabil yang dimaksud dan diukur adalah dari kesadaran, vital sign -termasuk status kardiovaskulernya-, pemantauan terhadap hasil operasinya -terutama terhadap produksi drain, kencing, tampungan ngt dll- serta fungsi organ lainnya, sperti pencernaa, fungsi pembuangan kemih dll…
    Jadi belum tentu dengan patokan pasien telah sadar saja, dokter berani memindahkan pasien dari HCU..

 

Selamat Datang dan Terimakasih atas Kunjungan Anda di SpesialisBedah.com -- Pertanyaan ataupun komentar Anda akan sesegera mungkin saya tanggapi

Surgeon[log] is using WP-Gravatar