Salah satu ketakutan pasien masuk ke rumah sakit adalah bahwa kemungkinan mereka akan dilakukan  suatu tindakan manipulatif terhadap tubuhnya seperti disuntik, dipasang infus, diambil darahnya untuk periksa lab dan lain-lain. Sekalipun hal itu tujuannya untuk kebaikan si pasien juga. Penggunaan alat medis serupa ini bisa jadi bertahan beberapa saat, beberapa jam atau bahkan berhari-hari terpasang di tubuh si pasien. Tidak saja ketakutan dan ketidaknyamanan itu dirasakan langsung oleh si penderita tapi terkadang yang melihatnyapun menjadi miris. Akan lebih ‘serem’ lagi kalau melihat pasien yang keluar dari kamar operasi dengan banyak macam  selang yang tertancap di tubuhnya.

Yang paling umum dilihat di rumah sakit adalah pemakaian infus. Infus bisa dipasang di lengan bawah atau terkadang untuk mendapatkan akses pembuluh darah yang lebih besar, dipasangkan di bahu dekat leher. Kegunaannya selain memasukkan cairan dan memberikan komponen elektrolit atau nutrisi dalam bentuk cair, dengan dipasangnya infus maka menginjeksi obat yang langsung masuk ke pembuluh darah jadi lebih mudah dengan cukup melalui aliran infus saja. Sesuai kebutuhan bisa saja infuse dipasang di dua tempat atau lebih. Atau di satu pembuluh darah itu disambungkanlah beberapa cabang infus. Termasuk juga pada tindakan ini adalah pemasangan alat yang mengukur tekanan aliran darah di dekat jantung.

Catheter. Tabung saluran dari bahan elastis ini dimasukkan melalui saluran kemih bagian luar hingga masuk ke dalam kandung kencing. Gunanya untuk mengalirkan air seni dari dalam kandung kencing agar langsung bisa dikeluarkan. Dipakai untuk membantu mengalirkan urine pada pasien yang mengalami hambatan  saluran  kencing di bagian bawah kandung kemih atau dimanfaatkan untuk menghitung secara teliti berapa banyak voleme urine yang diproduksi tubuh dalam satuan waktu tertentu. Pada beberapa kasus dipakai juga sebagai sarana diagnostik dengan menilai kwalitas urine yang keluar. Pada pasien yang mobilitasnya terbatas dengan tidak leluasa untuk bangun atau bergerak dari tempat tidur, pemasangan kateter ini sangat membantu. Pada pasien kritis, urine yang telah ditampung dalam kantung setelah keluar dari kateter ini lebih banyak dimanfaatkan untuk menghitung keseimbangan cairan antara yang masuk dan keluar tubuh. Dan khusus untuk penanganan operasi saluran kemih sering digunakan three way catheter yaitu kateter dengan tiga cabang yang salah satunya dihubungkan dengan cairan infus untuk membasuh saluran kemih.

NGT (nasogastric tube), suatu pipa yang dipasang melalui lobang hidung masuk hingga ke lambung. Dipakai untuk mengalirkan isi lambung ke luar sehingga tekanan di dalam perut dan terutama di sistem pencernaan dapat dikurangi. Hal ini diperlukan terutama untuk membantu pemulihan pasca operasi yang memanipulasi usus atau bagian sistem pencernaan lainnya. Dipasangkan pada pasien bisa sejak sebelum operasi atau pasca operasi. Untuk kondisi lain yang memerlukan pengurasan lambung pipa ini juga diperlukan. Di sisi lain,  pada penderita yang oleh karena suatu sebab sukar atau tidak mampu menelan makanan, NGT dengan ukuran yang lebih kecil dimanfaatkan juga justru untuk memasukkan atau mengalirkan bahan makanan -yang tentu dalam bentuk tidak padat- langsung ke lambung.

ETT (Endo/OroTracheal Tube) adalah saluran yang dipasang melalui celah mulut yang masuk hingga saluran nafas bagian atas –trachea-. Alat ini dipasang untuk membantu proses pernafasan pada pasien yang tidak mampu bernafas sendiri atau yang mengalami sumbatan jalan nafas di bagian atas. Biasanya akan dihubungkan dengan oksigen yang dipompakan baik secara manual atau dengan alat ventilator.

Drain. Merupakan saluran (drainage) yang dipasang sekitar luka operasi, diperlukan untuk mengalirkan cairan sisa atau cairan yang kemungkinan akan terbentuk lagi pada areal sekitar lapangan operasi. Cairan yang dialirkan ini bisa darah, nanah atau cairan lainnya dan bisa juga udara. Jelaslah drain digunakan setelah operasi selesai terutama untuk luka yang basah atau luka dengan celah maupun  rongga yang cukup luas di dalam permukaan tubuh. Ada drain dengan vacuum yakni aliran yang disedot secara aktif dan ada yang disebut dengan drain pasif.

Epidural analgesia. Terkadang untuk kasus pasca operasi yang membutuhkan obat-obat penahan nyeri kuat, dokter anasthesi memberikan obat yang langsung masuk ke dalam susunan saraf melalui alat bersaluran yang dimasukkan di bagian tulang belakang.

Masih ada lagi beberapa tindakan bedah yang memerlukan pemasangan alat pada tubuh pasien yang tidak tampak dari luar, apakah alat itu nantinya perlu diangkat  lagi ataukah tidak. Misalnya pemasangan fiksasi internal (plat, pen, screw dll) pada tulang yang patah, pemasangan lembaran mash pada hernia, pemasangan stant pada ureter, vp-shunt pada kasus hidrochepalus, alat pemicu jantung pada pasien jantungan dan lain-lain.

12 Responses to “Pemasangan Alat Medis pada Tubuh”

  • wahyudi:

    Dokter, untuk pemasangan vp shunt untuk mengeluarkan cairan pada anak usia 3 tahun 9 bulan itu bisa mengganggu perkembangan phisiknya ndak ? trus pemakaian vp shuntnya selamanya seumur hidup atau saat remaja bisa dicopot ?

    • @wahyudi; tidak sampai menggangu perkembangannnya, kebanding tdk dipasang. Alat itu tdk bermasalah jika dipasang seumur hidup tapi tentu akan dievaluasi berkala. Pernah ada kasus terjadi pembuntuan setelah si anak remaja, sehingga vp shunt nya diganti dgn yg baru, bukan sekedar dicopot saja.

  • cekidot:

    dok,kriteria pasien yang masuk icu dan yang boleh keluar icu apa hanya berdasarkan monitor yg merekam jantung? kadang pasien yg udah sadar(pasca operasi) belum boleh pindah ke ruang perawatan walaupun sudah sadar dan dapat berkomunikasi dg baik.

    Monitor di icu memantau apa aja sih dok?

    • @cekidot:
      Stabil yang dimaksud dan diukur adalah dari kesadaran, vital sign -termasuk status kardiovaskulernya-, pemantauan terhadap hasil operasinya -terutama terhadap produksi drain, kencing, tampungan ngt dll- serta fungsi organ lainnya, sperti pencernaa, fungsi pembuangan kemih dll…
      Jadi belum tentu dengan patokan pasien telah sadar saja, dokter berani memindahkan pasien dari HCU..

  • @vanquish :
    Jangan sampai lagi..!! Wah, di balik itu semestinya anda bersyukur juga… anda masih diberi kesempatan oleh Tuhan…
    Sekali lagi, saya bisa bayangkan bagaimana kritisnya anda saat itu…

  • vanquish:

    mengenai alat-alat medis tersebut, saya cerita kelanjutan komen terdahulu saya yg operasi apendiks.

    begitu saya sadar di icu stelah operasi, saya dimasuki 3 tancapan infus: kedua tangan dan kaki kiri (what the hell !!!) dan seingat saya utk infus tangan kiri ada infus pump dan kanan dua botol yg dicabang.

    dan yg paling MENYIKSA yaitu ketika infus tidak jalan maka posisi diganti… Dan tubuh saya yang tebal ini sangat sulit mencari nadi sehingga suster sampai 3 kali salah tusuk .:anjrit:. begitu juga utk pengambilan darah.

    Ah… Pengalaman yg tak terlupakan.
    Tapi gak mau lagi !!!