Sejak ditemukan endoskopi  di awal tahun sembilan puluhan,  perkembangan teknik bedah minimal invasif ini semakin luas digunakan untuk berbagai macam jenis operasi. Teknik bedah yang mengandalkan kamera, monitor dan beberapa alat bedah khusus ini, setidaknya dalam 5 tahun terakhir sudah banyak dipakai di rumah sakit rumah sakit besar di Indonesia. Bahkan untuk 3 tahun mendatang DepKes telah merencanakan penyediaan alat ini hingga ke berbagai rumah sakit daerah.  Dan untuk itu pelatihan menggunakan alat ini sekarang menjadi materi wajib dalam kurikulum pendidikan bedah di Indonesia.

Pembedahan minimal invasif  (minimal invasive surgery) memiliki pengertian bahwa jika dibandingkan dengan pembedahan konvensional dengan cara terbuka (open surgery) untuk menangani kasus yang sama, hanya diperlukan sayatan yang sangat minimal. Sehingga dengan teknik ini trauma atau kerusakan jaringan tubuh pasien dapat diminimalisir dan bekas luka operasi yang ditimbulkan di permukaan kulit pun sangat sedikit.

Teknik bedah ini dikerjakan dengan cara memasukkan alat ke dalam tubuh pada lokasi dekat dengan obyek organ yang dioperasi  melalui instrumen bersaluran yang hanya membutuhkan torehan di permukaan kulit 1- 2 cm saja. Melalui alat semacam pipa inilah dimasukkan kabel fiber optik yang memiliki kamera video di ujungnya dan terkoneksi dengan monitor yang ditempatkan tidak jauh dari pasien dan dokter operator. Dengan cara yang sama dan melalui lobang yang berbeda dimasukkan juga peralatan bedah lainnya yang berfungsi untuk memotong, menyisihkan, memegang atau pun menghentikan perdarahan. Kesemua pergerakan alat dalam tubuh pasien saat melakukan operasi ini dipantau lewat monitor.  Sehingga dengan demikian, disamping untuk keperluan diagnostik, melalui alat yang dimasukkan dengan cara yang sama pada  2 lokasi  berdekatan lainnya,  kegiatan operasi bisa dijalankan dibawah kendali tangan seorang operator.

Pada awalnya, penggunaannya terbatas untuk keperluan operasi di dalam rongga perut (laparoscopy). Tindakan sederhana yang bisa dikerjakan adalah mengangkat usus buntu (apendik), operasi kandung empedu, melakukan penutupan celah hernia dan penyisihan terhadap organ-organ yang mengalami perlengketan berat. Namun dalam perkembangannya teknik ini dipakai juga untuk operasi di bidang bedah saraf, bedah orthopedi, urologi, onkologi dan lainnya, termasuk untuk keperluan operasi organ kandungan dan THT. Saat sekarang teknik ini sudah dapat digunakan untuk operasi pengangkatan tumor yang besar di dalam perut, memotong dan menyambung organ saluran cerna.

Selain memiliki keunggulan mengurangi kerusakan jaringan tubuh, bedah minimal invasif terbukti juga mengurangi rasa nyeri, memperpendek waktu rawat di rumah sakit dan mempercepat masa pemulihan.  Dengan begitu, walaupun dari biaya tindakan operasinya lebih mahal, namun beberapa pengguna mengungkapkan bahwa biaya keseluruhan selama dirawat di rumah sakit ternyata dapat pula ditekan.

Resiko menjalankan teknik bedah invasif tetap saja ada, antara lain; perdarahan, infeksi, cedera organ dalam dan tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan pengalihan (konversi) ke bedah terbuka jika ditemukan kegagalan pada pembedahan cara ini.

14 Responses to “Bedah Minimal Invasif”

  • arven:

    salam kenal dokter. saya, perempuan, 31 thn, tinggal di denpasar. nah, stelah baca2 di internet, kemungkinan saya kena hernia femoral. jd dokter eka, jika saya dioperasi, biaya keseluruhan termasuk biaya dokter berapa ya? bisa tidak saya dioperasi dgn dokter eka ? no hp dokter boleh saya tau ? email saya bi_rose@yahoo.com

    makasih ya dokter

  • dewi:

    Dokter yth, anak perempuan saya usia 10 thn 8 bln. Sejak lahir dia punya kelainan pada telinga sebelah kirinya. Bentuk telinga tidak normal pada bagian bawah untuk pasang anting (bentuknya mengkerut seperti dijahit). Untuk kelainan seperti itu bisa dilakukan operasi supaya normal atau tidak dok. karena anak saya mulai merasa minder kalau telinganya terlihat orang lain. Kalau bisa operasi, dimana dan berapa perkiraan biayanya Dok? Terimakasih Dok.

  • amie:

    Dokter yth, ayah saya (68 th) operasi bypass jantung dan repair katup mitral 2 bln yll, saat ini mengalami orchitis dan hernia inguinalis. Saat ini dalam pengobatan untuk orchitisnya dan dikatakan hernia akan dioperasi bila orchitis sudah sembuh. Benarkah operasi hernia baru bisa dilaksanakan bila infeksi orchitis sudah sembuh ? karena ayah saya merasa sangat tidak nyaman dgn hernia nya juga dan rehabilitasi jadi terganggu. Apakah operasi hernia inguinalis ini bisa dgn teknik minimal invasif ? Terimakasih dok.

    • amie
      Jarang saya menemukan kasus hernia yang dibarengi dengan infeksi (orchitis). Jelaslah harus dihindari sejenis operasi hernia (operasi bersih) dilakukan di saat di dekat atau di bagian lapangan operasi sedang mengalami infeksi. Bisa saja hernia dioperasi dengan cara minimal invasif. Dan operasi hernia merupakan jenis operasi elektif -jika tidak dalam keadaan terjepit-. Sehingga janganlah terburu-buru. Menangani kondisi lain yang lebih penting justru akan mendatangkan hasil yg lebih baik..