Rasanya tidak lengkap kalau blog yang membicarakan masalah Bedah ini tidak memuat tulisan tentang prestasi dokter Bedah Indonesia yang telah mampu untuk pertama kalinya menjalankan pembedahan cangkok hati (liver transplantation). Padahal peristiwa berlangsungnya operasi itu sudah cukup lama namun sampai sekarang masih hangat diulas di media karena si pasien sendiri masih mengadapi beberapa kendala dan belum dinyatakan boleh pulang dari rumah sakit.
Adalah seorang anak umur 3,5 tahun bernama Ramdan –yang belakangan ternyata namanyapun diganti- menderita atresia billIer sebagai pasiennya. Penyakit ini merupakan bawaan yang menggambarkan tidak terbentuknya saluran yang menghubungkan hati (liver) dan pancreas dengan usus halus dimana didalamnya dialirkan empedu dan produk produk kimiawi liver lainnya untuk dibuang atau ditumpahkan ke sistem pencernaan. Jelaslah pada penderita ini jika tidak ditangani, lama kelamaan akan menyebabkan kerusakan pada liver/hati akibat produk yang semestinya dikeluarkan masih saja terendap di dalamnya. Dan mungkin selama ini di Indonesia sebagian besar penderita sejenis meninggal pada usia sangat muda.
Dengan bantuan dan bimbingan Tim Bedah dari Tianjin China operasinya memang berjalan sukses. Patut diberi apresiasi untuk Tim Bedah Surabaya dan tim pendukung lainnya. Namun ternyata masih meninggalkan beberapa hambatan pasca operasinya. Belum ada seminggu setelah operasi Ramdan mengalami perdarahan otak sampai dua kali yang diduga akibat obat obatan dan sebagain ahli menilai akibat infeksi jamur sebelumnya. Beberapa hari lalu sebelum cerita ini ditulis terjadi lagi perdarahan pada saluran cerna yang ternyata berasal dari cabang arteri dekat dengan saluran bilier yang masuk dan mengaliri dinding duodenum (usus halus). Kedua kejadian tersebut membutuhkan operasi lagi guna menyelesaikan masalahnya. Jadi seorang anak dengan kemampuan terbatas itu dalam kurun belum 3 minggu sudah menjalani operasi hingga 4 kali… Bayangkan! Sesuatu yang membutuhkan pengawasan sangat ekstra ketat bagi semua tim medis; bidang bedah, anasthesi, anak, intensifie, dan lain-lain.
Jadi begitulah, pasti juga para pakar telah mengantisipasi sebelumnya akan kemungkinan yang terjadi pasca operasi prestisius ini (untuk ukuran di Indonesia). Apa yang terjadi sekarang telah juga membuktikan bahwa tidak selamanya hitang hitungan yang telah dirancang oleh orang hebat sekali pun berjalan sesuai rencana. Dan kembali ke bidang pembedahan itu sendiri, keadaan serta persiapan pembedahan seorang pasien, apalagi jenis pembedahan sangat beresiko, betul betul membutuhkan kondisi yang paling prima yang bisa dicapai. Untuk Ramdan, disamping faktor usia, keadaan fisik yg buruk sebelumnya juga menjadi pemicu terjadinya komplikasi lain pasca operasi ini.
Semoga saja para senior kita bisa mengatasi permasalahan ini. Dan barang tentu ini menjadi pembelanjaran sangat berharga khususnya bagi kasanah pakar Bedah di Indonesia. Mari kita doakan agar bacah Ramdan –yang nama barunya; Slamet Hadi Syahputra- betul betul selamat dan dalam keadaan sehat pulang dari rumah sakit. Semoga!


merinding membaca postingan ini, seorang anak kecil sudah mendapat ujian seperti ini. bersyukurlah kita semua, karena Tuhan masih memberikan nikmat sehat untuk kita semua. Kita doakan semoga Ramdan lekas sembuh. Amin…