Suatu saat di Henry Ford Hospital akan menjalankan prosedur operasi yang cukup lama. Mengangkat tumor ganas dari ginjal seorang pasien laki laki. Satu pembedahan yang sangat beresiko, tapi segala sesuatunya dipersiapkan dengan matang. Semua peralatan yang diperlukan telah siap pada tempatnya, antisipasi komplikasi sudah pula diperhitungkan dan semua team yang terlibat dalam posisi stand by. Satu laptop di dalam kamar operasi oleh petugas lain siap meng update perjalanan pembedahan secara online dengan bantuan jejaring sosial; Tweeter!
Begitu juga pernah dilakukan Jewish Hospital Hand Care Center di Louisville, dari dalam kamar operasinya secara berkala meng-tweet setiap tahap prosedur suatu pembedahan implantasi tangan.
Terutama untuk ketenangan keluarga, atau untuk kepentingan pendidikan atau hanya sekedar informasi, pemanfaatan jejaring sosial ini merupakan cara yang cukup efektif mendekatkan seorang dokter Bedah dengan pihak lain yang membutuhkan informasi seperti itu. Sekalipun tidak sang dokter sendiri yang menekan langsung tombol keyboard komputer saat dia sedang bekerja. Tentu mesti dibantu oleh asistennya yang memang mengerti juga soal prosedur atau momen momen penting dalam satu proses operasi.
Jadi, Tweeter masuk ke ruang steril kamar operasi, mengapa tidak?
Selain untuk berinteraksi sosial, memang Tweeter yang memanfaatkan pesan pendek dalam 140 karakter itu dengan aksesnya yang relatif lebih cepat dibandingkan jejaring sosial lainnya, sangat cocok digunakan untuk melaporkan perkembangan suatu keadaan secara berkala. Melalui timeline di fiturnya itu si penerima informasi dapat dengan runut mengikuti perkembangan situasi dari satu tweet ke tweet berikutnya. Termasuk juga mensisipkan gambar jika diperlukan. Maka cara ini sudah pula di beberapa tempat digunakan untuk melaporkan sesuatu yang dibutukan banyak orang, seperti situasi kemacetan lalin, jadwal perjalanan jasa transportasi, laporan langsung dari tkp dan lain lain.
Sehingga wajar pula penulis mulai belajar nge-tweet sekalipun sudah jauh terlambat dibanding dokter yang lain..:)


Kalopun kelak dokter kita dan tentu saja dokter Eka bakalan ngeTweet terkait prosedur pembedahan, ada baiknya menggunakan dua bahasa. Satu, Bahasa medis yang barangkali hanya dapat dipahami oleh sesama dokter, satu lagi bahasa yang dapat dipahami awam. karena saya yakin, awam pasti akan tertarik dengan apa yang Dokter Tweet-kan
@Pande; sepertinya apapun profesi itu jk proses suatu kegiatan dibutuhkan unt diketahui oleh bnyk orang, ngetweet bs menjadi solusi hehe… Trims kunjungannya!
mungkin perlu dibuat satu spesialisasi baru, Sp.JS (K) alias spesialis jejaring sosial konsulen… he he…
@mikhael; hehehe.. Boleh jg. Btw, trims atas kunjungannya.