Archive for the ‘Pre-Operatif’ Category
Walaupun saat ini ada berbagai cara berkomunikasi antara dokter dan pasien, antara lain dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi, seperti lewat media masa atau secara online melalui internet,tetapi tetap masih diakui dan
dirasakan bahwa berkomunikasi secara langsung lebih memiliki nilai tinggi dalam hal obyektifitas serta rasa kemanusiaannya. Sehingga masih akan tetap dibutuhkan. Maka oleh karena itu banyak pihak yang menilai kwalitas layanan seorang dokter, salah satu indikatornya adalah dari cara dokter itu berkomunikasi dengan pengguna jasanya. Namun pada kenyataannya tidak semua dokter bisa berkomunikasi sesuai harapan pasien. Ada berbagai macam kendala yang para dokter hadapi ketika mereka berkomunikasi dengan pasiennya. Dilihat dari hambatan-hambatan tersebut didapatkan intinya terdiri dari 3 unsur utama, yakni waktu yang tersedia untuk menjalankan suatu komunikasi, gaya berkomunikasi dan isi komunikasi atau pembicaraan tersebut.
Menilai dari cara berkomunikasi seorang dokter, baik secara verbal atau pun diiringi dengan bahasa tubuh, setidaknya dapat digolongkan dalam 4 tipe;
- Dokter yang tidak memiliki waktu dan tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik. Menghadapi dokter semacam ini yang paling sulit. Jangankan menjelaskan keadaan penyakit kepada seorang pasien, untuk bertutur sapa dengan sesama dokter pun mereka terasa mempunyai hambatan. Biasanya dokter tipe ini tidak memiliki banyak pasien, kecuali ia berkemampuan lebih dan masih langka kehadirannya di suatu komunitas tertentu.
- Dokter yang bisa berkomunikasi tapi tidak cukup memiliki waktu. Kelompok dokter ini biasanya sangat sibuk, baik oleh karena pasiennya yang banyak ataupun tugas pekerjaan di luar keprofesiannya menuntut mereka untuk menggunakan waktu seefektif mungkin. Tidak semua pasien puas dengan gaya dokter jenis ini. Boleh jadi kemampuannya dalam menyembuhkan pasien terkenal hebat, tapi mungkin saja sebagian pasien merasa kecewa karena tidak ada kesempatan untuk menanyakan sesuatu atau merasa tidak mendapat sentuhan optimal di saat sang dokter menjalankan pemeriksaan fisik. Kebanyakan dokter di Indonesia menjalankan prakteknya tidak membatasi jumlah pasien. Sedangkan di luar negeri, seorang dokter dalam menjalankan tugasnya di praktek atau poliklinik rawat jalan, waktu menjadi patokan utama. Sehingga jika waktu untuk seorang pasien (biasanya 20 – 30 menit) belum selesai, si dokter meminta pertanyaan lagi dari si pasien menyangkut hal-hal yang belum jelas. Dengan demikian kwalitas layanan terhadap seorang pasien memang terjaga betul.
- Dokter dengan gaya berkomunikasi formal. Dimana pasien semata-mata menjadi obyek dari interaksi yang dibangun. Penuh dengan bahasa serta istilah medis, cenderung arus komunikasi satu arah, mendominasi pembicaraan dan terkadang bahkan ada kesan memarahi dalam memberikan nasehat ke pasien. Biasanya untuk golongan pasien yang tidak kritis, jenis dokter ini masih bisa diterima dengan baik. Cukup sudah dengan diberitahu sakitnya, diberi obat dan syukur-syukur sembuh, pasien sudah puas. Sekali pun mungkin saja ada rasa tertekan atau takut menghadapi dokternya.
- Dokter yang memiliki waktu dan kemampuan berkomunikasi yang baik. Dokter jenis ini berusaha membina hubungan dengan pasiennya secara lebih terbuka, tidak selamanya formal, berempati, menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti pasien serta lebih memberikan waktu kepada pasien untuk mengungkapkan sesuatu. Dokter type ini biasanya memiliki kemampuan bersosialisasi lebih tebal dibanding yang lain. Memang dokter yang sejenis ini yang ideal dan banyak disenangi pasien. Tapi golongan ini masih bisa dibedakan lagi antara yang bergaya terlampau bersahabat hingga cenderung membuat mereka kurang teliti serta dalam memberikan penjelasan kurang mengedepankan sisi ilmiahnya, namun ada yang mampu mengkombinasikan kemampuan berkomunikasi serta penguasaan ilmu dan ketrampilannya dengan baik sehingga memiliki kharisma dan talenta yang baik pula. Yang mana menjadi pilihan pasien? Tentu berpulang pada kecocokan serta kebutuhan masing-masing pasien tersebut. Ada yang bilang, dengan dilihat dan disentuh saja oleh dokter A, seorang pasien sudah merasa dirinya sembuh.
Tahukah anda bahwa pembedahan itu memiliki tujuan yang berbeda-beda. Pada satu tahap pembedahan pasti memiliki satu tujuan yang harus dicapai;
Kuratif. Pada umumnya tujuan inilah menjadi harapan banyak Read the rest of this entry »
Selain mempersiapkan mental, waktu dan biaya, pembedahan berencana juga mewajibkan pasien untuk menyiapkan kondisi fisik demi lancarnya operasi yang akan berlangsung. Read the rest of this entry »
“Dok.. apa tidak bisa saya dibius supaya gak sadar, karena saya takut dioperasi…?!”. “Apa tidak berbahaya tuh anak saya kalau dibius total…?”. “ Tidak bisa bius lokal nih dok, agar hemat biaya..?”. “Kok saya mesti puasa sebelum operasi?” Pertanyaan pertanyaan semacam itulah umumnya yang diungkapkan penderita dalam persiapannya akan menjalani operasi. Pembiusan dan pembedahan merupakan satu rangkaian yang tidak bisa terpisahkan. Itulah sebabnya kenapa suatu tindakan pembedahan yang dikerjakan di kamar operasi memerlukan kerja sama team yang kompak dengan keterlibatan team bedah dan team anasthesi, baik dokter maupun asistennya. Ada beberapa pilihan pembiusan atau anastesi yang dapat diberikan ke seorang penderita. Tapi pilihan ini tidaklah ditentukan oleh si penderita, melainkan ditentukan berdasarkan berbagai alasan medis.
Bagi seorang dokter Bedah yang berperan sebagai operator pasti menginginkan kondisi pembiusan yang prima saat ia menjalankan pembedahanya. Tidak hanya sekedar bebas nyeri namun juga ketenangan pasien serta relaksasi atau lemasnya otot-otot yang berada di sekitar lapangan operasi. Keadaan seperti itu didapat pada jenis pembiusan total atau general anesthesia. Namun tidak semua kasus bedah sebaiknya dikerjakan dengan bius total. Akan ada pertimbangan pilihan lain yang relatif resikonya lebih ringan. Belum lagi didasarkan atas pertimbangan pembiayaan, kondisi persiapan preoperatif pasien dan kecepatan pulih yang diinginkan. Misalnya, mengangkat tahi lalat di tangan pada seorang dewasa, tentu lebih tepat menggunakan bius lokal, karena resiko pembiusannya ringan, tidak perlu persiapan khusus, waktu pulih cepat dan biaya murah.
Secara umum ada 3 jenis pembiusan, yakni pembiusan total, regional dan lokal. Pembiusan total atau bius umum dikerjakan dengan cara memasukan obat melalui inhalasi –hirup udara yg mengandung gas anasthesi- atau bisa dengan memasukkan obat melalui pembuluh darah vena (intravenous). Karena pasien tidak sadar, sangat diperlukan sekali jaminan saluran nafas agar senantiasa terbuka, tidak terhalang sehingga oksigen dapat leluasa masuk ke paru-paru. Bila diperlukan dapat dipasang semacam tube atau pipa ke dalam tenggorokan untuk menjaga saluran nafas tersebut. Dengan alasan ini juga pasien dicegah muntah agar bahan muntahan tidak masuk ke dalam saluran nafas. Sehingga wajib bagi pasien yang akan dibius total untuk berpuasa, setidaknya 5 jam sebelum pembiusan bagi pasien dewasa. Karena obat yang diberikan bekerja secara sistemik, resikonya pun lebih tinggi dibanding cara pembiusan yang lain. Bius regional dilakukan dengan cara memblok kerja saraf yang melayani bagian tubuh yang akan dioperasi. Keseringan diterapkan blok spinal dengan memasukkan obat ke dalam sumsum tulang belakang untuk mengerjakan operasi di perut bagian bawah sampai tungkai bawah. Ada juga cara dengan memblok pleksus (kumpulan serat saraf) untuk melakukan operasi di bagian lengan tangan ke bawah. Sedangkan pembiusan lokal yang resikonya paling rendah terbatas hanya bisa diterapkan pada jenis operasi kecil, sayatan dan kedalaman lapangan operasi yang tidak luas dan obat cukup disuntikkan di sekitar areal permukaan tubuh yang akan dioperasi. Efek obat menghilangkan sementara kerja saraf sensoris yang menlingkupi areal tersebut.
Bagi seorang dokter anasthesi pemilihan jenis bius disamping mempertimbangkan faktor sosial tadi, yang lebih penting adalah pertimbangan medis, seperti ; umur, gangguan atau penyakit lain yang menyertai satu kasus bedah, di bagian tubuh mana lokasi pembedahan akan dikerjakan termasuk kemungkinan faktor penyulit yang bisa mengganggu proses berlangsungnya pembedahan dan prediksi waktu yang diperlukan untuk operasi tertentu. Resiko pembiusan yang harus dipertimbangkan ini tidak saja yang mungkin berdampak pada proses berlangsungnya pembedahan tapi juga dampak terhadap kondisi penderita setelah selesainya operasi tersebut. Maka menurut klasifikasi American Society of Anaesthesiologist (ASA), keadaan fisik pasien preoperatif dikatagorikan sesuai tingginya resiko, menjadi ASA I sampai ASA V. Katagori inilah yang umum diguankan oleh team anasthesia untuk memperkirakan kemungkinan hasil operasi dan tentu sebagai bahan permakluman kepada keluarga pasien saat memberikan Informed Consent atau Surat Persetujuan Tindakan Medik (SPTM).
Musik menjadi bahasa universal yang bisa dinikmati oleh semua orang, dari bayi sampai ke orang tua. Aktifitas hidup terasa hambar, tidak bergairah dan tak berwarna tanpa ada musik. Musik bisa dipakai sebagai sarana apresiasi, hiburan, gaya hidup, bisnis, penyeimbang dan sebagai therapy. Musik untuk kesehatan? Ya…! Sudah banyak yang merasakan hal ini. Banyak juga kemudian yang mempraktekkan dan akhirnya hubungan ini pun diteliti untuk dapat diterangkan serta dibuktikan secara ilmiah. Lalu bagaimana hubungan antara musik dan pembedahan..?
Bagi yang sudah pernah masuk ke dalam kamar operasi atau bahkan menjadi pasien yang harus tergeletak di atas meja operasi dalam keadaan sadar, mungkin pernah mendengar dan merasakan musik yang sengaja disuguhkan sebagai pelengkap di tengah-tengah aktifitas pembedahan itu sendiri. Banyak hal positif yang diharapkan terhadap kehadiran suara dengan nada, volume dan ritme tertentu ini. Paling tidak dari orang yang suka mendengarnya menjadi terhibur, yang akhirnya secara obyektif dapat berdampak terhadap kondisi tubuh seseorang saat itu. Musik akan mempengaruhi gelombang dalam otak kita menyebabkan daya berpikir dan ketajaman berkonsentrasi lebih tinggi. Penelitian pada pengaruh ini juga menyebutkan bahwa pada gelombang nada rendah seseorang dapat berada pada level ketenangan untuk bisa melakukan meditasi secara baik. Musik juga akan mempengaruhi ambang munculnya stress dan tekanan psikis lainnya, menyokong terjadi relaksasi otot dan menekan emosi. Sehingga musik juga dapat dimanfaatkan untuk mengurangi kecemasan dan rasa takut. Di samping itu, penelitian juga telah membuktikan bahwa dengan musik kondisi vital seseorang mampu dipengaruhi dan diperbaiki yang dapat diukur secara obyektif. Pengukuran itu mencakup denyut nadi, tekanan darah, kadar cortisol dan ephineprin –suatu enzim tubuh yang cenderung meningkat pada seseorang yang mengalami gejolak fisik mapun mental-.
Dengan begitu maka akan sangat bermanfaat jika musik itu diperdengarkan untuk pasien yang akan menjalani pembedahan. Oleh karena penikmatan musik bersifat subyektif dan personal, berbeda satu dengan orang yang lain, maka penggunaan semacam alat digital portable music player yang dilengkapi head-set untuk para pasien mungkin lebih tepat. Selain karena bisa diatur sendiri sesuai selera masing-masing, penggunaan headset juga menutup pendengaran pasien dari hal-hal yang memang tidak perlu dan tidak sepatutnya didengar di sekitar lingkungan kamar operasi. Dan dengan alat ini pula pasien bisa menggunakannya pada persiapan sebelum pembedahan dikerjakan, pada saat proses pembedahan (bagi pasien sadar yang menggunakan block spinal anasthesi) maupun pada fase pemulihan di ruang recovery.
Tidak kalah faedahnya, musik bermanfaat juga bagi petugas di lingkungan kamar operasi. Terutama oleh dokter bedah yang terlibat langsung dan memerlukan ketenangan dalam menjalani pekerjaannya. Sehingga tidaklah berlebihan kalau di dalam kamar operasi dilengkapi pula dengan audio dan sound system yang intinya bisa dimanfaatkan untuk menciptakan suasana nyaman, mengurangi kepenatan kerja, dan memberi hiburan bagi mereka yang menggemarinya…..

