Archive for the ‘Pre-Operatif’ Category
Tidak jarang terjadi dugaan yang salah mengenai biaya operasi dikaitkan dengan pendapatan atau honor yang diterima oleh seorang dokter bedah. Biasanya dihubungkan antara biaya operasi yang tinggi dengan mahalnya jasa dokter yang menanganinya. Padahal tidak selamanya korelasi itu benar. Persepsi ini tidak terbatas hanya pada pandangan dari pasien atau khalayak kebanyakan saja, terkadang dokter sendiri pun meleset jauh dalam memprediksi biaya yang dibutuhkan untuk suatu penanganan bedah tertentu. Misalnya hal ini terjadi ketika seorang dokter di kamar praktek memberi penjelasan ke pasiennya yang akan mempersiapkan diri untuk menjalani operasi di rumah sakit. Sehingga beberapa kali pernah terjadi, pasien yang sudah datang ke rumah sakit swasta oleh rujukan seorang dokter bedah, mengurungkan niatnya untuk menjalani operasi lantaran merasa belum cukup memiliki uang setelah mendapatkan penjelasan pembiayaan dari rumah sakit yang bersangkutan. Kenapa bisa?
Jika dilihat dari biaya tindakan saja, mesti banyak komponen yang termasuk di dalamnya. Selain honor untuk dokter operator dan dokter anasthesi, akan termasuk juga honor untuk tim yang lain yakni asisten bedah dan asisten anasthesinya. Ada juga beberapa rumah sakit memasukkan biaya penggunaan kamar operasi menjadi komponen tersendiri. Dan pada beberapa kasus akan dikenakan juga pembiayaan terhadap penggunaan alat, seperti plate internal fiksasi pada kasus patah tulang, pipa drainage pada kasus hidrocepalus, pemasangan mesh pada hernia dan contoh pemasangan alat lainnya yang ditanamkan di dalam tubuh pasien. Dari tindakan bedah ini pula kemudian dikenal beberapa kriteria atau golongan operasi yang berpengaruh terhadap harga operasi itu sendiri. Ada yang disebut operasi ringan, sedang, berat, extra berat, khusus dan jenis operasi emergensi atau operasi elektif. Tingkatan atau golongan jenis operasi ini biasanya sudah ditetapkan berdasarkan aturan tersendiri yang disusun oleh organisasi profesi dan pemerintah.
Yang membuat pembiayaan perawatan di rumah sakit mahal, selain karena tindakan operasinya juga karena pembiayaan obat-obatannya. Apalagi bagi pasien yang harus dirawat dalam waktu lama. Obat injeksi, infus, obat pengganti nutrisi parenteral dan obat-obat khusus lainnya terkadang jatuhnya lebih mahal dari pembiayaan operasi yang dijalani pasien. Belum lagi termasuk biaya alat kesehatan, seperti pemakaian infuse set, spuite injeksi, kateter air kemih, pipa nasogastrik, pipa drainage dan lain-lain. Pembiayaan akan bertambah mahal jika pasien harus dirawat di ruang intensif atau HCU. Mahal oleh karena jasa pelayanannya yang memang lebih ekstra, biasanya juga ditambah oleh karena penggunaan obat-obatan yang sudah tentu lebih banyak jenisnya, dibandingkan pasien yang tidak dalam kondisi kritis yang dapat dirawat di ruang perawatan biasa. Bertambah mahal lagi kalau kemudian si pasien harus menggunakan alat khusus, seperti ventilator (alat bantu nafas).
Komponen lain di luar tindakan bedah yang perlu juga diperhatikan karena akan berpengaruh pada biaya total perawatan seorang pasien di rumah sakit, adalah biaya pemeriksaan penunjang diagnose seperti pemeriksaan laboratorium, rontgen, ultrasonografi, pemeriksaan patologi dan semakin mahal kalau harus melalui tahap pemeriksaan canggih seperti CT scan, MRI, endoscopy dan lain-lain. Namun dari jenis pembiayaan itu, ada komponen biaya yang telah bisa diprediksi sebelumnya, meliputi harga kamar, biaya keperawatan, visite dokter dan biaya administrasi.
Jadi, kalau ada anggapan bahwa operasi yang mahal itu dikarenakan oleh honor dokter bedahnya yang tinggi, mungkin itu keliru. Barangkali yang lebih tepat, biaya operasi yang tinggi memberikan dampak ongkos yang lebih juga pada operatornya. Sebab dari cerita di atas, honor seorang dokter operator bisa jadi tidak lebih dari 20% dari biaya tindakan operasi. Apalagi dibandingkan dengan pembiayaan total perawatan pasien di rumah sakit, porsinya tentu jauh lebih kecil dari angka itu. Dan realitasnya, honor yang diterima seorang dokter operator akan juga terpotong oleh pajak. Belum lagi kalau dokter itu seorang dokter swasta yang bekerja berdasarkan kontrak yang mengharuskan honornya dibagi untuk pihak rumah sakit sampai sepertiga bagian bahkan lebih. Sehingga sebetulnya bisa dibayangkan, tidak selalu biaya mahal suatu penanganan kasus bedah sejalan dengan mahalnya upah/honor yang diterima dokter bedahnya…
Beberapa kali kejadian dengan kasus tertentu di rumah sakit, perhatian dokter dan para petugas medis sering kali luput terhadap kebutuhan pasien akan cairan, elektrolit dan nutrisi. Ini biasanya terjadi pada pasien tertentu yang dirawat karena sesuatu keluhan yang tidak menunjukkan perbaikan setelah beberapa hari perawatan atau pun pada pasien yang baru datang setelah mengalami keluhan beberapa hari sebelumnya. Sebetulnya hal ini termasuk masalah sepele dan sangat yakin semua dokter sudah mendapat ilmunya tentang hal ini. Namun sekali lagi, karena lebih terfokus perhatian dokter terhadap kejadian penyakitnya justru hal-hal kecil ini kurang diperhitungkan sehingga dampaknya dapat menimbulkan sesuatu efek yang fatal terhadap pasien. Tulisan ini juga ditujukan kepada pasien maupun keluarga sebagai pengetahuan, siapa tahu nantinya bakalan pernah menghadapi hal yang sama.
Kejadian tersebut sering terjadi pada pasien yang dirawat karena muntah-muntah, diare, kelainan yang menyebabkan pasien untuk berpuasa atau sengaja dipuasakan, gangguan pada sistem pencernaan, kelainan jantung, ginjal, paru atau yang lainnya dimana pemberian cairan infus terkadang terlampau berhati-hati atau pada pasien-pasien yang berumur ekstrim –pasien bayi maupun pasien tua-. Pada kasus bedah kejadian kekurangan nutrisi lebih sering ditemukan pada penderita pasca operasi yang membutuhkan perawatan lama atau memang sudah didasari kondisi preoperatif yang dialami sebelumnya. Biasanya, jika pasien sampai terpaksa harus dirawat di ruang intensif, dokter anasthesi atau intensifis sudah sangat fasih memperhatikan keadaan ini. Namun masalah muncul, kalau kondisi kekurangan ini sudah terjadi sebelum masuk ruang ICU, apalagi dalam situasi yang susah untuk dikembalikan atau diperbaiki (irreversible).
Padahal tidak sulit untuk mengetahu seseorang pasien itu jatuh pada kondisi dehidrasi (kekurangan cairan). Bisa dilihat dari penampakan kulit, keadaan kering pada mulut atau bibir dan yang lebih parah lagi mata akan tampak lebih cowong. Sayangnya kalau gejala yang ditimbulkan pada kondisi yang telah parah, seperti kejang, gangguan fungsi jantung, kesadaran menurun atau terjadi kegagalan fungsi ginjal yang akut dianggap sebagai suatu penyakit berdiri sendiri, tanpa ditelusuri bahwa dehidrasi itulah penyebab utamanya. Begitu juga terhadap penyembuhan luka, baik yang telah dilakukan operasi maupun tidak, sangat juga ditentukan oleh status nutrisi penderita, terutama komposisi proteinnya. Dan tidak jarang keadaan kekurangan cairan, elektrolit dan nutrisi ini saling berkaitan. Guna menanggulangi ketidakseimbangan ini salah satunya dengan cara pemberian cairan infuse, selain memberikan secara langsung makanan dan minuman untuk dikonsumsi pasien. Itu juga mengapa tersedia berbagai jenis cairan infus yang pada prinsipnya berguna untuk menggantikan kekurangan cairan, elektrolit dan nutrisi (parentral nutrisi).
Kekurangan atau kecukupan cairan dapat dilihat dari kondisi pasien dan secara obyektif bisa dinilai dari produksi urine, jika memang tidak ada kelainan berkenaan dengan ginjal dan salurannya. Sedangkan untuk mengetahui kadar nutrisi dan elektrolit secara obyektif bisa terlihat dari pemeriksaan laboratorium, misalnya pemeriksaan kandungan albumin dan Natrium/Kalium dalam darah. Secara normal tubuh seorang dewasa memerlukan cairan sekitar 2,5 liter per hari. Dan produksi urine yang baik jika berkisar antara 0,5 sampai 2cc/kgBB/jam. Sedangkan keadaan nutrisi secara aplikatif lebih banyak berhubungan dengan pengukuran kebutuhan kalori seorang penderita. Tubuh pada orang dewasa rata-rata memerlukan 1500 sampai 2000 kkal per hari yang idealnya kebutuhan itu didapat dari lebih kurang 60% karbohidrat, 25% lemak dan 15% protein. Maka dengan demikian pemberian jenis cairan dan nutrisi parenteral beserta seberapa banyak volumenya menjadi suatu yang membutuhkan perhitungan juga.
Jadi biasakanlah perhatian kita terhadap hal tersebut di atas pada keadaan-keadaan seperti; pasien yang dirawat berkelamaan, pasien yang datang dengan kondisi lemah dan pasien yang sudah lanjut usia.
Kalau sudah punya duit, membuat wajah atau bentuk badan tambah cantik pada jaman saat ini sudah tidak masalah. Maka jangan heran, kalau sudah jadi artis, paras cantik bisa lebih cantik lagi. Apalagi yang awalnya memiliki penampilan sekedar alakadar bisa berubah berbinar menjadi luar biasa. Kecuali modal kekurangannya itu memang menjadi bahan dagangan yang laku dijual, seperti pada si Budi Handuk. Bahkan ada artis yang hingga puluhan kali mempermak bentuk dirinya demi obsesi mencari kesempurnaan fisik. Bagi kaum profesional yang bergerak di bidang jasa seperti itu, rupanya akan tetap dicari dan diminati. Maka, terbatas pada ruang lingkup Bedah terutama Bedah Plastik, Bedah Estetik sekarang ini menjadi trend untuk dipelajari. Selain mendatangkan honor yang lumayan, juga kasus yang ditangani relatif tidak berat, tidak sampai menimbulkan resiko mematikan pada pasien dan dapat dikerjakan pada kondisi nyaman, non emergency. Namun diakui untuk hasil terbaik memang dibutuhkan art dalam sentuhan pembedahannya.
Berkembanglah apa kemudian disebut dengan Cosmetic Surgery, Esthetic Surgery atau lebih mengkhusus lagi Face Plastic Surgery. Penanganannya ada yang membutuhkan tindakan pembedahan dan ada yang tidak perlu dengan pisau bedah yang bisa pula ditangani oleh seorang Dermatologist, seperti injeksi botox, mesotherapy, perawatan kulit dan lainnya. Pembedahan untuk memperbaiki penampakan ini bisa dikerjakan dari rambut hingga ke bawah; wajah, leher, dada atau payudara, perut, pinggul, kelamin hingga paha dan kaki. Pada rambut, operasi estetik yang bisa dikerjakan adalah menanam rambut; Hair Transplant Surgery. Pada kecantikan mata bisa dilakukan bedah Blepharoplasty untuk mengurangi kekenduran kulit pada kelopak bawah, mengangkat kelopak mata atas untuk kasus ptosis (jatuhnya kelopak mata) dan memperlebar celah mata. Pembedahan pada hidung –Rhinoplasty- ditujukan agar lebih mancung dan memperbaiki lekukan lobang hidung. Pada bibir, dibentuk sedemikian rupa agar tampak lebih sensual dan bisa juga mempersempit celah mulut yang terlalu lebar. Begitu juga pada dagu, rahang, pipi beserta lesung pipit. Pada kulit wajah serta leher sebagian atau keseluruhan dapat dikencangkan sehingga tidak tampak kerutan dengan mengangkat bagian kulit yang kendur. Teknik ini bisa juga dikerjakan dengan mengimplantasi sejenis wire halus yang disisipkan di bawah kulit. Yang lebih advance lagi dalam mempermak bentuk wajah adalah apa yang disebut dengan Facial Feminization Surgery (FFS) yakni pembedahan untuk lebih menmpakkan kesan feminim, yang operasi ini terutama diminati oleh kaum waria. Pada payudara, bedah estetik terutama ditujukan untuk mengangkat payudara yang telah lepek (Breast Uplift) atau bisa juga memperbesar bentuk (Breast Augmentation) agar kelihatan lebih seksi. Dikerjakan dengan menanamkan bahan silicon di bagian bawahnya. Untuk mengurangi tumpukan lemak pada perut maupun bagian tubuh lainnya, biasa dilakukan liposuction (penyedotan jaringan lemak) disamping cara bedah terbuka (Abdominoplasty). Sedangkan pada alat kelamin, ada pembedahan yang disebut Vaginoplasty untuk mempercantik bentuk vagina, dan ada pula operasi yang bertujuan mengganti penampakan anatomis dari kelamin laki ke wanita atau sebaliknya. Dan masih banyak lagi prosedur pembedahan yang lain. Pendek cerita, tubuh kita diibaratkan boneka lilin yang bisa dibentuk di sana sini. Itulah kecanggihan pembedahan modern.
Bagaimana tingkat keberhasilannya? Yang pasti, penanganan pertama menjadi kunci keberhasilan bedah ini. Jika tidak pas pada sentuhan awalnya, bisa jadi apa yang ingin dibentuk sebelumnya menjadi rusak dengan terpaksa merevisi beberapa kali, kecuali prosedur itu memang dirancang untuk dikerjakan lebih dari satu tahap operasi. Dan sekali pun jenis operasi plastik ini sebagian besar tidak membutuhkan rawat inap (out patient – langsung bisa pulang pasca operasi), justru perawatan dan kedesiplinan diri setelah menjalani operasi menjadi hal yang sangat harus diperhatikan. Misalnya bagaimana pasien harus menjaga diit dan tetap berolahraga teratur pasca operasi liposuction. Bagaimana juga menjaga kerutan wajah, tidak sedih, marah ataupun tertawa berlebihan untuk beberapa minggu setelah menjalani facelift surgery. Atau bagaimana cara merawat rambut dan menghindari kontak sinar matahari langsung pada pasien yang telah dilakukan operasi penanaman rambut dan operasi pada bagian wajah lainnya.
Adakah yang berminat menjadi pasien untuk merubah penampilan? Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri, rata-rata di kota yang sudah ada dokter Spesialis Bedah Plastik yang berpraktek, bisa melakukannya. Ada beberapa dokter Bedah Estetik yang telah terkenal seperti di Surabaya, Bandung dan Jakarta. Tapi kalau ingin ditangani oleh dokter dari luar, bisa mencari di Singapore, Thailand atau sekalian ke Brazil, atau pun rumah sakit dan klinik kecantikan ternama di tempat lain yang telah mempunyai reputasi tersendiri. Di sana akan tersedia price list-nya juga di setiap macam tindakan bedah. Lalu berapa besar ongkos untuk mendapatkan pelayanan ini? Memang soal harga, relatif! Tapi bagi yang betul-betul ingin mempercantik diri, kepuasan yang didapat tidak terukur dengan besarnya uang yang dibayar. Yang jelas jutaan, bisa 10 hingga 50 juta rupiah bahkan lebih …!!
Kerena selain mahal, beresiko tinggi untuk gagal dan banyak praktek klinik kecantikan illegal, maka sebelum memutuskan untuk mempercantik diri dengan cara memanipulasi bagian tubuh anda ini, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan;
- Pastikan diri anda tidak mengidap penyakit Diabetes, gangguan vaskuler (pembuluh darah) dan penyakit kronis lainnya.
- Ketahui lebih jauh dokter yang akan menangani anda, reputasi dan track record-nya.
- Pilih rumah sakit atau klinik yang sudah berpengalaman, legal dan mempunyai dukungan fasilitas dan tenaga yang memang expert di bidangnya.
- Pahami terlebih dulu apa yang akan dikerjakan di bagian tubuh anda; persyaratan, persiapan, resiko dan perawatan pasca operasinya.
- Pertimbangkan sekali lagi, apa sebetulnya tujuan anda menjalani therapy ini. Kalau masih ragu dan tidak ada alasan kuat, lebih baik jangan, dibandingkan timbul masalah di kemudian hari.
Tulisan ini bermaksud untuk bercerita bagaimana kegiatan di kamar operasi terutama oleh para pelaku tindakan bedah yang tatacaranya sudah diatur sedemikian rupa yang bertujuan supaya perlindungan dan keselamatan pasien tetap terjaga. Bagi yang ingin tahu silakan terus membacanya, bagi sejawat dokter dan paramedis hal ini menjadi aturan untuk perlu diingat kembali –siapa tahu ada kesempatan masuk ke areal itu kembali-, tapi bagi adik-adik dokter muda yang akan belajar dan magang di kamar operasi cerita ini wajib diketahui.
Sebelum masuk areal substeril di lingkungan kamar operasi, pakaian yang sebelumnya digunakan harus diganti dengan gaun khusus di ruang ganti yang telah disiapkan. Pakaian kamar operasi ini lengkap menggunakan topi khusus, masker hingga ke alas kaki yang bertujuan untuk menjaga penularan dari atau pun mungkin bisa mengenai si pemakai. Ada areal areal tertentu dimana aktifitas masih diijinkan tanpa menggunakan tambahan gaun steril, tapi mendekati areal 1 mesti hati-hati karena sentuhan bahkan kontak sesingkat dan sesedikit apapun dengan benda dan bahan bahan steril sudah harus dianggap bahan dan alat itu tidak lagi boleh dipakai untuk kegiatan operasi sebelum disteril ulang.
Di saat tim pelaksana pembedahan (operator, beberapa orang asisten dan petugas instrumen) akan menjalankan tugasnya, mereka harus menyiapkan diri secara khusus. Selain membantu menyiapkan posisi pasien di atas meja operasi, menyiapkan alat alat yang dibutuhkan, maka sebelum masuk ke areal 0 (nol) –areal lapangan operasi, di tubuh pasien- diwajibkan mensterilkan tangan terlebih dulu. Cara mencuci tangan ini pun ada tatacaranya. Yang paling banyak digunakan misalnya prosedur dari Fuerbringer, yakni menggunakan bahan disinfektan dan sikat, tangan disikat secara sistematis dari kuku sela jari hingga ke siku, diulang beberapa kali 3-5 menit, dibilas dengan air steril mengalir, posisi tangan harus lebih tinggi dari siku dan lain-lain. Setelah tangan dalam kondisi steril, akan mendekati tempat aktifitas pembedahan pakaian harus dilapisi lagi dengan gaun atau jas steril disertai sarung tangan (glove) sesuai ukuran pengguna. Memakai jas dan sarung tangan ini juga memiliki aturan tersendiri. Awalnya jas diambil pada posisi bagian badan lainnya harus ada jarak dengan peralatan steril, disentuh pada bagian dalam, saat gaun digunakan lengan mesti direntangkan ke depan dan ikatan jas bagian belakang bisa dikerjakan oleh penolong lainnya yang tidak perlu steril. Begitu juga waktu menggunakan sarung tangan, bagian tangan yang sudah bersih menyentuh bagian dalam glove kanan dan tangan kanan yang telah dilapisi glove ini menyentuh bagian luar sarung tangan sisi kiri untuk mempermudah tangan kiri masuk ke dalam sarungnya tersebut.
Sampai pada tahap itu seorang tim pelaksana operasi sudah dikatakan dalam kondisi steril dan ia harus sudah mengambil posisi berdiri yang aman di sekitar lapangan pembedahan dengan tetap menjaga agar tangan cukup terlindung dari areal non steril. Tahap selanjutnya areal operasi di tubuh pasien dibersihkan, didesinfeksi dengan bahan pembersih khusus. Aturannya; mengusap bahan pembersih dari dalam ke luar, dilakukan dengan sekali hapusan secara berulang, paling tidak beradius 15 cm dari rencana luka sayatan. Berikutnya adalah melapisi dan menutupi bagian lain tubuh pasien menggunakan kain atau duk steril sedemikian rupa sehingga lapangan operasi terekspos sesempit mungkin tapi tidak menghalangi pengerjaan bedah itu sendiri. Cara menutupi areal di sekitar lapangan operasi ini juga memiliki teknik tersendiri.
Sehingga kalau langkah-langkah ini sudah dilalui, maka tim yang akan terlibat langsung dalam pengerjaan bedah sudah bisa lebih bebas bergerak dan siap mendekati areal yang paling steril untuk memulai sayatan dan melakukan prosedur pembedahan selanjutnya.
Perumahsakitan dan jasa layanan medis kini sudah menjadi industri untuk meningkatkan devisa di beberapa negara maju. Begitu agresif pemasarannya, termasuk juga yang dipublikasikan oleh rumah sakit- rumah sakit negara tetangga. Read the rest of this entry »

