Thursday, March 11, 2010

Archive for the ‘Kasus Bedah’ Category

Patah Tulang… Dukun vs. Medis

Banyak orang masih mempercayai dukun urut untuk menangani  kasus patah tulang. Tidak salah! Tapi tidak banyak yang tahu kalau banyak juga yang mengalami ‘kegagalan’ dari penanganan itu. Read more: Patah Tulang… Dukun vs. Medis

Pembesaran Payudara Laki

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan konsulan dari sejawat yang bertugas di klinik Kepolisian terhadap beberapa orang anak muda calon anggota baru institusi angkatan tersebut. Read more: Pembesaran Payudara Laki

Nyeri berkepanjangan pada Pergelangan Tangan

Beberapa hari yang lalu, saya dihubungi oleh seorang teman yang memberitahukan kerabatnya berniat berkonsultasi dan memerisakan diri ke praktek. Benar, keesokan harinya saya kedatangan seorang pasien laki dewasa muda dengan keluhan nyeri sekitar pergelangan tangan kanannya yang sudah dirasakan sejak kurang lebih 4 bulan yang lalu. Tanpa didahului riwayat trauma dan gejala spesifik lainnya, terasa begitu saja dan semakin parah seiiring waktu. Tidak banyak perobahan dengan obat obatan yang diberikan oleh dokter. Telah juga dikompres, dibebat dan dibatasi gerakannya. Sudah pula dikonsulkan ke dokter ahli saraf serta dirontgen. Semuanya belum membawa perbaikan sesuai harapan. Saya tanyakan padanya aktifitas selama ini yang dominan menggunakan tangan kanan yang dikeluhkan itu. Dari keterangannya saya mendapatkan informasi penting, bahwa si penderita memang sering mengaktifkan gerakan sendi dan jari-jari tangan terutama jempol lewat kegiatan menembak. Rupanya menembak merupakan hobinya dan ia kerap berlatih hingga berburu ke hutan untuk menguji ketepatan bidikannya dalam mencari sasaran tembak.

Setelah saya periksa dengan gerakan aktif maupun pasif terutama di bagian ibu jari, pada gerakan tertentu ia merasa sangat nyeri, tepatnya di bagian pangkal jempol tangan kanan dekat dengan pergelangan. Juga pernah ia rasakan seolah olah gerakan itu seperti terkunci. Saya simpulkan ia terkena apa yang disebut dengan trigger thumb yakni hambatan yang terjadi pada pergerakan jari akibat peradangan pembungkus urat gerak (tendon) jari jempol tersebut. Secara normal gerakan jari diatur oleh otot-otot lengan yang dihubungkan melalui tendon ini yang kemudian menempel di bagian tulang alat gerak kita. Tendon berada dalam selaput yang mengandung cairan pelumas untuk menjamin gerakannya menjadi licin dan tepat. Bisa dibayangkan kalau selaput atau pembungkusnya tersebut pada bagian tertentu mengalami penebalan, kering atau membentuk tonjolan. Sangat mengganggu, menimbulkan hambatan dan rasa nyeri pada gerakan tendon, terutama gerakan jari ke atas (extensi) dan terlipat ke arah telapak (fleksi). Sehingga penderita mengalami bengkak di bagian pangkal ibu jari dan akan kesulitan untuk memegang atau menjepit sesuatu karena nyeri.

Selain disebabkan gerakan yang relatif sering pada jari yang terkena, trigger thumb juga bisa disebabkan peradangan dari bagian dalam melalui penyakit yang diderita sebelumnya, seperti rhematik, penyakit gout dan diabetes. Dari data menunjukkan ternyata kasusnya pada wanita lebih banyak delapan hingga sepuluh kali dibandingkan pada pria. Didapatkan pula kejadian kekakuan gerakan jari (trigger finger) ini pada anak anak yang disebabkan karena kelainan bawaan. Jika peradangan itu terbatas mengenai bagian tertentu di dalam terowongan pergelangan tangan kita dimana merupakan jalur begeraknya 2 jenis tendon untuk menggerakkan ibu jari, maka kelainan itu disebut dengan penyakit de Quervain’s.

Trigger thumb atau pun de Quervain’s cukup mudah dikenal hanya dari pemeriksaan fisik. Pemeriksaan rontgen atau foto x-ray sama sekali tidak informatif, tidak bisa disimpulkan dari hasil itu. Salah satu test gerak pada pemeriksaan fisik yang dikenal adalah test Finkelstein, yakni dengan mengembalikan kepalan tangan dengan gerakan membuka jari jari. Jika terasa nyeri di bagian pangkal pada gerakan membuka ibu jari, sudah boleh dicurigai penderita mengalami kelainan tersebut.

Penanganannya dengan cara konservatif dan pembedahan. Konservatif maksudnya therapy menggunakan obat-obat anti nyeri dan anti peradangan, membatasi gerakan bila perlu dengan memasang splint, gips atau external fiksasi dan yang sedikit invasif dengan menyuntikkan bahan kortikosteroid di sekitar lokasi nyeri. Jalan pembedahan diputuskan jika dengan cara-cara seperti di atas tidak banyak mengalami perbaikan. Pembedahannya pun tergolong tidak rumit, menggunakan pembiusan lokal dan bisa langsung pulang pasca operasi. Pembedahan ini bertujuan membuka dan mengangkat bagian selaput tendon yang mengalami peradangan. Biasanya cukup dengan menoreh ke arah longitudinal selaput tendon hingga bisa terlihat gerakan tendon tersebut dan sekaligus dapat mengevaluasi adanya kemungkinan hambatan gerakan di bagian lainnya.

Semenjak itu penderita menyatakan jauh lebih jelas mengerti tentang kelainan yang ia derita, apalagi informasi yang ia terima dilengkapi pula dengan gambar-gambar yang saya tunjukkan dari notebook. Sekali pun demikian ia masih membutuhkan waktu untuk persiapan pembedahannya.

Awas! Efek Obat Memperbesar Alat Vital

Masalah ini sengaja ingin saya ceritakan di blog karena dalam minggu ini saja saya mendapatkan 3 kasus hampir serupa, berhubungan dengan efek suntikan yang katanya berkhasiat untuk membesarkan bagian dari tubuh seseorang. Sekali pun keluhan yang sama sebelumnya pernah saya dapatkan di praktek dari beberapa orang pasien, tapi menjadi menarik karena mungkin kebetulan saja 3 orang pasien ini datang dalam waktu yang hampir bersamaan menderita setelah menerima suntikan atau injeksi silicon(?) yang didapat dari sumber yang berbeda, yang semuanya dikerjakan oleh orang yang tidak profesional di bidangnya, bukan dari kalangan medis dan parahnya lagi tidak bisa diminta pertanggungjawabannya. Dua orang pasien tadi bermasalah dengan penisnya dan satu pasien lagi seorang gadis bermasalah dengan kakinya yang mulus lantaran hanya karena ingin memperbesar betis yang dianggapnya masih kurang seksi.

Terus terang saya sendiri belum pernah melihat bagaimana cara menginjeksi ‘silicon’ atau minyak (?) ini, seberapa dosisnya dan di bagian mana semestinya suntikan itu ditusukkan. Tapi justru yang banyak saya lihat adalah dampak dari pemberian obat itu. Kebanyakan dari mereka adalah kaum pria yang berniat memperbesar alat vitalnya. Memang secara klinis tampak batang penis yang membesar tapi teraba bagian yang padat, padatnya tidak merata, warna kulit lebih gelap, mengeras dan kulit tidak dapat ditarik untuk membuka gland (kepala) penis serta tidak bisa dirasakan kerasnya otot di saat batang penis menjadi tegang . Penderita juga biasanya mengeluh terjadinya pemadatan yang semakin menyebar ke bagian lain yang tidak diharapkan. Dalam hal suntikan di bagian penis, pengerasan juga akan merambat ke bagian buah pelir dan ke bagian atas batang penis, di bawah dinding perut. Pada pasien lain yang disuntikkan sejenis bahan yang sama di bagian kaki guna memperbesar bentuk betis, mengeluh sangat nyeri di bagian kulit yang mengeras di sekitar tempat suntikan. Bagian yang mengeras dan nyeri ini semakin bertambah luas dan bahkan kulit jadi melepuh serta mengeluarkan cairan. Jadi jelaslah, bentuk bagian tubuh yang diharapkan lebih seksi, cantik atau perkasa malah menjadi rusak.

Sesungguhnya reaksi tubuh yang terjadi dan selama ini menjadi salah persepsi bagi penggunanya adalah apa yang disebut dengan fibrosis, yakni pengerasan yang tak sehat dari jaringan lunak dan bisa juga terjadi pada otot tubuh yang disensasikan sebagai pembesaran atau pengerasan di bagian itu. Fibrosis ini tidak saja bisa diakibatkan oleh respon tubuh terhadap cairan asing yang disuntikkan, juga bisa karena pengaruh trauma yang kuat dan berkelamaan. Ini juga yang menerangkan bagaimana pemijatan pada batang penis menimbulkan efek pembesaran. Karena fibrosis ini pula membuat beberapa struktur pembuluh darah, saraf, jaringan lemak dan jaringan lunak lainnya menjadi rusak sehingga penampakan dari luar memperlihatkan bagian kulit yang gelap dan cenderung nekrosis (mati). Berdampak pula terhadap kelenturan serta kekenyalan di bagian tubuh itu. Efek negatif lain yang ditimbulkan adalah infeksi. Ini karena kebersihan dan kandungan cairan yang dimasukkan ke dalam tubuh itu tidak dapat ditoleransi oleh jaringan di sekitarnya. Yang lumayan menyiksa adalah rasa nyeri yang sangat.

Ternyata penanganan bedah juga tidak menjamin hasil yang optimal. Luka yang ditimbulkan pasca operasinya tidak menyembuh secara sempurna dan itu pun memerlukan waktu yang lebih lama. Pada teknik bedah dengan mengangkat semua jaringan fibrotik tidak jarang dibutuhkan tindakan ‘skin grafting’ yakni dengan menggantikan kulit yang telah rusak tersebut dengan kulit dari bagian lain tubuh. Sesuatu pembedahan yang tergolong berat dan mahal yang cuma hanya dikarenakan ingin coba-coba sesuatu yang belum jelas. Ada juga kasus dengan begitu hancur dan parahnya kondisi ini berakibat daya ereksi penis jadi hilang sama sekali. Jika ini terjadi, merupakan pukulan telak dan penderitaan berkepanjangan bagi kaum laki-laki…

Maka, kepada anda, keluarga atau teman anda, waspada dan berhati-hatilah jika ada tawaran semacam ini dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Dan janganlah mencoba-coba sesuatu demi penampilan alat vital yang justru bisa berakibat vatal dan sesal berkepanjangan….

 

Selamat Datang dan Terimakasih atas Kunjungan Anda di SpesialisBedah.com -- Pertanyaan ataupun komentar Anda akan sesegera mungkin saya tanggapi

Surgeon[log] is using WP-Gravatar