Friday, March 12, 2010

Archive for the ‘Kegiatan Bedah’ Category

ATLS, antara jadwal kursus dan banyaknya peminat

atls-blog11Tidak bisa disangkal lagi bahwa saat ini jadwal penyelenggaraan kursus ATLS di Indonesia dirasakan masih kurang. Penilaian ini muncul tentu jika didasarkan atas begitu banyaknya peminat. Bayangkan, yang mendaftar hari ini baru akan mendapat giliran bisa hingga tahun depan. Sehingga untuk mengejar antrean ini banyak peserta -para dokter- yang terpaksa mengikuti pelatihan ini di luar daerah tempatnya bertugas atau berdomisili. Kenapa kursus yang lumayan mahal ini bisa begitu dibutuhkan? Karena sudah tidak dapat disangkal juga, bahwa setidaknya dalam 5 tahun terakhir ini sertifikat lulus kursus ATLS menjadi persyaratan bagi tenaga dokter yang berniat melamar kerja di sebagian besar rumah sakit, klinik atau instansi lain yang menyelenggarakan layanan kesehatan. Begitu pula untuk keperluan melanjutkan sekolah spesialisasi. Beberapa PPDS tertentu mewajibkan calon residennya untuk mengikuti pelatihan ini.

Dengan tidak kurang dari 20 Fakultas Kedokteran yang ada di Indonesia, kalau dihitung secara kasar dengan asumsi bahwa peminat ATLS sekitar 50%nya saja dari tamatan dokter baru itu, maka setidaknya dibutuhkan sekitar 70 sampai 75 kelas penyelenggaraan ATLS setiap tahunnya di Indonesia. Belum termasuk pelatihan ini diminati atau pun diwajibkan bagi kalangan dokter yang telah bertugas beberapa tahun sebelumnya. Itu berarti frekwensi penyelenggaraan ATLS selama ini yang diorganisir oleh IKABI (Ikatan Ahli Bedah Indonesia) melalui Komisi Trauma-nya memang betul masih terasa kurang. Padahal hampir setiap minggu kursus ini diadakan secara terjadwal menyebar di seluruh Indonesia. Lalu bagaimana solusinya..?

Yang sudah diupayakan dan mungkin perlu pula dicari terobosan lain untuk memperkecil kesenjangan ini adalah meningkatkan jumlah kelas penyelenggaraan, memperbanyak instruktur, menerapkan dan mendelegasikan pelaksanaan per region atau wilayah, serta upaya upaya lain tanpa mengurangi kwalitas pelaksanaan dan cetakan lulusan kursus yang terstandarisasi. Namun apa yang diungkapkan di atas tidaklah semudah penerapannya. Tidak gampang mengkoordinasi penyelenggaraan dengan melibatkan banyak peserta dan instruktur. Tidak pula banyak dokter bedah yang bisa dan berkenan untuk dijadikan instruktur serta mau untuk siap mengajar sesuai waktu yang diperlukan. Belum lagi problem penunjang yang lain; alat peraga, perangkat hard dan soft ware-nya, penunjang adminstrasi, logistik dan tim pelaksana (perawat dan crew) yang teramat sangat berperan di balik kesuksesan penyelenggaraan suatu kursus ATLS. Tidak mudah kita mencari orang macam Andanu, bang Saiful, Pak Bagyo yang sudah tergolong gila di komunitas ATLS untuk berbasah, berbaur dan selalu siap kemana dan dimana saja sebagai instruktur. Dan susah pula kita mendapatkan orang seperti Magda di Banjarmasin, Vivi di Makasar dan lainnya yang begitu besar perhatian serta pengorbanannya untuk kesuksesan pelaksanaan ATLS di daerah…

Abang Nazar pernah mengungkapkan galaunya, bagaimana pelaksanaan ATLS ke depan. Akankah kita tidak bisa menerima tantangan terhadap banyaknya permintaan ini? Mungkinkah nanti akan muncul sejenis ATLS tandingan yang kwalitasnya masih perlu dipertanyakan? Ataukah nanti suatu saat kita harus terpaksa menyerahkan kepada pemerintah untuk mengambil alih penyelenggaraannya…

Memang sudah saatnya problem ini dibicarakan serius di level yang lebih tinggi. Bravo untuk penyelenggara ATLS!

Cukur Bulu Pubis Mengurangi Nyeri Perut ?

Ketika si bungsu saya tiba-tiba sakit perut kepingin ngengek di saat ia sedang dipotong rambut oleh mamanya, mengingatkan saya peristiwa yang hampir serupa pada waktu saya menjalani pendidikan dokter muda lebih dari lima belas tahun lalu. Ketika itu UGD tempat kami menjalani praktek tidaklah seperti rumah sakit pendidikan seperti sekarang ini. Penanganan pasien dengan kasus bedah dan non bedah masih bergabung menjadi satu. Dan kejadian itu bermula dari keluhan seorang pasien… Read more: Cukur Bulu Pubis Mengurangi Nyeri Perut ?

Tony Moore, Cleft Lip & Palate, YKI dan SSH

Seperti pertengahan tahun lalu, kembali Yayasan Kemanusiaan Indonesia (YKI) bekerja sama dengan Surya Husadha Hospital (SSH) menyelenggarakan Read more: Tony Moore, Cleft Lip & Palate, YKI dan SSH

Kok penyakit belum jelas, sudah akan dioperasi…?

Sudah 3 hari anak laki umur 5 tahun ini terbaring di rumah sakit tanpa diketahui dengan pasti penyakit apa yang menyebabkan ia merasakan nyeri di perutnya. Nyerinya ini sangat mengganggu dan muncul hampir setiap saat sehingga ia susah tidur dan jelas menyebabkan resah orang tuanya. “Kasihan dia, hampir setiap 15 menit nyeri itu muncul, terkadang sampai muntah ia menahannya…” begitu keluh si ibu dengan iba melihat anaknya yang selalu merintih.. Sementara dokter spesialis anak yang merawatnya menduga nyeri itu berasal dari peradangan lambung (gastritis). Sudah pula dilakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah, pemeriksaan foto rontgen perut dan USG. Namun belum nampak jelas kelainannya dimana.

Saya yang dikonsulkan oleh sejawat dokter anak mencoba melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah memang ada kelainan di bidang Bedah. Kondisi anak, saya dapatkan sedikit lemah sekali pun -sekali lagi- tidak nampak kelainan bermakna pada hasil laboratorium dan test lainnya. Datangnya serangan nyeri pertama kali dirasakan mendadak sebelum berlanjut menjadi nyeri kolik seperti ini. Tidak ada riwayat panas, gangguan buang air besar maupun gangguan pencernaan lain yang serius. Ketika diraba dan ditekan di bagian perut pun si penderita tidak merasakan kesakitan seperti kalau serangan rasa nyeri itu muncul. Yang mengartikan juga bahwa tidak ada tanda-tanda ke arah peradangan lapisan dalam dinding perut (peritonitis). Ada beberapa usulan pemeriksaan yang saya sampaikan termasuk pemeriksaan dengan kontras barium intake untuk melihat kondisi bagian dalam saluran cerna. Telah saya jelaskan kepada orang tuanya sampai paham benar akan apa kecurigaan saya terhadap kelainan ini, apa langkah-langkah yang perlu dijalani dan kemungkinan yang terjadi beberapa hari ke depan. Diagnosa saya adalah suatu partial obstruksi ileus atau gangguan aliran dan pergerakan saluran cerna dengan penyebab utama yang belum jelas juga.

Keesokan harinya beberapa pemeriksaan yang saya usulkan itu sudah ada hasilnya. Satu pun tidak ada yang menyokong ke arah dugaan saya. Dan hasil itu pun juga sudah menjadi bagian dugaan saya. Di sisi lain si anak masih terus menerus bertahan dari nyeri yang dirasakan di bagian atas perutnya itu. Dan di pihak lain, ada sorang staf rumah sakit yang menegur saya karena mendengar ucapan salah seorang kerabat keluarga penderita yang sempat besuk ke ruangan. “Bagaimana sih dokter di sini, sudah berapa hari pasien dirawat belum juga ketemu penyakitnya. Malah tambah sakit lagi! Eee… malah dokter Bedahnya mau mengoperasinya lagi…??”

Memang, dari penjelasan sebelumnya kepada orang tua pasien, saya katakan salah satu alternatif untuk mengetahui pasti penyebab dan sekalian kalau bisa menyelesaikan masalah gangguan ini adalah dengan cara pembedahan. Walaupun sudah mengerti, mungkin dengan berat keluarga memilih cara itu mengingat penderitaan nyeri yang dialami anaknya sudah amat mengganggu. Dan siapa pun bisa saja menghadapi permasalahan macam ini…. Jadi pembedahan itu tidak hanya dipakai jalan untuk mengatasi suatu penyakit atau kelainan yang ada tapi juga berfungsi untuk diagnostik, untuk mengetahui apa sesungguhnya kelainan itu, apalagi prosedur diagnostik non bedah tidak menemukan hasil yang jelas. Meskipun dalam penerapanya bisa saja pembedahan untuk diagnostik itu langsung digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ditemukan (therapheutik) atau dilakukan pada kesempatan yang berbeda bahkan mungkin saja nantinya harus dituntaskan dengan cara bukan bedah.

Dengan persetujuan orang tuanya, baru di hari ke-6 anak itu dilakukan tindakan pembedahan. Betul, yang kami dapatkan saat itu setelah membuka rongga perut ternyata tampak puntiran (volvulus) pada bagian usus halus yang berakibat beberapa bagian usus menjadi kolaps, kosong tak berisi udara atau sisa makanan serta kelihatan jeratan pembuluh darah sebagai penyebab nyeri. Penyelesaiannya sederhana saja, cukup dengan mengembalikan ke posisi normal, tanpa harus memotong ataupun membuang sesuatu jaringan. Semenjak itu tidak ada lagi keluhan seperti sebelumnya dan pasien pulang dari perawatan rumah sakit dalam kondisi sehat benar.

Kejadian seminggu yang lalu itu juga memberikan hikmah bahwa hubungan baik antara pasien dan dokter tidak cukup dipahami oleh kedua belah pihak. Terkadang dapat diganggu oleh hasutan atau pun mungkin provokasi dari pihak lain yang jika tidak disikapi dengan bijak justru dapat membakar sesuatu yang sebelumnya adem adem saja….

 

Selamat Datang dan Terimakasih atas Kunjungan Anda di SpesialisBedah.com -- Pertanyaan ataupun komentar Anda akan sesegera mungkin saya tanggapi

Surgeon[log] is using WP-Gravatar