Archive for the ‘Kegiatan Bedah’ Category
Cerita ngajar ATLS di Semarang
Last Updated on Sunday, 26 October o 12:46 Written by eka-kusmawan Monday, 20 October o 07:30
Atas anjuran beberapa teman yang sudah pernah ke Semarang, aku pilih berangkat ke sana via Jogyakarta ketimbang lewat Surabaya. Ternyata ada pilihan lain, yang bisa jadi lebih cepat dan tidak membosankan di jalan, yakni melalui Jakarta dengan 2 kali naik pesawat. Begitulah, agak ribet memang perjalanan itu karena belum ada penerbangan dari Bali yang langsung ke Semarang. Untung saja aku selalu ditemani si hitam persegi laptop yang terbungkus di dalam rangsel kumalku, sehingga aku bisa kotak katik keyboard untuk menulis sesuatu, sambil dengar musik dan browsing menggunakan modem Indosat 3.5G andalan untuk akses internetku.
Ini membuat perjalanan darat Jogya – Semarang selama lebih 3 jam berhasil dilalui dengan enjoy aja… Ketika ngenet yang sinyalnya terkadang terganggu saat perjalanan, sekali kali sempat juga aku melihat pergerakan online trading-ku di hari Kemis itu, menjelang penutupan akhir pekan. Seperti tsunami dan wabahnya sudah terdengar sejak minggu lalu, index harga saham di BEI melorot lagi. 3 jenis saham yang kupegang pun membuat portofolioku menjadi babak belur, walaupun aku baru mampu bermain di level partai riteil, sebagai investor ecek-ecek. Untungnya justru di forex trading posisi gbp/yen-ku sedikit membawa profit. Tapi yang paling penting, kegoncangan itu semua tidak sampai mengganggu stabilitas fisik mental dan finansialku.
Tiba di Semarang sudah sore. Langsung chek-in di Grand Santika, sesuai arahan panitia. Mulai malam ini sampai baru tadi sore (aku tulis cerita ini saat perjalanan pulang, Minggu 19 Oktober), selama 3 hari penuh aku turut sibuk di kursus ATLS bersama instruktur lain dari berbagai daerah dan tentu bersama peserta, yang kali ini berjumlah tidak kurang dari 60 orang yang dibagi dalam 2 kelas. Aku kebagian mengajar di kelas pertama bersama dengan sebagian besar teman instruktur yang aku sudah kenal sebelumnya. Singkat cerita, tidak ada masalah berarti yang dibicarakan saat faculty meeting malam itu. Masih hal-hal rutin seperti pelaksanaan pelaksanaan sebelumnya. Mulai Jum’at pagi setelah pembukaan, berjam jam kami harus berada di Rumah Sakit Kariadi dari pagi jam 7.30 sampai pulang balik ke hotel jam yang sama juga pada malamnya. Memang ATLS adalah kursus yang berat, menguras pikiran, tenaga dan berbiaya mahal. Sesuai jadwal, selain mengikuti beberapa pelajaran di kelas, animal lab dan skill station, aku mempunyai tugas utama untuk memberi kuliah interaktif tentang trauma abdomen, membimbing langsung untuk ketrampilan bedah dengan hewan kambing, sebagai skondan / pedamping dr. Respati membawakan kuliah dan skill station di ‘musculloscletal’ dan di hari kedua juga membimbing kemahiran membaca foto x-ray Thorax. Di hari ketiga, setelah menjelaskan dan mengarahkan untuk bisa menjalankan triage, juga memantapkan peserta dengan latihan simulasi pasien trauma dan terakhir sebelum pulang kebagian tugas menguji 3 orang peserta kursus. Uniknya, mungkin juga kebetulan semata, kali ini ada 2 profesor yang mendampingiku. Tidak enaknya, justru aku yang memberikan kuliah trauma abdomen, sedangkan Prof. Riwanto yang ahli bedah digestif itu bertugas sebagai pedamping. Tapi itulah ATLS, kami para insruktur berada sejajar dan beliau beliau senior tidak menempatkan diri lebih di atas, hingga justru karena ini kita bisa berinteraksi dan berguyon antar satu dengan lainnya tanpa jarak di saat senggang. Jadi membuat suasana tambah hidup! Sedangkan bersama Prof. Marwoto, Sp.An aku berbagi peserta untuk kami uji satu persatu di satu ruangan. Dilihat dari sisi peserta, lumayan responnya. Cukup banyak terjadi interaksi dengan instruktur sekalipun hasil ujuan tulisnya belum ada yang menyandang predikat lulus langsung…
Acara di luar course, tidak seperti biasanya, malam minggu itu seusai makan malam, bersama geng dengan Magda sebagai leadernya, kita berangkat ke Lawang Sewu untuk mengadu nyali! Mengadu nyali..? Ya, Lawang Sewu adalah satu bangunan tua peninggalan Belanda yang cukup besar yang konon sekarang menjadi rumah para hantu. Kita datang ke sana mencoba melihat dan ingin membuktikan apakah para jin itu memang ada. Didampingi seorang pemandu, dengan suasana gelap ditambah hujan gerimis kami diajaknya memasuki lorong dan ruangan-ruangan bekas pembantaian di jaman jepang. Cukup merinding dibuatnya. Tapi tidak ada satu pun diantara kami yang melihat mahluk halus itu, kecuali si Nardo. Ia lari ketakutan karena merasa ada orang tinggi besar dengan wajah berantakan menatapnya dalam dalam. Kata teman yang lain, “Mana kita tahu, itu kan katanya Nardo…”
Sekalipun cerita-cerita di atas agak terlepas dari dunia per-bedah-an, tapi itu kan juga menjadi kegiatan-koe (sesuai katagori tulisan ini). Dan, akhirnya sebagai penutup yang sedikit membuat kaget, walaupun ini baru sebatas wacana, ada salah seorang senior menawarkan..”Eka, apa mau dikirim ke Israel untuk mengikuti pelatihan disaster..?” Wow…. ke Israel ?! Saat itu aku sanggupi, tapi setelah itu baru aku berpikir… untuk berapa lama ya…??
Tags: ATLS, Lawang Sewu, musculoscletal, skondan, trauma abdomen | Posted under Kegiatan Bedah | 20 Comments
Ternyata pembunuh itu si Jamu…
Last Updated on Wednesday, 8 October o 10:37 Written by eka-kusmawan Saturday, 13 September o 04:17
Ini menjadi peringatan bagi siapa saja yang doyan minum jamu secara berlebihan. Tapi, tidak saja jamu atau obat, apupun jika digunakan, dipakai dan dikonsumsi dalam jumlah banyak dan lama pastilah akan menimbulkan masalah. Begitulah yang dialami seorang Bapak berumur kepala enam yang sebelumnya mengidap Diabetes dan Rhematik datang ke UGD oleh karena sakit perut yang sudah dikeluhkan sejak 2 hari sebelumnya. Oleh sejawat dokter Penyakit Dalam (Internist) Bapak ini dikonsulkan ke bagian Bedah.
Kondisi fisiknya kudapatkan sangat lemah, selain sudah usia, ada beberapa penyakit kronis yang diidap sebelumnya apalagi ditambah rasa nyeri yang berusaha tetap ditahannya membuat kesadarannya sedikit menurun, tensi darah di bawah normal, nadi lemah dan frekwensinya meningkat serta pernafasan yang di atas 30 kali permenit. Dari pemeriksaan fisik yang aku lakukan jelas sekali terdapat rangsangan nyeri yang sangat dari seluruh bagian perut yang mengindikasikan kalau ada sesuatu gangguan di rongga perut hingga merangsang lapisan bagian dalam dinding perut (peritonium). Selain kelainan di bidang penyakit dalam, ia ku-diagnose sebagai general peritonitis yang sementara aku duga berasal dari kebocoran organ system pencernaan. Setelah kita konfirmasi dari beberapa pemeriksaan penunjang, termasuk foto x-ray, semakin jelas tampak adanya tumpukan udara bebas di cavum abdomen / rongga perut.
Dan aku semakin penasaran untuk menggali keterangan lebih jauh dari si pasien dan keluarganya. Ternyata memang si Bapak ini sudah biasa mengkonsumsi salah satu merek Jamu yang terjual bebas di warung untuk menanggulangi nyeri persendiannya. Sudah 2 tahun lebih, hampir setiap hari dengan dosis yang keseringan tidak terkontrol, mengingatkan aku terhadap 3 kasus yang sama yang pernah kutangani sebelumnya, selama aku di pendidikan dan menjadi dokter Bedah. Ia mengalami kebocoran lambung! Apalagi kuingat saat pemasangan NGT di UGD tampak ada sebagian darah yang keluar dari aliran cairan di dalam tube tersebut.
Pada umumnya jenis jamu yang dipakai untuk mengobati rhematik mengandung sejenis steroid dosis tinggi sehingga memang cepat sekali memberi efek penanggulangan terutama untuk kasus2 nyeri yang didasari reaksi imonologis seperti rhematik walaupun juga memberikan efek ketagihan untuk pemakai atau si penderita. Sedangkan di sisi lain, mempunyai dampak yang luar biasa terhadap lambung dengan mengikisnya sehingga menimbulkan erosi, penipisan dan akhirnya kebocoran dinding lambung.
Dibebani kondisi seperti ini, tubuh si Bapak tidak mampu lagi mentoleransi terhadap gangguan2 yang diakibatkan perforasi gaster (kebocoran lambung) itu, sehingga tidak lebih dari 2 jam masa resusitasi untuk pemulihannya, belum lagi termasuk pertimbangan untuk masuk kamar operasi, keadaannya makin memburuk dan 3 jam berikutnya nyawa si Bapak sudah tidak dapat ditolong lagi!
Maka, -sekali lagi- berhati-hatilah meminum jamu atau obat sekali pun, dalam jangka waktu lama, apalagi dosisnya tidak terkendali..!
Posted under Kegiatan Bedah | 6 Comments
Aksi Sosial bersama Sejawat dari Australia
Last Updated on Sunday, 1 February o 05:55 Written by eka-kusmawan Wednesday, 23 July o 10:02
Aku harus meninggalkan rumah sakit di hari kerja, pergi ke Sanur ke rumah John Fawceet dimana office YKI berlokasi, guna mengikuti acara evaluasi pre-op terhadap pasien yang besoknya akan menjalani operasi. Ya, sebelumnya dalam beberapa minggu kemarin telah ditandatangani MOU antara RS Surya Husadha dengan YKI (Yayasan Kemanusia Indonesia) untuk bekerjasama demi kepentingan social menyelenggarakan operasi kasus bedah untuk anak-anak kurang mampu. Kali ini YKI mendatangkan dr. Tony Moore dari Adelaide Astralia untuk ikut membantu aksi sosial ini. Aku pun berkenalan dengan beliau, yang dari penampilan serta usianya tampak jauh lebih senior dariku. Ia begitu ramah dan sebagai seorang Ahli Bedah Plastik ia tidak bosannya menjelaskan kepadaku terhadap beberapa kasus sambil memeriksa pasien yang akan kami operasi besok. Rupanya dari beberapa pasien itu ada yang ia sudah pernah kerjakan, karena memang ia sudah pernah beberapa kali ke Bali mengikuti kegiatan ini di rumah sakit lain.
Tidak kurang dari 25 pasien kita evaluasi. Mempertimbangkan waktu yang ada dan kemampuan serta fasilitas yang nantinya tersedia di tempatku bekerja kami sepakati dalam 2 hari penyelenggaraan besok serta lusa akan digarap cuma 8 pasien. Empat pasien dikerjakan hari Jum’at … Juli dan empat lagi besoknya. Kebanyakan dari mereka menderita celah langit-langit atau palatoschisis. Aku sendiri tidak banyak pengalaman untuk mengambil kasus ini. Pengalaman yang minim itu pun kurasakan saat residen dulu. Untuk mengambil labioschisis (celah bibir) lebih mending, aku pernah mengerjakan lebih dari 10 pasien saat dilangsungkan operasi masal di Waikabukak Sumba bersama tim dari Singapura menjelang aku menyelesaikan pendidikan di PPDS dulu. Kali ini aku ingin belajar lagi! Karena maklumlah untuk mengerjakan kasus seperti ini di kota besar jelas digarap oleh rekan Bedah Palastik, ditambah lagi kasusnya jarang menimpa orang2 di kota dengan sosek yang relatiF lebih baik. Sehingga dalam pelaksanaan aksi social selama 2 hari ini aku lebih banyak mengambil posisi sebagai asisten dan untung sekali dr. Tony mengerti tentang itu dan memang enak gayanya dalam membimbingku.
Seperti pelaksanaan sebelumnya schedule untuk acara besok sudah final dibentuk di hari saat pre-op dijalankan. Empat pasien di hari pertama sengaja dipilih yang kemungkinan memiliki kesulitan dalam pengerjaannya. Satu di antaranya perempuan 10 tahun yang menderita kelainan congenital yang sebelumnyabelum aku pernah jumpai, semacam regresi dalam pembentukan tulang2 extremitasnya. Dan pasien lainnya dengan palate cleft (celah langit2) yang cukup lebar. Di hari kedua yang kasusnya relatif simple baru aku berani sedikit mulai beraksi, tentu juga didampingi dr. Tony. Singkatnya semua pekerjaan dapat kami selesaikan lebih awal dari prediksi. Di hari terakhirnya sebelum ia berangkat kembali ke Australia via Singapura, dr. Tony memvisite pasiennya di ruangan agar dia yakin dan betul tenang mengerjakan hasil pembedahannya kalau sewaktu-waktu membawa komplikasi. Tapi aku beri jaminan kepadanya bahwa tidak akan terjadi suatu yang serius dan toh aku rasanya masih bisa menangani berbagai kemungkinan yang akan terjadi…..
Sampai jumpa lagi di aksi sosial berikutnya…!
Posted under Kegiatan Bedah | No Comments
Apa itu ATLS ?
Last Updated on Friday, 26 February o 01:18 Written by eka-kusmawan Sunday, 13 July o 11:54
Jika anda bukan seorang dokter atau mahasiswa kedokteran, mungkin singkatan ATLS asing di telinga anda. ATLS (Advanced Trauma Life Support) adalah salah satu nama pelatihan atau kursus tentang penanganan terhadap pasien korban kecelakaan. Pelatihan ini semacam review praktis yang bertujuan agar peserta (khusus dokter) dapat melakukan diagnose secara tepat dan akurat terhadap pasien trauma, dapat mengerjakan pertolongan secara benar dan sistematis serta mampu menstabilkan pasien untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Sertifikat course ATLS saat ini semakin dicari karena sebagian besar klinik atau rumah sakit dan instansi layanan kesehatan menetapkannya sebagai salah satu syarat untuk mempekerjakan seorang dokter. Dari Depkes pun telah menetapkan sertifikasi pelatihan ini sebagai standard dalam penilain akreditasi rumah sakit.
ATLS dicetuskan pertama kali oleh James Styner, MD, FACS tahun 1977 yang ilhamnya itu muncul setelah seluruh keluarganya menjadi korban kecelakaan pesawat terbang. Kemudian ide ini diadopsi dan digodok oleh America College of Surgeon yang menjadikannya modul pelatihan dan saat ini sudah digunakan di lebih dari 45 negara di dunia. Oleh IKABI, perhimpunan organisasi dokter bedah se-Indonesia sebagai salah satu pemegang lisensi telah mengenalkan course ini sejak tahun 1998 dan sampai saat ini sudah lebih dari 500 kali pelatihan telah diadakan dengan tidak kurang dari 13.000 dokter sudah dilatih dan berhak mendapatkan sertifikatnya. Walaupun biayanya lumayan mahal –karena bestandard internosional dan untuk keperluan biaya royalty- sampai sekarang masih banyak peminat yang harus menunggu pada daftar antrean.
Bentuk kursus ATLS, yang di Indonesia pelaksanaannya dimampatkan dalam 3 hari penuh, meliputi; kuliah interaktif , demontrasi, group diskusi, latihan ketrampilan langsung termasuk menggunakan binatang percobaan, simulasi dan ujian baik tertulis maupun praktek. Dijarkan lebih dari 10 materi kasus ke-emergency-an namun kesemuanya memiliki prinsip penanganan yang sama. Memang sangat melelahkan, dimulai sejak pagi, jam 7 sampai selesainya bisa hingga jam 8 malam, biasanya diambil pada hari Jum’t hingga MInggu. Goal besar penyelenggaraan kursus ini, nantinya para peserta diharapkan dapat berperan menolong para korban kecelakaan agar terhindar dari kematian atau mengurangi angka kematian akibat trauma –perlu diingat, secara global kasus trauma masih merupakan pembunuh manusia terbanyak!!!-
Anda ingin tahu lebih lanjut atau bahkan anda termasuk yang sedang menunggu giliran untuk ikut kursus ini, tanyakan di pusat2 pendidikan Spesialis Bedah terdekat atau dapat menghubungi langsung sekretariat ATLS Jakarta di Perkantoran Mitra Matraman.
Posted under Kegiatan Bedah | 4 Comments
Recent Posts
- Haruskah Tahap Pre-Operatif itu Dijalankan..?
- Sisa Cerita Operasi Cangkok Hati di Surabaya
- Operasi Ambeyen Tidak Seseram yg Dibayangkan…
- Awas Gejala Awal Usus Buntu Menyerupai Maag..!
- Kapan Pulang Dari Rumah Sakit…?
- Patah Tulang… Dukun vs. Medis
- Testimoni Pembedahan
- Bedah Minimal Invasif
- Karakteristik Pasien
- Hak-Hak Pasien



Recent Comments