Archive for the ‘Nurani & Opini’ Category
Sudah sebulan lebih blog ini tidak ter-update. Alasannya, pastilah klasik –sibuk! Memang memiliki blog pribadi harus disertai tanggungjawab untuk tetap mengisi konten dalam blog secara kontinyu dengan berita –berita yang konsisten dengan apa yang menjadi brand yang ingin ditampilkan dalam blog tersebut. Dibandingkan dengan blog lain, mungkin SpesialisBedah.com tidak seproduktif yang sudah ada sejak tahun 2008. Dengan 83 artikel yang sudah diposting sejauh ini, telah ditanggapi sebanyak 3000 lebih comment dari pembacanya. Ya, disinilah saya sebagai pengelola bisa menyalurkan kegemaran menulis –yang sekali lagi, sekalipun tidak seproduktif penulis beneran tapi telah melahirkan sebuah buku- disamping dapat memberikan kontribusi dan konsultasi kepada pembaca yang ingin tahu lebih jauh informasi di bidang bedah. Mungkin bisa dianggap amal semasih diberi kesempatan…
Akhirnya tercapai sudah obsesi saya sejak 2 tahun lalu untuk menulis buku. Sebetulnya ini satu kumpulan dari beberapa topik tentang operasi. Tinggal membukukan saja tulisan-tulisan saya dalam blog ini ditambah kata-kata dalam beberapa kalimat yang berfungsi sebagai perangkainya. Jadilah buku itu. Covenya bisa dilihat pada gambar sebelah, berjudul ‘Jangan Segera Katakan YA untuk Operasi’.
Tapi sesederhana itukah prosesnya hingga menjadi satu buku?! Ternyata tidak mudah, perlu waktu! Jelas, perlu waktu dan mood enak untuk menuangkan ide dalam tulisan. Perlu sentuhan editor yang biasa menyusun kata-kata agar enak dibaca lalu merapikan bagian-bagian yang perlu ditonjolkan dan pada babak akhir yang menyita waktu cukup panjang adalah mencari penerbit yang bisa menerima naskah ini untuk dicetak menjadi buku sesungguhnya. Read the rest of this entry »
Suatu saat di Henry Ford Hospital akan menjalankan prosedur operasi yang cukup lama. Mengangkat tumor ganas dari ginjal seorang pasien laki laki. Satu pembedahan yang sangat beresiko, tapi segala sesuatunya dipersiapkan dengan matang. Semua peralatan yang diperlukan telah siap pada tempatnya, antisipasi komplikasi sudah pula diperhitungkan dan semua team yang terlibat dalam posisi stand by. Satu laptop di dalam kamar operasi oleh petugas lain siap meng update perjalanan pembedahan secara online dengan bantuan jejaring sosial; Tweeter!
Begitu juga pernah dilakukan Jewish Hospital Hand Care Center di Louisville, dari dalam kamar operasinya secara berkala meng-tweet setiap tahap prosedur suatu pembedahan implantasi tangan.
Jadi dokter bedah memang tidak cukup memerlukan kepandaian di bidang ilmunya dan ketrampilan untuk kerjanya, tapi juga butuh ketahanan mental. Setidaknya kegagalan itu yang dialami seorang dokter bedah orthopedi terkenal di Inggris, Dr. Alexander Reading, yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri ketika menghadapi kenyataan hasil operasi yang dikerjakan tidak sesuai dengan harapan. Baca berita di Tempo di sini.
Tingkat kesalahan atau error dalam suatu standar prosedur biasanya untuk sepersekian persen masih dapat diterima sesuai kesepakatan. Begitu juga dengan hasil atau outcome dari prosedur itu. Read the rest of this entry »
“Saya ingin selalu membantu sesama manusia dan menjalankan sumpah seorang dokter. Saya ingin menjadi dokter yang baik karena saat ini banyak dokter yang sudah melenceng dari profesionalitasnya.” Itulah petikan wawancara dokter bedah termuda di dunia Akrit Jaswal oleh presenter kondang Amerika Serikat Oprah Winfrey tiga tahun lalu.
Akrit memang ingin menjadi seorang dokter yang bisa menyelamatkan banyak orang dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Sepuluh tahun lalu, India dikejutkan oleh kepintaran seorang anak berusia tujuh tahun yang sukses membedah manusia. Anak itu adalah Akrit. Ia melakukan operasi pembedahan untuk memisahkan jari-jari yang terbakar dan menyatu seorang anak perempuan berusia sembilan tahun. Dan, operasi itu berjalan sukses. Read the rest of this entry »

