Archive for the ‘Bedah Kini’ Category

Usus buntu (appendix) sering dianggap sebagai organ yang tak berguna dan begitu mudah dipotong ketika terjadi infeksi. Namun, Bill Parker dari Duke University dalam publikasinya di Journal of Theorethical Biology tahun 2007 menyanggah pandangan tersebut.

Parker mengungkapkan, ketika saluran pencernaan seseorang mengalami infeksi, jumlah bakteri menbguntungkan akan menurun. Usus buntu berperan mengembalikan kembali populasi bakteri menguntungkan bagi manusia. Read the rest of this entry »

Proton merupakan salah satu muatan partikel yang radiasinya bisa digunakan sebagai bagian dari radiotherapi untuk melawan kanker.  Menarik membaca semacam adventorial di salah satu koran yang mengungkapkan keunggulan cara ini yang dimiliki oleh salah satu rumah sakit modern di Cina.  Tapi apakah sebenarnya radiotherapi itu? Apa keunggulan partikel proton dibanding sinar lainnya seperti sinar –X, sinar gamma, partikel poton atau jenis partikel  lain?

Sejak lama diketahui therapi dengan penyinaran partikel berenergi tinggi menjadi salah satu kombinasi untuk mengatasi keganasan suatu tumor di organ tertentu tubuh manusia. Sekalipun tidak semua kanker cukup responsif terhadap therapi radiasi ini. Radiasi berenergi tinggi ini bisa diberikan  melalui sinar yang ditembakkan lewat mesin tertentu yang berada di luar tubuh si pasien (external beam radiation therapy). Bisa juga material radioaktif ini ditempatkan di dalam tubuh manusia di areal dekat dengan tumor yang akan ditherapi atau disebut juga dengan internal radiation therapy atau brachytherapy. Read the rest of this entry »

Seperti layaknya stapler untuk menjepit atau menyatukan kertas, stapler juga digunakan di dunia pembedahan (surgery staple) untuk menyatukan kulit yg tersayat, memotong dan menyambung usus, menjepit pembuluh darah atau lapisan mukosa dan lain-lain.
Bahan stepler ini terbuat dari Titanium, stainless steel dan kemudian berkembang ada yang terbuat dari plastik dan bahan lain yang dapat didaur ulang. Pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli bedah Hungaria, bernama Humer Hultl pada tahun 1908. Kemudian penemuan ini dikembangkan lagi oleh von Petz, Friedrich dan Nakayama. Read the rest of this entry »

Rasanya tidak lengkap kalau blog yang membicarakan masalah Bedah ini tidak memuat tulisan tentang prestasi dokter Bedah Indonesia yang telah mampu untuk pertama kalinya menjalankan pembedahan cangkok hati (liver transplantation). Padahal peristiwa berlangsungnya operasi itu sudah cukup lama namun sampai sekarang masih hangat diulas di media karena si pasien sendiri masih mengadapi beberapa kendala dan belum dinyatakan boleh pulang dari rumah sakit.
Adalah seorang anak umur 3,5 tahun bernama Ramdan –yang belakangan ternyata namanyapun diganti- menderita atresia billIer sebagai pasiennya. Penyakit ini merupakan bawaan yang menggambarkan tidak terbentuknya saluran yang menghubungkan hati (liver) dan pancreas dengan usus halus dimana didalamnya dialirkan empedu dan produk produk kimiawi liver lainnya untuk dibuang atau ditumpahkan ke sistem pencernaan. Jelaslah pada penderita ini jika tidak ditangani, lama kelamaan akan menyebabkan kerusakan pada liver/hati akibat produk yang semestinya dikeluarkan masih saja terendap di dalamnya. Dan mungkin selama ini di Indonesia sebagian besar penderita sejenis meninggal pada usia sangat muda.
Read the rest of this entry »

Sejak ditemukan endoskopi  di awal tahun sembilan puluhan,  perkembangan teknik bedah minimal invasif ini semakin luas digunakan untuk berbagai macam jenis operasi. Read the rest of this entry »