Archive for the ‘Bedah Kini’ Category

Proton merupakan salah satu muatan partikel yang radiasinya bisa digunakan sebagai bagian dari radiotherapi untuk melawan kanker.  Menarik membaca semacam adventorial di salah satu koran yang mengungkapkan keunggulan cara ini yang dimiliki oleh salah satu rumah sakit modern di Cina.  Tapi apakah sebenarnya radiotherapi itu? Apa keunggulan partikel proton dibanding sinar lainnya seperti sinar –X, sinar gamma, partikel poton atau jenis partikel  lain?

Sejak lama diketahui therapi dengan penyinaran partikel berenergi tinggi menjadi salah satu kombinasi untuk mengatasi keganasan suatu tumor di organ tertentu tubuh manusia. Sekalipun tidak semua kanker cukup responsif terhadap therapi radiasi ini. Radiasi berenergi tinggi ini bisa diberikan  melalui sinar yang ditembakkan lewat mesin tertentu yang berada di luar tubuh si pasien (external beam radiation therapy). Bisa juga material radioaktif ini ditempatkan di dalam tubuh manusia di areal dekat dengan tumor yang akan ditherapi atau disebut juga dengan internal radiation therapy atau brachytherapy. Read the rest of this entry »

Seperti layaknya stapler untuk menjepit atau menyatukan kertas, stapler juga digunakan di dunia pembedahan (surgery staple) untuk menyatukan kulit yg tersayat, memotong dan menyambung usus, menjepit pembuluh darah atau lapisan mukosa dan lain-lain.
Bahan stepler ini terbuat dari Titanium, stainless steel dan kemudian berkembang ada yang terbuat dari plastik dan bahan lain yang dapat didaur ulang. Pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli bedah Hungaria, bernama Humer Hultl pada tahun 1908. Kemudian penemuan ini dikembangkan lagi oleh von Petz, Friedrich dan Nakayama. Read the rest of this entry »

Rasanya tidak lengkap kalau blog yang membicarakan masalah Bedah ini tidak memuat tulisan tentang prestasi dokter Bedah Indonesia yang telah mampu untuk pertama kalinya menjalankan pembedahan cangkok hati (liver transplantation). Padahal peristiwa berlangsungnya operasi itu sudah cukup lama namun sampai sekarang masih hangat diulas di media karena si pasien sendiri masih mengadapi beberapa kendala dan belum dinyatakan boleh pulang dari rumah sakit.
Adalah seorang anak umur 3,5 tahun bernama Ramdan –yang belakangan ternyata namanyapun diganti- menderita atresia billIer sebagai pasiennya. Penyakit ini merupakan bawaan yang menggambarkan tidak terbentuknya saluran yang menghubungkan hati (liver) dan pancreas dengan usus halus dimana didalamnya dialirkan empedu dan produk produk kimiawi liver lainnya untuk dibuang atau ditumpahkan ke sistem pencernaan. Jelaslah pada penderita ini jika tidak ditangani, lama kelamaan akan menyebabkan kerusakan pada liver/hati akibat produk yang semestinya dikeluarkan masih saja terendap di dalamnya. Dan mungkin selama ini di Indonesia sebagian besar penderita sejenis meninggal pada usia sangat muda.
Read the rest of this entry »

Sejak ditemukan endoskopi  di awal tahun sembilan puluhan,  perkembangan teknik bedah minimal invasif ini semakin luas digunakan untuk berbagai macam jenis operasi. Read the rest of this entry »

stemcell-surgeryPertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Ahli Bedah Indonesia beberapa hari lalu di Surabaya mengusung ‘Surgery in the Future’ sebagai themanya. Tepat sekali diketengahkan sebelum kita memasuki dekade baru yang penuh dengan tantangan dan kemuktahiran perkembangan ilmu serta teknologi termasuk juga di bidang Bedah. Dua issue terpenting dibicarakan berkenaan Bedah masa depan ini adalah tentang Robotic surgery dan Stem Cell Surgery. Mengenai robotic surgery sudah pernah sekilas saya ulas dalam blog ini, namun tentang apa itu pembedahan stem cell kiranya perlu juga kita mengenalnya sedikit lebih dalam.

Penggunaan stem cell atau sel Punca sebagai therapy terhadap suatu penyakit, saat ini mulai akan dikembangkan dan menjadi harapan baru bagi perkembangan kedokteran di seluruh dunia. Penerapannya hampir bisa digunakan di berbagai bidang kedokteran, sebagai solusi baru menggantikan therapy konvensional baik untuk menangani kelainan jantung, kanker, gangguan pada mata, kelainan otak, darah, penyakit endokrin, penyakit degeneratif dan masih banyak lagi. Hingga nantinya akan diperlukan untuk penanganan pasien di semua ruang lingkup bidang bedah, termasuk bedah kecantikan (estetik).

Terapi stem cell adalah jenis terapi yang mempunyai prinsip dasar menggunakan stem cell untuk mengobati sel-sel jaringan yang rusak, baik yang disebabkan oleh penyakit maupun cedera. Kemampuan stem cell yang luar biasa ini, karena potensinya untuk memperbaharui diri dan beregenerasi, sehingga berpotensi besar untuk menggantikan sel-sel sakit dan rusak di dalam tubuh, dengan resiko penolakan lebih kecil, jika dibandingkan dengan transplantasi organ. Jadi stem cell merupakan sel induk yang dapat berdeferensiasi atau merubah diri menjadi berbagai macam sel, sesuai dengan lingkungannya. Bisa berubah menjadi sel-sel otot, sel pembuluh darah, sel endokrin, ephitel atau yang lain. Dan kemudian berkembang bertambah banyak. Secara garis besarnya, ada dua jenis sel asal yang bisa diambil untuk dibiakkan menjadi stem cell ini. Stem cell yang berasal dari sel dewasa –yang jenis inilah dipakai untuk penelitian dan digunakan untuk therapy- serta stem cell embryonal yang aplikasinya masih dibatasi oleh etika medis padahal memiliki potensi diferensiasinya lebih baik dibandingkan dengan adult stem cell. Dan dewasa ini, stem cell juga telah dapat dikembangkan di laboratorium secara invitro, yang selanjutnya berdiferensiasi menjadi sel khusus dengan karakteristik yang sesuai dengan sel dari berbagai jaringan seperti otot atau sel saraf. Stem cell ini dapat diperoleh dari berbagai sumber, termasuk dari plasenta, tali pusat janin, darah, dan sumsum tulang.

Tantangan yang masih harus terus dikembangkan oleh para ilmuwan menyangkut sel ini adalah bagaimana mengendalikan perkembangan sel-sel tersebut sehingga terjamin aman penggunaannya pada uji klinis dan saat terapan implantasinya pada pasien. Tantangan lain, bagaimana menstimulasi sel embryonal, supaya dapat memperlihatkan daya bereproduksi yang tinggi sehingga penyembuhan yang diperoleh lebih optimal. Dan melakukan pengujian terhadap efek samping dan daya tolak tubuh terhadap stem sel ini masih akan menjadi kelemahan dan tantangan untuk diminimalisir. Beruntung sekali di Indonesia walaupun penerapan pada pasien masih sangat terbatas, namun sudah termasuk lumayan banyak ilmuwan yang belajar tentang ilmu ini. Terbukti juga sudah terbentuk Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI). Dan di dunia Bedah sudah dilaporkan beberapa penggunaan sel ini untuk penyembuhan pasien, terutama di bidang orthopedi dan onkologi. Semoga penemuan ini akan menjadi harapan baru yang revolusioner di dunia kesehatan terutama penanganan di bidang Bedah.