Archive for the ‘Bedah Kini’ Category

Ternyata ada efek positifnya seorang dokter Bedah yang mahir bermain PS (play station). Ketrampilan itu menjadi dasar untuk menjalankan pembedahan atau operasi dengan menggunakan robot. Robotic Surgery merupakan salah satu terobosan teknologi di bidang Bedah yang sebetulnya sudah tidak menjadi sesuatu teknik baru lagi di kamar-kamar operasi rumah sakit Bedah di beberapa negara maju. Perkembangannya mulai kelihatan sekitar awal tahun 2000-an. Menjadi hal menarik untuk diceritakan, karena belakangan ini banyak ahli bedah dari Indonesia yang mulai belajar pembedahan robot ini ke Singapura dan Eropa. Hal ini juga mengartikan bahwa fasilitas layanan Robotic Surgery sudah ada dan akan diadakan lagi di kota-kota besar di Indonesia.

Sejarahnya, bermula dari penggunaan jarum untuk melakukan biopsy pada jaringan otak pada tahun 1985 yang mengandalkan robot (PUMA 560) dengan bantuan CT scan untuk menjamin keakuratan posisi tusukan. Kemudian berkembang pada tahun 1992 digunakan untuk pembedahan kelenjar prostat dan beberapa bedah minimal invasif di bidang orthopedi. Pada saat ini robot yang banyak digunakan adalah produksi Intuitive Surgical bernama da Vinci yang pengoperasiannya didukung oleh Computer Motion menggunakan ZEUS robotic surgical system. Alat bantu pembedahan ini mempunyai 3 komponon pokok; surgeon’s console berupa perangkat komputer, robot dengan 4 lengan / tuas (1 untuk mengontrol kamera dan 3 untuk menggerakkan instrumen) dan 3D vision system. Gerakan tangan dokter Bedah sebagai operator yang memegang remote control dapat diatur agar sesuai dengan gerakan mikro pada instrumen dalam tubuh pasien. Kondisi lapangan operasi diperlihatkan di monitor komputer bersumber dari kamera kecil dengan pembesaran sampai 25 kali. Dengan vision system yang canggih membuat sang operator bisa dengan tepat memanipulasi (memegang, menyisihkan, memotong, menjepit) jaringan di areal pembedahan menggunakan tangan-tangan robot ini melalui beberapa kanula yang masuk ke bagian dalam tubuh penderita.

Jadi ada 3 keunggulan utama penggunaan Robotic Surgery, yakni; bisa dijalankan dengan remote control (tidak menyentuh langsung), minimal invasif dan operator tidak perlu hadir di kamar operasi. Dengan demikian operasi ini dapat mengurangi rasa nyeri, memperkecil sayatan luka operasi, meminimalisir perdarahan dan mempersingkat waktu rawat pasca operasi. Dapat diaplikasikan hampir ke semua sub bidang Bedah seperti pembedahan jantung (cardiovascular), bedah digestif, urologi, onkologi, bedah saraf, pediatric dan lain-lain bahkan sudah juga berkembang untuk pembedahan gynecologi. Tercatat di Amerika dan Eropa, da Vinci Robotic Surgical System telah digunakan lebih di 800 rumah sakit pada tahun 2006 untuk menyelesaikan sebanyak 48.000 kasus bedah.

Lalu bagaimana implikasi teknik ini yang memungkinkan dokter Bedah bisa mengerjakan operasi dari jarak jauh bahkan sampai ribuan kilometer (lintas negara)..? Bayangkan, dokter Bedah yang berada di Amerika sedang mengoperasi pasien yang berada di atas meja operasi rumah sakit di Jakarta misalnya… Jelaslah hambatannya juga banyak! Baik menyangkut masalah teknis, seperti ketergantungan alat, pengaruh listrik, jaringan koneksi -baik telpon ataupun internet- dan lain-lain maupun masalah etika dan hukum. Pasien tidak lagi mempunyai kontak bahkan tidak kenal dengan dokternya karena tidak ada sentuhan pemeriksaan fisik dan hubungan psikologis melalui penerimaan keluhan, anamnesa, saran serta nasehat dokter. Dari sisi hukum, apalagi yang berlaku sekarang, jelas SIP (Surat Ijin Praktek) tidak memperbolehkan seorang dokter menyelenggarakan layanan kesehaten di tempat lain di luar kawasan surat ijin tersebut. Kalau pun teknologi ini bisa lancar dalam penerapannya, mungkin akan lebih baik jika dimanfaatkan untuk bimbingan, arahan dan bantuan teknik dari dokter Bedah yang telah berpengalaman yang berada jauh terhadap koleganya yang relatif lebih dekat bersentuhan dan berhubungan dengan si pasien. Cara praktek seperti ini disebut tele-mentoring.

Bagaimanapun, kemajuan teknologi yang bertujuan memudahkan penggunanya di dunia medis terkadang justru terbentur dengan etika profesi medis itu sendiri. Maka masih tetap diperlukan cara atau stretegi untuk dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan etika….

Upaya penurunan berat badan menjadi trend di era ini sebagai salah satu cara untuk mempercantik diri. Berbagai macam metodanya, ada yang hanya mengatur diet, menggunakan obat termasuk golongan herbal sampai ke upaya-upaya yang lebih memanipulasi tubuh –disebut poles body kalau di automotive- seperti dengan sistim injeksi lemak ataupun penyedotan lemak (liposuction). Tapi untuk mereka yang tergolong overweigh atau obesitas (baca; penyakit kelebihan berat badan), upaya-upaya di atas tidaklah efektif. Mereka lebih membutuhkan tindakan yang lebih invasif lagi. Di beberapa negara yang sudah maju teknologi kedokterannya, satu ketrampilan bedah yang menjadi laris saat ini adalah Bariatric Surgery, yaitu suatu pembedahan untuk menanggulangi –baik itu mencegah maupun mengatasi- kondisi berat badan yang di atas normal.

Salah satu teknik dalam Bariatric Surgery yang saat ini berkembang pesat, terutama di Amerika dan Eropa adalah Gastric Bypass Surgery. Bahkan di USA merupakan operasi yang tidak istimewa lagi karena sampai saat ini sudah lebih dari 140.000 kali dikerjakan. Teknik ini merupakan perkembangan atau modifikasi dari teknik sebelumnya, yaitu dengan mengurangi volume lambung dan menyambungkan hanya sebagain kecil saja (bypass) usus halus ke bagian muara lambung (gaster), sehingga di samping penderita selalu merasa kenyang pada keadaan volume makanan yang relatif sedikit, juga mengurangi penyerapan sari makanan oleh usus halus yang membuat kalori yang diterima tubuh juga diperkecil. Awalnya diperkenalkan teknik Biliopancreatic Diversion (BPD) lalu disempurnakan dengan Duodenal Switch Procedure (BPDWS). Prosedur yang belakangan ini diharapkan lebih baik karena beberapa ahli Bedah percaya bahwa dengan mempertahankan pyloric spinchter (muara bawah lambung), makanan akan dicerna lebih baik, menurunkan tingkat malnutrisi dan defisiensi vitamin, serta dapat mencegah dumping syndrome pasca pembedahan. Pengerjaan teknik-teknik ini menggunakan peralatan laparoscopy, yang cukup dengan sayatan sepanjang 1 sampai 1,5 inci saja di beberapa lokasi permukaan perut, sudah bisa mengakses di bagian dalam dan dapat menyelesaikan operasi ini tidak lebih dari 4 jam. Namun pada beberapa kasus, atas pertimbangan dokter bedahnya bisa saja cara minimal invasive surgery ini dikonversi atau diganti dengan cara konvensional, yakni pembedahan terbuka /open surgery.

Berbeda dengan jenis pembedahan Bariatric lainnya, Gastric Bypass mempunyai beberapa keunggulan, diantaranya tidak harus merobah cara dan pola makan, makanan tidak perlu dikunyah sampai puluhan kali agar lebih hancur, volume makanan yang dapat ditampung juga lebih banyak sehingga pasien tidak begitu merasa terbebani (daya tampungnya 5 – 6 ons makanan, dibanding 1 – 1,5 ons dengan teknik lain). Dilaporkan juga penyerapan kalori yang dihasilkan dapat diturunkan hingga 50%-nya. Dan efek gejala dumping (dumping syndrome) secara signifikan bisa ditekan. Dumping syndrome adalah sekumpulan gejala, seperti mual, keringat dingin, rasa nyeri uluhati, muntah bahkan diare berat akibat makanan yang masuk ke lambung dialirkan begitu cepat menuju ke usus halus (duodenum). Gastric bypass merupakan pembedahan yang bersifat irreversible, tidak bisa dikembalikan ke bentuk semula, sangat berbeda dengan Adjustable Gastric banding. Hal ini pula memberi keuntungan dengan tidak repot memperhatikan alat bantu, yang membutuhkan prosedur lain setelah pembedahan.

Adjastable Gastric Banding adalah operasi dengan menyisipkan bahan pengikat lambung jenis silicon yang ditempatkan lebih dekat ke arah muara masuk lambung sehingga ruangan di dalam lambung juga dipersempit. Dan daya jerat alat ini bisa diatur sedemikian rupa yang berarti juga mengatur kwantitas serta aliran makanan ke duodenum. Pengaturannya melalui cairan yang ditempatkan dalam suatu port di bawah permukaan kulit, bisa diisi ataupun dikurangi dengan mudah menggunakan spite injeksi.

Bagaimanapun, Gastric Bypass Surgery memberikan kenyamanan pada pemakainya, dengan tidak terlalu dipusingkan oleh keterbatasan mengkonsumsi makanan tertentu, cara serta kebiasaan makan. Dan dari penelitian membuktikan bahwa hasilnya excellence, dapat mengurangi kelebihan berat badan hingga 70 – 80% di atas 2 tahun pasca pembedahan. Namun demikian, malnutrisi menjadi efek samping yang masih menjadi ganjalan, sehingga pada orang-orang yang menjalani operasi ini dibutuhkan suplay vitamin dan mineral yang cukup.

notes1NOTES (Natural Orifice Transluminal Endoscopic Surgery) adalah pembedahan yang dikerjakan melalui lobang-lobang alami tubuh, seperti mulut, lobang kemaluan, lobang dubur, telinga dll. Jadi operasi jenis ini tidak membutuhkan torehan di permukaan tubuh melainkan insisinya dilakukan di lapisan tubuh bagian dalam sehingga tidak akan terbentuk scar/bekas luka di bagian kulit kita. Teknik ini merupakan terobosan baru yang tentu lebih advance dari minimal invasive surgery yang sudah banyak digunakan saat ini. NOTES masih dalam pengembangan dan yang pertama kali mempublikasikan istilah ini dan baru terbatas saat itu penerapannya hanya pada binatang adalah Tim Peneliti dari John Hopkins Univesity. Belakangan teknik ini pernah digunakan di India untuk operasi apendik pada manusia, melalui lambung atau apa yang disebut dengan transgastic appendectomy. Pada 25 Juni 2007 Swanstom dan kawan2nya melaporkan pengerjaan transgastric cholecystectomy yang pertama kali pada manusia. Setelah itu sekelompok dokter Bedah dari Portugal mencoba melakukan NOTES dengan mengkombinasi dari 2 akses untuk mempermudah dan memaksimalkan hasil pembedahannya. Dilaporkan mereka telah berhasil mengerjakan cholecystectomy secara transgastric dan trasvesical approach (operasi pengangkatan kandung empedu melalui mulut dan saluran kencing yang kemudian alatnya ditembuskan melewati lambung dan kandung kencing). NOTES dengan akses transvaginal dikatakan lebih aman dan lebih mudah diaplikasikan. Group peneliti NOTES dari Rio de Janeiro, Brazil dipimpin Dr. Ricardo Zorron pada awal bulan Maret 2007 telah melakukan serial pembedahan cholecystectomy transvaginal pada 4 orang pasien. Tentu pengerjaan ini hanya dapat dilakukan pada pasien wanita saja. Selain di bidang Bedah Digestif sampai saat ini NOTES sudah diterapkan di sub Bedah Urologi, Bedah Saraf dan lain-lain.

NOTES telah menjadi paradigma baru dalam dunia pembedahan. Jauh lebih mengungguli teknik laparoscopy yang menjadi trend pada era tahun 1980 dan 1990. Keunggulannya selain hanya membutuhkan anasthesi rendah, juga recovery pasien bisa dipercepat, mengurangi waktu tinggal di rumah sakit serta bisa terhindar dari komplikasi luka transabdominal seperti infeksi dan hernia. Selain itu NOTES akan mengurangi efek immunosupresif, mengembalikan dengan cepat fungsi paru dan diafragma pasca operasi. Dan yang paling mudah dinilai pasien, bahwa dengan NOTES tidak akan menimbulkan bekas luka pada permukaan tubuh…

Bagaimana perkembangannya di Indonesia? Laparoscopy saja masih tergolong teknik baru, walaupun sudah luas penggunaannya di kota-kota besar, apalagi NOTES!

Kita tunggu saja laporan dari center2 pendidikan Bedah Digestif, siapa tahu sudah ada senior kita yang berniat menerapkan teknik ini di Indonesia…