Posts Tagged ‘ATLS’

atls-blog11Tidak bisa disangkal lagi bahwa saat ini jadwal penyelenggaraan kursus ATLS di Indonesia dirasakan masih kurang. Penilaian ini muncul tentu jika didasarkan atas begitu banyaknya peminat. Bayangkan, yang mendaftar hari ini baru akan mendapat giliran bisa hingga tahun depan. Sehingga untuk mengejar antrean ini banyak peserta -para dokter- yang terpaksa mengikuti pelatihan ini di luar daerah tempatnya bertugas atau berdomisili. Kenapa kursus yang lumayan mahal ini bisa begitu dibutuhkan? Karena sudah tidak dapat disangkal juga, bahwa setidaknya dalam 5 tahun terakhir ini sertifikat lulus kursus ATLS menjadi persyaratan bagi tenaga dokter yang berniat melamar kerja di sebagian besar rumah sakit, klinik atau instansi lain yang menyelenggarakan layanan kesehatan. Begitu pula untuk keperluan melanjutkan sekolah spesialisasi. Beberapa PPDS tertentu mewajibkan calon residennya untuk mengikuti pelatihan ini.

Dengan tidak kurang dari 20 Fakultas Kedokteran yang ada di Indonesia, kalau dihitung secara kasar dengan asumsi bahwa peminat ATLS sekitar 50%nya saja dari tamatan dokter baru itu, maka setidaknya dibutuhkan sekitar 70 sampai 75 kelas penyelenggaraan ATLS setiap tahunnya di Indonesia. Belum termasuk pelatihan ini diminati atau pun diwajibkan bagi kalangan dokter yang telah bertugas beberapa tahun sebelumnya. Itu berarti frekwensi penyelenggaraan ATLS selama ini yang diorganisir oleh IKABI (Ikatan Ahli Bedah Indonesia) melalui Komisi Trauma-nya memang betul masih terasa kurang. Padahal hampir setiap minggu kursus ini diadakan secara terjadwal menyebar di seluruh Indonesia. Lalu bagaimana solusinya..?

Yang sudah diupayakan dan mungkin perlu pula dicari terobosan lain untuk memperkecil kesenjangan ini adalah meningkatkan jumlah kelas penyelenggaraan, memperbanyak instruktur, menerapkan dan mendelegasikan pelaksanaan per region atau wilayah, serta upaya upaya lain tanpa mengurangi kwalitas pelaksanaan dan cetakan lulusan kursus yang terstandarisasi. Namun apa yang diungkapkan di atas tidaklah semudah penerapannya. Tidak gampang mengkoordinasi penyelenggaraan dengan melibatkan banyak peserta dan instruktur. Tidak pula banyak dokter bedah yang bisa dan berkenan untuk dijadikan instruktur serta mau untuk siap mengajar sesuai waktu yang diperlukan. Belum lagi problem penunjang yang lain; alat peraga, perangkat hard dan soft ware-nya, penunjang adminstrasi, logistik dan tim pelaksana (perawat dan crew) yang teramat sangat berperan di balik kesuksesan penyelenggaraan suatu kursus ATLS. Tidak mudah kita mencari orang macam Andanu, bang Saiful, Pak Bagyo yang sudah tergolong gila di komunitas ATLS untuk berbasah, berbaur dan selalu siap kemana dan dimana saja sebagai instruktur. Dan susah pula kita mendapatkan orang seperti Magda di Banjarmasin, Vivi di Makasar dan lainnya yang begitu besar perhatian serta pengorbanannya untuk kesuksesan pelaksanaan ATLS di daerah…

Abang Nazar pernah mengungkapkan galaunya, bagaimana pelaksanaan ATLS ke depan. Akankah kita tidak bisa menerima tantangan terhadap banyaknya permintaan ini? Mungkinkah nanti akan muncul sejenis ATLS tandingan yang kwalitasnya masih perlu dipertanyakan? Ataukah nanti suatu saat kita harus terpaksa menyerahkan kepada pemerintah untuk mengambil alih penyelenggaraannya…

Memang sudah saatnya problem ini dibicarakan serius di level yang lebih tinggi. Bravo untuk penyelenggara ATLS!

Atas anjuran beberapa teman yang sudah pernah ke Semarang, aku pilih berangkat ke sana via Jogyakarta ketimbang lewat Surabaya. Ternyata ada pilihan lain, yang bisa jadi lebih cepat dan tidak membosankan di jalan, yakni melalui Jakarta dengan 2 kali naik pesawat. Begitulah, agak ribet memang perjalanan itu karena belum ada penerbangan dari Bali yang langsung ke Semarang. Untung saja aku selalu ditemani si hitam persegi laptop yang terbungkus di dalam rangsel kumalku, sehingga aku bisa kotak katik keyboard untuk menulis sesuatu, sambil dengar musik dan browsing menggunakan modem Indosat 3.5G andalan untuk akses internetku.
Ini membuat perjalanan darat Jogya – Semarang selama lebih 3 jam berhasil dilalui dengan enjoy aja… Ketika ngenet yang sinyalnya terkadang terganggu saat perjalanan, sekali kali sempat juga aku melihat pergerakan online trading-ku di hari Kemis itu, menjelang penutupan akhir pekan. Seperti tsunami dan wabahnya sudah terdengar sejak minggu lalu, index harga saham di BEI melorot lagi. 3 jenis saham yang kupegang pun membuat portofolioku menjadi babak belur, walaupun aku baru mampu bermain di level partai riteil, sebagai investor ecek-ecek. Untungnya justru di forex trading posisi gbp/yen-ku sedikit membawa profit. Tapi yang paling penting, kegoncangan itu semua tidak sampai mengganggu stabilitas fisik mental dan finansialku.
Tiba di Semarang sudah sore. Langsung chek-in di Grand Santika, sesuai arahan panitia. Mulai malam ini sampai baru tadi sore (aku tulis cerita ini saat perjalanan pulang, Minggu 19 Oktober), selama 3 hari penuh aku turut sibuk di kursus ATLS bersama instruktur lain dari berbagai daerah dan tentu bersama peserta, yang kali ini berjumlah tidak kurang dari 60 orang yang dibagi dalam 2 kelas. Aku kebagian mengajar di kelas pertama bersama dengan sebagian besar teman instruktur yang aku sudah kenal sebelumnya. Singkat cerita, tidak ada masalah berarti yang dibicarakan saat faculty meeting malam itu. Masih hal-hal rutin seperti pelaksanaan pelaksanaan sebelumnya. Mulai Jum’at pagi setelah pembukaan, berjam jam kami harus berada di Rumah Sakit Kariadi dari pagi jam 7.30 sampai pulang balik ke hotel jam yang sama juga pada malamnya. Memang ATLS adalah kursus yang berat, menguras pikiran, tenaga dan berbiaya mahal. Sesuai jadwal, selain mengikuti beberapa pelajaran di kelas, animal lab dan skill station, aku mempunyai tugas utama untuk memberi kuliah interaktif tentang trauma abdomen, membimbing langsung untuk ketrampilan bedah dengan hewan kambing, sebagai skondan / pedamping dr. Respati membawakan kuliah dan skill station di ‘musculloscletal’ dan di hari kedua juga membimbing kemahiran membaca foto x-ray Thorax. Di hari ketiga, setelah menjelaskan dan mengarahkan untuk bisa menjalankan triage, juga memantapkan peserta dengan latihan simulasi pasien trauma dan terakhir sebelum pulang kebagian tugas menguji 3 orang peserta kursus. Uniknya, mungkin juga kebetulan semata, kali ini ada 2 profesor yang mendampingiku. Tidak enaknya, justru aku yang memberikan kuliah trauma abdomen, sedangkan Prof. Riwanto yang ahli bedah digestif itu bertugas sebagai pedamping. Tapi itulah ATLS, kami para insruktur berada sejajar dan beliau beliau senior tidak menempatkan diri lebih di atas, hingga justru karena ini kita bisa berinteraksi dan berguyon antar satu dengan lainnya tanpa jarak di saat senggang. Jadi membuat suasana tambah hidup! Sedangkan bersama Prof. Marwoto, Sp.An aku berbagi peserta untuk kami uji satu persatu di satu ruangan. Dilihat dari sisi peserta, lumayan responnya. Cukup banyak terjadi interaksi dengan instruktur sekalipun hasil ujuan tulisnya belum ada yang menyandang predikat lulus langsung…
Acara di luar course, tidak seperti biasanya, malam minggu itu seusai makan malam, bersama geng dengan Magda sebagai leadernya, kita berangkat ke Lawang Sewu untuk mengadu nyali! Mengadu nyali..? Ya, Lawang Sewu adalah satu bangunan tua peninggalan Belanda yang cukup besar yang konon sekarang menjadi rumah para hantu. Kita datang ke sana mencoba melihat dan ingin membuktikan apakah para jin itu memang ada. Didampingi seorang pemandu, dengan suasana gelap ditambah hujan gerimis kami diajaknya memasuki lorong dan ruangan-ruangan bekas pembantaian di jaman jepang. Cukup merinding dibuatnya. Tapi tidak ada satu pun diantara kami yang melihat mahluk halus itu, kecuali si Nardo. Ia lari ketakutan karena merasa ada orang tinggi besar dengan wajah berantakan menatapnya dalam dalam. Kata teman yang lain, “Mana kita tahu, itu kan katanya Nardo…”
Sekalipun cerita-cerita di atas agak terlepas dari dunia per-bedah-an, tapi itu kan juga menjadi kegiatan-koe (sesuai katagori tulisan ini). Dan, akhirnya sebagai penutup yang sedikit membuat kaget, walaupun ini baru sebatas wacana, ada salah seorang senior menawarkan..”Eka, apa mau dikirim ke Israel untuk mengikuti pelatihan disaster..?” Wow…. ke Israel ?! Saat itu aku sanggupi, tapi setelah itu baru aku berpikir… untuk berapa lama ya…??