Posts Tagged ‘komunikasi’

Secara umum karakter pasien dibedakan mejadi 2 tipe. Yang cenderung ingin mencari informasi lebih jelas –information seeking-  Read the rest of this entry »

complain2Derasnya arus informasi membawa dampak juga bagi halayak pengguna jasa medis khususnya di rumah sakit akan hak-hak mereka sebagai pasien dan semakin terbuka wawasan tentang bagaimana semestinya seorang dokter atau paramedik menyikapi serta melayani pasien. Sehingga tidak jarang hal-hal yang tidak terlalu krusial sudah bisa menjadi pemicu terjadinya protes atau complain. Dalam kondisi tertentu keadaan ini bisa menjadi sedikit ricuh dengan keterlibatan pihak ketiga. Apalagi kemudian pihak ‘pemanas’ ini memang tahu atau mungkin tidak sepenuhnya paham tentang malpraktek. Sedangkan istilah malpraktis itu sendiri masih rancu kalau dipandang dari opini kebanyakan orang non medis.

Tidak ada jalan terbaik untuk menyelesaikan perselisihan medis ini selain secara kekeluargaan melalui komunikasi yang baik. Menempuh jalan secara frontal, menuntut ke meja hijau, disamping akan menguras tenaga dan waktu, sudah bisa dipastikan akan mengeluarkan pembiayaan yang tidak sedikit pula dari kedua belah pihak. Dalam hal penuntutan yang ditujukan kepada seorang dokter sebagai individu, dari pengamatan selama ini lebih sering terombang ambing di perjalanan proses hukum. Satu hal yang mendasari ini, pada hakekatnya seorang atau sekelompok pekerja medis pastilah bekerja dengan tanpa ada niat yang tidak baik, apalagi mengarah ke tingkatan kriminal. Memang lebih sering kesalahan dan komplikasi yang terjadi akibat kelalaian. Itulah penyababnya jajaran ini tidak bisa dipersalahkan secara total. Sehingga, dari pada berharap akan terbayar dari satu penyelesaian perkara yang belum tentu berhasil dari kacamata penuntut, lebih baik dicarikan solusi dengan cara terbuka dan kekeluargaan. Entah itu berupa tanggungan terhadap biaya yang muncul kemudian atau pun dukungan moral maupun material lainnya. Jangan sampai terjebak -sekali lagi- oleh pihak tertentu yang mengambil keuntungan dari kekisruhan ini, yang kebanyakan tidak seratus persen berniat betul menolong.

Dokter juga manusia biasa, tidak terlepas dari kesalahan . Di sisi lain sebagai manusia mereka juga punya rasa, apalagi yang dihadapi adalah mereka yang tak berdaya dan menderita kesehatannya. Jadi rasanya tidak menjadi alasan kuat membuat suatu masalah menjadi semakin runcing kalau sudah terjadi komunikasi sejak awal. Khususnya bagi dokter bedah sentuhan komunikasi sudah terjadi saat pertama kali si dokter mencari keterangan tentang perjalanan keluhan si pasien. Diberi kesempatan pula ketika menyampaikan rencana operasi dan menjelaskan prosedur serta rangkaian lain berkenaan dengan pembedahan itu, berlanjut sesaat setelah operasi untuk menjelaskan apa yang telah dilakukan dan seterusnya. Jika interaksi ini sudah berjalan, semestinya akan terjadi keterbukaan dan kemungkinan terjadi perselisahan pun semakin kecil.

Namun, kembali pada karakter manusia yang memang bervariasi, ada saja tipe penerima jasa medis (pasien) yang cenderung dan belum puas kalau belum ada complain. Begitu pula dokter dan staf medisnya ada pula yang berkarakter tidak sabar, merasa benar dan pelit untuk diajak berkonsultasi. Artinya juga bahwa kemungkinan terjadinya perselisihan medis itu tetap ada. Maka selain memberi peluang pihak asuransi untuk menengahi hal ini, beberapa organisasi profesi saat ini telah juga mempunyai seorang pakar hukum untuk membentengi anggotanya dari tuntutan pengadilan.

Hal ini juga sadar atau tidak disadari bisa membawa tarif atau ongkos seorang tenaga medis makin tinggi. Pada buntutnya, masyarakt kembali akan terkena beban terhadap mahalnya mendapatkan pelayanan medis yang baik dan bermutu…

Dokter Bedah juga manusia! Sangat manusiawi jika ia pernah melakukan kesalahan, terbawa emosi dan mengalami stress. Apalagi pekerjaannya sangat dekat untuk bersinggungan dengan hal-hal tersebut. Sehubungan dengan aktifitasnya, berikut beberapa hal yang bisa membuat seorang dokter bedah merasakan tekanan psikologis atau setidaknya terganggu pikirannya:
1. Menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan dugaan. Beberapa kelainan atau penyakit, sekalipun sudah digunakan berbagai pemeriksaan penunjang untuk tegakkan diagnosanya, setelah dibuka/dioperasi ternyata didapatkan sesuatu yang berbeda dengan duguaan semula. Hal ini bisa membuat seorang dokter bedah harus meminta pertimbangan, berkonsultasi atau melepas alih (over handle) pengerjaan pembedahan itu kepada dokter yang lebih senior, yang lebih berpengalaman atau bahkan ke dokter spesialis lain di luar lingkup bedah.
2. Menemukan kesulitan saat menjalani operasi. Oleh suatu sebab, dengan prosedur yang sudah dikuasai, tidak semua proses pembedahan berjalan mulus. Ini bisa pengaruh teknis atau non teknis dan yang lebih membuat stres kalau ketidaklancaran atau penyulit itu berasal dari kondisi anatomis pasien yang didapat di lapangan operasi. Misalnya yang tidak jarang dijumpai, yaitu ketika pembedahan terbuka harus dikonversikan karena teknik bedah minimal invasive tidak lagi bisa mengakses obyek yang dituju.
3. Terjadi komplikasi pasca operasi. Ini bisa mengenai setiap pasien yang menjalani operasi dan akan menyiksa ketenangan dokter bedah yang menanganinya. Mungkin tidak begitu masalah kalau terjadi komplikasi ringan. Tapi jika komplikasi itu sangat mengganggu pasien, belum lagi waktunya berkepanjangan dan kejadian ini tidak dijelaskan sejak awal sebelum terjadi, tentu akan menjadi petaka bagi seorang dokter bedah. Bisa saja hal ini memaksa dokter bedah untuk mengerjakan operasi ulang atau re-open guna membenahi gangguan komplikasi itu.
4. Membuat kecerobohan saat melakukan tindakan operasi. Sudah pasti hal ini merupakan sesuatu ketidaksengajaan. Jika ketidaksengajaan (iatrogenic) tersebut sudah diketahui saat proses pembedahan berlangsung, akan bisa diperbaiki saat itu juga sekalipun tentu memperpanjang waktu operasi dan menciptakan pula resiko tambahan. Tapi kalau kesalahan itu diketahui setelah selesai operasi, ini menjadi apes dokter bedahnya, apalagi buat si pasien! Contoh ekstrem misalnya benda asing yang tertinggal di dalam tubuh pasien…
5. Membawa kematian si pasien. Ini menjadi malapetaka paling serius bagi team bedah, terlebih kematian itu terjadi di atas meja operasi dan tidak diprediksi sebelumnya. Begitu pun jika kematian yang tidak diperkirakan itu terjadi sesaat sampai beberapa hari setelah pembedahan, akan juga menjadi kenangan pahit bagi dokter bedah. Maka akan menjadi dilema bagi dokter bedah dalam menangani pasien kritis yang membutuhkan pembedahan, antara harus dikerjakan atau tidak. Sangat dibutuhkan pengertian dan persetujuan dari keluarga penderita.
6. Tidak mengalami perbaikan setelah dilakukan pembedahan. Hal ini akan terus menjadi pertanyaan penderita. Tindakan bedah apa yang diterima, hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi atau memang pembedahan itu sendiri tidak memberikan makna terhadap penyembuhan pasien. Atau bahkan memperburuk keadaan, apakah dikarenakan kondisi atau penyakit penyerta –selain bedah- lainnya ataukah justru pembedahan itu yang menjadi pemicu terhadap perburukan kondisi penderita.
7. Ketidakpuasan pasien dan keluarga terhadap hal di luar teknis pembedahan. Keadaan ini lebih banyak berkenaan dengan sentuhan layanan sang dokter. Bagi dokter yang tidak punya waktu atau sulit untuk diajak berkonsultasi akan baru merasakan kekurangannya jika sudah ada keluhan pasien terhadap keterlambatan dokter tersebut dalam menangani atau memeriksa si pasien serta keluhan terhadap keengganan atau ketidakjelasan dokter dalam berkomunikasi dengan pasien atau keluarganya.

Semua hal tersebut di atas dapat diperkecil dampak dan bisa dicegah kejadiannya kalau sudah terjalin komunikasi yang baik antara dokter dan pasiennya. Jadi, sekali lagi, tetap menjadi yang terpenting adalah komunikasi, sekalipun suatu tindakan operasi sudah ditunjang oleh fasilitas yang canggih dan dokter bedah yang jago..!