Posts Tagged ‘mediator’

Hari Selasa kemarin pemberitaan nasional diramaikan dengan peristiwa matinya pejabat Ketua DPRD Sumatra Utara setelah mendapat serangan dari ratusan pengunjuk rasa di kantornya sendiri. Polemik lalu berkembang, apakah kematian itu akibat serangan jantung ataukah trauma fisik dari para demonstran yang memukuli beberapa bagian tubuh Bapak Abdul Azis Angkat ini. Seperti juga yang terlihat di monitor televisi dari berbagai stasiun, jelas sekali tampak korban dalam kondisi tertekan, baik psikisnya –kelihatan sangat stress- apalagi fisiknya, yang mengalami serbuan, himpitan, jepitan dan bahkan pukulan dari jarak yang sangat dekat dari beberapa orang. Dalam kondisi seperti itu, memang bagian tubuh yang paling mudah dan terekspos untuk mendapat serangan adalah di bagian kepala dan dada atau kemungkinan kecil juga di bagian perut.

Dikaji dari sisi ilmu traumatologi, sekeras-kerasnya pukulan dari kepalan tangan seseorang tidak akan menimbulkan kematian yang begitu cepat. Paling parah trauma di kepala akan menimbulkan kerusakan di otak dan perdarahan di dalam rongga tengkorak. Akan terjadi penurunan kesadaran, tapi tidak menimbulkan kematian dalam waktu kurang dari 3 jam, kecuali ada sumbatan jalan nafas. Sedikit lebih beresiko jika trauma mengenai bagian dada karena di dalam rongga dada (thorax) ada beberapa organ vital yang kalau mengalami kegagalan fungsi dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat. Organ tersebut adalah jantung, jalan nafas, paru-paru serta pembuluh darah besar. Apakah separah itu yang dialami korban? Kembali lagi dilihat pada mekanisme terjadinya trauma. Suatu trauma tumpul hingga sampai merusak atau setidaknya mencederai bagian organ dalam dada hampir dipastikan juga mengakibatkan remuknya tulang iga yang ada di bagian luar yang melindungi ruangan thorax tersebut. Sepertinya dari pengamatan yang bisa dilihat di televisi tidak ada benturan keras atau daya hantam yang kuat hingga membuat cedera parah di dalamnya sekalipun dari hasil pemeriksaan fisik dilaporkan adanya memar pada bagian permukaan tubuh korban.

Jadi yang paling mungkin menyebabkan kematian yang begitu cepat itu menurut saya adalah serangan jantung, yang justru dipicu oleh serangan para pengunjukrasa. Apalagi didasari oleh faktor resiko yang mungkin sudah ada sebelumnya, -seperti pernah riwayat gangguan irama jantung, kegemukan, merokok atau pun penyakit metabolik lainnya- ditambah lagi dengan suasana hiruk pikuk dengan kondisi udara atau oksigen yang sangat tidak nyaman sekitar lokasi tersebut, akan lebih memperkuat dugaan kematiannya akibat tidak begeraknya otot jantung korban. Keadaan stress yang berat dan tiba-tiba memacu keluarnya mediator (enzim) tubuh yang berpengaruh terhadap keadaan pembuluh darah di otot jantung. Pembuluh darah menyempit, aliran darah sangat berkurang dan oksigen pun tidak tersuplai secara cukup. Jaringan otot jantung mnejadi kekekurangan oksigen, rusak dan tidak mampu berdenyut lagi. Sehingga aliran darah dan oksigen ke bagian organ vital yang lain juga terhenti. Dalam hitungan menit tubuh kita tidak mampu untuk mengkompensasi diri dan terjadilah kematian.

Apapun penyebabnya, yang sudah pasti serangan dari ratusan demonstran itulah sebagai penyebab awal terjadinya peristiwa tragis ini. Hasil otopsi nantinya akan dapat menjawab secara lebih pasti organ dalam bagian mana yang mengalami cidera….