Posts Tagged ‘nekrosis’
Awas! Efek Obat Memperbesar Alat Vital
Last Updated on Saturday, 27 February o 11:37 Written by eka-kusmawan Wednesday, 24 June o 12:11
Masalah ini sengaja ingin saya ceritakan di blog karena dalam minggu ini saja saya mendapatkan 3 kasus hampir serupa, berhubungan dengan efek suntikan yang katanya berkhasiat untuk membesarkan bagian dari tubuh seseorang. Sekali pun keluhan yang sama sebelumnya pernah saya dapatkan di praktek dari beberapa orang pasien, tapi menjadi menarik karena mungkin kebetulan saja 3 orang pasien ini datang dalam waktu yang hampir bersamaan menderita setelah menerima suntikan atau injeksi silicon(?) yang didapat dari sumber yang berbeda, yang semuanya dikerjakan oleh orang yang tidak profesional di bidangnya, bukan dari kalangan medis dan parahnya lagi tidak bisa diminta pertanggungjawabannya. Dua orang pasien tadi bermasalah dengan penisnya dan satu pasien lagi seorang gadis bermasalah dengan kakinya yang mulus lantaran hanya karena ingin memperbesar betis yang dianggapnya masih kurang seksi.
Terus terang saya sendiri belum pernah melihat bagaimana cara menginjeksi ‘silicon’ atau minyak (?) ini, seberapa dosisnya dan di bagian mana semestinya suntikan itu ditusukkan. Tapi justru yang banyak saya lihat adalah dampak dari pemberian obat itu. Kebanyakan dari mereka adalah kaum pria yang berniat memperbesar alat vitalnya. Memang secara klinis tampak batang penis yang membesar tapi teraba bagian yang padat, padatnya tidak merata, warna kulit lebih gelap, mengeras dan kulit tidak dapat ditarik untuk membuka gland (kepala) penis serta tidak bisa dirasakan kerasnya otot di saat batang penis menjadi tegang . Penderita juga biasanya mengeluh terjadinya pemadatan yang semakin menyebar ke bagian lain yang tidak diharapkan. Dalam hal suntikan di bagian penis, pengerasan juga akan merambat ke bagian buah pelir dan ke bagian atas batang penis, di bawah dinding perut. Pada pasien lain yang disuntikkan sejenis bahan yang sama di bagian kaki guna memperbesar bentuk betis, mengeluh sangat nyeri di bagian kulit yang mengeras di sekitar tempat suntikan. Bagian yang mengeras dan nyeri ini semakin bertambah luas dan bahkan kulit jadi melepuh serta mengeluarkan cairan. Jadi jelaslah, bentuk bagian tubuh yang diharapkan lebih seksi, cantik atau perkasa malah menjadi rusak.
Sesungguhnya reaksi tubuh yang terjadi dan selama ini menjadi salah persepsi bagi penggunanya adalah apa yang disebut dengan fibrosis, yakni pengerasan yang tak sehat dari jaringan lunak dan bisa juga terjadi pada otot tubuh yang disensasikan sebagai pembesaran atau pengerasan di bagian itu. Fibrosis ini tidak saja bisa diakibatkan oleh respon tubuh terhadap cairan asing yang disuntikkan, juga bisa karena pengaruh trauma yang kuat dan berkelamaan. Ini juga yang menerangkan bagaimana pemijatan pada batang penis menimbulkan efek pembesaran. Karena fibrosis ini pula membuat beberapa struktur pembuluh darah, saraf, jaringan lemak dan jaringan lunak lainnya menjadi rusak sehingga penampakan dari luar memperlihatkan bagian kulit yang gelap dan cenderung nekrosis (mati). Berdampak pula terhadap kelenturan serta kekenyalan di bagian tubuh itu. Efek negatif lain yang ditimbulkan adalah infeksi. Ini karena kebersihan dan kandungan cairan yang dimasukkan ke dalam tubuh itu tidak dapat ditoleransi oleh jaringan di sekitarnya. Yang lumayan menyiksa adalah rasa nyeri yang sangat.
Ternyata penanganan bedah juga tidak menjamin hasil yang optimal. Luka yang ditimbulkan pasca operasinya tidak menyembuh secara sempurna dan itu pun memerlukan waktu yang lebih lama. Pada teknik bedah dengan mengangkat semua jaringan fibrotik tidak jarang dibutuhkan tindakan ‘skin grafting’ yakni dengan menggantikan kulit yang telah rusak tersebut dengan kulit dari bagian lain tubuh. Sesuatu pembedahan yang tergolong berat dan mahal yang cuma hanya dikarenakan ingin coba-coba sesuatu yang belum jelas. Ada juga kasus dengan begitu hancur dan parahnya kondisi ini berakibat daya ereksi penis jadi hilang sama sekali. Jika ini terjadi, merupakan pukulan telak dan penderitaan berkepanjangan bagi kaum laki-laki…
Maka, kepada anda, keluarga atau teman anda, waspada dan berhati-hatilah jika ada tawaran semacam ini dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Dan janganlah mencoba-coba sesuatu demi penampilan alat vital yang justru bisa berakibat vatal dan sesal berkepanjangan….
Tags: fibrosis, nekrosis, silicon, skin grafting | Posted under Kasus Bedah | 13 Comments
Perawatan Luka Kronis
Last Updated on Thursday, 25 February o 12:54 Written by eka-kusmawan Monday, 12 January o 09:44
Banyak di antara kita, termasuk juga pekerja medis belum memahami benar bagaimana merawat luka, terutama luka kronis dengan baik. Yang memang sudah dianggap biasa untuk merawat luka oleh pasien atau keluarga sekalipun, sekali waktu pernah merasa tidak percaya diri dalam menghadapi jenis luka yang penyembuhannya membandel ini. Padahal segala upaya telah dilakukan. Banyak pula jenis produk perawatan luka yang dipakai, waktu merawatnya pun sudah teratur dan disiplin, namun belum juga menampakkan tanda tanda penyembuhan. Luka kronis umumnya dimaksud adalah luka yang terinfeksi yang masa penyembuhannya tidak sesuai lagi dengan kondisi normal. Luka tersebut bisa berasal dari luka karena trauma, bekas operasi, fistel, abses, ulcus, luka diabetic, luka karena keganasan, tekanan, gangguan vaskuler dan lain-lain. Jenis kuman yang menginfeksinya bisa oleh bakteri, jamur, parasit ataupun virus. Jika tidak mendapatkan penanganan yang benar, dapat menimbulkan kerusakan yang lebih luas pada jaringan tubuh di sekitarnya, menyebabkan jaringan (bagian yang membentuk tubuh; kulit, lemak, fascia, pembuluh darah, saraf, otot bahkan tulang) menjadi mati atau nekrosis. Lebih jauh dari itu, dapat mengakibatkan penyebaran infeksi ke seluruh tubuh melalui darah, menjadi apa yang disebut dengan sepsis hingga mengancam nyawa seseorang.
Untuk mudah diingat, tahap penanganan luka kronis secara lokal dibagi menjadi empat, yang saling terkait dan tidak bisa dikerjakan tanpa berurutan. 
Mengangkat jaringan mati
Semasih di dalam luka ada jaringan mati (nekrotik), upaya apapun dikerjakan tidak akan berhasil. Sebab dengan adanya bagian jaringan yang membusuk, merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Mengakibatkan koloni bakteri akan makin berkembang, nanah semakin banyak dan kerusakan jaringan tambah lama tambah luas, sehingga jaringan yang rusak inipun menjadi mati dan membusuk. Upaya untuk membersihkan luka macam ini disebut dengan debridement. Pengertiannya, selain menghilangkan jaringan mati juga membersihhkan luka dari kotoran yang berasal dari luar yang termasuk benda asing bagi tubuh. Cara yang dikerjakan bisa secara pasif dengan mengompres luka menggunakan cairan atau beberapa material perawatan luka yang fungsinya untuk menyerap dan mengangkat bagian-bagian luka yang nekrotik. Cara ini tidak cukup dikerjakan 1 atau dua kali, mesti beberapa kali hingga butuh beberapa hari. Atau bisa dikerjakan secara aktif, relatif lebih praktis, dengan melakukan pembedahan. Memang dibutuhkan keberanian melakukan hal ini walaupun pertimbangan estetik tubuh bukan lagi menjadi prioritas. Ada juga yang kurang umum diketahui, yakni dengan mechanical debridement dan biological debridement (menggunakan serangga).
Menghilangkan nanah
Luka bernanah kebanyakan disebabkan karena bakteri. Ada bakteri yang menghasilkan banyak nanah, ada bakteri yang menimbulkan nanah serta bau khas, menghasilkan gas gangrene dan bau busuk yang menyengat dan ada yang dominan menyebabkan jaringan menjadi mati / nekrosis. Jadi dari kondisi luka saja sudah dapat diduga kuman penyebabnya. Walaupun sangat dibutuhkan pemeriksaan cultur –pembiakan kuman- untuk mencari secara pasti jenis kuman penyebab guna menentukan therapy antibiotika yang tepat. Dengan pembedahan, membuka serta mengalirkan nanah yang terperangkap di dalam tubuh merupakan cara terbaik untuk mengurangi pembentukan nanah. Upaya ini akan lebih lengkap jika diiringi dengan perawatan luka menggunakan absorbent agent atau yang lebih sederhana cukup dengan cairan fisiologis yang nantinya kalau basah, pembungkus luka bisa diganti beberapa kali. Banyaknya nanah menjadi salah satu indikator tingkat perbaikan luka. Akan lebih cepat masa penyembuhannya jika produksi nanah oleh luka ini belum sampai menimbulkan jaringan nekrotik yang luas.
Menjaga kelembaban luka
Setelah jaringan mati berhasil dibersihkan dan pengeluaran nanah oleh luka dapat diminimalisir, fase berikutnya adalah keluarnya cairan bening yang merupakan cairan tubuh sebagai petanda tahap penyembuhan luka akan segera dimulai. Semasih produksi cairan ini berlebihan, dibutuhkan usaha untuk menguranginya atau mengeringkan luka tersebut. Material yang digunakan bisa sama dengan yang digunakan untuk mengurangi nanah seperti di atas. Namun demikian harus tetap dijaga kelembaban luka. Makin kering kondisi luka, basahnya kasa penutup luka juga semakin diperas. Seperti prinsip yang sudah umum diketahui dalam menangani luka; basah dilawan dengan basah, kering diimbangi dengan penutup luka yang semakin kering juga. Sehingga dengan demikian waktu untuk mengganti penutup luka pun bisa diperjarang, tidak seperti tahap tahap sebelumnya.
Menunjang masa penyembuhan
Penyembuhan luka atau masa granulasi dimulai jika dasar luka sudah tampak kemerahan. Bisa diibaratkan seperti penampakan daging segar. Selain tetap menjaga kelembaban, luka harus tetap dijaga bersih serta hindari dari trauma sebab dengan pembentukan jaringan yang baru tumbuh ini, rawan sekali akan terjadinya perdarahan. Tersedia juga banyak produk perawatan luka, baik berupa cairan, cream, gel atau pasta yang berguna untuk merangsang terbentuknya sel-sel baru, membentuk kolagen dan mengisi bagian tubuh yang rusak dan tergerus sebelumnya. Problem yang biasanya dihadapi pada fase ini adalah penutupan luka di permukaan. Kalau lukanya tidak luas, bisa berharap kulit di sekitar luka akan tumbuh juga untuk melapisi luka. Namun jika lukanya luas, bisa dilakukan penjahitan skunder dengan lebih mendekatkan tepi tepi luka atau sekalian dilakukan flap atau tandur kulit yang mengambil kulit dari bagian lain tubuh.
Tahap tahapan di atas, sekali lagi hanya memperhatikan perawatan terlokalisir di luka tersebut semata. Sedangkan penyembuhan luka tidak hanya tergantung dari perawatan itu saja, namun harus dinilai apa yang mendasari terbentuknya luka kronis tersebut. Justru hal inilah yang potensial menghambat penyembuhan luka. Hal itu meliputi faktor usia, kondisi nutrisi penderita –terutama kandungan protein-, penyakit penyerta -seperti; diabetes, kelainan vena, kanker, malnutrisi-, penurunan imunitas dan kondisi psikis serta keterbatasan gerakan fisik. JIka hal hal itu ada, hendaknya diatasi dulu sebelum serius merawat luka atau setidaknya dilakukan perbaikan bareng dengan perawatan luka yang menjadi keluhan utama penderita.
Sebetulnya sembuh tidaknya luka tersebut ditentukan oleh tubuh kita sendiri. Upaya upaya yang dilakukan di atas hanya terbatas membuat suasana agar tubuh lebih terpacu untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Kata di text book: We can’t heal the wound, but just able to promote the healing process….
Tags: absorbent agent, debridement, granulasi, jaringan, nekrosis, sepsis | Posted under Kasus Bedah | 10 Comments


Recent Comments