Posts Tagged ‘obstruksi ileus’
Sudah 3 hari anak laki umur 5 tahun ini terbaring di rumah sakit tanpa diketahui dengan pasti penyakit apa yang menyebabkan ia merasakan nyeri di perutnya. Nyerinya ini sangat mengganggu dan muncul hampir setiap saat sehingga ia susah tidur dan jelas menyebabkan resah orang tuanya. “Kasihan dia, hampir setiap 15 menit nyeri itu muncul, terkadang sampai muntah ia menahannya…” begitu keluh si ibu dengan iba melihat anaknya yang selalu merintih.. Sementara dokter spesialis anak yang merawatnya menduga nyeri itu berasal dari peradangan lambung (gastritis). Sudah pula dilakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah, pemeriksaan foto rontgen perut dan USG. Namun belum nampak jelas kelainannya dimana.
Saya yang dikonsulkan oleh sejawat dokter anak mencoba melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah memang ada kelainan di bidang Bedah. Kondisi anak, saya dapatkan sedikit lemah sekali pun -sekali lagi- tidak nampak kelainan bermakna pada hasil laboratorium dan test lainnya. Datangnya serangan nyeri pertama kali dirasakan mendadak sebelum berlanjut menjadi nyeri kolik seperti ini. Tidak ada riwayat panas, gangguan buang air besar maupun gangguan pencernaan lain yang serius. Ketika diraba dan ditekan di bagian perut pun si penderita tidak merasakan kesakitan seperti kalau serangan rasa nyeri itu muncul. Yang mengartikan juga bahwa tidak ada tanda-tanda ke arah peradangan lapisan dalam dinding perut (peritonitis). Ada beberapa usulan pemeriksaan yang saya sampaikan termasuk pemeriksaan dengan kontras barium intake untuk melihat kondisi bagian dalam saluran cerna. Telah saya jelaskan kepada orang tuanya sampai paham benar akan apa kecurigaan saya terhadap kelainan ini, apa langkah-langkah yang perlu dijalani dan kemungkinan yang terjadi beberapa hari ke depan. Diagnosa saya adalah suatu partial obstruksi ileus atau gangguan aliran dan pergerakan saluran cerna dengan penyebab utama yang belum jelas juga.
Keesokan harinya beberapa pemeriksaan yang saya usulkan itu sudah ada hasilnya. Satu pun tidak ada yang menyokong ke arah dugaan saya. Dan hasil itu pun juga sudah menjadi bagian dugaan saya. Di sisi lain si anak masih terus menerus bertahan dari nyeri yang dirasakan di bagian atas perutnya itu. Dan di pihak lain, ada sorang staf rumah sakit yang menegur saya karena mendengar ucapan salah seorang kerabat keluarga penderita yang sempat besuk ke ruangan. “Bagaimana sih dokter di sini, sudah berapa hari pasien dirawat belum juga ketemu penyakitnya. Malah tambah sakit lagi! Eee… malah dokter Bedahnya mau mengoperasinya lagi…??”
Memang, dari penjelasan sebelumnya kepada orang tua pasien, saya katakan salah satu alternatif untuk mengetahui pasti penyebab dan sekalian kalau bisa menyelesaikan masalah gangguan ini adalah dengan cara pembedahan. Walaupun sudah mengerti, mungkin dengan berat keluarga memilih cara itu mengingat penderitaan nyeri yang dialami anaknya sudah amat mengganggu. Dan siapa pun bisa saja menghadapi permasalahan macam ini…. Jadi pembedahan itu tidak hanya dipakai jalan untuk mengatasi suatu penyakit atau kelainan yang ada tapi juga berfungsi untuk diagnostik, untuk mengetahui apa sesungguhnya kelainan itu, apalagi prosedur diagnostik non bedah tidak menemukan hasil yang jelas. Meskipun dalam penerapanya bisa saja pembedahan untuk diagnostik itu langsung digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ditemukan (therapheutik) atau dilakukan pada kesempatan yang berbeda bahkan mungkin saja nantinya harus dituntaskan dengan cara bukan bedah.
Dengan persetujuan orang tuanya, baru di hari ke-6 anak itu dilakukan tindakan pembedahan. Betul, yang kami dapatkan saat itu setelah membuka rongga perut ternyata tampak puntiran (volvulus) pada bagian usus halus yang berakibat beberapa bagian usus menjadi kolaps, kosong tak berisi udara atau sisa makanan serta kelihatan jeratan pembuluh darah sebagai penyebab nyeri. Penyelesaiannya sederhana saja, cukup dengan mengembalikan ke posisi normal, tanpa harus memotong ataupun membuang sesuatu jaringan. Semenjak itu tidak ada lagi keluhan seperti sebelumnya dan pasien pulang dari perawatan rumah sakit dalam kondisi sehat benar.
Kejadian seminggu yang lalu itu juga memberikan hikmah bahwa hubungan baik antara pasien dan dokter tidak cukup dipahami oleh kedua belah pihak. Terkadang dapat diganggu oleh hasutan atau pun mungkin provokasi dari pihak lain yang jika tidak disikapi dengan bijak justru dapat membakar sesuatu yang sebelumnya adem adem saja….

