Posts Tagged ‘operator’

Tulisan ini bermaksud untuk bercerita bagaimana kegiatan di kamar operasi terutama oleh para pelaku tindakan bedah yang tatacaranya sudah diatur sedemikian rupa yang bertujuan supaya perlindungan dan keselamatan pasien tetap terjaga. Bagi yang ingin tahu silakan terus membacanya, bagi sejawat dokter dan paramedis hal ini menjadi aturan untuk perlu diingat kembali –siapa tahu ada kesempatan masuk ke areal itu kembali-, tapi bagi adik-adik dokter muda yang akan belajar dan magang di kamar operasi cerita ini wajib diketahui.

Sebelum masuk areal substeril di lingkungan kamar operasi, pakaian yang sebelumnya digunakan harus diganti dengan gaun khusus di ruang ganti yang telah disiapkan. Pakaian kamar operasi ini lengkap menggunakan topi khusus, masker hingga ke alas kaki yang bertujuan untuk menjaga penularan dari atau pun mungkin bisa mengenai si pemakai. Ada areal areal tertentu dimana aktifitas masih diijinkan tanpa menggunakan tambahan gaun steril, tapi mendekati areal 1 mesti hati-hati karena sentuhan bahkan kontak sesingkat dan sesedikit apapun dengan benda dan bahan bahan steril sudah harus dianggap bahan dan alat itu tidak lagi boleh dipakai untuk kegiatan operasi sebelum disteril ulang.

Di saat tim pelaksana pembedahan (operator, beberapa orang asisten dan petugas instrumen) akan menjalankan tugasnya, mereka harus menyiapkan diri secara khusus. Selain membantu menyiapkan posisi pasien di atas meja operasi, menyiapkan alat alat yang dibutuhkan, maka sebelum masuk ke areal 0 (nol) –areal lapangan operasi, di tubuh pasien- diwajibkan mensterilkan tangan terlebih dulu. Cara mencuci tangan ini pun ada tatacaranya. Yang paling banyak digunakan misalnya prosedur dari Fuerbringer, yakni menggunakan bahan disinfektan dan sikat, tangan disikat secara sistematis dari kuku sela jari hingga ke siku, diulang beberapa kali 3-5 menit, dibilas dengan air steril mengalir, posisi tangan harus lebih tinggi dari siku dan lain-lain. Setelah tangan dalam kondisi steril, akan mendekati tempat aktifitas pembedahan pakaian harus dilapisi lagi dengan gaun atau jas steril disertai sarung tangan (glove) sesuai ukuran pengguna. Memakai jas dan sarung tangan ini juga memiliki aturan tersendiri. Awalnya jas diambil pada posisi bagian badan lainnya harus ada jarak dengan peralatan steril, disentuh pada bagian dalam, saat gaun digunakan lengan mesti direntangkan ke depan dan ikatan jas bagian belakang bisa dikerjakan oleh penolong lainnya yang tidak perlu steril. Begitu juga waktu menggunakan sarung tangan, bagian tangan yang sudah bersih menyentuh bagian dalam glove kanan dan tangan kanan yang telah dilapisi glove ini menyentuh bagian luar sarung tangan sisi kiri untuk mempermudah tangan kiri masuk ke dalam sarungnya tersebut.

Sampai pada tahap itu seorang tim pelaksana operasi sudah dikatakan dalam kondisi steril dan ia harus sudah mengambil posisi berdiri yang aman di sekitar lapangan pembedahan dengan tetap menjaga agar tangan cukup terlindung dari areal non steril. Tahap selanjutnya areal operasi di tubuh pasien dibersihkan, didesinfeksi dengan bahan pembersih khusus. Aturannya; mengusap bahan pembersih dari dalam ke luar, dilakukan dengan sekali hapusan secara berulang, paling tidak beradius 15 cm dari rencana luka sayatan. Berikutnya adalah melapisi dan menutupi bagian lain tubuh pasien menggunakan kain atau duk steril sedemikian rupa sehingga lapangan operasi terekspos sesempit mungkin tapi tidak menghalangi pengerjaan bedah itu sendiri. Cara menutupi areal di sekitar lapangan operasi ini juga memiliki teknik tersendiri.

Sehingga kalau langkah-langkah ini sudah dilalui, maka tim yang akan terlibat langsung dalam pengerjaan bedah sudah bisa lebih bebas bergerak dan siap mendekati areal yang paling steril untuk memulai sayatan dan melakukan prosedur pembedahan selanjutnya.