Posts Tagged ‘response time’
Tragedi Situ Gintung membawa luka mendalam. Sampai cerita ini ditulis korban meninggal sudah hampir mencapai angka seratus. Banyak berita, banyak bantuan, banyak komentar dan korban pun diperkirakan akan masih banyak lagi bertambah. Ini merupakan bencana kesekian kalinya terjadi di tanah air kita. Berbagai upaya sebetulnya telah dilakukan oleh pemerintah maupun komunitas pemerhati bencana lainnya, termasuk salah satunya adalah upaya untuk me-manage bencana itu sendiri. Adakah bencana Situ Gintung sudah ditangani sesuai Disaster Management yang benar?
Di Indonesia kita menggunakan HOPE (Hospital Preparedness in Emergency) sebagai salah satu konsep penanganan bencana yang memang cocok diterapkan di negara berkembang dengan fasilitas dan sarana pendukung lainnya yang masih belum optimal. Berbeda dengan yang dijalankan di Amerika, Eropa atau negara yang telah maju. Mereka menggunakan konsep lain, seperti NIMMS atau HEICS (Hospital Emergency Incidence Command Service) yang membutuhkan fasiltas dan system layanan emergensi terpadu. Metoda ini misalnya dipakai di 911 yang tidak banyak melibatkan koordinasi dari berbagai elemen, cukup pihak medis, kepolisian dan pemadam kebakaran. Sedangkan HOPE menitikberatkan pada koordinasi lintas sektor dan masih tergantung pada peran masyrakat di dalamnya.
Dari konsep ini yang sudah diterapkan dengan baik di beberapa daerah, memadukan pengaturan itu di dua koordinator utama, yakni koordinasi untuk medis (medical support) dan pengaturan pendukung lainnya (management support). Pemegang komando dari keadaan darurat ini biasanya ialah salah satu pejabat tinggi daerah. Medical support yang harus didukung oleh rumah sakit yang ditunjuk akan bertanggungjawab terhadap penanganan korban secara langsung, baik prehospital maupun in hospital. Sudah tentu selain didukung oleh pusat layanan kesehatan terdekat, tenaga medis, ambulance, obat-obatan serta sarana mobilisasi lainnya, persiapan di masing masing rumah sakit yang terlibat sudah juga harus dilakukan dari semua unit sebagaimana menghadapi ‘kejadian luar biasa’ dalam situasi darurat. Management support akan mengatur logistik, moblisasi dan penampungan korban, jaminan ekses ke tempat kejadian, komunikasi, recording/pendataan korban, pengaturan relawan hingga ke koordinasi terhadap pers yang akan meliput berita. Sehingga yang sangat berperan dalam situasi seperti itu adalah pemda, dinas kesehatan, kepolisian, ABRI, PMI, pihak rumah sakit didukung organisasi profesi melalui komisi trauma, dinas sosial, organisasi bidang komunikasi dan organisasi massa serta tokoh dan organisasi informal di masyarakat.
Sesungguhnya management terhadap bencana itu tidak hanya terbatas pada saat kejadian, tetapi meliputi upaya; pencegahan (prevention), mitigasi (mitigation), kesiapan (preparedness), peringatan dini (early warning), tanggap darurat (response), bantuan darurat (relief), pemulihan (recovery), rehabilitasi (rehabilitation), rekontruksi (reconstruction). Jadi kembali pada tragedi di daerah Banten ini dari apa yang kita baca di media dan apa yang kita lihat di televisi, tampaknya response time pihak pihak yang semestinya terlibat sangatlah lambat. Sampai 6 jam pasca kejadian masih belum tampak medical support yang memadai. Itu di saat sudah terjadi bencana. Bisa diperkirakan bagaimana koordinasi pre-disaster-nya. Dan begitulah umumnya fenomena yang terjadi di negara kita, sudah terjadi masalah barulah semua kalang kabut dan sangat disayangkan justru pada saat begitu ada pihak-pihak yang saling menyalahkan dan tak mau disalahkan. Belum lagi ada berita yang menyebutkan kalau kejadian ini dimanfaatkan untuk kompanye oleh partai peserta pemilu…
Perlu kita ingat bersama, dengan system yang sudah mapan dan tersusun bagus sekali pun jika tanpa pelatihan dan simulasi, akan juga sedikit banyak menimbulkan kendala di saat menghadapi situasi live atau kejadian sesungguhnya di lapangan. Bagaimana kalau sistemnya belum teruji atau bahkan sama sekali tidak memilikinya..?! Yahh…. payah dech!!

